Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Tanggal yang Salah
BAB 20 — Tanggal yang Salah
Naufal tidak mungkin bertemu orang mati.
Kalimat itu berulang di kepalaku selama perjalanan menuju rumah sakit tempat Laksmi dirawat pada minggu terakhir hidupnya. Bukan karena aku percaya ia berbohong. Justru karena kuitansi parkir, nomor kamar, dan tulisan tangan Laksmi terlalu mudah diperiksa.
Tanggal kematian pada akta resmi: 14 September.
Tanggal kuitansi Naufal: 16 September.
Aku mengenal nomor kamar yang ditulis Laksmi.
Kamar itu berada di sayap lama rumah sakit, satu lantai di atas ruang tempat Nadira terakhir kali melihat ibunya. Sayap tersebut sudah direnovasi dan berganti fungsi tiga tahun lalu. Sekarang hanya menyimpan ruang administrasi, gudang peralatan, dan arsip yang belum seluruhnya dipindahkan.
Elsa menungguku di depan pintu arsip bersama kepala bagian hukum rumah sakit. Perempuan bernama Ratna Wulandari itu terlihat tidak senang harus membuka catatan sebelas tahun lalu untuk keluarga yang namanya pernah membuat hampir semua pegawai di gedung tersebut berhati-hati.
“Sebelum mulai,” katanya, “saya perlu memastikan Anda memahami bahwa catatan medis tidak dapat dibawa keluar tanpa izin ahli waris.”
“Ahli warisnya meminta pemeriksaan,” kata Elsa.
Ia menyerahkan surat dari Damar yang ditandatangani Nadira. Surat itu bukan buatanku ataupun izin yang kuatur melalui nama keluarga.
Ratna membacanya sampai selesai.
“Bu Nadira memberikan izin melihat dokumen yang berhubungan dengan perbedaan tanggal kematian,” katanya. “Bukan seluruh riwayat perawatan.”
“Kami hanya butuh tanggal, pemindahan kamar, dan pihak yang membuat laporan kematian,” jawab Elsa.
Ratna membuka pintu arsip.
Bau kertas tua dan pendingin ruangan langsung menyambut kami. Di dalam, rak-rak besi memenuhi dinding sampai hampir menyentuh langit-langit. Seorang petugas membawa satu kotak dari meja penyimpanan.
Pada sampul map tertulis:
LAKSMI SASMITA — DITUTUP
Tanggal penutupan berkas sesuai dengan akta kematian.
14 September.
Ratna mengenakan sarung tangan, kemudian membuka halaman terakhir.
“Ini surat keterangan kematian yang dikirim ke catatan sipil.”
Waktu kematian tercatat pukul 02.14.
Penyebab: henti jantung setelah komplikasi gagal ginjal dan infeksi.
Dokter yang menandatangani sudah pensiun. Kolom saksi keluarga diisi oleh perwakilan Kalyana Foundation.
Bukan Nadira.
Bukan aku.
Nama saksi itu tidak kukenal, tetapi Elsa langsung memotretnya.
“Orang ini pernah bekerja untuk Helena,” katanya.
Ratna membalik satu halaman ke belakang.
“Ada sesuatu yang janggal.”
Catatan perawat menyebut Laksmi mengalami henti jantung pukul 02.14. Tim resusitasi dipanggil. Enam belas menit kemudian, denyut kembali terdeteksi.
Aku membaca baris itu dua kali.
“Dia hidup kembali setelah dinyatakan meninggal?” tanyaku.
“Bukan.” Ratna menunjuk catatan waktu. “Dokter jaga belum menandatangani kematian ketika resusitasi berhasil. Secara medis, kematian belum dinyatakan. Catatan sipil tampaknya memakai waktu henti jantung pertama, bukan waktu kematian sebenarnya.”
“Kenapa berkasnya ditutup?”
“Itu yang perlu kita cari.”
Ia meminta petugas membawa buku perpindahan pasien. Sistem digital rumah sakit pada masa itu sering membuat nomor baru ketika pasien dipindahkan antarunit setelah status awalnya ditutup. Banyak catatan sudah digabung, tetapi beberapa perubahan masih hanya tersimpan di buku manual.
Nama Laksmi tidak muncul setelah tanggal empat belas.
Ratna kemudian mencari berdasarkan nomor kamar.
Kamar 812 menerima seorang pasien pukul 05.10 dengan nama L. Mutiara.
Tanggal lahirnya sama.
Golongan darahnya sama.
Nama dokter yang menangani juga sama.
“Nama sementara,” kata Ratna. “Biasanya dipakai kalau sistem tidak bisa membuka kembali nomor pasien lama dalam keadaan mendesak.”
“Jadi Laksmi dipindahkan menggunakan identitas sementara.”
“Iya.”
“Siapa yang meminta?”
Ratna membaca singkatan pada kolom penanggung jawab.
“Keluarga.”
“Nama?”
“Hanya inisial H.K.”
Helena Kalyana.
Aku tidak mengucapkannya.
Elsa melakukannya untukku. “Helena.”
Ratna memperhatikan kami, tetapi tidak menanyakan hubungan nama tersebut dengan pasien.
Catatan untuk L. Mutiara berakhir pada 16 September pukul 23.37. Waktu itu baru dicatat kematian setelah denyut jantung berhenti dan perintah tidak melakukan resusitasi diberlakukan.
Laksmi hidup hampir dua hari lebih lama daripada tanggal kematian resmi.
“Kenapa tanggalnya tidak diperbaiki?” tanyaku.
Ratna menutup buku sebentar. “Surat kematian yang pertama sudah diproses. Catatan kedua dimasukkan sebagai koreksi internal, tetapi tidak pernah dikirim ke catatan sipil.”
“Kesalahan?”
“Awalnya mungkin kesalahan administrasi. Setelah diketahui, seseorang memilih tidak memperbaikinya.”
Elsa menatapku.
“Karena setelah tanggal empat belas, posisi hukum Laksmi sudah berubah,” katanya.
Itulah bagian yang dicari semua orang.
Dua hari yang hilang di antara catatan medis dan catatan sipil—cukup untuk membuat satu tanda tangan dianggap tidak pernah ada.
Ratna membuka map pasien sementara. Isinya jauh lebih tipis. Catatan perawatan, persetujuan pengurangan obat, daftar dua pengunjung, dan formulir permintaan alat tulis.
Nama pengunjung pertama Naufal Haris.
Nama kedua ditutup cairan koreksi, tetapi tekanan pulpen masih meninggalkan bentuk pada kertas.
Elsa memotretnya dari samping. Di bawah cahaya, sisa huruf pertama terlihat seperti R.
Bukan namaku.
Aku tidak pernah mengetahui Laksmi masih hidup.
Pada tanggal enam belas, aku sedang berada di luar kota, mengikuti rapat yang dijadwalkan ayah. Aku ingat Helena menelepon dan mengatakan pemakaman perlu ditunda dua hari karena persoalan administrasi rumah sakit.
Saat itu aku tidak bertanya.
Keluarga Kalyana selalu mengubah ketidakjelasan menjadi alasan untuk menyerahkan keputusan kepada mereka.
“Apa Laksmi menandatangani sesuatu di kamar 812?” tanyaku.
Ratna mengeluarkan formulir inventaris.
“Dia meminta kertas, amplop, pena, dan stempel sidik jari.”
“Dokumennya?”
“Tidak masuk rekam medis.”
“Siapa yang mengambil?”
“Tidak dicatat.”
Aku melihat daftar pengunjung lagi. Naufal mengatakan ia menerima janji terakhir. Mungkin ia membawa surat. Halaman yang diberikan Banyu menunjukkan ada bagian buku yang disimpan di luar salinanku.
Seseorang mengumpulkan instruksi Laksmi selama dua hari tersebut.
Seseorang kemudian memastikan aku tidak pernah melihatnya.
Ponsel Elsa berbunyi. Ia menjauh beberapa langkah untuk menerima sambungan dari tim analisis dokumen. Selagi menunggu, aku membaca catatan terakhir perawat.
Pada pukul 21.05, Laksmi sadar dan meminta satu kalimat dicatat karena tangannya terlalu lemah.
Perawat menulis:
Pastikan Nadira tidak diwariskan kepada siapa pun.
Aku berdiri lama di depan kalimat itu.
Selama ini aku membenarkan pengambilalihan Lingkar Aman sebagai amanat seorang ibu. Aku percaya Laksmi memilihku untuk menjaga Nadira karena ia tahu putrinya akan berada dalam bahaya.
Mungkin bagian itu benar.
Perintah terakhirnya bukan agar aku memiliki lebih banyak kuasa.
Justru sebaliknya.
Elsa kembali dengan wajah yang berubah.
“Mereka menemukan halaman asli,” katanya.
“Di mana?”
“Di antara dokumen yang diberikan Naufal kepada Damar. Kertasnya dibuat pada tanggal enam belas. Tulisan tangan dan sidik jarinya cocok dengan Laksmi.”
Ia mengirim gambar ke tabletku.
Halaman itu memiliki format buku kata kerja, tetapi tidak sama dengan halaman NIKAHI dalam salinanku. Di bagian atas tertulis tanggal 16 September. Nama Nadira berada pada satu baris dengan kata PILIH.
Di bawahnya ada namaku.
Bukan NIKAHI.
Kata tersebut dicoret dua kali dengan tinta hitam. Di sampingnya, Laksmi menulis satu instruksi baru menggunakan huruf yang tidak lagi serapi tulisan lamanya.
Rendra Kalyana — BEBASKAN.