NovelToon NovelToon
Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Status: tamat
Genre:Poligami / Anak Genius / Pelakor / Menikahi tentara / Mandul / Tamat
Popularitas:142.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

"Berawal dari sebuah telpon yang mengaku datang dari masa depan, Nadia akhirnya mengetahui bahwa kedua anak yang diasuhnya ternyata bukan anak kerabat jauh, tapi anak selingkuhan suaminya!

Saat itu juga, Nadia menggugat cerai suaminya dan keluar dari rumah itu. Namun, Keluarga Pradipta tidak melepasnya begitu saja, mereka terus mengganggunya demi hak waris rumah dan kotak musik warisan ibu Nadia. Nadia pun terusik, mengapa mereka terobsesi dengan sebuah kotak musik?

Tak hanya itu, telepon dari masa depan itu datang kembali dan mengatakan bahwa Mayor Arga Wiratama adalah takdirnya. Nadia semakin terkejut ketika pria itu benar-benar nyata dan hadir di depannya. Sebenarnya siapa penelpon itu dan bagaimana bisa?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Nadia baru sampai di lobi restoran ketika Farhan mengejarnya.

Langkah laki-laki itu cepat, napasnya tertahan, wajahnya masih menahan marah. Di belakangnya, Mama Meri ikut keluar bersama Pak Hendra, Dimas, Dinda, dan Rania. Mereka semua seperti rombongan keluarga yang baru saja kehilangan kendali atas panggungnya sendiri.

“Nad, berhenti.”

Nadia tetap berjalan.

Farhan meraih pergelangan tangannya.

Gerakan itu tidak keras, tapi cukup membuat Nadia berhenti. Ia menatap tangan Farhan di kulitnya, lalu pelan-pelan mengangkat mata.

“Lepaskan.”

Farhan tidak langsung melepas. “Kita bicara.”

“Tadi kamu bilang bicara di rumah.”

“Ya, kita pulang.”

“Rumah siapa?”

Farhan menahan rahang. “Jangan mulai lagi.”

Nadia menarik tangannya. Kali ini Farhan melepas, mungkin karena ada terlalu banyak orang melihat. Beberapa tamu di lobi pura-pura sibuk, tapi telinga mereka jelas mengarah ke sana.

Rania berdiri agak jauh, wajahnya pucat. Ia memegang tas mahalnya di depan perut, seolah tas itu bisa melindunginya dari tatapan orang.

Mama Meri melotot ke arah Nadia. “Kamu puas? Satu restoran sekarang melihat kita.”

“Bagus,” jawab Nadia. “Biasanya cuma aku yang melihat kebusukan kalian.”

“Mulutmu makin liar.”

“Karena selama ini terlalu sering dikunci.”

Dinda menangis pelan. “Papa, aku malu.”

Nadia menoleh. Ada bagian kecil di dirinya yang dulu pasti langsung luluh melihat Dinda menangis. Ia akan mendekat, menyeka air mata anak itu, meminta maaf meski bukan salahnya.

Tapi malam ini ia hanya bertanya, “Malu karena apa?”

Dinda tersentak.

Nadia melanjutkan, “Karena aku bicara, atau karena kamu ketahuan lebih memilih perempuan lain daripada orang yang membesarkanmu?”

Dinda menutup wajah. “Aku tidak memilih siapa-siapa.”

“Tanganmu dari tadi menggenggam Rania.”

Rania cepat berkata, “Mbak, jangan salahkan anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa.”

Nadia menatapnya. “Kamu yakin?”

Wajah Rania berubah sedikit.

Cepat sekali. Hanya sepersekian detik. Tapi Nadia melihatnya. Ada ketakutan kecil yang muncul ketika Nadia menekan kata anak-anak.

Jadi benar.

Ada sesuatu di sana.

Farhan berdiri di antara mereka. “Dimas dan Dinda tidak ada hubungannya dengan masalah orang dewasa.”

“Mereka ada di meja itu.”

“Mereka anak-anak.”

“Mereka sudah cukup besar untuk tahu ibunya ditinggal sendirian di rumah.”

Dimas tersinggung. “Kamu bukan ibu kandung kami!”

Kalimat itu meledak di lobi.

Orang-orang yang tadi berbisik langsung diam.

Nadia merasakan tubuhnya seperti ditampar dari dalam. Ia tahu Dimas bukan anak kandungnya. Ia selalu tahu. Tapi selama bertahun-tahun, ia memilih untuk tidak menjadikan darah sebagai ukuran. Ia yang mengurus makan mereka. Ia yang menghafal jadwal ujian. Ia yang duduk di depan ruang IGD saat Dinda sesak napas. Ia yang menangis diam-diam saat Dimas pertama kali mendapat ranking buruk karena merasa gagal mendampingi.

Dan sekarang, anak itu melempar kalimat itu seperti batu.

Nadia mengangguk pelan.

“Betul.”

Dimas tampak terkejut karena Nadia tidak menangis.

“Aku memang bukan ibu kandungmu,” lanjut Nadia. “Tapi semua bekal yang kamu buang, semua seragam yang kusetrika, semua malam saat kamu demam dan aku tidak tidur, itu tidak pernah palsu.”

Dimas memalingkan wajah.

Dinda menangis makin keras.

Mama Meri langsung memeluk cucunya. “Sudah, Sayang. Jangan dengarkan dia. Dia lagi emosi.”

Nadia tertawa pelan. “Tentu. Kalau aku terluka, namanya emosi. Kalau kalian berbohong, namanya demi kebaikan.”

Pak Hendra menunjuk pintu keluar. “Pulang. Semua pulang. Kita tidak perlu jadi tontonan.”

Farhan mendekati Nadia lagi, kali ini suaranya lebih rendah. “Aku antar kamu pulang.”

“Tidak perlu.”

“Jangan keras kepala.”

“Aku pesan ojek.”

“Malam-malam begini?”

“Waktu kalian meninggalkanku sendirian di rumah, tidak ada yang khawatir malam-malam begini.”

Farhan terdiam.

Rania mendadak maju. “Mbak Nadia, aku benar-benar minta maaf. Kalau Mbak mau marah, marahlah padaku. Jangan sampai Mas Farhan dan keluarga bertengkar karena aku.”

Nadia menatap perempuan itu.

Rania memang cantik. Wajahnya halus, kulitnya terawat, bajunya mahal tapi tidak mencolok. Ia tahu cara membuat diri terlihat pantas dikasihani. Kalau orang tidak tahu cerita lengkapnya, mereka mungkin akan melihat Rania sebagai perempuan lembut yang terjebak di tengah rumah tangga orang.

Tapi Nadia sekarang tahu.

Rania tidak terjebak.

Ia duduk nyaman di kursi yang disediakan.

“Kamu ingin aku marah padamu?” tanya Nadia.

Rania tampak bingung. “Aku hanya merasa bersalah.”

“Kalau merasa bersalah, menjauh dari suamiku.”

Rania menunduk. “Aku tidak pernah mengejar Mas Farhan.”

“Tapi kamu menerima saat dia datang.”

“Dia datang karena peduli.”

“Peduli itu bisa lewat transfer uang, lewat bantuan cari kerja, lewat mengenalkan ke komunitas janda, lewat banyak cara.” Nadia mendekat satu langkah. “Kenapa bentuk pedulinya harus makan malam Lebaran dengan seluruh keluarganya tanpa istrinya?”

Rania tidak menjawab.

Mama Meri membentak, “Karena kamu tidak akan mengerti. Kamu tidak pernah merasakan jadi ibu.”

Lobi mendadak sunyi.

Farhan memejamkan mata, seperti tahu kalimat ibunya kelewatan, tapi tidak cukup berani menegur.

Nadia menoleh ke Mama Meri.

Selama ini, kalimat itu sering muncul dalam berbagai bentuk.

Kamu belum punya anak, jadi tidak paham.

Kamu cuma ibu asuh, jangan merasa paling tahu.

Kalau kamu bisa melahirkan, Farhan tidak perlu sesedih ini.

Kata mandul jarang sekali diucapkan langsung di depan umum, tapi selalu berdiri di belakang setiap kalimat mereka.

Nadia mendekat kepada Mama Meri. “Mama benar. Saya belum pernah melahirkan.”

Mama Meri mengangkat dagu, merasa menang.

“Tapi Mama juga belum tentu pernah menjadi ibu yang baik.”

Wajah Mama Meri berubah.

Pak Hendra berkata keras, “Nadia!”

Nadia tidak berhenti. “Ibu yang baik tidak mengajari anaknya berbohong. Tidak membantu anaknya menyakiti istrinya. Tidak menjadikan perempuan lain sebagai alat untuk menghina menantunya.”

Mama Meri mengangkat tangan.

Semua terjadi cepat.

Tangan itu melayang ke arah wajah Nadia. Dulu Nadia mungkin akan diam. Malam ini, sebelum telapak itu menyentuh pipinya, Nadia menangkap pergelangan Mama Meri.

Orang-orang tersentak.

Mama Meri membelalak. “Kamu berani melawan orang tua?”

“Saya berani menghentikan orang yang mau menampar saya.”

Nadia melepaskan tangan itu dengan dorongan kecil. Mama Meri mundur setengah langkah, lebih karena kaget daripada sakit.

Farhan menarik ibunya. “Ma, sudah.”

“Kamu lihat istrimu?” Mama Meri berteriak. “Dia sudah kurang ajar!”

“Aku melihat,” kata Farhan, lalu menatap Nadia dengan marah. “Dan aku kecewa.”

Nadia hampir tersenyum.

Kecewa.

Laki-laki itu masih merasa punya hak kecewa.

“Bagus,” jawabnya. “Sekarang kita sama.”

Ponsel Nadia bergetar. Driver ojek sudah tiba.

Nadia berjalan ke pintu. Rania tiba-tiba berkata, suaranya cukup pelan, tapi masih terdengar.

“Mbak Nadia, kalau Mbak memang ingin bercerai, jangan jadikan anak-anak korban. Mereka sudah cukup menderita.”

Nadia berhenti.

Ia menoleh perlahan.

Rania menatapnya dengan mata merah, tapi di balik kesedihan itu ada kilatan sesuatu. Tantangan. Seolah ia yakin anak-anak akan menjadi tali yang menyeret Nadia kembali.

Nadia berkata, “Kamu benar. Anak-anak tidak boleh jadi korban.”

Rania tampak lega.

“Karena itu mulai malam ini, biarkan orang tua kandung mereka yang bertanggung jawab.”

Wajah Rania kehilangan warna.

Farhan langsung menegang. “Apa maksudmu?”

Nadia menatap mereka satu per satu.

Ia belum punya bukti resmi. Tapi ia punya naluri, dan sekarang ia melihat ketakutan di wajah Rania.

“Tidak usah takut,” kata Nadia pelan. “Aku belum mengatakan apa-apa.”

Rania menggenggam tasnya begitu kuat sampai buku jarinya memutih.

Nadia melanjutkan, “Belum.”

Lalu ia pergi.

Di luar restoran, udara malam menyentuh wajahnya. Driver ojek menunggu dengan helm cadangan. Nadia naik tanpa menoleh.

Saat motor bergerak, ia mendengar Mama Meri masih berteriak dari lobi. Farhan memanggil namanya sekali. Dinda menangis. Dimas memaki.

Nadia tidak melihat ke belakang.

Di sepanjang jalan pulang, ponselnya penuh notifikasi. Siska mengirim pesan. Bu Yayah bertanya. Nomor Farhan yang tadi mati mulai menelepon berkali-kali.

Nadia menolak semuanya.

Ia membuka aplikasi catatan, menulis daftar dengan tangan gemetar.

1. Simpan story Siska.

2. Cari bukti hubungan Farhan dan Rania.

3. Tes DNA Dimas dan Dinda.

4. Periksa ulang kesehatan sendiri.

5. Urus perceraian.

6. Jangan pulang sebagai orang yang sama.

Motor berhenti di depan gang rumah.

Nadia turun. Rumah nomor tujuh belas masih terang. Meja makan masih menunggu di dalam.

Tapi Nadia tidak lagi merasa rumah itu miliknya.

Ia membuka pintu, masuk, lalu mengunci dari dalam.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nadia tidak membereskan meja makan.

Ia membiarkan semua makanan dingin di sana.

Biar mereka pulang dan melihat sendiri apa yang sudah mereka buang.

1
syska
ɪɴɪ ʙᴇᴛᴜʟᴀɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏɢ sᴀɴɢᴀᴛ sᴀɴɢᴀᴛ ʙᴀɢᴜs ʏɢ ᴘᴇʀɴᴀʜ ᴀᴋᴜ ʙᴀᴄᴀ...
sᴇʙᴇʟᴜᴍɴʏᴀ ᴀᴋᴜ ᴘᴇʀɴᴀʜ ʙᴀᴄᴀ ᴊᴜɢᴀ ᴄᴜᴍᴀɴ ᴊᴜᴅᴜʟɴʏᴀ ʟᴜᴘᴀ, ᴅᴀɴ ᴛᴏᴋᴏʜɴʏᴀ sᴀᴍᴀ ᴀʀɢᴀ ᴡɪʀᴀᴛᴀᴍᴀ, sᴀᴍᴀ sᴀᴍᴀ ᴛᴇɴᴛᴀʀᴀ ᴊᴜɢᴀ... ᴀᴋᴜ.ʟᴜᴘᴀ ᴀᴘᴀᴋᴀʜ ɪɴɪ ᴏᴛʜᴏʀ ʏɢ sᴀᴍᴀ ʏɢ ᴍᴇɴᴜʟɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ... ❤️❤️❤️
syska
ʀᴀʏʏᴀɴ, ᴀsʜᴀ, ᴅᴀɴ ᴋɪʀᴀɴɪ ᴋᴀɴ ɴᴀᴍᴀ ᴀɴᴀᴋɴʏᴀ ɴᴀᴅɪᴀ ᴀʀɢᴀ...
syska
ᴘɪʟɪʜᴀɴ ʏɢ ᴛᴇᴘᴀᴛ ɴᴀᴅɪᴀ...
ZQ
jangan jangan Bagas itu ayah kandung Dimas dan Dinda
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
pusing , ulang lagi alurnya
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
ini kenapa yaa ke ulang trus jd pusing
Non
di episode 25 dimulai kotak musik berbunyi,,,
Rani & Raka manggil Nenek
anak² Nadia > Rayyan, Asha ,Kirana
Evy
Seram juga nih kotak musik nya bisa bunyi sendiri..
andi_wathy
iiihhh gue nangis bacanya 😭
Lesmana
crita nya di ulang lagi aja ini , thor...😤😤
Lesmana
asa jgn lupa , nadia.. itu rmh pinjaman sodara siska loh.. bukan rmh sndr🤭🤭🤭
mommy
sok banget gak butuh bantuan dari arga
mommy
aneh, walopun itu dari masa depan, cucunya kan belum lahir, gimana caranya dia tau, kecuali kalo itu sebuah buku cerita
Setiawan
ntar manggil mama , ntar manggil tante.. 😄😄😄
Dita Dwi
rani dan raka kn anak rayyan kok ini malah jadi kembarannya...
Thewie
laku yg bingung apa mmg othor ya gak cek KLO mau di post ya. kembali mengulang2. lama2 jadi aneh thor
Lesmana
ini msk rs yg ke2x nya atau ngulang sih ?? 🙄🙄

kog kejadiannya ky dejavu gini yah
Lesmana
laras ke dokter ini di ulang lg atau udah ke2x nya yah ?? lier aq🤭
Lesmana
loh td bukannya udah sampai di rmh nadia ?? yg disambut bu tatik , kog skrng ulang lg ??
sukensri hardiati
othor nggak ngecek cerita sebelum up...
setelah up juga nggak ngecek komen...jadi kesalahan terulang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!