Ini SEQUEL dari MUTIARA DI BALIK LUMPUR.
"Kau pikir aku mau menjadikamu istriku? Tidak sudi! Kalau bukan karena untuk melindungi bosku mana mau ku menikahi wanita kupu-kupu malam sepertimu, murahan."
Aiden berusaha keras bersabar meski hatinya sakit di katai kupu-kupu malam. Karena memang dirinya bekerja di sebuah club malam. Namun ada hal yang tidak pernah mereka ketahui tentang siapa Aiden yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berasumsi sendiri tanpa tahu kenyataannya.
Billy Giovanno (27 tahun) memaksa wanita bernama Aiden Rosalina (25 tahun) menikah dengannya hanya karena Billy tidak ingin Aiden mengganggu rumah tangga majikannya. Billy juga beranggapan kalau Aiden merupakan wanita murahan sehingga membuatnya membenci wanita itu.
FB: Mmah Abidah / Goresan Tinta
Ig : @ai.sah562
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
"Kenapa bisa ku melupakannya? benar-benar bodoh. Tidak memiliki perasaan. Bagaimana kalau dia mati kelaparan?" Billy begitu tergesa berjalan menuju apartemennya. Dia sedikit merasa bersalah telah melupakan Aiden.
"Aiden..." Pria berambut rapi dengan earphone di telinga itu memanggil nama wanita dari mantan kekasih bosnya.
Merasa ada yang memanggil, Aiden menoleh menatap tajam pria itu. Pria yang tidak memiliki perasaan sampai tega mengurungnya seharian tanpa meninggalkan makanan apapun di dalam sana.
Billy mematung tidak melanjutkan langkahnya di kala mata hazel kebiru-biruan itu menatap tajam. Aiden berdiri menghampiri dengan langkah gontai lemas tak makan tak minum hampir seharian.
"Kau... kau pria tidak berperasaan. Kau menyuruhku membersihkan apartemen ini, mengunciku seharian tanpa meninggalkan makanan sedikitpun. Jika kau membenciku bunuh aku! Jangan kau siksa seperti ini, hah." Aiden menunjuk wajah Billy dengan kepala pusing keleyengan, perut sakit, mata pun sembab.
"Saya..." belum juga selesai bicara, Aiden ambruk terjatuh ke lantai membuat Billy panik.
Bruukkk....
"Aiden!" Billy berjongkok menepuk-nepuk pipinya. "Kau jangan mati di sini, hei. Bangun!" Billy membopong tubuhnya membaringkannya di sofa.
"Bagaimana kalau dia mati? apa yang harus ku lakukan dengan jasadnya? bisa-bisa aku di penjara." Seketika rasa panik mengalahkan akal sehatnya. Dia berjalan bolak-balik seraya berpikir.
"Nona malam, bangunlah! Kau dengar tidak? bangun!" Billy kesal Aiden tak kunjung bangun. Dia memeriksa hidungnya. "Masih bernapas." Seketika rasa lega menghampirinya dan itu artinya Aiden belum mati begitulah pikirnya.
Di tengah kepanikannya menunggu Aiden sadar, bel apartemen berbunyi.
"Siapa yang bertamu malam-malam gini?" Billy melihat Aiden sebentar kemudian membukakan pintunya. "Kau... ada apa kemari?"
"Ada apa, bro? sepertinya kau tidak suka teman bermain ke apartemen mu? Aku mau numpang tidur di sini." Pria itu menyelonong masuk namun, di hadang.
"Jangan! Mending kau menginap di rumah Dirga saja. Saya tahu, pasti kau bertengkar lagi dengan orangtuamu kan? makanya kau ingin menginap di sini."
[ Kalau Bima masuk dia bisa tahu ada wanita pingsan di apartemen ku. Dia pasti banyak bertanya. ]
Bima memicingkan mata, "Ada apa denganmu? tumben sekali kau melarangku masuk. Minggir, saya numpang tidur di sini?" Bima menerobos masuk dan Billy mencegahnya.
"Ayolah Bim. Jangan menginap di sini terus."
"Kau itu kenapa bro? tidak biasanya kau seperti ini? apa ada yang kau sembunyikan?"
Billy gelagapan menghindari tatapan penuh selidik itu. Bima semakin yakin jika Billy tengah menyembunyikan sesuatu. Dia pun semakin menerobos masuk untuk mencari tahu.
"Bima..."
"Diam! Kau a..neh.." Bima mematung tak percaya ada wanita terbaring lemah di atas sofa. Matanya terbelalak terkejut saat mengetahui siapa wanitanya. "Rosa!" Bima segera menghampiri, ia menatap Billy meminta penjelasan.
Billy mengerutkan keningnya. "Kau kenal dia?"
"Harusnya aku yang bertanya, kau kenal Rosa? kenapa dia ada di apartemen mu? kau apakan dia, hah?" cerca Bima panik dan juga menatap tajam meminta penjelasan.
[ Kenapa Bima terlihat sangat khawatir? ada hubungan apa Bima sama Aiden? kenapa dia menyebut Aiden Rosa? ]
"Hmmmm dia..." [ Apa aku harus jujur? tapi, ahh aku tidak mau Bima tahu jika Aiden istriku. Kita kan cuman nikah siri. ]
"Dia pingsan di jalan. Saya bingung mau membawanya kemana. Ya, jadinya saya bawa kemari. Itulah mengapa saya melarang kau masuk takut kau berpikiran macam-macam." ujar Billy mengelak menyembunyikan semuanya.
"Pingsan bukannya di bawa kerumah sakit malah di bawa kemari. Mau modus Lo?" delik Bima sambil menggendong Aiden.
"Eh! Mau dibawa kemana wanita itu? biarkan dia di sini!" cegah Billy ingin mengambil tubuh Aiden yang ada di pangkuan Bima.
"Saya akan membawanya kerumah sakit. Saya tidak ingin terjadi apapun padanya. Kalau kau tidak mau mengurusinya biar saya saya. Minggir! Kau menghalangi niat baikku." Bima menghindari Billy membawa Aiden keluar apartemen.
Billy menghelakan nafasnya, percuma mencegah karena Bima pasti akan tetap pada pendiriannya. Dan ketika dirinya semakin mencegah, Yang ada Bima makin curiga.
*********
Rumah sakit
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Bima sedari tadi mengkhawatirkan Aiden. Billy berdiri tak jauh dari ranjang pasien sambil bersidekap di dada memperhatikan Aiden yang tengah terbaring masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Dia mengalami dehidrasi dan kelaparan. Seseorang yang mengalami dehidrasi dapat membuat pandangan menjadi berkunang-kunang dan hilang kesadaran. Saat dehidrasi terjadi, aliran darah dan oksigen pada tubuh terhambat. Cairan yang berada pada tubuh berfungsi untuk melancarkan peredaran darah dan oksigen pada tubuh. Selain itu, kekurangan cairan dapat membuat tubuh sulit menyerap nutrisi dengan baik. Kelaparan juga akan membuat seseorang pingsan karena merasa lemas. Penyebab pingsan yang satu ini dapat terjadi karena kadar glukosa dalam tubuh menurun. Glukosa yang berkurang dapat membuat orang menjadi lemas dan hilang kesadaran. Tubuh membutuhkan glukosa agar dapat diubah menjadi insulin dalam tubuh. Maka dari itu, ketika seseorang kelaparan, ia akan kehilangan kesadaran." Jelas sang dokter panjang lebar setelah memeriksa keadaan Aiden.
Dan apa yang di jelaskan dokter membuat Bima dan Billy kaget. Terutama Billy menunduk merasakan rasa bersalah teramat sangat.
"Saya akan memasang infus untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Semakin cepat mendapat penanganan medis, risiko munculnya komplikasi akibat kekurangan cairan akan semakin kecil."
"Lakukan yang terbaik, dok."