Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Kupikir Dia Siapa... TERNYATA—!
Setelah perjalanan yang penuh kecanggungan dan rasa malu karena tatapan-tatapan orang lain, Moiro dan Mika akhirnya sampai di depan wahana tujuan mereka—Rumah Hantu.
Mika melihat seorang petugas bertopi di dekat pintu masuk dan mengajak Moiro untuk menghampirinya.
Moiro hanya mengangguk dan mengikutinya. Sepertinya, kecanggungan di antara keduanya mulai mereda.
Bentar amat. Bikin salting lagi dong, Author.
Setelah berbincang sebentar dengan petugas bertopi itu, mereka mendapatkan beberapa penjelasan mengenai wahana ini.
Ternyata, mereka tak hanya masuk dan ditakut-takuti. Mereka juga memiliki tujuan, yaitu menemukan kunci harta berwarna keemasan agar bisa mendapatkan hadiah dari wahana itu. Tapi tentu saja, benda itu akan disembunyikan di suatu tempat dan tugas para pengunjung adalah mencarinya dan membawanya keluar tanpa tertangkap oleh para hantu.
Mereka pun masuk ke wahana menakutkan itu setelah siap dengan semua itu. Mereka melangkah bersama dengan mantap menuju kegelapan.
Saat di dalam, ruangan terlihat gelap dengan beberapa hiasan horor seperti bercak darah dan foto mengerikan. Hentakan kaki mereka terdengar lebih jelas, memberikan nuansa horor yang terasa mencekam.
Setelah beberapa langkah menyusuri ruangan, Mika kemudian berkata dengan antusias, "Aku tidak sabar bertemu dengan para hantu."
Suaranya terdengar menggema di sana.
Moiro menatap ke arahnya santai, "Benarkah? Kau cukup aneh."
"Benar begitu?" balas Mika menoleh ke arahnya, wajahnya masih terlihat berseri dengan senyum simpul, "Tapi aku memang sedikit menyukai hal-hal yang berbau mistis."
Arah pandangnya kembali menghadap ke depan. Keduanya terus melangkah.
"Dan..." jemari Mika mulai dimainkan, kepalanya sedikit menunduk, "Hal ini tidak kuberitahukan pada yang lain..."
Moiro tak membalasnya. Ia hanya menatap dengan heran.
"Apakah itu rahasianya? Apa sebaiknya aku tidak mendengarnya, ya?" pikirnya.
Mana ku tau.
Wajahnya kembali menghadap ke depan, "Yah, setiap orang punya hal yang tidak ingin diberitahukan. Aku salah satunya."
Mika yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, lalu memanggilnya pelan setelahnya, "Asahi..."
Moiro melirik lagi ke arahnya, sambil terus menyesuaikan jarak dan kecepatan langkah keduanya.
Mika masih sedikit menunduk, pipinya memerah dan langkahnya perlahan terhenti.
Melihat itu, Moiro juga ikut berhenti di sebelahnya.
Jemari Mika semakin digerakkan tak karuan, lalu berucap pelan, pipinya masih memerah, "Aku... ingin lebih dekat denganmu..."
Wajahnya diangkat, menatap lembut ke arah Moiro, "Jadi, apa aku boleh memanggilmu dengan nama depan...?"
Mendengar itu, Moiro terdiam sejenak. Ia memikirkan dalam waktu singkat. Mereka memang sudah menjadi dekat beberapa waktu belakangan, jadi tidak ada salahnya untuk saling memanggil dengan nama depan.
Ia kemudian tersenyum tipis, lalu membalas ucapan Mika dengan lembut, "Boleh kok."
Mendengar itu, Mika terlihat senang. Matanya membulat cerah, diikuti senyumannya yang melebar.
Dia mengangguk singkat, sambil tersenyum manis, "Terima kasih!"
Keduanya pun kembali melangkahkan kaki menelusuri wahana itu.
Perlahan, dari arah tak terduga, sesosok makhluk sedang memantau mereka dengan senyuman.
.........
"Oh iya, kamu juga boleh memanggilku dengan nama depan," balas Mika antusias. Senyuman masih membekas di wajah manisnya.
Moiro tersenyum dan mengangguk, "Baik."
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari arah belakang mereka.
Keduanya terhenti seketika, lalu perlahan menoleh bersamaan. Dan begitu wajah mereka mengarah ke belakang...
Di sana, terlihat sosok hitam bertanduk satu yang terlihat mengerikan. Celana pendek merahnya berhiaskan aneh seperti pakaian dari neraka. Di tubuhnya juga ada garis-garis spiral dan menggelombang berwarna kemerahan. Di wajahnya, sebuah senyuman lebar terpampang jelas dengan deretan gigi bertaring di mulutnya. Dia seperti seorang iblis—Hantu dari Neraka.
Tiba-tiba horor gini. Oh iya, kan di rumah hantu.
Moiro menelan ludah. Mereka akhirnya bertemu dengan hantu di wahana itu.
Hantu itu mulai berjalan pelan, dan semakin mempercepat langkahnya.
Moiro langsung teringat kalau hantu di sana akan mengejar, dan kalau tertangkap mereka akan dikurung dan dibawa keluar. Itu berarti, mereka tidak akan mendapatkan hadiah istimewa dari wahana itu.
Saat itu, Moiro tiba-tiba menggebu setelah mengingat hadiah misterius yang akan mereka dapatkan jika berhasil menyelesaikan misinya.
Mentang-mentang ada hadiah, langsung semangat gitu.
Karena hantu semakin mendekat, Moiro mengambil langkah awal.
Ia menarik tangan Mika dan membawanya kabur.
Mika sempat terkejut begitu tangannya dipegang.
Keduanya langsung berlari menjauhi hantu mengerikan itu.
Tidak hanya diam, hantu itu segera berlari mengejar mereka dengan tawa mengerikannya.
Mika menoleh ke belakang, dan mendapati hantu itu semakin dekat dengan mereka.
Keduanya merasa takut, tapi lebih dominan rasa panik karena dikejar.
Lorong-lorong panjang mengurung mereka berdua tanpa tempat bersembunyi. Sementara hantu di belakang mereka semakin dekat.
Di ujung, Moiro melihat dinding.
"Jalan buntu?!" batinnya dengan mata membelalak, perlahan kembali menyipit, "Tidak..."
Matanya tertuju pada belokan di bagian samping, "Ada celah! Kami bisa berbelok di sana!"
Mereka mempercepat lari menuju belokan itu.
Tapi begitu sampai, di samping mereka—dari dalam sebuah lemari—keluar vampir mengerikan yang langsung mencoba menangkap mereka.
Mika terkejut dan langsung menjerit dengan ekspresi ketakutan.
Dirinya hampir tertangkap!
Moiro sigap menarik tangannya, mendekap bahunya.
Ia menarik dan berbelok tajam di tikungan itu.
Kakinya menghentak kuat—sempat menendang dinding—mendorong tubuhnya membelokkan arah lari keduanya dengan paksa.
Dan itu berhasil!
Keduanya kembali berlari cepat.
Mika terkejut dengan kemampuan Moiro yang seperti itu.
Alamak! Ngeri bener ni anak!
Vampir itu menatap datar mereka berdua, lalu berbisik, "Cepet juga mereka. Aku sampe gak nyangka."
Wus!
Tiba-tiba, makhluk hitam melompat dan menempel ke dinding seperti cicak.
Vampir itu terbelalak, terkejut melihat hal itu.
Hantu hitam itu seketika berbelok tajam dari dinding dan kembali mengejar Moiro dan Mika. Dia langsung tertawa jahat sambil terus berlari mengejar mereka dengan buas.
Vampir itu kembali mendatar, "Tu orang juga gak kalah gila. Hadeh..."
Kilatan menyambar kepalanya, "Bentar. Mau sampai kapan dia ngejar mereka?!"
Lah? Ada batas pengejaran kah?!
.........
Moiro dan Mika terus berlari, tapi hantu hitam itu tetap mengejar mereka di belakang.
Mereka kembali berbelok di sebuah lorong.
Ada sebuah pintu!
Mereka masuk dan langsung menutup pintu itu, berharap hantu tadi tidak melihatnya.
Keduanya terengah. Napas mereka seketika jadi berat.
Mereka terlihat kelelahan setelah berlarian seperti tadi.
Mika duduk bersandar di pintu, menunduk karena lelah.
Moiro hanya berkeliling sejenak, terus berpikir sembari menenangkan diri dan napasnya.
Matanya tak sengaja menangkap sebuah peti panjang berada di tengah ruangan.
"Apakah itu peti penyimpanan?" pikir Moiro datar, dan seketika berubah senang penuh harap, "Itu berarti, bisa saja ada kunci emas di dalamnya!"
Tanpa ragu, ia langsung menghampirinya lalu membuka peti itu dengan senyum penuh harap.
Peti terbuka, Moiro terdiam seketika dengan wajah membiru.
Di dalam sana ada mumi yang sedang memeluk kunci kuning yang cukup besar.
"Kenapa...?!" jerit Moiro kesal.
Setelah diam diperhatikan, sepertinya mumi itu hanya patung. Itu tidak bergerak sama sekali semenjak tutup peti dibuka.
Moiro merasa lebih lega. Tangannya perlahan maju dan memegang kunci di tangan mumi itu.
Moiro menariknya perlahan, dan terasa enteng.
Ia tersenyum semringah, "Hadiah, aku datang...!"
Tangan Moiro kini sudah ditarik. Tapi ada yang aneh. Muminya tidak melepaskan kunci dari pelukannya.
Moiro mengangkat pandangannya, dan melihat mumi itu telah duduk.
"Waa—" teriak Moiro tertahan.
Ia jatuh terduduk setelah melepas kuncinya.
Mika tersentak melihat Moiro yang terkejut, dan langsung berdiri menghampiri untuk membantu.
Mumi itu mulai bergerak perlahan—keluar dari dalam peti.
Moiro sudah berdiri dibantu oleh Mika.
Brak!
Pintu di belakang mereka terbuka tiba-tiba.
Keduanya menoleh bersamaan dengan cepat.
Di sana, terlihat sesosok makhluk hitam dengan satu tanduk di kepalanya—hantu yang mengejar mereka tadi!
Kedua hantu itu maju bersamaan, secara perlahan, mengapit Moiro dan Mika dari dua arah sekaligus.
Moiro dengan sigap menarik tangan Mika dan pergi ke sudut ruangan.
Kedua hantu itu tidak berhenti. Mereka terus berjalan menuju keduanya.
Si hantu hitam menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tajam di mulutnya, "Huahaha...! Takutlah kalian! Itu ekspresi yang kuinginkan,! Ahahaa...!
Moiro tersadar setelah mendengar suara yang terasa tidak asing baginya.
Ia seketika bertanya tegas, "Siapa kau?"
Hantu hitam hanya menyeringai, lalu membalas nyaring, "Aku Ryuji! Masa kau lupa denganku?!"
"Eh?" seru Moiro dan Mika bersamaan, pelan. Keduanya terkejut dengan wajah keheranan. Ekspresi takut di wajah keduanya menghilang seketika.
Plak!
Kepala hantu itu dipukul oleh mumi di sampingnya.
"Kenapa kamu malah menyebut namamu?!" bentaknya kesal.
Yah! Bloon, si kocak!
Hantu hitam langsung memegangi mulutnya setelah tersadar kesalahannya, "Benar juga!"
Moiro diam. Ia perlahan mulai berjalan mendekat setelah melepas pegangan tangannya, tepat ke arah hantu hitam yang menyebut namanya “Ryuji”.
"Jadi..." ucap Moiro pelan, terdengar mencekam, "Kau itu Yamaguchi, ya...?"
Ryuji bergidik, "E— Tidak. Itu... Aku...!"
Moiro menatap tajam dan mulai berlari, "Kemari kau!"
Ryuji tersentak, "Moiro, bentar!"
Moiro tak mendengarkannya lagi.
Ryuji yang ketakutan langsung berbalik dan berlari keluar dari ruangan sambil berteriak, dan Moiro mengejarnya di belakang.
Kok posisinya malah kebalik gini woy?!
Di ruangan, hanya tersisa si mumi dan Mika yang saat itu menatap bersamaan ke arah pintu keluar.
Mika menoleh pelan ke arah si mumi sambil berucap dengan nada bingung, "Kalau itu Yamaguchi, berarti..."
Si mumi tersentak. Dia sontak menoleh pada Mika dan menutup tubuhnya yang dilapisi lilitan perban, wajahnya memerah, "I-Itu..."
Mika akhirnya tersadar, "Ketua kelas...?!"