Perbedaan strata seseorang selalu dilihat dari beberapa aspek. Harta lebih sering dijadikan alasan untuk menentang hubungan percintaan dua anak manusia. Saras anak seorang pengusaha mencintai Indarto yang hanya seorang guru SMA. Perbedaan ekonomi menjadikan Tuan Haidar sang ayah menjadi murka. Namun berkat hati seorang ibu, akhirnya Saras boleh merasakan kebahagiaan hidup bersama Indarto...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Beatrix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab VI
Sementara itu Saras langsung berlari masuk ke kamar sambil menangis. Panggilan dari mama nya pun tidak diindahkan. Saras kecewa dengan sikap Papanya yang masih memandang orang lain dari kasta dan harta. Padahal di mata Tuhan derajat semua manusia itu sama. Harta hanya titipan semata, dan semuanya itu bisa hilang seketika dan dengan mudah bagi Tuhan.
"Papa, jangan terlalu keras dengan Saras, dia anak kita satu-satunya loh Pa. Biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri." kata nyonya Haidar.
"Tapi tidak dengan laki-laki itu Ma, mau jadi apa Saras kalau menikah dengan laki-laki miskin itu." jawab Tuan Haidar dengan ketus.
Nyonya Haidar hanya mengelus dadanya melihat kerasnya hati suaminya..
Melihat suaminya masuk ke ruang kerjanya, nyonya Haidar menuju kamar Saras untuk mencoba berbicara dengan nya dari hati ke hati.
"Saras, sayang, buka pintunya dong biar Mama masuk, kita ngobrol-ngobrol yuk." kata Nyonya Haidar.
Saras kemudian membuka pintu kamarnya. "Masuk Ma..." kata Saras.
"Gimana keadaan kamu sayang, masih marah... hmmm... Papamu hanya ingin yang terbaik buatmu sayang. Papa hanya tak ingin kamu hidup susah dan kekurangan. Papa sayang banget loh sama kamu. Papa ga rela melihat anak kesayangan nya sengsara." Nyonya Haidar berusaha memberikan nasihat kepada Saras.
"Tapi Ma, hanya mas Indarto lah Saras bisa merasakan nyaman, bahagia. Saras cinta sama Mas Indarto Ma. Walaupun hanya guru honorer tapi hidupnya sangat bersahaja. Tidak kekurangan Ma. Mas Indarto tidak pernah mengambil kesempatan kita dia tahu kalau Saras ini anak orang kaya. Mas Indarto selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Saras. Bahkan dia juga mengajarkan Saras untuk hidup sederhana walaupun hidup sebagai orang mampu. Dia juga mengajarkan ilmu agama Ma, bahkan Saras mulai sholat lagi setelah beberapa tahun Saras tinggalkan." bela Saras di depan Mama nya.
Nyonya Haidar hanya bisa menghela nafas berusaha mengerti keadaan anak semata wayangnya.
"Kalau gitu, berdoalah minta yang terbaik buat hubungan kamu sama laki-laki itu." kata nyonya Haidar.
"Ma... laki-laki itu punya nama loh Ma, namanya Indarto." jawab Saras kesal.
"Ya sudah Mama keluar dulu, istirahatlah biar besok ketika bangun badanmu segar lagi." kata nyonya Haidar sambil berjalan keluar dari kamar Saras.
Saras pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai membersihkan diri, tak lama kemudian Saras sudah terlelap di atas pembaringan.
"Non Saras.. bangun Non, sudah siang..." terdengar pintu diketuk bi Asih.
"Iya bi. Saras udah siap kok." teriak Saras dari dalam kamar.
Tak lama kemudian Saras keluar dari kamar sudah siap lengkap dengan tas sekolahnya. Ketika melewati ruang makan tampak Tuan dan nyonya Haidar sedang sarapan pagi.
"Saras sayang, sini sarapan dulu." panggil nyonya Haidar.
"Ga ma, Saras sarapan di sekolah aja." jawab Saras sambil melenggang jalan keluar.
"Saras! tunggu kamu! hari ini Papa yang antar kamu ke sekolah." tegas tuan Haidar.
Dengan kesal Saras menuju mobil tuan Haidar yang akan membawanya sekolah. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit sampailah Saras di sekolah. Saras pun bergegas membuka pintu.
"Ingat Saras! jangan bertemu dengan laki-laki itu. Awas kalau sampai kamu ketemu lagi, Papa tidak segan-segan membuat hidupnya hancur." tegas Tuan Haidar.
Saras pun keluar sambil membanting pintu karena kesal terhadap papanya.
Sudah hampir 1 Minggu Saras dan Indarto tidak bertemu, mereka hanya berhubungan lewat gawai pintar mereka. Dan hari ini adalah hari kelulusan Saras. Semua siswa dikumpulkan di lapangan untuk mengikuti upacara pengumuman kelulusan. Di atas podium tampak Bapak kepala sekolah siap memulai upacara. Setelah diawali dengan doa syukur, Bapak kepala sekolah memulai pidato nya.
"Selamat siang anak-anak ku, hari ini adalah hari di mana kalian dinyatakan lulus dan bukan lagi anak SMA lagi. Bapak sangat bangga pada kalian, karena kalian telah bekerja keras dengan giat belajar sehingga kalian bisa menuntaskan tugas kalian sebagai pelajar SMA karena kalian semua Bapak nyatakan lulus 💯 persen. Bapak juga bangga karena mempersembahkan nilai-nilai yang terbaik buat sekolah kita ini. Tapi tentunya dari yang terbaik pasti ada yang paling baik. Dari 240 siswa dan siswi SMA Harapan ini ada satu siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dan juga mendapatkan jalur undangan di beberapa universitas negeri di Indonesia. Baiklah Bapak panggilkan siswa terbaik di SMA Harapan ini jatuh pada... Sarawati Haidar. Silahkan Saras maju ke atas podium untuk menerima piagam penghargaan dari sekolah"
Saraspun maju dan naik ke atas podium dan menerima piagam penghargaan, sementara teman-temannya berteriak memuji Saras. Saras pun meneteskan air mata nya karena bangga.
Setelah selesai pengumuman kelulusan Saras segera menghubungi Indarto untuk menyampaikan kabar gembira ini.
Tuutt ...tuuutt...
"Hallo..." terdengar suara menjawab telepon.
"Hallo mas, Saras lulus..." jawab Saras.
"Alhamdulillah.... mas senang mendengarnya. Mas bangga sama kamu sayang. Pasti dengan nilai terbaik kan." kata Indarto.
"Kita rayakan sayang." ajak Indarto.
"Mmm, Saras takut Mas, Papa akan melakukan apapun untuk menghancurkan mu Mas. Nanti Saras akan cari cara supaya kita bisa bertemu. Saras kangen Mas." lirih Saras sambil terisak menahan rasa rindu kepada kekasih nya.
"Sabar ya sayang. Aku akan berusaha sekuat tenaga ku untuk mendapatkan restu kedua orang tua mu." kata Indarto.
"Ya mas, baiklah Saras tutup ya mas, Saras pulang dulu." jawab Saras.
Setelah menutup teleponnya, Saras pun bergegas menuju ke mobil yang sudah menunggunya dari tadi untuk membawa Saras pulang.
Sesampainya Saras di rumah rupanya Papa dan Mama nya sudah menunggu di rumah.
"Gimana Saras kamu pasti lulus kan" tanya Tuan Haidar.
"Iya Pa." jawab Saras.
"Baiklah karena kamu sudah lulus berarti kamu bersiap untuk bertunangan dengan anak kolega Papa. Dia anaknya baik dan dari keluarga yang sederajat dengan kita." kata Tuan Haidar.
"Maaf Pa, Saras gak mau, Saras masih ingin kuliah dan menggapai cita-cita Saras Pa." jawab Saras.
"Kamu bisa kok melanjutkan kuliahmu setelah bertunangan. Papa hanya tidak mau kamu hidup susah dengan laki-laki itu. Malam Minggu besok kolega Papa akan datang ke sini. Papa harap kamu bisa jaga sikapmu di depan mereka dan jangan bikin Papa malu, ingat itu Saras!" Tegas Tuan Haidar.
" Papa jahat, egois... Saras benci Papa." kata Saras sambil menangis berlari menuju kamarnya.
Saras sangat kecewa dengan keputusan Papa nya itu. Saraspun terus menangis sampai Saras pun tertidur. Sementara itu di ruang keluarga sang Mama, nyonya Haidar berkata kepada suaminya,
"Pa, kenapa Papa bersikap seperti ini. Saras itu anak kita satu-satunya loh Pa. Kebahagiaan Saras adalah kebahagiaan kita juga."
"Ini sudah keputusan Papa dan mau tidak mau Saras harus menjalani nya. Papa hanya tidak mau Saras harus hidup susah Ma. Sudahlah ini adalah jalan yang terbaik buat Saras." kata Tuan Haidar.
Sang Mama hanya menghela nafas karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Sampailah hari yang telah disepakati oleh Tuan Haidar dan koleganya. Di Sabtu yang mendung semendung hati Saras. Ting tong.... suara bel berbunyi. Bu Asih bergegas membukakan pintu.
"Selamat siang Tuan, silahkan masuk Tuan Haidar sudah menunggu di dalam." kata Bu Asih sambil menundukkan kepala nya.
"Selamat siang Haidar, apa kabarmu." kata Tuan Arifin.
"Ah... Arifin, baik lah kabarku. Mari silahkan duduk." Jawab Tuan Haidar.
Sementara nyonya Haidar dan nyonya Arifin juga bersalaman.
"Wah Haidar, ini pasti Saras putrimu. Cantik sekali. Pasti cocok dengan anakku. Nah ini anakku Surya, calon pewaris tunggal perusahaan ku." kata Tuan Arifin dengan nada sombong.
Surya yang sejak awal memandang Saras tanpa berkedip menatap Saras dengan pesona kecantikan nya.
"Saras ayo beri salam sama Oom Arifin dan Tante Sari." kata Tuan Haidar.
"Aduh cantiknya." kata nyonya Arifin sambil mengelus rambut Saras.
Sementara Surya terus menatap Saras.
"Hmmm... cantik juga, lumayan buat cadangan kalo gue lagi bosan sama Widya." bathin Surya sambil tersenyum smirk.
Setelah melewati perkenalan yang membosankan. Kedua keluarga ini pun menuju ruang makan untuk bersantap siang. Sebelumnya mereka sudah memutuskan kalau pertunangan mereka akan diadakan Sabtu depannya.