NovelToon NovelToon
Mekanik Sang Ustadz

Mekanik Sang Ustadz

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di balik sutra putih

Suasana butik pengantin siang itu terasa menyesakkan bagi Alika. Ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan kebaya putih tulang yang awalnya didesain untuk lekuk tubuh Alya yang lebih berisi. Jarum-jarum pentul disematkan di sana-sini oleh penjahit, menyesuaikan ukurannya yang lebih ramping.

Alya berdiri di sudut ruangan, memegang tas tangan Alika. Ia hanya diam, namun matanya tidak lepas dari pantulan kembarannya di cermin. Tatapan itu datar, namun Alika bisa merasakan ada badai yang ditekan kuat-kuat di balik ketenangan itu.

"Al, jujur saja. Kamu benci aku, kan?" tanya Alika tiba-tiba, memecah keheningan.

Alya tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Alika merasa seperti orang jahat. "Kenapa harus benci? Kamu cantik sekali pakai baju itu."

"Tapi ini baju kamu! Ini calon suamimu!" Alika hampir berteriak, mengabaikan teguran pelan dari penjahit.

Alya mendekat, merapikan helai rambut Alika yang keluar dari sanggul sementara. "Baju ini hanya kain, Al. Dan Farhan... dia bukan milikku kalau Allah menggerakkan hatinya padamu."

Keluar dari butik, mereka melewati gedung yang akan menjadi lokasi akad nikah besok. Alika tertegun melihat truk-truk dekorasi sedang membongkar muatan. Bunga-bunga segar yang datang jauh lebih banyak dari rencana awal. Ada rangkaian mawar putih dan lili yang memenuhi selasar, jauh lebih mewah dari konsep sederhana yang pernah dibicarakan Ayah dan Pak Ridwan sebelumnya.

"Kok dekorasinya beda?" gumam Alika. "Katanya cuma akad sederhana?"

Alya membaca papan informasi di depan gedung. "Keluarga Farhan yang minta tambahannya. Katanya, Farhan ingin memberikan yang terbaik untuk menyambut istrinya."

Alika terdiam. Ada rasa aneh yang menyelinap di hatinya. Mengapa Farhan melakukan ini? Untuk Alya saja dia hanya merencanakan acara syukuran biasa, tapi saat tahu pengantinnya berubah menjadi Alika—si anak nakal yang ia temukan mabuk di jalan—pria itu justru melipatgandakan kemewahan acaranya.

Apa aku seistimewa itu di matanya? pikir Alika sangsi. Atau ini hanya caranya menyogokku agar aku mau jadi istri penurut?

Ia melirik Alya lagi. Kembarannya itu kini sedang menatap rangkaian bunga lili favoritnya yang kini dipasang untuk pernikahan adiknya sendiri. Alya tidak bicara, tapi jemarinya yang meremas tali tas menunjukkan bahwa hatinya tidak sedingin wajahnya.

"Dia bukan orang sembarangan, Alika," bisik Alya seolah bisa membaca pikiran kembarannya. "Dia tidak sedang membeli kamu dengan bunga-bunga ini. Dia sedang menghargaimu dengan cara yang tidak pernah Ayah lakukan."

Malam itu, Alika tidak bisa tidur. Ia menatap undangan yang tergeletak di meja rias. Nama Alika Zulfa berkilau di bawah lampu kamar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, namanya tertulis lebih besar dan lebih terang daripada nama Alya di rumah ini, namun ia tidak merasa menang. Ia justru merasa seperti pencuri yang sedang dipersiapkan untuk masuk ke dalam sangkar emas.

Suasana di kamar rias terasa begitu dingin, meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Alika duduk mematung di depan cermin, terbungkus kebaya putih yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Siger perak yang berat kini bertengger di kepalanya, namun beban di hatinya terasa jauh lebih berat.

Alya berdiri di belakangnya, jemarinya yang lentur sedang membantu menyematkan melati yang menjuntai di bahu Alika. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Alya sejak subuh tadi.

Alika tidak tahan lagi. Ia meraih tangan kembarannya, menghentikan gerakan Alya. Melalui pantulan cermin, mata mereka bertemu—dua wajah yang identik, namun memancarkan badai yang berbeda.

"Al, jawab jujur. Kamu benci aku, kan?" suara Alika bergetar. "Aku sudah menolak, Al. Aku sudah teriak di depan Ayah, aku sudah bilang ke Farhan lewat chat kalau aku ini bukan wanita baik-baik. Tapi kenapa mereka tetap memilihku? Kenapa dia membuangmu dan malah memilih sampah sepertiku?"

Alya terdiam sejenak. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Alika, lalu perlahan memutar kursi kembarannya agar mereka berhadapan langsung. Alya berlutut di depan Alika, merapikan kain jarik yang menutupi kaki adiknya.

"Kalau aku bilang aku tidak sedih, aku berbohong, Alika," bisik Alya lirih. "Aku manusia. Aku sudah menyiapkan hati untuk menjadi istri Farhan. Tapi benci? Tidak. Aku tidak bisa membencimu."

"Tapi kenapa, Al? Harusnya kamu tampar aku! Harusnya kamu larang aku pakai baju ini!" Alika mulai terisak, merusak riasan tipis di pipinya.

Alya menghapus air mata di pipi Alika dengan ibu jarinya. "Karena Farhan bilang padaku kemarin... dia tidak sedang memilih antara dua wanita. Dia sedang memilih untuk menyelamatkan satu nyawa. Dia bilang, aku sudah aman di jalan yang lurus, tapi kamu... kamu sedang berdiri di tepi jurang dan dia ingin menjadi tangan yang menarikmu pulang."

Suara bariton yang mantap tiba-tiba terdengar dari arah masjid di samping rumah. Suara mikrofon yang berdengung, disusul suara Ayah yang bergetar saat menjabat tangan Farhan.

"Ananda Farhan bin Ridwan, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Alika Zulfa binti Ahmad..."

Alika memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berpacu liar.

"Saya terima nikah dan kawinnya Alika Zulfa binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Sah!" seru para saksi.

Dunia Alika seolah runtuh dan terbentuk kembali dalam satu tarikan napas. Ia bukan lagi gadis bebas yang bisa keluyuran sesuka hati. Ia sekarang adalah istri dari pria yang baru saja menukarnya dengan masa depan kakaknya sendiri.

Alya berdiri, lalu mengecup kening Alika lama sekali. "Sekarang, kamu bukan lagi rahasia yang disembunyikan Ayah di kamar, Al. Kamu adalah ratu di pernikahan ini. Turunlah, temui suamimu. Dia sudah menunggumu di bawah bunga-bunga mewah yang dia pesan khusus untuk menyambutmu."

Alika melangkah keluar kamar dengan kaki lemas. Di ujung tangga, Farhan berdiri menunggunya. Pria itu tidak menunduk kali ini. Ia menatap Alika dengan tatapan yang tajam namun teduh, seolah-olah seluruh kemewahan dekorasi di ruangan itu memang sengaja ia siapkan hanya untuk meyakinkan Alika bahwa dia layak untuk dihormati.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NN
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!