Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Tertangkap
"Giliran dong, sekarang kamu yang masuk untuk menyelidiki." Ujar Rin sambil mendorong Rei.
Mereka sudah selesai bersiap dan sekarang sudah ada di lokasi, yaitu di kota Himegami, samping SPBU dekat pemakaman umum. Terpampang jelas toko obat dari atas sebuah gedung bertingkat 5 tempat mereka mengintai.
"Ahh iya, tapi aku sembrono lho, pasti langsung ada keributan dalam waktu 5 menit."
Rei meletakan tangan di belakang kepalanya. Dia memakai kacamata mikro yang dirangkap dengan topeng rubah putih dengan garis-garis merah di sekitar matanya, yang dia pakai dulu waktu misi pertama. Dia juga memakai jubah bewarna merah yang dilengkapi alat setrum dan sayap lipat ciptaan mereka didalamnya. Pakaian yang mereka pakai anti listrik, jadi tidak perlu khawatir senjata makan tuan.
"Terserah, kalau sudah dapat bukti, kau boleh sembrono sesuka hati. Pokoknya bawa pulang buktinya."
Rin mengintai gedung menggunakan kacamata mikro di rangkap topeng elang perak yang dulu juga di pakainya waktu misi pertama. Dia memakai jubah bewarna biru dengan alat setrum dan sayap lipat, sama seperti Rei.
Alat setrum itu dirancang bereaksi dengan gerakan dadakan. Bila orang yang memakai alat tersebut memberontak atau merasa terancam, alat itu akan langsung mengeluarkan listrik bertegangan tinggi... Dijamin K.O.
Rei melompat turun ke atap toko obat itu. Kebetulan jalan di sana sangat sepi pada jam-jam sibuk seperti saat ini. Rei masuk ke dalam toko obat itu lewat pintu atap dan turun melewati tangga yang berputar-putar.
"Ada penjaga di bawah tangga, lebih baik kau melompat langsung bila sudah cukup dekat dengan lantai." Rin menjadi navigasi Rei, yang tentunya tidak tahu arah.
"Coba kau memberi informasi seperti aku saat menyusup, kan enak." Terdengar suara Rin dari earphone berbentuk setegah bintang milik Rei.
"Iya, iya... Belok kiri terus masuk ruang VIP? Tau dari mana?" Rei mendengarkan Rin dari earphone, dia meletakkan sebelah tangan kirinya di earphone, tangan kanannya memegang senjata Amunisi F-5.
"Aku genius, sudah kudapatkan peta birunya tadi. Di depan ruang VIP ada penjaganya juga, kamu akalin saja, terserah mau diapakan... Dan juga jangan terlalu berisik."
Rin duduk mengawasi sambil menjadi navigasi, dia memangku laptop, tangan kirinya memegang earphone, tangan kanannya mengikuti gerakan Rei memasuki ruangan di laptop dengan alat GPS yang ada di earphone berbentuk setengah bintangnya.
Rei sampai di dekat ruang VIP dan melihat dua pria penjaga berbadan besar dan sepertinya galak, kedua pria itu menggunakan jas hitam dan berkacamata hitam...
Rei berpikir cepat, lalu dia mendapat ide dengan memanfaatkan bakat aktor dan sulapnya. Rei menyimpan Amunisi F-5 dibalik jubahnya.
"Ehem..." Rei membetulkan suaranya, "Hei, minggir kalian, menghalangi jalan. Kalian tidak ada yang becus, biar yang tak berguna di pecat saja." Rei berkata dengan sombong sambil mendatangi para penjaga itu.
"Siapa anak ini?" Pria berjas hitam itu bertanya dengan berbisik pada temannya.
"Entah, aku baru pertama kali melihatnya..." Temannya itu balas berbisik, "Siapa kau nak? Ada keperluan apa disini? Dan bagaimana kau bisa masuk?" Tanya teman pria berjas hitam pada Rei.
"Banyak tanya, Aku tamu penting, bisa masuk ke sini jelas karena punya izin. Aku di perlukan disini, dan jelas aku punya kemampuan khusus yang istimewa." Rei berlagak sok penting sambil membuang muka, pura-pura jual mahal.
"Coba tunjukkan kemampuanmu itu." Pria berjas hitam itu menatap Rei dengan tajam.
"Baik, lihatlah..." Rei mengeluarkan kain kotak yang di bagi menjadi 8 warna, "Aku akan menghilangkan kain ini dari mata kalian, perhatikan baik-baik." Rei meletakkan kain itu di telapak tangannya kemudian dia mulai melipat-lipat setiap segmen kain itu.
"Oke, dalam hitungan ke satu, kain ini akan hilang dari mata kalian... Tiga... Dua... satu!" Pop! Kain itu menghilang dari telapak tangan Rei yang memakai sarung tangan.
"Kalian pasti berpikir kainnya sudah di buang kan? Sayang sekali, kainnya ada disini... Muncullah..." Rei menarik kain itu dari telapak tangannya yang kosong.
"Yah, tidak seberapa kan." Rei merobek-robek kain itu seperti kertas dan melemparnya ke udara, robekan kain-kain itu berubah menjadi hujan uang.
Para penjaga itu terlihat takjub, sulap sangat jarang tersebar di masyarakat pada saat itu, sehingga orang-orang mengira itu kekuatan ajaib. Hujan uang yang dibuat Rei pun di sangka kekuatan gaib yang membuat orang menjadi kaya, padahal itu memakai sebuah trik.
"Ohh luar biasa! Tuan muda sangat hebat, boleh kami ambil uang-uang itu?" Tanya penjaga melihat uang seratusan yang berserakan dilantai.
"Kenapa tiba-tiba pakai bahasa hormat? Ambil saja, itu jumlah yang sangat kecil." Rei menjawab dengan ketus.
Setelah para penjaga itu selesai memungut uang, Rei di persilahkan masuk ke ruang VIP, "Nona Izumi sedang tidak ada di dalam, silahkan Tuan muda menunggu dengan sabar kedatangannya." Pria berjas hitam itu membukakan pintu untuk Rei.
"Yeah, aku tahu." Rei berjalan masuk kedalam ruang VIP, ternyata isinya lorong yang cukup panjang... Penjaga itu menutup pintu setelah Rei masuk.
"Kau bohong Rei, ini sudah 5 menit lebih, tapi keadaan masih sunyi." Terdengar lagi suara Rin di earphone Rei, Rei sedang melintasi lorong itu.
"Mau ku ledakan sekarang?" Rei menjawab dengan jengkel.
"Terserah kau... Boros sekali yah, lempar-lempar uang." Ujar Rin, sepertinya dia mendengar aksi sulap Rei dari earphone.
"Biar saja, uangnya uang FBI, mau di bakar juga tidak apa-apa." Rei berlari disepanjang lorong, "Lorong ini mengarah kemana?" Rei bertanya setelah berlari cukup jauh.
"Sepertinya keruang bawah tanah, lorong itu menembus tempat lain yang jauh... Lurus terus sampai ujung." Rin menjawab dan langsung mencari data cetak biru peta lokasi Rei menggunakan laptopnya.
"Kota ini benar-benar nggak maju, perusahaannya miskin sekali, mereka tidak memasang CCTV untuk mengintai penyusup." Rei berlari sambil melihat kiri kanan lorong, tapi tak ada satupun CCTV.
"Ahh... Itu ujung lorongnya." Rei berkata pada Rin lewat earphone ketika melihat lorong yang tiba-tiba jadi persimpangan.
"Saat masuk ke sana akan ada banyak ruangan. Cari yang tampak berbeda dari yang lain." Kata Rin, dia sudah mendapat data cetak biru lorong bawah tanah itu.
"Oke... Benar-benar banyak, mungkin lebih dari 100..." Rei bergumam begitu sampai di ujung lorong.
Rei mencari ruangan yang terlihat berbeda sambil berlari-lari disepanjang koridor. "Ini ruangan yang paling aneh." Rei menemukan sebuah ruangan berpintu merah muda dengan gambar penyu abu-abu di bawahnya.
"Hmm, kalau di lihat... Tak ada tanda-tanda manusia di lorong ini dan ruangan itu. Kau mau coba masuk?" Rin memperhatikan laptopnya dengan seksama, tak ada titik lain selain Rei.
"Oke, ayo kita coba." Rei mencoba mendorong pintunya, "Ternyata di kunci, terbuat dari besi lagi." Ujar Rei, dia mengeluarkan las besi seukuran pulpen dari saku celananya dan memotong pintu besi itu.
Sreng... Brakk! Pintunya jatuh, sekarang ruangan itu terbuka. Rei masuk ke dalam, dan di sana tampak ruang penelitian dengan banyak botol-botol dan tabung kaca eksperimen.
"Ambil stempel obatnya saja kan?" Tanya Rei pada Rin.
"Kalau bisa ambil langsung obat yang sudah jadi, satu saja cukup." Jawab Rin.
Lalu Rei mengobrak-abrik ruangan itu... Dan menemukan tiga pil obat bewarna pink putih. Rei memasukkan nya ke dalam kantong plastik dan menyimpannya di dalam jubah.
"Sekarang boleh di hancurkan?" Rei bertanya pada Rin sambil mengeluarkan Amunisi F-5.
"Entahlah... Boleh-boleh saja, hancurkan sampai mereka tak bisa membuat stempel baru lagi... Dan cepat keluar dari situ, suara berisik akan mendatangkan masalah untuk kita." Rin menjawab sambil menghela napas.
"Yak, pesta kembang api di mulai!" Rei membidik meja penelitian yang terdapat banyak botol dan tabung kaca berisi cairan aneh.
DOR! DUARR! DOR! DOR! BUM! BLARR! SSS!
Pip! Pip! Pip! Alarm keamanan ruangan itu berbunyi. DOR! DUARR! Alat alarm itu langsung di tembak hancur Rei, berisik sekali.
"Hei, hei, sudahlah, penjaganya datang. Cepat lari." Banyak titik-titik bewarna hitam berdatangan kearah Rei di lihat dari laptop Rin.
"Ada jalan pintas kah?" BUM! BLARR! Rei masih asik menghancurkan ruangan itu.
"Ada... Pergi ke kordinator 23-05-1889, lalu hancurkan atapnya, sepertinya ada tangga darurat yang menghubungkan gedung dengan lorong ruang bawah tanah itu... Ada CCTV... Akan ku-matikan CCTV gedungnya terus lurus." Rin menggerakkan jari-jarinya dengan cepat di keyboard laptop.
Rei langsung berlari ke arah yang di tunjukkan Rin sambil terus menghancurkan ruangan ruangan yang dilewatinya. DOR! DOR! DOR! DUARR! PRANKK! BLARR! SSS!
Drap! Drap! Drap! Suara langkah kaki bersahut-sahutan dalam lorong itu.
"Ini ya?" DUARR! Rei menembak atap kordinator sesuai instruksi Rin, dan langsung memanjat tangga yang ada di sana. Rei bergerak cepat menaiki tangga itu.
Disaat yang bersamaan...
Diatas gedung tempat Rin mengatur gerak gerik Rei, datang puluhan orang pria berjas hitam. Mereka mengepung Rin.
Salah seorang dari pria itu mendekati Rin dan berusaha menangkapnya. Rin yang bisa bela diri karate karena di ajarkan Kaoru langsung menendang muka pria berjas hitam itu.
"Heah!" DUAKK! Pria berjas hitam itu langsung tumbang kena tendangan Rin. "Jangan coba-coba sentuh aku, nanti kalian mati."
Namun mereka langsung menyerbu Rin beramai-ramai, "Kubilang jangan sentuh!" BRRZZTT!! Alat setrum di jubah Rin bereaksi dengan gerakan memberontak.
"Gyaa!!" Para pria berjas hitam langsung K.O terkena listrik tegangan tinggi dari alat setrum seperti stun gun ciptaan Rei dan Rin.
Dan ternyata mereka sudah menduga akan mendapat serangan dadakan, sehingga sebagian dari mereka yang masih belum K.O memakai rompi khusus. Rompi itu anti api, anti air, anti angin, anti peluru, dan tentunya anti setrum, mereka kembali menangkap Rin.
"Lepaskan aku!" DUAKK! BAK! BUK! BRAK! Rin menghajar para pria berjas hitam itu, dan tentu saja rompi itu tidak anti pukul. Tapi pria berjas hitam itu berhasil menahan semua gerakan Rin dan mengunci gerakannya.
"Jangan sentuh adikku!" DOR! DUARR! Rei sudah sampai di atas gedung dia menembak para pria berjas hitam itu dengan Amunisi F-5.
"Anak kecil!" DUAKK! Pria berjas hitam itu memukul Rei dengan senapan dari belakang. Rei terjatuh ke lantai, topeng rubah putihnya lepas dan senjata Amunisi F-5 terlepas dari tangan Rei. Kepala Rei berdarah...
"Rei!!" Rin berteriak panik, Rei jatuh ke lantai atap gedung.
"Jangan di bunuh! Bawa mereka hidup-hidup kehadapan Tuan Akira! Ikat mereka sekarang!" Perintah pria berjas hitam itu.
Rei dan Rin di ikat dan mulutnya di tutup menggunakan lakban. Mereka akan dibawa ke CEO Organisasi, Akira!
To be continued...
Gubrak!