NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

konfirmasi / tugas karang wilis

*Bab 5*

*"Brrtt... Brrtt..."*

Ponsel Nayla bergetar di atas meja makan. Layarnya menyala. Nayla meraihnya pelan, lalu mengangkatnya.

"Halo, Pak."

Telepon itu dari pihak rumah sakit. Tertulis: _Pak Hendra_.

"Nayla, harap hadir ke kantor pagi ini sebelum keberangkatan. Ada hal yang perlu dikonfirmasi langsung."

"baik, Pak."

Nayla memasukkan ponselnya ke dalam saku baju, lalu kembali ke meja.

Rian masih bercerita. Ibu dan Bik Marni mendengarkan celotehannya. Semuanya berjalan seperti biasa.

Nayla berdiri. Di piringnya masih ada sisa makanan.

"Loh, Nay mau ke mana?" tanya Bik Marni bingung.

"Ada telepon dari kepala direktur, Bik. Disuruh segera ke kantor."

"Oh, gitu," balas Bik Marni sambil mengangguk. "Yaudah, sana berangkat."

Nayla melangkah keluar, tapi sejenak ia berhenti.

"Ada apa?" tanya Bik Marni bingung.

"Oh ya, Bik... bibiknya belum tahu kalau Nayla akan pergi ke luar kota selama dua bulan."

"Bik, Nayla lupa kasih tahu... Nayla akan keluar kota selama 2 bulan. Nayla ditugaskan ke daerah bernama Karang Wilis, Bik."

"Hah? Beneran? Kok lama banget, Nay. Emangnya ada apa di sana?"

"Nayla nggak tahu, Bik."

"Yaudah kalau gitu, jaga diri baik-baik ya. Jaga kesehatan kamu juga di sana," balas Bik Marni sambil merapikan jilbab Nayla. "Jangan terlalu capek."

"Iya, Bik."

"Hati-hati di sana, Nay," suara Ibu pelan, tapi beratnya terasa.

"Iya, Buk."

Nayla mengambil tangan Bik Marni lalu menciumnya. Begitu juga dengan ibunya.

Tidak ada kata-kata panjang. Ibu hanya mengangguk sekali — dan itu sudah cukup.

Rian menatapnya dari kursi. Untuk sekali ini, ia tidak berceloteh.

"Kak, cepet pulang ya."

Nayla mengusap kepalanya sebentar sambil tersenyum. "Iya," balas Nayla sambil mengusap lembut rambut Rian, lalu mencium pipinya.

*"Muachh!"*

"Jaga Ibu baik-baik, jangan nakal, oke?"

"Siap, Kak!" jawab Rian dengan wajah memerah.

Lalu Nayla menatap Bik Marni. "Titip Ibu ya, Bik."

"Iya, sana pergi," balas Bik Marni.

Mata Nayla beralih ke ibunya. Mata itu berkaca-kaca.

"Gak usah natap Ibu kayak gitu," kata ibunya pelan. Ia beranjak dari kursi, lalu memeluk Nayla. "Ibu baik-baik. Sana berangkat."

"Iya, Buk."

Koper ditarik. Kakinya melangkah keluar.

 

Motor bebek Nayla melaju pelan menyusuri jalan kota yang masih basah sisa embun. Udara pagi menusuk tipis di sela-sela jari. Kerudungnya berkibar kecil.

Jalanan belum ramai untuk ukuran kota kecil, tapi sudah hidup.

Seorang bapak tua mendorong gerobak bakso ke pinggir jalan. Warung nasi di pojok gang baru membuka tirai plastiknya. Dua anak sekolah berlarian di trotoar, tas mereka memantul-mantul di punggung. Asap dari cerobong warung mengepul pelan ke udara yang masih putih.

Nayla melajukan motornya keluar dari gang, masuk ke jalan raya.

Di sini lebih ramai. Kendaraan mulai berjejal. Klakson sesekali berbunyi pendek. Seorang ibu membonceng dua anak sekaligus, sarapan masih tergenggam di tangan si kecil.

Lampu merah.

Nayla berhenti. Jarinya menggenggam stang pelan. Matanya lurus ke depan — ke jalanan yang masih panjang, ke hari yang baru saja dimulai.

_Karang Wilis._

Lampu berganti hijau.

Motor kembali melaju.

 

*Tiba di Kantor*

Nayla memarkirkan motornya di sudut halaman kantor. Mesin dimatikan. Ia duduk sebentar — satu tarikan napas pendek — lalu turun.

Lobi terasa dingin begitu pintu kaca terbuka. Suara langkahnya sendiri terdengar jelas di lantai keramik. Resepsionis mengangguk singkat saat ia lewat.

Nayla mengetuk pintu ruangan direktur. _Tok tok._

"Masuk."

Ia mendorong pintu pelan.

Pak Hendra duduk di belakang meja, kacamata bacanya masih terpasang, mata turun ke berkas di tangannya. Ia mengangkat wajah sebentar.

"Nayla. Duduk."

Nayla duduk tegak di kursi depan meja. Tangannya ia lipat rapi di atas pangkuan.

Pak Hendra meletakkan berkasnya. Membuka map tipis di sisi meja, lalu menggesernya ke arah Nayla.

"Kamu sudah baca semuanya?"

"Sudah, Pak."

"Kamu ditugaskan ke Karang Wilis selama dua bulan," suaranya datar, tidak basa-basi. "Situasi di sana sedang tidak kondusif. Ada konflik perebutan wilayah yang belum selesai. Pihak keamanan sudah turun tangan, tapi warga sipil di sana tetap butuh pendampingan."

Nayla mengangguk pelan, matanya mengikuti setiap baris di map itu.

"Tugasmu di sana: pendataan warga, pendampingan layanan dasar, dan laporan berkala setiap dua minggu langsung ke saya," Pak Hendra menatapnya. "Kamu akan berkoordinasi dengan tim militer yang bertugas di sana. Mereka yang pegang keamanan, kamu yang pegang warga."

Hening sebentar.

"Satu hal yang perlu kamu pahami, Nay," nada suaranya berubah — lebih pelan, tapi justru lebih berat. "Karang Wilis bukan daerah biasa. Infrastruktur terbatas, sinyal hampir tidak ada, akses sulit. Dan di tengah konflik, warga di sana — anak-anak, lansia, ibu hamil — mereka tetap butuh pertolongan. Itu yang kamu bawa ke sana."

Nayla tidak menjawab langsung.

Ia menatap map di tangannya sebentar, lalu mengangkat wajah.

"Saya siap, Pak."

Pak Hendra mengangguk. Ia menggeser satu lembar lagi ke arah Nayla.

"Koordinator lapangan di sana namanya Pak Susilo. Tapi setelah orientasi awal, kamu yang pegang," ia bersandar ke kursinya. "Sisanya, lapangan yang akan ajari kamu."

Nayla menerima map itu dengan kedua tangan.

Beratnya tidak seberapa.

Tapi rasanya berbeda.

"Jaga diri," Pak Hendra mengulurkan tangan.

Nayla menjabatnya. "Terima kasih, Pak."

Ia melangkah keluar dari ruangan itu.

Lorong kantor terasa lebih panjang dari biasanya. Atau mungkin langkahnya yang lebih pelan.

Map itu masih di tangannya. Koper menunggunya di luar.

Dan Karang Wilis — masih jauh, tapi sudah terasa dekat.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!