Perjodohan, pernikahan yang tidak didasari cinta ini hanya mempunyai dua kemungkinan. Saling jatuh cinta dan ikatan pernikahan itu akan abadi, atau berpisah karena kecocokan itu tidak kunjung terlihat.
Wanita yang berdiri di atas tempat tidur dan menghadap figura besar di dinding, batinnya bergejolak. Diusapnya figura itu pertanda dia sudah memantapkan hati dan keputusannya.
"Divina...."
Suara itu membuat sang wanita berbalik dan mengulas senyum lembut, membuat laki-laki yang tadi memanggilnya itu merasa resah.
>>> Hihi.... Cerita baru, padahal yang lama masih belum juga dilanjut👉🏻👈🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainuru Fitori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laki-laki yang Menyedihkan
Revan keluar dari kamarnya, menuruni puluhan anak tangga yang melingkar. Dengan celana pendek dan baju kaos hitam, dia berlari menuju garasi dan memasuki salah satu mobilnya.
Bobby sudah memberitahukan bahwa orang-orang suruhan Divina telah pergi. Maka dari itu dia bisa keluar dari rumah dan mencari istrinya itu. Revan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat tiba. Tujuannya adalah rumah mertuanya, dia yakin kalau Divina ada di sana.
Penjaga langsung membukakan gerbang saat Revan membuka kaca mobil. Dia segera masuk dan berhenti di pelataran rumah mewah klasik itu. Revan membuka pintu dan melihat kalau kedua mertuanya dan saudara iparnya sedang duduk di ruang keluarga.
Dio yang melihat kedatangan menantunya, tentu agak terkejut. Dia berdiri dan mendekati Revan. Pasti ada sesuatu yang membuat Revan datang secara tiba-tiba ke sini.
"Apa Divina di sini?" tanya Revan sebelum Dio menanyakan maksud kedatangan menantunya itu.
"Apa yang terjadi dengan Divina?" tanya mama Divina, Dira. Dia ikut menghampiri suami dan menantunya yang masih berdiri itu.
Dari respon ibu mertuanya, Revan tahu kalau Divina tidak ada di sini. Dia ingin berbalik, namun bahunya ditahan oleh laki-laki yang baru saja menghampiri mereka.
"Apa yang kau lakukan pada adikku?" tanya laki-laki itu. Dia adalah Devandra, kakak laki-laki Divina. Dia bisa menebak kalau ada yang terjadi pada rumah tangga adiknya itu.
"Divina pergi," ucapnya lirih.
Tubuh Revan terhuyung ke belakang setelah satu pukulan keras dari Devandra mengenai pipinya. Laki-laki itu begitu marah menyadari Revan telah menyakiti adiknya. Satu pukulan lagi dia layangkan, namun tubuhnya ditahan oleh Dio.
"Tahan, Dev. Biarkan Revan menjelaskan apa masalahnya." Dio membawa Devandra menjauh dari tubuh Revan. Dira membawa Revan duduk di sofa.
Dio menatap Revan yang menundukkan kepalanya, dia menghela napas panjang. "Apa yang terjadi, Revan?" tanyanya.
Mata Revan berkaca-kaca, dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya dan meletakkannya di atas meja. Dira lah yang pertama kali mengambilnya. Wanita itu menutup mulutnya yang menganga dan air matanya mengalir.
"Divina hamil?" tanya Dira tanpa menatap Revan, dia hanya fokus pada hasil USG yang berada di tangannya.
Dio mengambil benda itu dari tangan sang istri, rasa senang sekaligus khawatir menyerang hatinya.
"Apa yang terjadi, Revan? Jawab!!" bentak Devandra dan memandang tajam laki-laki yang tampak menyedihkan di depannya.
Revan tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Yang jelas semua ini adalah kesalahannya.
"Divina memohon untuk cerai, dan sekarang dia pergi." Hanya itu yang bisa Revan katakan. Otaknya tidak bisa merangkai apa yang harus dia katakan pada keluarga istrinya itu.
Tubuh Dira terhuyung, apa yang dialami putrinya sampai meminta cerai. Bahkan Divina tidak mengatakan apapun pada mereka tentang masalah yang dia hadapi.
"Aku terlambat menyadari perasaanku hingga dia menyerah. Aku benar-benar mencintainya, namun dia tetap memilih pergi." Air mata Revan mengalir, dia juga terluka karena perbuatannya selama dua tahun pada sang istri.
Dio menahan Devandra yang hendak menerjang Revan. Dia tahu kalau anak pertamanya ini tidak akan bisa menerima jika Divina terluka sedikit pun.
"Brengsek!! Seharusnya aku tetap menentang perjodohan kalian dulu, Sialan!!" Devandra benar-benar marah, meja kaca di depannya sampai pecah karena dia pukul. Dia memang tidak menyetujui perjodohan itu dulu, karena dia tahu Revan tidak mencintai Divina.
Dio mengusap wajahnya, dia berdiri dan tidak menatap Revan sedikit pun.
"Aku salah, seharusnya aku mendengarkan Devandra saat itu. Percaya padamu atas Divina adalah kesalahan terbesarku." Dio langsung pergi setelah mengatakan itu. Dia benar-benar kecewa pada Revan. Ini kesalahannya juga yang tetap melangsungkan perjodohan itu dan sekarang putrinya terluka karena itu.
Devandra berdiri dan menendang meja yang hanya tersisa rangkanya saja hingga terbalik. Dia meraih leher baju Revan kembali melayangkan pukulan di sana.
"Jika bukan karena adikku mencintaimu, aku tidak akan pernah mendukungmu sedikitpun!" Satu pukulan lagi mendarat di wajah Revan.
"Puas kau, Brengsek!! Adikku menderita selama dua tahun karenamu!" Belum puas, pukulan bertubi-tubi Devandra berikan.
Revan tidak melawan, dia pasrah. Rasa sakit yang dia rasakan rasanya belum sebanding dengan luka batin istrinya selama dua tahun ini.
"Aku yang akan mengurus perceraian kalian, jangan harap kau bisa bertemu dengan adikku lagi!" Pukulan terakhir dan Devandra langsung pergi ke luar. Dia akan mencari Divina, adiknya itu pasti butuh dirinya sekarang.
Dira yang sejak tadi hanya menangis dalam diam, dia berjalan ke arah Revan yang sudah babak belur terkapar di atas sofa.
"Jujur, Mama kecewa sama kamu, Revan. Kamu sama sekali tidak memiliki perasaan untuk Divina, tapi kamu tega ngehamilin dia. Kamu anggap apa anak Mama? Dia bukan pemuas nafsumu, Revan! Dan hebatnya Divina, dia menahan semuanya sendiri." Dira menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengalir itu.
"Talak Divina setelah anak kalian lahir! Tolong jangan buat dia terluka lebih dalam karena kamu ingin mempertahankannya." Dira menyerahkan hasil USG yang sejak tadi dipegangnya itu kembali ke Revan. Setelah itu dia berdiri dan melangkah pergi.
Tubuh Revan membeku, rasa sakit di wajahnya tidak lagi dia rasakan. Semua rasa sakit itu sekarang berpusat pada hatinya. Darah di hidung dan bibirnya dia usap dengan punggung tangannya.
Dengan susah payah, Revan berdiri dan berjalan pelan keluar dari rumah itu. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Penglihatannya tidak jelas karena air matanya, namun sebuah keajaiban karena dia sampai di rumahnya dengan selamat.
*****
Di ruangan rumah sakit, Divina sedang berbaring di atas brankar. Tangannya ditusuk infus, walau sebenarnya dia takut dengan jarum. Keadaannya sedikit buruk karena tertekan dan banyak pikiran. Semua yang terjadi benar-benar membuat kepalanya sakit. Dan karena kondisinya yang kurang baik itu, dia harus dirawat
Wanita itu termenung, jejak air mata yang mengering terlihat jelas di pipinya yang agak tembem itu. Memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depannya serta kehamilannya, membuat kepalanya kembali sakit.
"Kita berjuang sama-sama, ya. Papa kan nggak butuh kita, jadi kita harus bisa bertahan tanpa dia." Divina mengusap perutnya yang masih datar itu. Menguatkan dirinya untuk bisa hidup bersama calon bayi kecilnya, meskipun tanpa suami. Bukankah dia sudah terbiasa ditinggal oleh Revan? Maka ini seharusnya bukan masalah, bukan?
Divina memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Dia butuh istirahat agar janin kecil di dalam perutnya tetap sehat dan kuat. Dia juga ingin cepat keluar dari rumah sakit, sama sekali tidak nyaman di sini.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
utk divina kl ada sesuatu yg ganjal di hati/sebuah pertanyaan utk sang suami hrus diutarakan/ditanyakan langsung,krn sebuah hubungan hrus sling terbuka gak bisa klo cuma diem di batin aja, krn zaman skg sdah jrang org puya ilmu kebatinan,iya gak sodara2..??!!
good job thor, ttp smangat n Fighting ✊✊✊