Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari H
Kembali ke dalam kamar pribadinya yang luas dan sunyi, Kelvin mencengkeram ponselnya dengan erat. Dadanya bergemuruh oleh rasa frustrasi yang memuncak. Dengan sisa harapan terakhir yang mulai mengikis, ia kembali mendial nomor Catalina. Hubungan internasional itu kembali menghubungkan dua zona waktu yang berbeda.
"Ada apa lagi, Kelvin? Aku sedang bersiap-siap untuk after-party pemotretanku," suara Catalina terdengar dari seberang telepon, diiringi sayup-sayup suara musik lounge khas Paris.
"Mereka sudah menjodohkanku, Catalina," ucap Kelvin tanpa basa-basi, suaranya berat dan bergetar menahan amarah yang terpendam. "Mama dan Eyang mencarikan seorang wanita dari desa. Dan wanita itu baru saja menerima lamarannya. Pernikahan ini akan tetap terjadi."
Kelvin terdiam, menunggu reaksi histeris, tangisan, atau setidaknya bantahan dari wanita yang diklaimnya sangat ia cintai itu. Ia berharap Catalina akan memohon padanya untuk membatalkan semua ini atau berjanji akan segera pulang.
Namun, yang terdengar di seberang sana hanyalah helaan napas yang teramat panjang dan terdengar begitu pasrah, seolah-olah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya.
"Ya sudah... kalau begitu," sahut Catalina perlahan. Suaranya terdengar sangat tenang, tanpa ada riak kemarahan maupun kecemburuan.
Kelvin membeku di tempatnya berdiri, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. "Apa maksudmu 'ya sudah'? Catalina, aku sedang membicarakan tentang pernikahan dengan orang lain!"
"Lalu aku harus bagaimana, Kelvin?" tanya Catalina balik, nadanya datar dan lelah. "Aku tidak bisa meninggalkan karierku di sini, dan kamu tidak bisa melawan keluargamu. Kita berdua sama-sama keras kepala dengan prinsip kita masing-masing. Jika keluargamu sudah menemukan penggantiku dan kamu tidak bisa menolaknya, ya sudah. Mungkin ini memang cara semesta memberi tahu bahwa kita harus selesai."
"Catalina—"
"Selamat atas pernikahanmu, Kelvin. Semoga dia bisa menjadi nyonya Alexander yang diinginkan keluargamu," potong Catalina lembut, namun terasa begitu dingin dan final.
Klik.
Sambungan telepon terputus untuk yang kedua kalinya. Kelvin perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Kamar mewahnya yang luas mendadak terasa begitu hampa dan mencekam. Kepasrahan Catalina terasa lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Kini, pintu masa lalunya telah tertutup rapat, dan di hadapannya, sebuah takdir baru bersama seorang dokter desa bernama Denada telah menanti dengan segala misterinya.
Dua hari berlalu dengan cepat, membawa takdir yang tak lagi bisa dielakkan. Pagi itu, jalanan aspal menuju Desa Sukamaju dikejutkan oleh pemandangan yang tak biasa. Iring-iringan lima mobil mewah berwarna hitam legam melaju membelah jalanan desa yang berliku. Di dalam salah satu mobil, Kelvin Alexander duduk dengan rahang kokoh yang mengeras dan tatapan mata sehitam jelaga.
Pernikahan ini akhirnya digelar. Kelvin menyetujui keputusan gila ini dengan satu syarat mutlak: pernikahan harus diadakan di desa asal sang wanita, tanpa pesta megah, dan jauh dari sorot kamera media kota besar. Alasan sebenarnya sangat egois—Kelvin tidak ingin publik dan rekan bisnisnya tahu bahwa ia, sang CEO Alexander Group, menikah dengan seorang dokter desa biasa. Ia menganggap pernikahan ini sebagai aib dan formalitas demi memuaskan ego sang Eyang.
"Tuan, kita akan sampai dalam waktu sepuluh menit," lapor Raka dari kursi kemudi, melirik spion tengah dengan waswas. Atmosfer di dalam mobil terasa begitu pekat oleh kekesalan Kelvin yang tak tertahankan. Kelvin hanya mendengus kasar, membuang muka ke arah jajaran pohon bambu di luar jendela tanpa berniat membalas.
Sementara itu, di rumah sederhana bernuansa kayu jati milik Pakde Joko, suasana dipenuhi oleh keharuan yang membuncah. Di dalam salah satu kamar, Denada sedang duduk anggun di depan cermin rias kayu yang antik.
Hari ini, ia telah bertransformasi menjadi seorang pengantin perempuan. Nada mengenakan kebaya putih panjang yang dipadukan dengan kain batik tulis yang anggun. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan hiasan ronce melati yang menjuntai di bahunya, menyebarkan aroma harum yang menenangkan. Riasannya sangat natural, namun entah bagaimana, kesederhanaan itu justru memancarkan aura yang sangat, sangat cantik dan manis—seperti bidadari yang turun dari langit desa.
Nada menatap pantulan dirinya di cermin. Bibir ranumnya perlahan melengkung, melatih sebuah senyuman terbaik yang bisa ia berikan. Bukan senyum ketakutan, melainkan senyum keteguhan hati seorang wanita yang siap melangkah ke babak baru kehidupannya.
Cklek.
Pintu kamar terbuka. Budhe Sumi melangkah masuk dengan tangan yang gemetar. Begitu matanya menangkap sosok keponakan kesayangannya yang kini sudah menjelma menjadi pengantin, langkah kaki wanita paruh baya itu mendadak terhenti. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya dan luruh begitu saja.
"Nduk..." bisik Budhe Sumi, suaranya bergetar hebat karena haru. Ia berjalan mendekat lalu memeluk bahu Nada dari belakang, menatap pantulan mereka di cermin.
"Budhe... kenapa menangis? Riasan Nada ada yang aneh, ya?" tanya Nada lembut, berbalik dan mengusap air mata di pipi wanita yang sudah merawatnya seperti ibu kandung sendiri.
"Tidak, Nduk... kamu... kamu sangat cantik. Cantik sekali," isak Budhe Sumi sambil membelai ronce melati di rambut Nada. "Budhe hanya tidak menyangka, rasanya baru kemarin Budhe menguncir rambutmu saat mau berangkat sekolah. Sekarang... anak gadismu sudah mau jadi istri orang. Andai ibumu bisa melihatmu hari ini, Nduk... dia pasti akan menangis bahagia melihat betapa anggunnya putrinya."
Mendengar nama mendiang ibunya disebut, sudut mata Nada sempat berkaca-kaca, namun ia segera menarik napas dalam-dalam dan mempertahankan senyum teduhnya. Ia menggenggam erat tangan Budhe Sumi.
"Nada akan baik-baik saja, Budhe. Terima kasih sudah merawat Nada sampai hari ini. Doakan Nada ya, Budhe," ucap Nada tulus.
Di luar rumah, suara deru mesin mobil mewah yang beriringan mulai terdengar berhenti di halaman yang luas, memecah ketenangan desa. Detak jantung di dalam rumah itu mendadak berpacu lebih cepat. Sang pengantin pria yang dipenuhi prasangka telah tiba, siap bersanding dengan sang malaikat desa yang menyambut takdirnya dengan senyuman misterius.