NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

seberkas cahaya di ujung hutan

##BAB 5 - Seberkas Cahaya di Ujung Hutan

Malam pun tiba. Cahaya benderang sore kini telah berganti dengan pekatnya kegelapan yang sunyi. Sang rembulan mulai menampakkan dirinya di langit, ditemani taburan bintang yang berkedip silih berganti, membuat suasana malam itu terasa makin hening. Namun, kedamaian di luar sana berbanding terbalik dengan gejolak yang ada di dalam rumah Rahmat.

Di dalam kamar, Rahmat dan Ratna tengah duduk berhadapan. Di antara mereka, secarik kertas alamat dari Mbah Cahyo tergeletak begitu saja, seolah menjadi magnet yang terus menarik perhatian. Mereka mulai mendiskusikan kembali obrolan yang sempat tertunda tadi sore.

"Mas... Mas yakin kalau pelanggan-pelanggan tadi itu datang karena ada Simbah di kios kita?" tanya Ratna pelan, suaranya sarat akan rasa bimbang yang kembali mengganjal di dalam hatinya.

Rahmat seketika terdiam sejenak. Ia tampak menimbang-nimbang perkataan istrinya, menatap lurus pada secarik kertas di hadapan mereka. Namun, sedetik kemudian, bayangan kelam tentang kemiskinan, lilitan utang, dan kondisi kios baksonya yang sudah di ujung tanduk kembali berputar di kepalanya. Rasa takut akan kehancuran itu seketika meruntuhkan keraguannya, menguatkan kembali mental Rahmat untuk tetap berpegang teguh pada ucapan Mbah Cahyo.

"Ya tentu saja, Bu... Ini pasti berkat Mbah Cahyo," sahut Rahmat dengan nada tegas, mencoba meyakinkan istrinya sekaligus menenangkan hatinya sendiri. "Ibu kan tahu sendiri, beberapa hari ini kios kita sepinya minta ampun. Begitu Mbah Cahyo datang, langsung ada yang beli. Apa itu bukan bukti namanya?"

"Iya sih, Mas... tapi Ibu masih ragu," sahut Ratna pelan, pandangannya beralih menatap lantai kamar dengan cemas. "Apa beneran Simbah itu bisa membuat usaha kita maju lagi? Terus... kira-kira apa syarat-syaratnya nanti?" tanya balik Ratna, suaranya terdengar berat karena pikirannya yang masih berkecamuk hebat.

Mendengar kekhawatiran istrinya, Rahmat langsung bergeser mendekat. Ia menggenggam jemari Ratna, mencoba menyalurkan keyakinan yang sebenarnya rapuh.

"Sudah, Ibu tenang saja. Mas yakin kita bisa sukses seperti dulu lagi, bahkan bisa lebih maju dari sebelumnya," potong Rahmat dengan nada penuh keyakinan untuk menepis ketakutan istrinya. "Makanya, besok kita harus datang ke rumah Simbah untuk memastikan semuanya. Sudah, sekarang Ibu jangan berpikir yang macam-macam lagi. Lebih baik kita istirahat."

Keesokan harinya, waktu berjalan begitu lambat hingga sore hari pun tiba. Langit yang semula benderang kini mulai berubah jingga kemerahan, bersiap digantikan oleh remang-remang senja. Hembusan angin sore menerpa deretan pepohonan di sekitar rumah, membuat dedaunan saling bergesekan dan menciptakan suara gemerisik yang janggal. Suasana senja yang mulai mendingin itu seakan memberi dorongan gaib yang memantapkan niat Rahmat dan istrinya.

Di teras rumah, Rahmat sudah berdiri dengan pakaian rapinya. Tangannya memegang erat secarik kertas kusam pemberian Mbah Cahyo. Wajah pria itu tampak penuh ambisi dan memancarkan harapan besar, sama sekali tidak menyadari bahaya hitam yang tengah menanti mereka di ujung jalan.

Sementara itu, Ratna berdiri di samping suaminya. Wanita itu hanya terdiam seribu bahasa. Sesekali ia menatap wajah Rahmat dengan gundah, menatap langit senja yang kian menggelap dengan perasaan gelisah yang justru makin tumbuh subur di dalam dadanya.

“Mas… Mas yakin kita mau ke rumah Simbah?” tanya Ratna sekali lagi, mencoba menahan langkah suaminya dengan nada suara yang bergetar penuh keraguan.

“Iya, tentu saja kita harus ke sana. Memangnya kamu mau hidup melarat seperti ini terus-menerus?” tanya balik Rahmat. Kalimatnya terdengar dingin, langsung meruntuhkan dinding pertahanan terakhir di dalam diri istrinya.

Mendengar perkataan suaminya, Ratna seketika mati kutu. Ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, sebuah gestur canggung untuk menyembunyikan kecurigaan dan ketakutan yang kian menebal di dasar hatinya.

“Ya… ya enggak lah, Mas,” sahut Ratna dengan nada suara yang kian pelan, dibarengi sebuah senyuman tipis yang dipaksakan terukir di wajah gundahnya. Ia tidak punya pilihan selain menyerah pada keadaan.

Akhirnya, Ratna melangkah lesu lalu naik ke atas jok motor. Walau kepalanya masih dipenuhi tanda tanya besar yang belum terjawab, ia hanya bisa berserah. Rahmat dengan cekatan langsung menyelah mesin motornya, memacu kendaraan roda dua itu membelah jalanan senja, bergerak semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk dan kebisingan kota.

Di tengah perjalanan, seiring dengan aspal yang kian sepi dan berganti menjadi jalanan setapak yang gelap, sempat tersirat rasa ragu di dalam benak Rahmat. Hatinya mendadak menciut melihat sekeliling yang kian mencekam. Namun, lagi-lagi bayangan kelam tentang kemiskinan dan penderitaan hidup langsung menghantam tepat di hatinya. Rahmat membuang napas panjang, mempererat cengkeramannya pada stang motor, lalu kembali memacu kendaraannya menembus kegelapan malam yang kian pekat.

Ratna hanya bisa celingukan, memperhatikan ke sekeliling jalan yang mulai terasa aneh dan asing baginya. Kanan-kiri mereka bukan lagi deretan rumah warga, melainkan rimbunnya pepohonan liar yang tampak seperti raksasa hitam di kegelapan malam.

"Mas... Ini bener jalannya? Kok sampai masuk hutan segala?!" teriak Ratna sedikit kencang, mencoba menembus deru bising mesin motor mereka. "Berhenti dulu, Mas! Lihat lagi alamatnya yang benar, jangan-jangan kita nyasar!"

Mendengar teriakan istrinya yang panik, Rahmat akhirnya melambatkan laju motor. Ia menarik tuas rem dan menghentikan kendaraannya di tepi jalan yang sunyi untuk memastikan kembali alamat tujuan mereka. Lampu utama motor yang temaram menjadi satu-satunya sumber cahaya di tempat itu.

"Opo maneh, Bu? Alamaté iki wis bener!" (Apa lagi, Bu? Ini alamatnya sudah benar!) sahut Rahmat dengan nada sedikit kesal, menutupi rasa kuduknya yang juga mulai merinding.

Rahmat menyodorkan secarik kertas kusam itu tepat di depan wajah istrinya. "Ibu lihat sendiri, ini sudah benar. Petunjuknya setelah melewati TPU besar, kita belok kiri. Rumah Simbah ada di ujung jalan setapak ini," lanjut Rahmat, meyakinkan Ratna sekaligus meneguhkan hatinya sendiri.

Setelah memastikan alamat di kertas itu sudah benar, Rahmat kembali memasukkan kertas kusam tersebut ke dalam saku jaketnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menginjak gigi dan menarik gas motornya, melanjutkan perjalanan mereka menembus keheningan malam yang kian mencekam.

Mereka berkendara perlahan, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pohon-pohon besar setelah melewati area pemakaman. Suasana begitu sunyi, hanya ada deru mesin motor mereka yang memecah keheningan malam, seiring dengan hembusan angin yang gemuruh membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Tak lama kemudian, terlihat dari kejauhan, samar-samar seberkas cahaya berwarna jingga kemerahan muncul di hadapan mereka, memutus kepekatan hutan. Cahaya yang tampak bergoyang pelan itu seolah menjadi satu-satunya penanda kehidupan di ujung jalan yang sunyi tersebut.

BERSAMBUNG

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!