NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Dunia

Mereka duduk dalam diam yang panjang setelah tangis Sera mereda—diam yang tidak canggung, tapi lebih seperti diam dua orang yang sudah melewati terlalu banyak hal untuk mengisi keheningan dengan kata-kata yang tidak perlu.

Daun-daun gugur di sekitar bangku mereka, tidak ada angin, tapi daun-daun itu tetap jatuh—pelan, seperti waktu di tempat ini tidak bergerak dengan cara yang normal.

"Sudah berapa lama kamu di sini?" tanya Arka akhirnya.

Sera menatap langit abu-abu, bibirnya memiringkan senyum yang menyedihkan. "Aku nggak tau. Di sini nggak ada hari atau malam. Nggak ada jam. Cuma... ini." Dia menunjuk ke sekeliling—taman yang tenang, daun yang gugur, langit yang tidak berubah.

"Rasanya lama," lanjutnya. "Tapi mungkin juga sebentar. Aku udah berhenti menghitung."

Arka menatap tangan Sera—tangan yang lebih tua dari yang dia ingat, dengan bekas-bekas luka kecil yang masih ada, warisan dari tujuh belas perjalanan yang sudah lama lewat.

"Kamu nggak kesepian?" tanya Arka, meski dia sudah tahu jawabannya.

Sera tertawa kecil—tawa yang pahit tapi tidak marah. "Tentu kesepian. Tapi lama-lama, kesepian jadi... biasa. Kayak suara latar yang selalu ada, sampai kamu nggak denger lagi. Sampai kamu lupa pernah ada suara lain."

"Cerita ke aku," kata Arka. "Tentang apa yang terjadi setelah kita ketemu di kafe itu—di dunia yang sudah nggak ada."

Sera menatap Arka, seperti mempertimbangkan apakah layak membuka semuanya. Tapi kemudian, mungkin karena sudah terlalu lama tidak punya siapa pun untuk diajak bicara, dia mulai bercerita.

"Setelah kita ketemu," katanya, "aku terus mencoba. Perjalanan kedelapan belas. Kesembilan belas. Aku pikir—aku pikir mungkin, kalau aku cukup hati-hati, aku bisa menemukan cara yang tidak mengambil sesuatu dari orang lain. Cara yang 'bersih.'"

"Tapi tidak ada cara yang bersih," kata Arka pelan.

"Tidak ada," Sera mengonfirmasi. "Setiap perjalanan selalu mengambil sesuatu. Dan semakin aku coba, semakin banyak yang hilang—sampai aku menyadari bahwa yang hilang bukan hanya orang-orang di sekitarku. Tapi aku sendiri. Versi-versiku yang lain, yang satu per satu menghilang, sampai aku tidak bisa lagi mengenali 'Sera' mana yang asli."

Dia berhenti sejenak, menatap telapak tangannya.

"Perjalanan terakhirku—perjalanan ke dua puluh tiga—aku tidak mengubah apa pun. Aku hanya mencoba kembali ke dunia yang aku mulai, dunia yang asli. Tapi ternyata... tidak ada jalan kembali. Dunia yang asli itu sudah terlalu berubah karena semua perjalananku sebelumnya. Dan aku—aku tidak cocok di dunia mana pun lagi. Jadi aku berakhir di sini. Di antara."

"Di antara semua dunia," gumam Arka.

"Iya." Sera tersenyum tipis. "Tempat yang ada di celah-celah. Tempat yang tidak benar-benar ada di dunia mana pun, tapi ada di antara semuanya. Dan rupanya—" dia menatap Arka, "—tempat ini bisa ditemukan, kalau seseorang cukup tulus mencarinya."

"Apakah ada yang lain di sini?" tanya Arka, menatap sekeliling taman yang sepi. "Orang lain seperti kita?"

Sera menggeleng. "Tidak yang kutemukan. Mungkin ada—mungkin tempat ini lebih luas dari yang kelihatan. Tapi aku tidak pernah bertemu siapa pun, selama aku di sini."

"Kamu sendirian selama semua waktu itu."

Bukan pertanyaan. Hanya pernyataan—pernyataan yang terasa seperti pisau kecil, tajam dan sederhana.

Sera mengangguk. "Aku sendirian selama semua waktu itu."

Arka menghela napas panjang, merasakan sesuatu yang campur aduk—rasa bersalah karena selama semua tahun itu dia hidup penuh dan bahagia, sementara Sera terjebak di sini; dan sesuatu yang lain, sesuatu seperti kemarahan yang lembut, bukan pada siapa pun secara spesifik, tapi pada keadaan yang membuat seseorang yang sudah berkorban begitu banyak harus membayar harga yang paling berat.

"Sera," kata Arka, "aku mau membawamu keluar dari sini."

Sera menatapnya, ekspresinya berubah—tidak dengan kegembiraan seperti yang Arka harapkan, tapi dengan sesuatu yang lebih hati-hati, lebih waspada.

"Arka—"

"Dengarkan aku dulu," kata Arka, suaranya tenang tapi tegas. "Aku tidak mau mengubah apa pun. Aku tidak mau melakukan perjalanan lagi, menciptakan dunia baru, atau menukar siapa pun untuk siapa pun. Aku cuma mau membawamu keluar dari sini—ke duniaku, dunia yang ada sekarang. Bukan sebagai 'Sera yang seharusnya ada di sana', tapi sebagai... tamu. Seseorang yang datang dari tempat lain, yang butuh tempat untuk singgah."

Sera menatapnya lama. "Itu mungkin?"

"Aku tidak tahu," kata Arka jujur. "Tapi aku datang ke sini dengan cara yang aku juga tidak tahu mungkin atau tidak. Dan ternyata mungkin. Jadi mungkin—mungkin membawamu keluar juga bisa."

Sera diam lama, menatap taman di sekitar mereka—taman yang sudah dia kenal setiap sudutnya, setiap bangku tuanya, setiap pohon yang daunnya tidak pernah habis gugur meski tidak pernah ada yang baru tumbuh.

"Arka," katanya akhirnya, suaranya pelan, "aku tidak yakin aku masih muat di dunia mana pun. Aku sudah terlalu lama di antara. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa... ada, dengan cara yang normal."

"Kamu tidak harus 'ada dengan cara yang normal,'" kata Arka. "Kamu cukup ada. Di sana, di duniaku—ada Nadia, ada Kirana, ada cucu kecilku yang namanya Damar. Mereka tidak akan tahu siapa kamu, tidak akan ingat versi lama dari kamu. Tapi mereka—" Arka tersenyum, "—mereka adalah orang-orang yang bisa menerima seseorang yang datang dari tempat yang tidak bisa dijelaskan. Aku sudah memastikan itu, selama bertahun-tahun."

Sera menatap Arka—wajah tua yang penuh dengan garis-garis waktu, mata yang lelah tapi hangat, senyum yang menyimpan semua yang sudah dia lewati dan masih memilih untuk tersenyum.

"Kenapa?" tanya Sera, suaranya hampir berbisik. "Kenapa kamu mau susah payah seperti ini? Aku bukan siapa-siapa bagimu—aku cuma orang yang ketemu sekali di kafe, yang bicara terlalu banyak tentang hal-hal yang mengerikan."

Arka menggeleng pelan. "Kamu bukan 'bukan siapa-siapa'. Kamu orang yang memberiku peringatan ketika aku paling membutuhkannya. Kamu orang yang memilih untuk berbagi kebijaksanaan yang kamu beli dengan harga yang sangat mahal—bahkan ketika kamu sendiri sudah tidak punya apa-apa lagi. Itu—" suara Arka bergetar sedikit, "—itu bukan sesuatu yang bisa aku lupakan, Ser. Dan itu bukan hutang yang bisa aku bayar dengan sekadar 'bersyukur dalam hati' dan melanjutkan hidupku."

Sera menundukkan kepala, bahunya berguncang—tapi bukan karena tangis kali ini. Lebih seperti seseorang yang menerima sesuatu yang berat, yang tidak terbiasa menerima, yang harus belajar kembali bagaimana caranya.

"Aku takut," kata Sera akhirnya, suaranya kecil. "Sudah terlalu lama aku di sini. Aku takut keluar berarti... berarti semuanya akan berubah lagi. Berarti ada harga lagi yang harus dibayar."

"Mungkin ada," kata Arka. "Tapi mungkin juga tidak. Dan satu-satunya cara untuk tahu adalah dengan mencoba. Bersama—kali ini, bukan sendirian."

Dia mengulurkan tangannya ke Sera—tangan yang sudah tua, keriput, bergetar sedikit karena usia—tapi teguh. Tidak ragu.

Sera menatap tangan itu lama. Menatap taman yang sudah dia tinggali terlalu lama. Menatap langit abu-abu yang tidak pernah berubah.

Lalu, perlahan, dia mengulurkan tangannya—dan menggenggam tangan Arka.

"Oke," bisiknya. "Aku percaya kamu."

Di taman yang ada di antara semua dunia, dua orang tua yang membawa lebih banyak sejarah dari yang bisa mereka ceritakan berdiri bersama, menghadap ke arah yang tidak terlihat tapi terasa—arah pulang.

Dan untuk pertama kalinya sejak sangat lama, Sera tidak merasa sendirian.

1
Anime aikō-kā
GARIS WAKTU YANG PATAH
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!