Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.
Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.
Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 35
Pagi itu, Nathania sudah bangun dan tampil rapi. Rapi ala dirinya sendiri. Ia masih memakai midi skirt floralnya dengan sebuah atasan blouse panjang berkancing depan yang cukup ketat berwarna putih. Penampilan yang sangat biasa saja. Apalagi jika dibandingkan dengan penampilan Nastya.
Setelah sarapan, Nathania pun segera berkutat dengan tugasnya dihari Senin ini.
Hari ini, Elang tampak sudah rapi. Sepertinya ia hendak pergi keluar. Mungkin untuk melihat keadaan perusahaannya, karena ia sudah terlihat sangat tampan dengan setelan jas dan kemeja putihnya, meskipun tanpa dasi.
Sebelum berangkat, ia menyempatkan untuk mampir sebentar ke kamar Aida.
Tidak ada hal penting yang ia lakukan disana, pun tidak ada kata-kata apalagi niatan untuk mengajak nenek tua itu berbincang. Elang, hanya mencium kening sang nenek dan setelah itu ia keluar lagi dari kamar Aida.
Akan tetapi, sebelum keluar dari kamar itu, ia menyempatkan diri untuk melirik Nathania sejenak. Gadis itu tengah sibuk merapikan pakaian Aida ke dalam lemari. Ia tidak mempedulikan Elang sama sekali.
Elang tertegun sejenak. Ia teringat kejadian semalam, dimana gadis itu melepas seluruh pakaiannya dan berenang di malam buta. Ia pun menarik nafas panjang dan menghempaskannya perlahan.
Dengan cepat ia menepiskan semua bayangan itu. Melihat wanita telanjang adalah bukan hal yang baru lagi baginya. Kenapa ia harus terkesan dengan apa yang ia lihat semalam? Apalagi, masih banyak wanita yang jauh lebih seksi dan menggoda jika dibandingkan dengan Nathania.
Hari ini, Elang memang pergi ke perusahaanya. Perusahaan property miliknya, untuk melakukan pertemuan penting. Ia pergi dengan Range Rovers beserta supir pribadinya.
Sudah hampir jam 10, namun si gadis menyebalkan Nastya sepertinya belum bangun. Bahkan ketika ada seorang pria yang datang mencarinya. Setahu Nathania, pria itu adalah kekasihnya.
"Aku ingin bertemu dengan Nastya," ucapnya kepada Nathania yang kebetulan membukakan pintu untuknya.
Nathania pun mengangguk pelan. Ia mempersilakan pria berpenampilan manis itu untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu.
Ada banyak pelayan disana. Tetapi kenapa harus ia yang naik ke lantai dua dan membangunkan gadis menyebalkan itu?
Nathania mengeluh kesal. Mau tidak mau, Nathania pun harus melakukannya. Ia kemudian naik ke lantai dua.
Dengan keras ia mengetuk pintu kamar Nastya yang berwarna putih. Hanya butuh 2 kali ketukan, hingga gadis itu membuka pintu kamarnya. Nastya terlihat sudah rapi. Rupanya, ia pun akan pergi.
"Ada apa?" Tanyanya dengan nada ketus seperti biasanya.
"Ada tamu untukmu. Dia menunggu di bawah," jawab Nathania dengan malas.
Ia pun segera beranjak turun. Ia tidak ingin berlama-lama berada di hadapan Nastya, karena ujung-ujungnya gadis itu hanya akan menghujaninya dengan kata-kata sangar yang tidak patut diucapkan oleh seorang gadis dari keluarga terhormat seperti dia.
Entah siapa yang mengajarinya berkata kasar dan kotor. Tetapi, Nastya lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Mungkin, sepertinya kata-kata kasar itu ia dapatkan dari pergaulannya.
Nathania pun kembali ke kamar Aida. Ia duduk di kursi yang ada disana. Ia menatap nenek tua yang tengah tertidur pulas itu. Fikirannya pun kembali kepada Rahman. Ia tengah memikirkan darimana akan mendapatkan uang sebanyak 35 juta, untuk melunasi hutang-hutang Mely yang sudah jatuh tempo itu. Itu jumlah yang sangat besar baginya dan keluarganya.
Setidaknya, uang itu sudah harus ada hari ini. Karena besok siang, kedua pria itu akan mengambilnya ke rumah mereka.
Nathania pun meraih ponselnya dan menghubungi seorang tetangganya. Ia meminta izin untuk dapat bicara dengan kakaknya. Untunglah, tetangganya bersedia meluangkan sedikit waktu untuk itu.
Nathania pun menanyakan perihal uang itu, ketika ia sudah terhubung langsung dengan Rahman. Dengan berat, Rahman mengatakan jika ia belum mendapatkannya. Pria itu sudah kesana kemari mencari pinjaman, namun tidak ada seorangpun yang mau meminjamkannya uang sebanyak itu kepadanya.
Lagipula, mereka tinggal di kawasan pemukiman rakyat biasa yang bahkan terkesan kumuh. Mana ada yang memegang uang sebanyak itu. Rahman terdengar sudah menyerah.
Hingga menjelang sore, Nathania pun masih termenung. Samar-samar ia mendengar suara Elang tengah berbicara di telepon.
Tuan Besar itu rupanya sudah kembali.
Tiba-tiba terbersit ide dalam fikirannya. Ia pun bangkit dari duduknya dan merapikan dirinya. Ia melangkah keluar dari kamar Aida dan menuju ruang kerja Elang.
Menarik nafas panjang, ia pun mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Nathania pun kembali mengetuk pintu itu lagi. Betapa terkejutnya ia, karena Elang ternyata telah berdiri di belakangnya.
"Ada apa?" Tanyanya dengan tegas, dingin, dan datar.
Nathania pun segera membalikan badannya. Ia jelas belum dapat menguasai dirinya dari rasa kagetnya itu. Ia pun menjadi kelabakan.
Elang menatapnya dengan tajam. Ia tidak berkata apa-apa. Tak ada ucapan sedikitpun ketika ia dengan tenangnya membuka pintu ruang kerjanya, dan membiarkan Nathania dengan sikap bodohnya dibalik pintu itu.
Namun, tidak berselang lama Nathania pun meminta izin untuk masuk.
Elang mempersilakannya masuk meski hanya dengan sebuah isyarat saja.
Nathania berdiri dihadapan pria dengan tatapan mata tajam dan dingin itu. Pria yang kini tengah duduk di balik meja kerjanya bersama sebuah laptop canggih dan mahal miliknya.
"Ada apa? Bicara dengan seperlunya dan jangan terlalu berbelit-belit. Aku masih punya banyak pekerjaan!" Titahnya dengan tegas dan justru membuat Nathania menjadi semakin gugup.
"Um, aku ... aku ingin minta bantuan Anda," ucap Nathania. Ia pun mencoba menatap lawan bicaranya itu. Namun, ketika Elang memperlihatkan lagi sepasang matanya. maka dengan segera Nathania kembali tertunduk.
"Apa?" Tanya pria tampan dan gagah itu.
"Aku ... membutuhkan uang. Apakah Pak Elang bisa memberiku pinjaman?" Terlontar lah sudah maksud Nathania, meski dengan sangat berat untuk ia ucapkan. Ia terlalu segan untuk meminta bantuan kepada pria dingin itu.
Elang tidak segera menjawab. Ia kini menatap Nathania dengan tatapan yang tidak pernah berubah. Atau mungkin, memang sorot matanya yang seperti itu? Menakutkan. Terlebih bagi seorang gadis polos dan lugu seperti Nathania.
"Berapa?" Tanyanya, masih dengan sikap tegas dan wajah datarnya. Tak ada lengkungan sedikitpun dalam ekspresinya.
Lega, setidaknya ada harapan bagi Nathania. Ia pun mengangkat kepalanya dengan sebuah senyuman kecil.
"50 juta," jawabnya dengan yakin. Ia harap, itu bukan jumlah yang terlalu besar untuk Elang pinjamkan padanya. Meskipun sebenarnya, ia juga bingung bagaimana caranya nanti untuk dapat mengembalikan uang pinjaman sebanyak itu.
Elang mengerutkan alisnya dengan tajam. Ia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu. Pria itu berdiri dengan setengah bersandar pada meja kerjanya. Ia menyembunyikan satu tangannya di dalam saku celananya.
"50 juta? Memangnya kamu akan bekerja berapa lama disini, hingga berani meminjam uang sebanyak itu padaku? Apa jaminanya untukku?" Ia kembali menatap tajam gadis itu. Ada rona tidak yakin dalam tatap matanya.
Nathania terdiam. Ia pun berfikir keras.
"Rupanya seperti ini jika berurusan dengan seorang pengusaha?" Gumamnya dalam hati.
Namun, ia tidak memiliki pilihan lain, selain meminta bantuan kepada Elang. Ia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi.
"Aku berjanji akan melunasinya, bagaimanapun caranya. Namun, aku tidak memiliki apa-apa yang bisa dijadikan sebagai jaminan selain diriku sendiri," Nathania tertegun. Ia salah berucap. "Um ... maksudku, aku akan bekerja disini, setidaknya sampai aku bisa mencicil setengahnya. Dan selebihnya pasti akan aku lunasi. Anda tidak perlu khawatir, karena aku bukan orang yang suka ingkar janji," tutur Natahania dengan yakin.
Elang lagi-lagi hanya menatapnya untuk beberapa saat lamanya. Entah apa yang tengah ia fikirkan? Hanya ia yang tahu. Dan tidak lama kemudian ia pun berkata, "Temui aku di apartemenku jam 7 malam ini!" Titahnya.
Nathania terkejut. Ia menatap tajam pria itu. Ingin sekali ia menolak perintahnya itu, namun sayangnya karena lidahnya terasa kaku. Lagipula, ia membutuhkan uang itu dengan segera.
Nathania pun mengangguk meski dengan terpaksa. "Iya, baiklah," jawabnya pelan. Ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Tidak lama kemudian, Elang memberikan alamat apartemen miliknya. Dengan tangan gemetar, Nathania menerima secarik kertas itu.
"Aku akan menyiapkan uangnya. Cash?"
Nathania mengangguk pelan.
"Oke. Pergilah. Aku sedang sibuk!" Elang kembali ke meja kerjanya.
Nathania pun segera berlalu dari ruangan itu. Hatinya berdebar sangat kencang. Ia merasa sangat takut. Namun, disisi lain ia menepis semua anggapan buruk yang ada di dalam fikirannya itu.
Elang, adalah pria terhormat. Ia pria yang berpendidikan tinggi dan tahu tatakrama. Ia tidak mungkin berbuat macam-macam padanya.
Ah, sudahlah!
Kenapa ia bisa berfikir sejauh itu. Memangnya siapa dia, sampai-sampai Elang berhasrat padanya? Pastinya, Elang mengenal banyak wanita yang segalanya jauh diatas dirinya.
Satu yang pasti kini, ia merasa lega karena ia akan mendapatkan pinjaman dari bosnya yang dingin dan kaku itu.
Akhirnya malam pun tiba.
Setelah selesai dengan Aida, Nathania pun bersiap untuk pergi. Masih dengan gaya busana yang sama, namun kali ini dilapisi dengan sebuah cardigan rajut berwarna merah hati. Ia pun merapikan kepang sampingnya.
Setelah memastika Aida tertidur, Nathania pun pergi keluar.
Dengan sebuah angkutan umum malam itu, ia menuju alamat yang diberikan Elang padanya.
Wajahnya yang manis semakin berseri, ia tak henti-hentinya membayangkan setumpuk uang yang akan ia persembahkan kepada sang kakak, Rahman.
Rahman pun pasti akan sangat senang saat menerima uang itu darinya.
Ia hanya berharap jika semuanya berjalan seperti yang ia perkirakan.
Hampir 30 menit diperjalanan, akhirnya Nathania pun sampai di tempat yang ia tuju. Ia berdiri di depan sebuah gedung yang sangat tinggi dan kokoh. Ia merasa benar-benar kecil saat itu.
Itu merupakan kawasan apartemen mewah. Elang tengah menunggunya di lantai 35.
Menarik nafas panjang, Nathania pun meminta izin kepada petugas keamanan disana. Untunglah tanpa dipersulit, Nathania pun dipersilakan untuk masuk. Ia pun mulai masuk ke dalam lift dan menuju lantai 35. Lift itu langsung menuju ke apartemen milik Elang.
Beberapa saat berada dalam lift, Nathania masih terus termenung. Matanya bergerak kekanan dan kekiri. Tangannya menggenggam erat tali dari tas selempang kecil yang melintang di dadanya.
Nathania pun menarik nafas berkali-kali.
Ia terus mencoba menepis semua rasa gugup dan canggung dalam hatinya. Ini semua harus ia lakukan demi sang kakak.
Ting.
Pintu lift terbuka. Akhirnya sampailah ia pada sebuah ruangan yang sangat mewah dengan suasana lampunya yang temaram.
Adalah ruangan yang luas tanpa sekat dan dilengkapi dengan berbagai funiture yang indah dan terlihat sangat mewah.
Sofa yang besar dan bagus, begitu juga dengan hiasan yang ada disana. Semuanya tampak sangat mengkilap.
Sesaat Nathania terpaku menatap semua kemewahan itu. Apa yang akan ia rasakan, jika ini adalah tempat tinggalnya? fikirnya.
Ia pasti akan betah berlama-lama berada di ruangan seperti ini.
Nathania menatap langit-langit ruangan itu. Ada sebuah lampu gantung besar yang sangat cantik yang di temani beberapa lampu kecil disekelilingnya dengan warna kuning. Sepertinya lampu-lampu kecil itulah yang membuat ruangan itu menjadi temaram. Namun, suasana itulah membuat hatinya terasa sangat tenang.
Akan tetapi, dimana Elang?
Pria itu belum muncul juga untuk menyambut kedatangan tamunya malam ini. Sedangkan Nathania, ia tidak berani untuk melangkahkan kakinya lebih jauh lagi dari lift itu. Ia masih berdiri mematung, seperti seorang anak yang sedang dihukum orang tuanya.
Nathania hanya berdiri dan menyapu seluruh ruangan itu dengan kedua matanya. Namun, ia tidak melihat Elang dimanapun. Hingga beberapa saat kemudian, pria yang ia cari pun muncul dari lantai atas.
Elang berjalan dengan gagahnya menuruni setiap undakan anak tangga hingga akhirnya berdiri dihadapan Nathania. Ia tampak sangat tampan dengan kemeja putihnya, dengan lengan kemejanya yang terlipat di atas pergelangan tangannya.
Nathania mengangguk sopan dan tersenyum. Tangannya masih menggenggam erat tali dari tas selempang kecilnya.
Sementara, Elang masih menatapnya dengan tajam.
"Kenapa berdiri disitu?" Tanyanya. Ia mengisyaratkan agar Nathania mengikutinya ke ruang tengah dimana terdapat sofa besar dengan segala hiasan -hiasannya yang indah.
Nathania pun mengangguk dan menurut saja.
Elang pun meraih tiga buah amplop berwarna cokelat dari atas meja berlapis kaca itu. Ia segera menyerahkan amplop itu kepada Nathania.
Gadis itupun segera menerimanya dengan wajah tidak percaya. Tangannya gemetaran dan mulai berkeringat.
"Bukalah dulu! Atau mungkin kamu ingin menghitungnya lagi?" Suruhnya.
Nathania menggeleng pelan. "Tidak usah," jawabnya. Ia percaya pada majikannya. Lagipula ia terlampau senang malam itu.
Nathania pun memasukan ketiga amplop itu kedalam tasnya. Ia pun sangat berterima kasih kepada Elang.
"Terima kasih banyak, Pak. Aku janji pasti akan segera melunasinya dengan baik," ucap Nathania dengan mata berbinar.
Elang tidak menjawab. Ia bahkan tidak menunjukan ekspresi apapun kepada gadis manis itu. Ia hanya menatap Nathania dengan mata tajamnya.
Nathania merasa tidak nyaman dengan situasi itu, pada akhirnya ia pun memutuskan untuk berpamitan.
"Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku akan kembali ke rumah," ucap Nathania masih dengan wajah bahagianya.
"Tunggu! Urusan kita belum selesai," jawab Elang dengan mata tajamnya.
semangat selalu dalam menulis
cerita ini bikin baper banget