NovelToon NovelToon
Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa

Status: tamat
Genre:Petualangan / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Jogja jadi pilihan Seti setelah kelulusan SMAnya bersama Joe, dan Asri. Hening memilih Jakarta. Lalu Bening dan Joko menikah. Sementara Seto masih dengan pelayarannya. Terlintas persinggungan cerita-cerita hidup yang melintas dan membekas di benak Seti. Seperti roda pedati. Waktu terus berputar, dan Seti masih dengan kedekatan Joe, Asri, dan Hening. Bersama mereka cerita itu terus mengalir...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Lapak Malioboro

Jalan kaki menyusuri Ketandan ke arah Malioboro di saat panas matahari menyengat tak dipedulikan Seti selepas jam kuliah Geomorfologi-nya.

Di sela langkahnya, ... penjelasan materi struktur alam gumuk pasir di pantai Parangtritis sampai terangkatnya patahan sepanjang pantai Selatan Gunung Kidul di jam kuliah tadi masih tersemat di benak Seti.

Tidak seperti SMA dulu. Kuliah yang lebih individu dengan segala macam urusan kampus yang diurus masing-masing membatasi kedekatan yang lebih pribadi. Mengharuskannya lebih memahami materi kuliah tanpa tergantung teman kuliahnya.

Seti merasakan kedekatan yang berbeda dengan Muji, Dibyo, Joe dan Doni dibandingkan dengan teman sekampus-nya jika itu menyangkut persoalan anak kost sehari-hari di Jogja. Dengan mereka, Seti merasa lebih terikat suka dukanya.

...***...

Sampai di depan Apotik Kimia Farma di ujung Malioboro, Seti menengok kanan kiri. Mencari lapak Doni teman Purwokerto-nya sekaligus teman sekamar Joe.

Tadi pagi Joe meminjam si Denok yang lalu mengantar Seti ke Ketandan. Dan menyuruhnya menunggu di lapak pernik-pernik cinderamata Doni sepulang kuliah.                

Sempat celingukan di ujung Malioboro, Seti akhirnya melihat Doni. Teman Purwokertonya itu sedang menganyam gelang dari benang. Di depannya ada dua perempuan bule .

Motif etnik grompol mirip bentuk buah kawung yang sedang dianyam Doni dengan serius, membuatnya tak menyadari kedatangan Seti.

Motif grompol biasa ditemukan di acara pernikahan atau pertunangan yang mana motif ini menyampaikan segala harapan baik dari orang tua agar berkumpul dan senantiasa mengisi kehidupan rumah tangga anak-anak mereka kelak.

***

Doni mendongak ketika dirasanya ada yang menepuk punggungnya.

"Oh kamu Set .... Duduklah," sapa Doni yang lalu menyorongkan dingklik ke arah Seti.

Duduk menyebelahi-nya, Seti membiarkan keseriusan Doni menyelesaikan pekerjaannya.

Dua perempuan bule yang ada di depan lapak itu rupanya sedang menunggu pesanan anyaman benang yang dibuat Doni menjadi gelang.

Lima menit kemudian tangan cekatan Doni menyerahkan dua gelang anyaman motif grompol yang sudah jadi, dan membantu memasangkan ke tangan dua perempuan bule itu.

"How much it ?" tanya perempuan bule bermata hijau.

"Two thousand rupiahs," jawab Doni.

"OK ... thank you," sambung bule itu sambil menyerahkan uang ke Doni.

"You are welcome. Have a nice day." Doni melambaikan tangan ke arah dua bule perempuan itu yang meninggalkan lapak ke arah stasiun Tugu dengan kepuasan cinderamata Malioboro yang melingkar di tangannya.

Doni lalu menyuruh Seti membeli kopi dan sebungkus rokok setelah menyerahkan satu lembar seribuan ke Seti yang barusan diterimanya dari hasil menjual gelang anyaman tadi.

***

"Rokok Set." Menyalakan rokok yang barusan dibelikan Seti, Doni mengulurkan bungkusan rokok di tangannya.

"Ok... makasih." Sungkan menolak, Seti menerima rokok itu walau sudah lama dia tidak merokok.

Lalu lalang pelancong bule atau domestik memadati trotoar sepanjang Malioboro yang penuh dengan lapak kaki lima saat keduanya mulai menikmati rokoknya.

Beberapa pelancong berhenti sejenak sekedar mengamati pajangan dompet kulit, gelang, dan kalung monel di lapak Doni.

"Nunggu Joe Set ?" tanya Doni di sela-sela tawar menawar harga dengan pengunjung lapak-nya lagi.

"Iya Don. Tadi pagi dia mengantarku ke kampus Ketandan. Menyuruhku menunggu di sini," jawab Seti setelah barusan dilihatnya tawar menawar lapak selesai tanpa kesepakatan.

"Anaknya lagi kusuruh beli kulit di dekat Shoping. Stok dompetku habis," kata Doni, "Tunggulah di sini sambil ngrokok-ngrokok. Paling sebentar lagi dia datang," lanjut Doni sambil menyeruput kopi di depannya.

Keramaian di Malioboro membuat waktu tak terasa lama saat menunggu Joe .... Sepertinya Seti betah duduk berlama-lama di lapak Malioboro. Apalagi setelah dirinya tahu keunikan jual beli asongan di sana.    

Jangan kaget jika dari harga sepuluh ribu rupiah di awal, suatu barang akhirnya dilepas begitu saja dengan harga seribu rupiah jika ada yang menawar.

Itulah seni menjual dan membeli di lapak malioboro. Masing-masing mencari keuntungan dengan versinya.  

***

"Tuh Joe datang." Doni menunjuk ke seberang jalan.

Seti mengikuti jari tangan Doni yang menunjuk sosok yang dikenalnya.

Dari seberang jalan, terlihat Joe cengengesan ke arah Seti setelah memarkir si Denok. Segulung ikatan kulit samakan terikat di punggungnya saat menyeberang Malioboro yang seperti biasanya macet.

"Dah lama Set." Joe menyapa Seti setelah sampai ke lapak sambil memberikan gulungan kulit itu kepada Doni.

"Lumayan. Tapi gak masalah. Full kopi dan rokok di sini, ... hehehe," jawab Seti.

"Seket ewu sekarang dab," kata Joe beralih ke arah Doni.

"Wah payah .... Naik lagi." Doni mengeluhkan harga kulit samak yang terus naik per feet-nya.

"Ya gimana lagi .... Kita juga butuh," kata Joe.

"Iya sih. Tapi sepertinya kita masih belum perlu ikut-ikutan naikkan harga dompet kulit kita. Toh masih ada untung," sambung Doni.

"Sudah makan Don ? Aku mau ke warung Sarkem dulu beli makan, ... lapar seharian antri beli kulit."

"Belum .... Ajak Seti makan sekalian .... Dari tadi dia menunggumu .... Bungkuskan saja nasi telor buatku," jawab Doni sambil mengulurkan selembar ribuan.

"Yuk Set kita makan," ajak Joe setelah menerima uang yang diulurkan Doni..

Tak membantah, Seti berjalan mengikuti Joe ke arah Sarkem dekat stasiun Tugu.

Sepanjang jalan itu banyak berjejer warung murah yang jadi langganan pedagang Malioboro kata Joe yang sepertinya sudah terbiasa ke sana.

**6

Sarkem singkatan dari jalan Pasar Kembang. Jalan itu ada di kampung Sosrowijayan di Selatan stasiun Tugu.

Dulu banyak yang berjualan kembang di situ sebelum pindah ke Kotabaru.

Joe terkekeh saat Seti terheran heran ketika memasuki Sarkem dan melihat seorang laki-laki bule merangkul dua perempuan di salah satu gang di antara kafe-kafe dan penginapan di situ.

"Tempat apaan tuh Joe ?"

"Tlembuk ... Hahaha .... Kapan-kapan kita ke situ Set. Makin malam makin hot." Joe semakin terkekeh memperhatikan sohib-nya.

"Ah sialan kamu." Seti ikut tertawa mendengar penjelasan Joe.

Rupanya Joe sengaja mengajak Seti ke salah satu gang di jalan itu. Sebelum masuk ke salah satu warung makan yang ada di depan salah satu penginapan.     

...       ...

Sepiring nasi gudeg dan telor dadar dinikmati Seti dan Joe di warung makan langganan Joe yang lumayan penuh.

Kebanyakan yang sedang makan di situ tukang becak yang ngetem di sepanjang Sarkem dan Stasiun karena harganya yang murah meriah.

Tempat yang seadanya mengharuskan siapa saja untuk cepat-cepat menghabiskan makan atau minun yang dipesan

Begitu juga Joe, setelah menghabiskan makan siangnya dan membungkus nasi rames pesanan Doni, dia mengajak Seti berbalik lagi ke arah Malioboro.

Dua ratus lima puluh rupiah kembalian makan siang tadi dibelikan Joe sebungkus rokok Bentoel biru.

***

Puas seharian di lapak Malioboro dengan dua anak Seni rupa itu, menjelang sore Seti berpamitan pulang.

Biasanya sampai jam sepuluh malam Joe dan Doni ada di lapak itu. Bergantian jika salah satunya kuliah, atau tutup jika keduanya sibuk di kampus.

Menyalakan si Denok, Seti menyusur jalan Malioboro ke Selatan. Berniat mampir di Shoping yang nanti dilewatinya, mencari buku bajakan materi kuliah sebelum balik ke kost Samirono.

***

*Gumuk : tumpukan

*Grompol : kumpulan dalam bahasa Jawa.

*Kawung : buah kolang kaling.

*Dingklik : kursi kecil dari kayu tanpa sandaran tangan dan punggung.

*Seket ewu : lima puluh ribu dalam bahasa Jawa.

*Tlembuk : pelacur dalam Jawa Banyumas.

1
Dhatu Lukita
🌹🌹🫰🫰
Dhatu Lukita
🌹
Dhatu Lukita
gara2 kulino dilarani aku wis ra percoyo karo sing jenenge 'tresno'🤭
Wawan: Ahahaha .... what is the name
total 1 replies
Nawadipta
baru tau🙃
Nawadipta
mitos efektif melindungi pohon 🤣 manusia generasi baru memang gak ada takut-takutnya... 😂
Dhatu Lukita
🌹🫰🫰🫰🫣
Dhatu Lukita
di pikiranku malah tergambar "mengonsumsi kecubung" bukan jamur😄,
koyoe podo halusinasi ne 😄
Wawan: Yups ... bedanya kecubung gak dijual... tinggal petik karena gak perlu diolah 🤭✍️
total 1 replies
Nawadipta
makin kecil porsi makin mewah loh 😂 ta kira karena banyak kucing liar buat di elus. pecinta kucing kecewa 😽
Wawan: Lets go angkringan... miyong rice 🤣🤭
total 1 replies
Nawadipta
mitos populer nih, cukup di bantu tongkat (buta kan) bisa tuh. kalau gak indra arah hilang sama gampang jatoh, bukan di ganggu makhluk halus ya 🤣🤣
Wawan: Setan kok... bener loh 🤭🤣
total 1 replies
Nawadipta
rindu nilai rupiah dulu 🤣
Wawan: Pokoknya wesel sebulan empatpuluh ribu tuh dah kayak sultan 🤭
total 1 replies
Dhatu Lukita
🌹buatmu
Dhatu Lukita
nihh 🌹🫰
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Dhatu Lukita
mawar untukmu biar semangat💪💪💪
Dhatu Lukita
juga mengingatkanku 2010 lalu🤭. haiisshhhh
Wawan: Apa tuh ... 🤭🤭🤭
total 1 replies
SANG
Lanjut dek👍💪
SANG
Keren deh💪👍
SANG
Semangat👍💪
SANG
Di rumah👍💪
SANG: Oke bro💪👍
total 2 replies
SANG
Kanjut👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!