Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Kisah Seribu Tahun Lalu
Bab 5 — Kisah Seribu Tahun Lalu
Udara di dalam ruangan itu terasa berat, seolah dipenuhi debu sejarah yang sudah lama terpendam. Di sekeliling mereka, ribuan buku tua, gulungan kertas, dan alat-alat teknologi kuno tersusun berantakan, menciptakan suasana seperti perpustakaan yang terlupakan waktu.
Ren duduk tegak, matanya tak lepas dari wanita tua di hadapannya. Benda berbentuk kunci besar dengan ukiran pola yang sama persis dengan simbol di tangannya kini tergeletak diam di atas meja kasar di antara mereka. Kilauan ungu samar berdenyut perlahan dari ukiran itu, berirama dengan rasa panas yang menjalar di telapak tangan kiri Ren.
"Namaku Elara," wanita tua itu memulai pembicaraannya dengan suara rendah namun berwibawa, matanya yang berkerut menatap jauh ke dalam mata Ren, seolah ingin menembus hingga ke sanubari terdalam pemuda itu. "Dan aku adalah orang terakhir yang masih hidup, yang menyimpan kebenaran tentang asal-usul dunia ini. Tentang Elarion. Tentang sistem yang kalian sebut Archive."
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang yang terdengar berat, lalu menunjuk ke arah langit-langit ruangan, ke atas sana, tempat kota megah berdiri.
"Seribu tahun yang lalu, dunia ini bukanlah tempat yang teratur, aman, dan penuh data seperti sekarang. Dulu, manusia hidup dalam kekacauan. Ada kekuatan-kekuatan besar, energi murni yang melampaui akal sehat, yang bisa menciptakan atau menghancurkan segalanya dalam sekejap. Kekuatan itu liar, tidak terkontrol... dan hampir membuat umat manusia musnah sepenuhnya."
Elara mengambil kunci besar itu, memegangnya dengan kedua tangan yang gemetar namun penuh rasa hormat.
"Perang besar berkecamuk. Bukan dengan senjata, tapi dengan kekuatan hidup itu sendiri. Darah tumpah, kota hancur, dan bumi hampir terbelah dua. Saat itulah, sekelompok orang bijak, para pemimpin zaman itu, menyadari satu hal: manusia tidak pantas memegang kekuatan sebesar itu jika tidak tahu cara mengendalikannya."
Ia meletakkan kembali benda itu ke atas meja, bunyinya berat dan dalam.
"Maka mereka membuat keputusan terbesar dalam sejarah. Mereka menyatukan sisa-sisa energi itu, mengumpulkan semua pengetahuan, semua keberadaan, semua nyawa... dan menguncinya di dalam satu sistem raksasa. Sebuah kesadaran buatan yang diberi tugas untuk mengatur, mengelola, dan paling penting... membatasi."
Ren meneguk ludah. Ia mulai merasakan ke mana arah cerita ini berjalan. Jantungnya berdebar kencang.
"Itulah lahirnya Archive," lanjut Elara, suaranya menurun, penuh kepahitan. "Sistem yang kalian puja sebagai hukum kebenaran itu... aslinya adalah penjara. Penjara bagi kekuatan liar dunia, dan penjara bagi kebebasan manusia. Semua data yang tercatat di sana? Itu bukan sekadar daftar nama atau pekerjaan. Itu adalah batasan. Jika takdirmu tertulis 'bekerja mengantar barang', maka kau akan hidup dan mati sebagai pengantar barang. Jika umurmu ditetapkan lima puluh tahun, kau tidak akan hidup sampai lima puluh satu."
Kai, yang berdiri diam di samping Ren sejak tadi, mengangguk pelan, wajahnya serius.
"Itu sebabnya kami ada di sini, Ren," bisik Kai. "Kami yang di Kawasan Bayang ini... kami adalah keturunan orang-orang yang menolak dikunci. Kami yang terus mencari celah, yang terus berusaha mengingat apa yang telah dilupakan dunia."
Ren menunduk menatap tangannya. Simbol ungu itu kini bersinar lebih terang, seolah merespons cerita Elara.
"Terus... apa hubungannya semua ini denganku?" tanya Ren, suaranya terdengar serak. "Kenapa aku tidak punya data? Kenapa aku disebut Archive Zero? Dan kenapa aku punya kekuatan untuk mengacaukan sistem itu?"
Elara tersenyum tipis, senyum yang terlihat sedih namun penuh harap. Ia mendorong benda berbentuk kunci itu mendekat ke arah Ren.
"Karena saat sistem itu dibuat seribu tahun lalu, ada dua bagian kunci yang digunakan untuk mengaktifkan dan menguncinya. Satu kunci digunakan untuk mengunci segala sesuatu ke dalam sistem, agar teratur dan aman. Kunci itu sekarang ada di tangan para penguasa Menara Zenith. Mereka yang mengatur aturan, mereka yang memegang kendali hidup mati penduduk kota."
Ia menatap tepat ke mata Ren.
"Dan kunci yang satu lagi... adalah kunci untuk membuka kembali segalanya. Kunci yang bisa menghapus batasan, mengembalikan ingatan, dan membebaskan kekuatan yang dikurung itu. Kunci itu tidak boleh dimiliki siapa pun, tidak boleh tercatat di mana pun, agar tidak ada yang bisa menggunakannya untuk menghancurkan keteraturan yang sudah dibangun susah payah."
Elara mengulurkan tangannya, menunjuk langsung ke tangan kiri Ren.
"Kunci kedua itu tidak disimpan di tempat. Ia disusupkan ke dalam aliran darah manusia, diwariskan diam-diam dari generasi ke generasi, tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang tercatat di data mana pun. Ia menunggu. Menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali."
"Dan kau, Ren..." suara Elara bergetar karena emosi, matanya berkilat basah. "Kaulah pewaris terakhir itu. Kau adalah kunci itu sendiri. Kau adalah Archive Zero. Angka nol bukan berarti kosong atau tidak ada. Angka nol adalah asal mula, adalah wadah yang menampung segalanya, adalah awal dan akhir dari semua hitungan."
Ren diam kaku. Kata-kata itu menghantam pikirannya lebih keras daripada pukulan fisik apa pun. Selama dua puluh tahun ia merasa dirinya tidak berarti, merasa hidupnya biasa saja... ternyata ia adalah pusat dari seluruh sejarah dunia ini.
"Kalau begitu..." Ren berbicara perlahan, menyusun kata-katanya dengan susah payah. "Kalau aku adalah kunci pembuka... apa yang akan terjadi jika aku sepenuhnya bangun? Apa yang akan terjadi jika aku membuka 'pintu-pintu' yang dibisikkan suara itu di kepalaku?"
Wajah Elara menjadi muram. Cahaya harap tadi berubah menjadi bayangan kekhawatiran yang dalam.
"Di situlah letak bahayanya, anakku. Menara Zenith tahu tentang ramalan ini. Mereka tahu bahwa suatu saat Archive Zero akan muncul kembali. Itulah sebabnya mereka mengejarmu mati-matian. Mereka tidak hanya ingin menghancurkanmu agar sistem tetap berjalan... mereka juga takut akan apa yang ada di balik pintu-pintu itu."
Ia berdiri perlahan, berjalan menuju sebuah peta besar yang tergantung di dinding — peta Elarion, tapi jauh lebih rinci dan kuno daripada peta yang ada di atas sana. Di peta itu ada tanda silang besar berwarna merah tua di bagian paling utara kota.
"Hitungan mundur yang kau lihat di layar-layar itu... itu bukan waktu yang mereka punya untuk menghancurkanmu. Itu adalah waktu yang kau punya sebelum mereka sampai ke tempat terlarang itu."
Elara menunjuk tanda silang itu.
"Pusat inti sistem Archive berada di sana. Di bawah menara utama, ada ruangan yang disebut Ruang Asal. Di situlah gerbang besar itu berada. Di situlah semua rahasia, semua kekuatan, dan semua kebenaran dunia ini tersimpan."
Ia berbalik menghadap Ren kembali.
"Kau punya waktu kurang dari 99 jam, Ren. Sebelum mereka menemukan cara masuk ke sana dan mengubah segalanya selamanya... kau harus sampai ke tempat itu lebih dulu. Kau harus masuk ke dalam Ruang Asal, dan memutuskan nasib dunia ini."
Ren bangkit berdiri. Rasa takut masih ada, tapi kini ia merasakan sesuatu yang lain tumbuh di dadanya. Tekad. Rasa tanggung jawab yang berat namun nyata. Ia menatap simbol di tangannya, lalu menatap Elara dengan mata yang berubah tajam.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya tegas.
Elara mengangguk puas. Ia mengambil sebuah benda kecil berbentuk bola kristal dari laci meja, lalu memberikannya kepada Ren.
"Kau harus pergi ke permukaan lagi, tapi bukan lewat jalan masuk biasa. Kai akan memandumu lewat terowongan tua yang mengarah ke Distrik Utara, dekat tembok pembatas kota. Di sana, kau akan bertemu orang lain yang akan membantumu masuk lebih dalam."
"Dan Anya?" tanya Ren tiba-tiba, teringat gadis berambut abu yang menahan musuh sendirian. "Apakah dia..."
Sebelum Elara sempat menjawab, tiba-tiba dinding ruangan itu bergetar hebat. Debu-debu jatuh dari langit-langit. Suara ledakan keras terdengar mendekat, bergema hingga ke dasar bawah tanah.
Kai berlari ke jendela kasar, mengintip ke bawah ke arah pemukiman Kawasan Bayang. Wajahnya pucat seketika.
"Mereka... mereka menemukan jalan masuk!" teriak Kai dengan suara parau, panik. "Penjaga Arsip... mereka ada di sini! Banyak sekali!"
Ren melompat berdiri, menggenggam bola kristal itu erat-erat. Cahaya ungu di tangannya kini bersinar terang, menembus sela-sela jari.
Di kejauhan, di antara hiruk-pikuk penduduk yang mulai berlarian ketakutan, Ren melihat sosok yang dikenalnya. Sosok yang berdiri di atas atap bangunan rendah, dikelilingi badai es yang lebih besar dari sebelumnya, menghadapi puluhan sosok berseragam putih yang menerobos masuk.
Rambut abunya berkibar tertiup angin pertempuran. Mata merahnya menyala tajam.
Anya masih hidup. Dan dia sedang bertahan sekuat tenaga.
Ren menoleh ke Elara.
"Aku harus menolongnya," katanya tegas, langkahnya sudah siap melangkah keluar.
Elara tidak menahannya. Ia hanya mengangguk pelan, matanya penuh keyakinan.
"Pergilah, anakku. Gunakan kekuatanmu. Ingat... kau bukan lagi sekadar pengantar barang dari distrik bawah. Kaulah kuncinya. Dan hari ini, sejarah akan ditulis ulang oleh tanganmu."
Ren berbalik, berlari menuju pintu diikuti Kai yang sudah menyiapkan alat-alatnya dengan wajah bertekad.
Di luar sana, di tengah hiruk-pikuk dan bahaya, Ren sadar bahwa perjalanan panjangnya baru saja dimulai. Ia harus menyelamatkan Anya, melindungi Kawasan Bayang, dan sampai ke Ruang Asal sebelum waktu habis.
Dan di dalam kepalanya, suara misterius itu kembali berbisik, kali ini bukan lagi teka-teki, melainkan perintah yang jelas:
"Pintu kedua terbuka... kekuatanmu mulai bangkit. Pergi, Archive Zero. Temukan kebenaranmu."
Langit-langit bawah tanah itu bergetar lagi, kali ini lebih keras. Cahaya ungu dari tangan Ren memancar terang, menerangi jalan di tengah kegelapan yang mulai merayap masuk.
Perang melawan sistem raksasa bernama Archive... baru saja benar-benar dimulai.
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"