Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Yang Harus Dibayar
Lillyane Jones telah bertolak dari istana dengan beberapa prosedur demi menghindari kejaran wartawan.
Yang pertama mereka mengecohkan para reporter itu sebanyak empat kali melalui sedan hitam dengan penjagaan yang tampak ketat.
Setelah dirasa cukup aman, Lilly menaiki mobil sedan hitam dengan dua pengawal di kedua sisinya.
Mereka berpakaian hitam seperti layaknya bodyguard pada umumnya.
Tubuh yang besar itu benar-benar menghimpit Lilly. Di pangkuannya terdapat satu tas ransel miliknya.
Mereka mulai menjauh dari halaman belakang kerajaan. Sebelum benar-benar meninggalkan istana.
Lilly menengok kembali pada bangunan megah nan elegan di negeri ini.
Bangunan termegah yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Lilly mengingat kembali apa yang terjadi dalam hidupnya melalui kejadian semalam.
Ketidaksengajaannya semalam terasa seperti awal petaka panjang bagi hidup Lilly.
Bertemu kembali dengan Noah.
Diseret untuk menghadap keluarga kerajaan karena kesalahan.
Lalu menerima penghinaan terang-terangan dari Selir Sonya dan Putri Grace.
Dari semua anggota keluarga kerajaan yang ditemuinya, hanya ibu dan anak itu yang memandang rakyat jelata seolah makhluk rendahan.
"Oh, ini gadis jelata yang berani mencium pangeran mahkota Vardoria?" Ucap Nyonya Selir setelah ia digiring keluar dari ruang kerja Raja.
Tapi nyatanya, Ibu dan anak itu sama saja. Grace memberikan imbuhan yang tak kalah kejam, "Oh, ini gadis yang berpikir cerita Cinderella itu nyata?"
Mata Putri Grace menatapnya sinis.
"Setidaknya Cinderella putri keluarga kaya. Bukan rakyat biasa."
Lilly menghela nafasnya panjang, ia kembali menengok ke arah depan setelah keluar dari gerbang istana.
Satu hal yang ingin ia pastikan dalam hidup ini adalah ini kali pertama dan terakhirnya Lilly menginjakkan kaki di Istana Vardoria.
Dia memilih menanggung beban moralitas yang akan menghancurkan hidupnya.
Tadi pagi, Billy Jones meneleponnya dan memberitahu akan menghidupi Lilly sepenuhnya jika ke depan reputasi putrinya hancur lebur. Dan sesuai dugaan Tuan Jones, Lilly memang harus menanggung hukuman atas kesalahpahaman.
Belum lagi ada dakwaan sabotase pada pakaian pangeran mahkota.
Sebab dua jam sebelum acara dimulai, Lilly memilih mengganti pakaian kebesaran dengan alasan keamanan untuk Noah.
Senyum di bibirnya tersungging. Keadilan tak pernah benar-benar berpihak pada rakyat jelata.
Mobil melaju begitu cepat. Menembus perkotaan dan berhenti pada salah satu bangunan apartemen tempat tinggal Lilly.
Gadis itu memilih hidup mandiri. Keluar dari kediaman Jones setelah berhasil masuk kerja tiga tahun lalu. Ia tinggal pada sebuah studio apartemen yang tak terlalu luas.
Begitu akan memasuki area itu, pengawal lebih dulu memeriksa keamanan.
Lilly keluar dan segera menuju lantai tiga tempatnya tinggal. Aroma kamarnya begitu menenangkan jiwa, tidak ada lagi kemewahan terpajang di depannya.
Mau sebaik apapun Istana, Lilly tetap menyukai kamar ini.
"Akhirnya." Ucapnya sembari menghirup aroma kamarnya dalam-dalam. Baru semalam ia tinggalkan tempat ini, Lilly sudah merindukannya.
Ia segera membersihkan tubuhnya, mengganti pakaian rumah dan duduk di sofa bed pada ruang tamu.
Ia mengambil ponselnya. Dan mulai menggulir pesan. Deretan pesan dari ayah, atasan dan teman begitu panjang.
Lilly mulai membalas satu per satu pesan terutama dari atasan yang ternyata telah dihubungi pihak istana untuk menjadikan gedung perusahaan sebagai tempat digelarnya konferensi pers lusa.
Tak lupa perintah untuk memberikan surat pengunduran diri bersamaan di hari itu.
Gadis itu tersenyum samar, belum apa-apa ia sudah merasakan dampak paling nyata.
Ia telah kehilangan pekerjaannya.
Gadis itu kembali menggulir pesan, dari ayahnya yang mengabarkan telah sampai ke daerah Gardenia. Tempat kelahiran ayahnya di wilayah timur kekuasaan Vardoria untuk mendatangi makam ibunya.
Lilly membalasnya dengan mengabarkan telah keluar dari istana dan tengah menunggu di rumah untuk konferensi pers. Lalu menanyakan apa yang harus diucapkannya nanti.
Pesan terakhir dari Sabrina, sahabat dekat yang menghubunginya sesegera mungkin semalam namun Lilly terlalu lelah mental untuk membalas.
Begitu Lilly membalasnya, Sabrina langsung mengatakan bahwa dia akan datang.
Tak butuh waktu lama, hanya berbeda beberapa petak lokasi apartemen, Sabrina telah berada di depan pintu kamarnya.
"Silahkan masuk." Ucap Lilly dengan tenang.
Tapi raut wajah Sabrina berbeda, bila biasanya gadis ini akan tersenyum senang sembari memamerkan makanan yang dibawa. Kali ini ia jauh lebih tegang.
"Ini sangat gila!" gumamnya pelan ketika melangkah masuk.
Sekali lagi, sebelum ia menginjakkan kaki ke studio apartemen Lilly, kepalanya menengok kanan kiri.
"Ada apa?" tanya Lilly setelah menutup pintu.
"Kamu seperti tahanan!" ucapnya dengan nada kesal.
"Ya mau gimana lagi?" tanyanya sarkas dengan bahu yang diangkat.
"Beneran gak manusiawi tau!" Sabrina mencibir dengan cukup berani.
Lilly mengikuti Sabrina yang telah duduk di bed sofa. "Anggap aja aku lagi mainan jadi tuan putri yang dijaga pangeran posesif."
"Idih, ogah banget. Jadi tuan putri yang diposesifin tapi lihat kamu semalam bikin berita kehebohan dimana-mana." Ucap Sabrina.
Lilly tersenyum pedih, "Lihat dong. Aku belum buka berita."
Maka Sabrina dengan antusiasnya membuka laman pencarian.
Berita tentang Noah yang dicium gadis pada jamuan makan malam telah bertengger diurutan pertama. Bahkan di beberapa sosial media foto mereka terpampang.
Meski status dan nama Lilly tak ada. Hanya dijelaskan salah seorang karyawan EO yang bertanggung jawab untuk acara jamuan.
Ia terus menggulir semua berita.
Dari hoax-hoax yang merundung.
Kata mereka Lilly terlalu berani mencium bangsawan elite hingga menanyakan gaun norak apa yang dibelinya.
Kritik-kritik kejam itu lebih bisa disebut perundungan.
"Udah, jangan dilihat. Aku aja bacanya sakit hati. Mending kamu makan macaron yang kubawa ini." Ucap Sabrina sembari membuka sebuah kotak di atas meja yang tadi dibawa olehnya.
Aroma manis dari macaron tercium.
Lilly paling suka makanan ini.
"Tapi di sana fotoku jelek. Semua fokus ke Noah." Keluh Lilly dengan bercanda.
"Kamu beneran berani manggil dia Noah sekarang?" tanya Sabrina dengan keheranan.
"Waktu sekolah kami terbiasa memanggil tanpa gelar." Ucap Lilly sembari mengambil satu buah macaron. Melahapnya dengan tenang.
Sedang Sabrina membeku, "Jadi kalian saling kenal?"
"Bisa dibilang begitu."
"Kamu dari sekolah menengah Diamond High? Sekolah elite para bangsawan itu?"
Sabrina yang telah berteman dengan Lilly semenjak masa kuliah baru mengetahui fakta ini.
"Aku hanya disana sampai kelas dua. Lalu pindah ke Gardenia ikut kakek nenekku."
Sabrina takjub. "Wow!"
Lilly kembali mengambil satu buah macaron. "Ada apa?"
"Jangan-jangan kalian dulu punya hubungan asmara yang belum selesai?" tanya Sabrina langsung.
Pertanyaan itu membuat Lilly hampir tersedak karena terkejut.
Tebakan Sabrina memang tidak salah, tapi itu juga bukan bisa dibilang hubungan asmara.
"Tentu tidak. Kami hanya pernah satu sekolah."
"Tapi kamu manggil dia nama doang, Noah."
"Itu gak wajar?"
"Jelas!"
Lilly menggigit bibirnya pelan. "Sewaktu sekolah kami terbiasa manggil nama tanpa gelar."
"Aneh." Sabrina melahap satu macaron dengan wajah terheran-heran.
Ia melihat pada Lilly yang telah memerah wajahnya.
"Aneh kenapa?"
"Jadi penasaran, Pangeran Noah itu bagaimana pas sekolah?"
Lilly diam sesaat.
Matanya melihat ke arah langit-langit.
Ia mulai berpikir tentang Noah di masa lalu. "Dia gak sombong atas statusnya. Murid teladan dan pintar. Bukan hanya akademik saja tapi bidang olahraga terutama basket dia jadi pemain utama."
"Wow, beneran ganteng dan berkharisma dong?"
Lilly menganggukkan kepalanya, "Bisa dibilang begitu. Banyak sekali gadis yang mengejarnya."
"Apakah kamu termasuk dari mereka?"
"Tentu tidak. Aku lebih takut beasiswaku dulu dicabut." Ucapnya dengan penekanan.
"Benar juga. Kamu masuk pakai beasiswa tapi milih pindah. Itu lebih aneh sih."
Lilly tahu Sabrina akan terus bertanya hal-hal ini, bahkan pada detail kecil sekalipun.
Jika Sabrina menjadi detektif atau investigator, maka profesi itu cocok baginya.
"Karena aku balik ke Gardenia buat nemenin kakek nenekku."
Sabrina menganggukkan kepalanya. "Benar juga. Lalu bagaimana dengan hukumanmu?"
"Sangat rumit dan gak bisa aku jelasin. Malam ini kamu mau nginep?"
"Gak, aku cuma mau jenguk kamu." Sabrina mengucapkannya sembari memegang kedua pipi Lilly.
"Karena malam ini aku ada kencan. Sampai jumpa."
Setelahnya tanpa berpamitan dengan baik, Sabrina segera keluar dari sana. "Ku harap kamu akan terus mendapatkan kebaikan."
Setelah kepergian Sabrina, Lilly benar-benar sendirian.
Hari telah berlalu.
Semalam Lilly tidur dengan nyenyaknya. Tanpa memikirkan masa depan yang mungkin hancur.
Kata ayahnya, dia hanya perlu kembali ke Gardenia. Tempat yang dipimpin seorang Duke dari bangsawan d'Orvain—
salah satu bangsawan yang mengokohkan pembangunan awal kerajaan Vardoria.
Disana, Lilly dapat memulai hidup. Di wilayah pedesaan tempat kakek neneknya yang masih asri.
Ia boleh berkebun atau berdagang di pasar tradisionalnya tanpa gangguan dari wilayah perkotaan di pusat Vardoria.
Sore itu, sebuah ketukan pintu membuat Lilly terkejut. Tak ada teman yang mengabarkan akan datang.
Bahkan ayahnya belum kembali dari Gardenia. Namun ketika melihat siapa yang ada disana, Lilly jauh lebih tercengang.
Sang Permaisuri berdiri dengan anggunnya. Memakai sebuah dress selutut dengan balutan blazer tebal. Di kepalanya tertutup sebuah topi. Tangan membawa mini handbag.
Buru-buru Lilly memberikan sebuah penghormatan meski hanya mengenakan piyama rumahan. Rambut yang dicepol bebas. Dan wajah tanpa riasan.
"Salam Yang Mulia Permaisuri."
Sang Permaisuri Raja Valden II hanya mengangguk tersenyum lalu melenggang masuk ke apartemen Lilly yang sedikit berantakan.
Satu-satunya tempat duduk adalah sofa bed yang menghadap ke televisi berlayar lebar.
Tatapan menilai permaisuri menelusuri setiap sudut ruangan.
Ruangan ini bersekat beberapa tempat. Ruang tamu, dapur, kamar mandi lalu sebuah kamar yang tertutup.
Permaisuri Raja Valden II mengambil duduk di sofa bed.
Lilly yang mengikuti sempat bingung akan duduk dimana.
"Kemarilah, duduk di sampingku," ucap permaisuri sembari menepuk satu tempat di sebelahnya.
Lilly mengikuti perintah. Duduk di sebelah istri penguasa negeri.
Dari ekor matanya, ia dapat melihat dengan jelas cara duduk permaisuri yang sangat elegan, berkelas dan menunjukkan kelas kebangsawanannya.
Wanita itu sangat anggun dengan pesona yang kuat.
"Apakah kamu mengenal Noah?" Tanya Permaisuri tanpa basa basi.
Tangan Lilly terkepal erat di atas paha, "Saya sempat satu sekolah sewaktu sekolah menengah."
Permaisuri menghela nafas sedikit kasar. Ia merasa dibohongi oleh putranya sendiri.
"Lalu, apa alasanmu mengubah pakaian kebesaran Noah dua jam sebelum jamuan dimulai. Karena seingatku kami telah menyiapkan pakaian kebesaran berwarna putih emas yang senada dengan keluarga?"
"Karena ada masalah, Yang Mulia."
"Masalah?"
Permaisuri menatap Lilly dengan penuh kecurigaan.
"Apakah kamu sengaja menggantinya agar dapat menggoda Noah?" tanya Permaisuri dengan cepat dan tegas.
Lilly menundukkan kepalanya. Mengeratkan kepalan tangannya.
"Yang Mulia, hamba pernah satu sekolah dengannya. Hamba tahu Pangeran alergi serbuk bunga krisan. Dua jam sebelumnya pakaian itu telah disabotase."
Permaisuri hampir ingin meledakkan amarahnya. "Bagaimana kamu tahu itu ada serbuk bunga krisan?"
"Karena hamba memiliki alergi yang sama. Saya memiliki bukti melalui pesan secara teks maupun suara kepada tim untuk koordinasi dengan kepala pelayan demi keamanan Yang Mulia Pangeran."
Lilly menyerahkan ponselnya.
Memberikan bukti adanya serbuk itu melalui gambar tangan yang melepuh dan rekaman suara dari salah seorang kawan lainnya yang juga memiliki alergi sama.
Tubuh permaisuri menegang, "Dan bagaimana jika pelakunya memang kamu?"
"Maaf Yang Mulia, awalnya dari teman hamba yang memiliki alergi sama. Untuk mengeceknya saya juga mulai menyentuh bagian kerah. Tangan saya langsung ruam. Dengan beberapa kali bersin yang kuat. Maka dengan itu kami koordinasi untuk mengganti pakaian kebesaran."
"Bagaimana jika kalian bersekongkol?"
Lilly diam sesaat. Ia mulai menggali ingatannya pada sore itu.
"Hamba berani jamin itu bukan salah seorang dari kami," Lilly berhenti sesaat.
Ia menatap sang Permaisuri dengan sedikit lebih berani.
"Dua jam sebelum jamuan pakaian yang akan dikenakan oleh Yang Mulia Pangeran baru diantarkan dari Biro penjahit istana. Saya masih ingat dia adalah seorang pelayan wanita. Maka teman saya mengecek bagian pakaian agar memastikan lebih sempurna." Ia menjeda sesaat untuk mengambil nafas.
"Lalu ditemukan gejala alergi tersebut. Saya juga ikut mengeceknya. Dan teringat bahwa Pangeran Noah memiliki alergi yang sama."
"Dimana pakaian itu?"
"Seharusnya masih ada di ruang ganti pakaian Yang Mulia Pangeran. Tim kami langsung membungkusnya rapi dalam plastik pakaian dan menyingkirkannya di sisi lain agar tidak tercium atau terkena Pangeran Noah."
Tubuh sang Permaisuri menegang.
Artinya malam itu ada yang benar-benar mencoba mencelakai putranya.
****