Brianna, gadis berumur 20 tahun. Yang selalu menghabiskan harinya hanya untuk bersenang-senang. Tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi dan hanya menjadi benalu di rumah. Anak tunggal yang pasti akan mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya.
Henry, pria dewasa berumur 35 tahun yang belum menginginkan untuk menikah selepas kehilangan tunangannya 10 tahun silam. Olivia yang merupakan tunangannya dinyatakan hilang dan jejaknya tak dapat dicari hingga detik ini.
Abraham yang merupakan ayah dari Brianna menjodohkan putrinya dengan putra dari sahabat lamanya. Berharap setelah menikah Brianna akan berubah menjadi seseorang yang lebih menghargai hidup dan masa depannya.
Saat Brianna bertemu dengan sosok Henry, mereka berdua sama-sama terkejut. Karna mereka sebelumnya pernah bertemu dalam sebuah tragedi tak terduga.
Bagaimana kisah rumah tangga Anna si gadis nakal dan Henry si pria dewasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutrieRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 MALAM PERTAMA
Anna menoleh sesaat terasa pundaknya disentuh. Saat ia berbalik, terlihat Henry yang masih bertelanjang dada menatapnya dingin.
"Sedang apa?" tanyanya seraya matanya melihat pada posisi handuk yang sedikit ke bawah.
Merasa diperhatikan, Anna segera membenarkan posisi handuknya. "Baju, bajuku mana?" Ini pertama kalinya Anna menampilkan lekuk tubuhnya pada seorang pria. Walaupun ia pernah berpenampilan seksi, tapi ini lebih dari seksi.
"Itu yang kau pegang apa?" Anna menatap lingerie hitam yang masih ia genggam. Seketika ia jatuhkan ke atas lantai.
"Tidak tahu, aku menemukan ini di sini," tunjuknya pada paper bag itu.
Henry tersenyum miring, lalu ia mengambil lingerie itu. "Pakai saja ini. Daripada kau telanjang."
Anna mendengus kesal, memakai lingerie itu sama saja membuat dirinya seperti telanjang. Tak ada bedanya.
"Tidak mau!" Ia tetap bersikukuh tidak mau memakai itu.
"Terserah," kata Henry seraya pergi meninggalkan Anna. Lalu ia letakkan lingerie itu di atas ranjang, dan ia berlalu ke kamar mandi.
Anna terpaku dalam diam, hawa dingin mulai terasa. Tak betah ia berlama-lama hanya memakai handuk pendek ini.
Setelah puas membersihkan diri, Henry pun keluar. Sama dengan Anna, ia keluar hanya memakai handuk. Saat ia membuka pintu, terlihat Anna yang sudah tertidur dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya keseluruhan. Hanya kepalanya saja yang terlihat. Matanya mencari-cari lingerie yang ia letakkan di atas ranjang dan tidak ada. Ia berpikir pasti Anna memakainya.
Henry mencari-cari bajunya, semua pintu lemari ia buka. Akhirnya ia menemukan setelan baju tidur. Dan bersamaan tumpukan bajunya, ternyata ada juga setelan piyama milik perempuan.
"Mungkin ini punya dia." Henry merutuki kebodohan Anna, yang tidak melihat ada setelan piyama di lemari ini.
Henry melirik Anna yang sudah tertidur. Ia kebingungan sekarang, akan kah ia tidur bersamanya dalam satu ranjang? Dia lelaki dewasa, sangat sulit mengontrol hasratnya. Apalagi umurnya yang sudah matang. Banyak hal-hal kotor yang seketika menari-nari di kepalanya.
Ia menguap lebar, pertanda sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Tak ada pilihan, ia berbaring di sebelah Anna. Wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Sekilas ia menatap Anna yang terpejam, dia sangat cantik perlu diakui. Wajahnya natural cantik bahkan tanpa polesan make up.
Tiba-tiba saat ia masih memandangi gadis itu, Anna menggeliat. Tangannya keluar dari selimut tebalnya dan membuat selimutnya terbuka di bagian atas. Terlihat ia memakai lingerie itu, tampak buah dadanya yang nampak sebagian. Tali lingerie yang di bagian pundaknya, membuat dirinya terlihat begitu seksi.
Henry dengan cepat membelakanginya. Ia memejamkan matanya ingin segera tidur. Anna benar-benar mengujinya malam ini.
.
.
.
Hari yang baru bagi kedua pasangan yang telah meresmikan hubungannya kemarin. Ini langkah baru untuk mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga yang tak pernah diinginkan sebelumnya.
Anna mengerjabkan matanya. Membukanya perlahan dan yang ia lihat pertama kali adalah langit-langit kamar. Kepalanya menoleh pada sisi kirinya, nampak seorang pria yang sudah pasti adalah Henry. Pria itu tidur dengan posisi membelakanginya.
Ia menatap tubuhnya kembali yang kini memakai lingerie seksi itu. "Apa semalam ia melihatku seperti ini?" tanyanya.
Walaupun selimut tebal ini seakan menyelamatkannya, tapi ia tidak yakin. Tidak mungkin selama ia tidur, selimut ini tidak bergerak.
Ia meraba-raba bagian tubuhnya, barangkali ada sesuatu yang aneh atau pun berbeda. "Aman, dia tidak menyentuhku malam tadi, kan?" Ia masih berpikir yang tidak-tidak. Takut jika pria dewasa itu berani menyentuhnya.
Tak berapa lama, Henry bergerak. Sepertinya ia akan segera bangun. Anna dengan cepat pura-pura tertidur kembali dengan posisi membelakangi.
Henry yang sudah terbangun, menoleh ke belakang. Ia lihat Anna yang sepertinya masih tertidur pulas. Tapi sayang sekali selimutnya tidak menutup tubuh belakangnya, sehingga bagian punggung tercetak jelas tanpa penutup. Lingerie itu bermodel tanpa penutup punggung. Hanya ada tali yang menghubungkan pundak dengan bagian pinggulnya.
"Ini masih pagi, Henry!" rutuknya dalam hati. Dia mendecak sebal, jika begini terus dia tidak kuat.
Terdengar suara langkah kaki berlari, Anna mengintip dan melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Ia lalu bangkit dan duduk. Sambil menunggu suaminya keluar, ia berniat menelepon ibunya.
"Hallo, Bu. Apa Ibu semalam tidak mempersiapkan baju tidur untukku?" tanyanya.
"Anna, kau bicara apa. Kau ini kenapa bertanya pada Ibu. Seharusnya kau persiapkan sendiri. Kau kan sudah menikah, kau harus belajar."
Anna mendecak sebal, jika begini ia juga tidak tahu. Kemarin kan dia terlalu sibuk dengan acara, mana mungkin bisa memikirkan hal sekecil itu.
"Lalu hari ini Anna pakai baju apa, Bu? Ini kan bukan kamar Anna. Ini kamar hotel," kesalnya.
"Ya sudah. Nanti Ibu akan kesana bawa baju ganti. Kamu ini masih menyusahkan Ibu saja." Telepon pun terputus, Shopia memutuskan teleponnya sepihak.
Henry keluar hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Sesaat mereka saling menatap satu sama lain.
"Kau tidak mandi?" tanyanya melihat Anna yang sedari tadi menutup tubuhnya dengan selimut.
Gadis itu menggeleng pelan. "Aku menunggu Ibu."
Henry tertawa mendengar jawabannya. "Dasar anak kecil. Mandi pun harus bersama ibu?" Ledeknya.
"Aku menunggu bajuku! Aku tidak bawa baju ganti."
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar bunyi ketokan pintu dari luar. Henry segera membukanya. "Terima kasih," ucapnya.
Ternyata ada seseorang suruhannya yang membawakan baju ganti untuknya.
"Ini untukmu." Henry melemparkan sebuah paper bag padanya.
Anna kebingungan dan segera melihat isi dalamnya. "Ini baju untukku?"
"Iya, itu baju untukmu. Bilang pada ibumu jangan kemari. Dan lihat ini," tunjuknya pada setelan piyama wanita. "Semalam aku lihat ada dua setelan piyama. Apa kau tidak lihat? Semuanya sudah dipersiapkan. Kau saja yang tidak tahu!"
Anna menggaruk tengkuknya, ia merasa bodoh sendiri. "Aku tidak tahu."
"Makanya cari dulu pakai mata," ujarnya dingin.
Henry segera memakai baju yang baru saja tadi diantarkan oleh suruhannya. Melihat Anna yang tidak bergerak, ia langsung menoleh. "Kau tidak mau mandi?"
Bukannya tidak mau, dia bingung. Mana mungkin ia masuk ke dalam kamar mandi dengan lingerie seperti ini. Berjalan melewati Henry dengan pakaian seksi ini, dia malu.
"Oh, kau mau melihatku berganti pakaian?" Henry hampir saja menurunkan handuk yang melilit di pinggangnya. Tapi Anna dengan cepat turun dari ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Pemandangan panas yang ia lihat pagi ini. Anna begitu seksi dengan pakaian itu. Semuanya nampak jelas, karna lingerie itu tipis. Bahkan samar-samar Henry bisa melihat **********.
"Dasar gadis kecil!"
Di dalam kamar mandi, napas Anna tersengal-sengal. Ia sangat takut berhadapan dengan Henry. Pria dewasa itu seakan telah membuatnya hampir kehilangan napas.
Congrats Henry!!!
buang Olivia kelaoot 😂😂😂