NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kecurigaan dan Tatapan Dingin

Sejak sore itu di perpustakaan, suasana di rumah besar itu terasa sedikit berubah. Bukan karena ada peristiwa besar yang terjadi, tapi lebih pada tatapan dan sikap orang-orang di sekitarnya. Bu Marni, yang sebelumnya sudah tegas, kini terlihat lebih sering mengawasi gerak-gerik Dika. Setiap kali Dika lewat, matanya selalu mengikuti, seolah takut pemuda itu melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Begitu juga dengan pembantu lain; mereka jadi lebih berhati-hati saat berbicara, bahkan sering berhenti bicara dan saling pandang begitu Dika lewat di dekat mereka, seolah ada rahasia yang tidak boleh didengarnya.

Dika menyadarinya, tapi ia memilih diam dan terus bekerja seperti biasa. Ia datang lebih pagi dari yang diminta, menyiram tanaman satu per satu dengan teliti, membuang rumput liar di pinggir jalan, membersihkan daun-daun kering, dan merapikan peralatan kebun sampai terlihat rapi. Saat di dalam rumah, ia berjalan dengan langkah pelan, tidak berbicara jika tidak ditanya, dan selalu menyelesaikan tugasnya sebelum waktu yang ditentukan. Ia sadar posisinya di sini sangat rentan: orang luar yang diberi kesempatan, jadi ia tidak ingin memberi alasan bagi siapa pun untuk mencarinya kesalahan.

Dua hari kemudian, tepat saat jam istirahat siang, Dika sedang duduk di bangku kayu tua di sudut halaman belakang. Tempat itu agak tersembunyi di balik semak bunga, jadi jarang ada orang yang lewat. Di tangannya ada sebungkus nasi dan sayur sederhana yang diambilnya dari dapur. Ia memakannya perlahan, sambil memandangi langit yang mulai terasa panas.

Belum sampai separuh habis, suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar mendekat. Dika menoleh, dan melihat Paman Arga berjalan menghampiri dengan tangan di saku celana. Wajahnya tidak lagi tersenyum palsu seperti saat pertama kali bertemu, melainkan terlihat dingin dan penuh curiga.

“Kamu di sini rupanya,” kata Paman Arga, berhenti tepat di hadapan Dika, membuat pemuda itu merasa tidak nyaman.

Dika segera berdiri dan menunduk sopan. “Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

Paman Arga menatapnya dari atas sampai bawah, pandangannya tajam seolah ingin membaca isi hati Dika. Ia meludah pelan ke tanah di sampingnya, gerakan yang terlihat meremehkan, sebelum akhirnya berbicara lagi.

“Saya dengar kabar yang menarik. Katanya kamu sering mengobrol lama dengan Kirana, entah di taman entah di perpustakaan. Bahkan sampai berduaan saja. Apa sebenarnya maksudmu di sini, hah?” tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi, meski tidak sampai berteriak.

Dika terkejut mendengar pertanyaan itu, tapi ia tetap berusaha tenang. “Saya hanya menuruti pesan Nyonya Wijaya, Pak. Beliau menyuruh saya menemani Non Kirana jika dia sedang tidak sibuk dan ingin ada teman bicara. Kami hanya membicarakan hal-hal biasa saja, tidak ada yang aneh.”

“Hal biasa?” Paman Arga tertawa kecil, tapi tawanya tidak ada tawa, hanya terdengar dingin dan merendahkan. “Jangan berpikir kamu bisa memanfaatkan kebaikan Nyonya untuk mendekati keponakanku. Kamu tahu bedanya dunia kalian berdua, kan? Dia pewaris satu-satunya keluarga ini, pemilik nama besar dan harta yang tidak akan habis tujuh turunan. Sedangkan kamu… hanya anak pembantu yang beruntung bisa makan dan tidur di tempat yang layak. Jangan bermimpi yang bukan-bukan.”

Kata-kata itu terasa seperti tusukan kecil yang menusuk hati Dika. Ia merasa marah dan tersinggung, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia tahu kalau ia melawan, ia akan terlihat buruk dan bisa diusir begitu saja—yang berarti ibunya tidak akan bisa berobat lagi. Ia menunduk sedikit, lalu menjawab dengan suara tenang dan mantap.

“Saya sangat sadar posisi saya, Pak. Saya tidak punya mimpi aneh apa pun. Saya di sini hanya karena Nyonya berjanji akan membiayai pengobatan ibu saya yang sakit. Setelah ibu saya sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa, saya akan pergi dari sini dan tidak akan mengganggu siapa pun lagi. Itu saja tujuan saya.”

Paman Arga mendekat sedikit lagi, suaranya menjadi lebih rendah, berat, dan mengandung ancaman yang jelas. “Lebih baik begitu. Ingat batasanmu. Jangan sampai saya melihat kamu berbicara terlalu lama, berduaan saja, atau berusaha mencari perhatian Kirana. Kalau sampai ada hal yang tidak diinginkan terjadi—baik itu hanya gosip atau hal lain—jangan salahkan saya kalau kamu diusir dengan cara yang tidak menyenangkan, bahkan sebelum ibumu sembuh. Paham?”

Dika menggenggam tangannya erat-erat di samping tubuhnya, berusaha menahan gejolak perasaannya. “Paham, Pak. Saya akan menjaga sikap.”

“Baguslah.” Paman Arga menatapnya sekali lagi dengan pandangan tajam, lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang mantap.

Dika kembali duduk di bangku itu. Selera makannya hilang sama sekali. Ia memandangi bekal di tangannya yang terasa hambar, lalu meletakkannya di samping. Ia tahu pria itu tidak menyukai kehadirannya, tapi ia tidak menyangka akan diperlakukan sekeras itu. Ia hanya berharap Kirana tidak mendengar hal-hal semacam ini, atau mengetahui bahwa ia diawasi sedemikian ketat.

Sore harinya, saat Dika sedang membereskan alat berkebun di gudang belakang, ia melihat Kirana berjalan sendirian melewati jalur setapak yang tidak jauh dari situ. Gadis itu tampak sedang memegang buku, berjalan perlahan menuju taman. Saat matanya menangkap sosok Dika, ia berhenti sejenak. Ia seolah ingin menyapa atau berbicara, tapi ragu.

Namun, sebelum sempat Kirana mengangkat tangan atau membuka mulut, ia melihat Paman Arga muncul dari arah teras utama, berjalan santai sambil memegang koran. Wajah Kirana berubah sedikit, ia hanya mengangguk pelan ke arah Dika sebagai tanda salam, lalu mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah.

Dika menghela napas panjang, mengerti situasinya sekarang. Setiap gerakannya akan diawasi, setiap kata-katanya bisa diartikan dengan cara yang salah. Ia harus lebih berhati-hati lagi, bukan hanya demi dirinya sendiri, tapi terutama demi kesembuhan ibunya yang sedang dirawat dengan baik. Ia tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun.

Malam itu, setelah selesai makan malam dan kembali ke kamarnya yang sunyi, Dika duduk di tepi tempat tidur. Ia mengeluarkan buku catatan lusuh pemberian ibunya dari dalam tas, lalu membuka halaman kosong. Dengan pena yang sederhana, ia mulai menulis pelan:

“Orang-orang di luar mungkin mengira hidup di tempat yang indah, besar, dan penuh kemewahan itu pasti bahagia. Tapi ternyata, tempat yang dikelilingi pagar tinggi dan harta banyak justru bisa terasa lebih sempit dan penuh duri daripada gang sempit tempat saya tinggal. Di sana orang bicara apa adanya, tidak takut salah bicara, dan saling percaya. Di sini, setiap langkah harus dipikirkan dua kali, setiap pandangan penuh kecurigaan, dan seolah saya tidak punya hak untuk merasa nyaman. Tapi saya tidak boleh menyerah. Ibu sedang berjuang melawan sakitnya, dan saya juga harus berjuang menjaga janji saya. Biarlah mereka curiga, biarlah mereka bicara apa saja, selama hati saya bersih dan saya tidak melakukan hal yang salah, saya akan tetap kuat. Kejujuran tidak akan pernah membuat orang tersesat.”

Setelah selesai menulis, ia mengusap tulisan itu perlahan, lalu menutup buku itu dan meletakkannya di bawah bantal, tempat yang paling aman menurutnya. Ia berbaring memandangi langit-langit kamar yang gelap, berdoa agar esok hari berjalan lebih tenang, dan semoga Paman Arga bisa melihat bahwa ia tidak punya niat buruk apa pun.

Namun, Dika belum tahu bahwa kecurigaan Paman Arga bukan hanya sekadar perasaan atau prasangka semata. Di balik tatapan dingin dan ancaman yang diucapkannya tadi, ada rencana yang sudah lama disusunnya dengan matang. Kehadiran Dika dianggapnya sebagai batu sandungan yang bisa mengganggu tujuannya—menguasai sebagian besar harta keluarga Wijaya. Dan bagi Paman Arga, batu sandungan seperti itu harus segera disingkirkan, dengan cara apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!