Will you marry me, miss Marry?
'Sorry, No'
Sebuah pertanyaan dan jawaban yang mengubah segalanya. Marry menolak Sean tanpa jeda.
Hingga beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan di suatu RS. Perlahan, mereka menguraikan benang merah masalalu. Tapi, disisi lain, mereka juga harus menghadapi banyak kisah rumit yang membuat Marry berada di satu pertanyaan yang sama tentang pernikahan, apakah dia bisa menerima lamaran itu atau menolaknya. Lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMENTO MORI
Sepanjang proses operasi, Sean sangat serius. Tangannya cukup cekatan dan memiliki respon yang baik terhadap hal-hal tidak terduga. Pasien sempat mengalami penurunan kadar oksigen serta penurunan tekanan darah karena terjadi perdarahan di luar perkiraan. Tapi Sean berhasil mengatasi masalah tersebut. Sean juga bersikap profesional. Sangat. Dia sesekali melibatkan Marry dalam beberapa tindakan dan menjelaskan beberapa pengetahuan pada Marry.
Nada suara Sean juga berubah. Ia menjelaskan semua dengan nada suara kalem seolah ia adalah seorang guru dan Marry adalah muridnya. Sepanjang dua setengah jam, Marry merasa tidak berada di medan perang mengerikan dengan Sean. Awalnya, ia mengira Sean akan menindasnya habis-habisan. Tapi justru Sean memperlakukan ya sebagai rekan sejawat yang setara.
Terlepas dari semua itu, Marry masih menemukan tatapan mata yang tajam dari Sean beberapa kali. Ia tahu, ini belum berakhir, ini adalah permulaan. Setelah operasi ‘profesional’ ini berakhir, akan ada sesuatu yang ‘personal’.
Marry meregangkan otot yang sejenak seraya menguap kecil. Ia menyeret kakinya menuju kantin karyawan yang cukup lengang. Ia melirik jam dinding kantin. Jam dua dini hari. Sejujurnya , ikut dalam ruang operasi tadi juga cukup menguntungkan. Dia tidak perlu berjaga di IGD dan tidak perlu berhadapan dengan Martin. Bahkan, sangat jarang sekali ia bisa santai memesan kopi di tengah jam dinasnya. Ia bisa menikmati rehat sejenak pasca operasi selama setengah jam ke depan. Ah, sungguh nikmat.
Ia mengambil tempat duduk di balkon kantin, meletakkan segelas kopi panasnya lalu duduk tenang menatap pesatnya langit dini hari itu. Suasana cukup tenang dan hening. Sesekali, samar terdengar deru mesin mobil di jalanan bawah sana. Ia menarik napas pendek dan mulai menyesap kopinya perlahan sembari sesekali meniupnya.
“Bumil tidak baik minum kopi,” ujar sebuah suara yang sukses membuat Marry tersedak. Dia nyaris menyembuhkan kopi dari mulutnya.
Ia terbatuk sesat lalu menoleh ke arah asal suara. Ravendra menyeret kursi beberapa meter darinya dan duduk di sana sambil meletakkan segelas kopi panas juga di atas meja.
Marry memasang wajah cemberut, “Entah kalian bercanda, tidak tahu atau memang sedang menguji. Tapi, saya bukan bumil. Kenapa satu Rumah Sakit ini mempersulit fakta yang ada,” ujar Marry.
Ravendra terdiam. Hening cukup lama dan tidak ada sahutan sama sekali. Marry melirik laki-laki itu dan menemukan Ravendra sedang terlelap.
What ?!
“Wah, luar biasa sekali malaikat maut satu ini. Dia benar-benar menyebalkan!”
Marry mendengus sejenak lalu kembali menikmati kopinya. Sudahlah, dia mau menikmati saat santai ini tanpa gangguan. Dia berusaha mengabaikan si Ravendra. Ia merogoh kantong jasnya, meraih ponsel dan melihat pesan whatsapp dari Zara yang masih berusaha mengajaknya berbicara sejak tragedi ‘hamil’ itu. Marry mendengus dan hendak membalas pesan Zara dengan cerita tentang Sean. Tapi ia mengurungkan niatnya. Dia tahu Zara akan heboh jika tahu soal Sean. Bisa-bisa dia terbang pulang ke sini dalam hitungan menit. Harapan terbesar Zara sejak tahu Sean melarikan diri begitu saja setelah lamarannya ditolak adalah, menonjok wajah Sean. Yah, harapan bertarung kemarahan.
Marry tersenyum sakartis. Tidak bagi Marry. Sebesar apapun kemarahan yang ia pendam. Sebesar apapun kekecewaan ya pada Sean di masalalu, nyatanya menguap begitu saja. Ia hanya bisa menerima pasrah kehadiran Sean kembali alih-alih menonjok wajahnya. Sean yang sekarang cukup berbeda dengan Sean yang dulu. Sean yang mendadak jadi dokter bedah justru menimbulkan banyak pertanyaan bagi Marry. Apakah Sean melepaskan semua impiannya karena Marry?
Memikirkan pertemuan singkat yang penuh drama antara dia dan Sean, rupanya memancing rasa kantuk yang hebat. Ia merasakan tubuhnya tiba-tiba serangan bulu dengan mata yang memberat. Ia bahkan tidak sadar jika pekatnya malam, berganti dengan pekatnya mimpi.
-oOo-
Sebuah getaran ponsel di meja, membuat Marry membuka mata sejenak. Ia melihat sekelilingnya yang miring masih gelap. Ia mengerjap sejenak, mengumpulkan kesadaran ya lalu menegakkan kepala dengan cepat. Ia mengecek mata, lalu menatap ponselnya yang sudah berhenti bergetar. Ia mengetuk layarnya dua kali dan menemukan 15 panggilan tidak terjawab dari suster Sandy. Dia melompat berdiri dengan panik saat menemukan jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Sebuah memo terjatuh dari keningnya.
BANGUN DAN SEGERA KE RUANGANKU! RAVENDRA.
Marry membelalak terkejut, meraih ponsel dan memo itu, menenteng jas putih dan segera berlari meninggalkan balkon. Tidak lupa, ia menyeka air libur dari ujung bibirnya.
“Sial, jika tahu gue lagi tidur. Bangunin, kek! Dasar Martin sialan!” umpat Marry yang panik menekan-nekan tombol lift. Masih di lantai 5. Ah, Marry mendengus kesal dan memutuskan untuk lewat tangga.
Tanpa Marry sadari, sepasang mata Sean terus melekat memandangnya dari kejauhan. Ia meneguk kopi di tangannya sambil mendengus. Ia berada di sana sejak Marry menyesap kopi panasnya dan tetap di sana hingga gadis itu pergi. Sungguh, waktu yang cukup untuk melihat semuanya. Perlahan, ia meremas gelas plastiknya dan melemparnya ke tong sampah dengan gusar.
-oOo-
Memento Mori.
Marry melirik sekilas buku yang tergeletak di atas meja kerja Ravendra. Yah, sangat cocok dengan sebutan malaikat maut. Dia selalu mengingat akan memori kematian. Marry menghela napas panjang, mengatur napasnya yang terengah setelah berlari menuruni tangga menuju ruangan Ravendra.
“Sudah puas tidur, nona?”
Marry mengerjap sejenak, “Harusnya tadi dokter bisa lho, bangunin saya.”
“Seribu toa masjid juga gak akan sanggup bangunin kamu.”
“Tapi, kita sama-sama tidur lho, tadi. Jadi, harusnya dokter juga bangunin saya. Minimal, menyenggol bahu saya.”
Ravendra melempar tatapan tajam ke arah Marry. Gadis itu tertunduk bodoh sembari mengerjap mata, menghilangkan rasa kantuk yang masih menggelayut di pelupuk matanya.
“Sudah berapa kali suster Sandy meneleponmu?”
“Lima belas.”
“Dan, kamu masih belum sadar kenapa saya ninggalin kamu tidur di sana?” ujar Ravendra, “Usaha saya, sudah mengkhianati hasil. Kamu tetep aja ngiler di meja kantin meski saya punya niat membangunkan kamu. Bagaimana bisa ada orang yang tidur sepertimu? Dan, tolong... iler kamu."
Marry tanpa sadar menyeka ujung bibirnya. Sejak kapan dia ngiler? Serius. Zara pernah bilang kalau Marry tidur seperti bayi yang polos. Tanpa mendengkur dan tanpa mengiler. Ah, sungguh, apa itu penting sekarang? Ah, dia harus bersiap dengan hukuman. Lagi.
“Maaf dok.”
“Ada pasien IGD. Dia sedang hamil dan mengalami kontraksi. Kehamilannya baru memasuki usia 26-28 minggu. Dia juga punya komplikasi kelainan jantung. Saya minta kamu memeriksa dan mengobservasi ketat. Dokter obgyn baru bisa datang jam enam nanti.”
Marry mengangguk kecil. Jadi, dia tidak dapat hukuman nih? Serius. Marry mengernyit sekilas. Bingung.
“Masih bengong? Cepat keluar.”
Marry terbentuk kecil lalu mengangguk cepat dan segera mengambil langkah seribu. Ia membuka pintu dan hampir melangkah ke luar saat Ravendra memanggilnya. Lagi.
“Omong-omong, bumil... ,” Ravendra membuat Marry terdiam di ambang pintu, menoleh ke arah Ravendra , “Lain kali, jangan tidur sembarangan tanpa saya. Untuk tadi, untung kamu tidur di sebelah saya. Jika tidak... saya gak bisa bayangin hal buruk yang mungkin terjadi."
Huh? Marry melebarkan bola mata terkejut dan bingung dengan ucapan Ravendra. Tapi, ada yang lebih mengejutkan lagi.
“Kalian tidur bersama?!"
Marry menoleh ke arah asal suara dan menemukan suster Sandy sudah berdiri di depan Marry dengan membawa berkas-berkas. Kerlingan mata dan senyuman suster Sandy yang khas, membuat Marry mendengus. Ia menatap Ravendra yang tampak tersenyum lirik seraya menggedik bahu asal.
Sial!
-oOo-
Sepanjang waktu dinas yang tersisa, Marry disibukkan oleh pasien ibu hamil yang memiliki kelainan jantung. Dia tidak punya waktu untuk bersantai. Ugh sepertinya ini cara Ravendra membalas dendam akan waktu tidurnya. Tapi, entah kenapa sejak tadi, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal, seolah sesuatu yang cukup besar terjadi namun ia melupakannya. Tapi, apa? Terlebih, dia masih cukup penasaran dengan ucapan Ravendra tadi. Memangnya, apa yang terjadi saat ia tidur?
Dokter obgyn benar datang pukul enam dan segera melakukan tindakan SC cito. Lagi-lagi, Marry ikut hadir dalam proses operasi. Jadi, dia benar-benar lelah. Meski hanya sebagai asisten, tapi dua kali ikut dalam proses operasi cito yang berat, menguras tenaganya. Dia bahkan lupa kalau dia masih ada urusan dengan suster Sandy. Dia harus segera menahan agar gosip tentangnya dia beredar semakin liar.
Ah, bisa-bisanya Ravendra justru menjebaknya. Dia justru tidak ada niatan untuk menjernihkan masalah, malah memperkeruh gosip. Apa yang dipikirkan Ravendra? Kenapa dia begitu acuh dengan cara pandang orang padanya? Tapi, yang paling dirugikan memang hanya Marry. Dia harus mendapat banyak gosip. Hamil, memiliki hubungan khusus dengan Ravendra. Dan sekarang, dia harus berhadapan dengan kalimat up to date si biang gosip ‘Marry dan Ravendra tidur bersama’. Sial!
Kopi keduanya selama dinas malam. Hanya saja, ini jadi kopi terakhirnya seraya melangkah menuju lift untuk mengakhiri dinasnya. Ia melirik jam tangannya, jam delapan pagi. Ah, untung dia libur dua hari ke depan. Dia sungguh bahagia memikirkan bagaimana empuknya ranjang dan terlelap bebas. Badannya terasa seperti dihantam ribuan kerikil. Tidak sakit, tapi lama-lama membuatnya merasa kaku keram. Ia memijat-mijat kecil bahunya seraya menghabiskan sisa kopinya saat Pintu lift terbuka dan Sean ada di sana.
Marry menelan kopinya dengan susah payah karena harus beradu pandang dengan Sean. Tatapan Sean cukup tajam dan dingin. Momen ini membuat Marry teringat akan buku yang dibaca Ravendra. Memento Mori. Lagi, selain Ravendra, Sean juga salah satu alasan bagi Marry untuk ingat akan kematian. Yah, menghadapi dua orang itu sama seperti menghadapi kematian. Berlebihan? Tapi, memang begitu nyatanya.
“Pagi, dok... ,” sapa Marry memecah keheningan kaku mereka. Marry hendak melangkah masuk ke dalam lift tapi Sean tiba-tiba mencengkeram tangannya dan menyeretnya menuju tangga darurat. Untung saat itu, lantai dua masih cukup sepi. Marry tidak mau menambah gosip tentang dirinya.
Marry berusaha melepas cengkraman tangan Sean namun laki-laki itu semakin menyeretnya. Begitu tiba di tangga darurat, Sean mengunci pintu, mendesak Marry ke dinding. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter. Lagi, Marry bisa mencium aroma bargamot bercampur mint dari tubuh Sean. Aroma yang memacu adrenalinnya. Ia terseret kenangan masalalu. Saat ia berdebar, menggelepar akan kerinduan pada aroma Sean. Marry menelan ludah dengan susah payah dan ingin memberontak. Tapi, Sean menahannya kuat. Dingin.
Dan, detik kemudian, Sean mencium bibir Marry. Marry tercekat, ia bisa merasakan bibir Sean yang hangat dan sedikit kasar menyentuh bibirnya. Ia bisa merasakan aroma dari merk pasta gigi menyeruak kala bibir Sean semakin beringas mengunci bibir Marry. Marry terdiam dan tanpa sadar ia memejamkan mata. Ya, inilah bibir yang tanpa ia sadari, sangat dirindukan. Dia merindukan semua yang ada pada Sean. Pun, dengan bibir Sean. Dia merindukannya.
Tapi, sekelebat ingatan kecil dari alam bawah sadarnya ikut muncul. Sebuah ingatan yang membuatnya terhenyak.
Pukul dua dini hari saat ia terlelap di balkon. Saat setengah sadar, seseorang berusaha membangunkan ya tapi Marry menarik lengan orang itu dan mencium bibirnya. Pukul dua dini hari, ia mencium seorang Ravendra. Ughhh!
-oOo-
yg mempir kecerita author menari...