NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Skandal Besar

Pesan teks masuk ke ponsel Shanaya tepat saat ia sedang menyesap teh chamomile di teras belakang rumahnya. Udara sore Jakarta terasa lengket. Namun, isi pesan itu sedingin es.

"Mereka gigit umpanmu, Nay. Dina, Rara, dan Kevin siap naik cetak jam delapan malam ini. Draf kasarnya sudah bocor di grup wartawan."

Shanaya mematikan layar ponsel. Ia meletakkan cangkir porselen perlahan agar tidak menimbulkan bunyi decit pada tatakannya. Sudut bibirnya tertarik tipis.

Dua hari lalu, ia mencegat Mira di pelataran parkir gedung Kanal Satu. Hujan turun rintik-rintik. Reporter junior itu berlari menembus hujan dengan bahu turun. Tangannya meremas map berisi draf artikel investigasi yang baru saja dibuang ke tempat sampah oleh redaktur seniornya. Di kehidupan lalu, Mira berakhir dipecat karena menolak menulis berita pesanan Alvian.

Gadis jujur itu kehilangan kariernya dan hidup hancur. Kali ini, Shanaya datang membawa tiket emas.

Shanaya menghalangi langkah Mira di bawah kanopi kedai kopi. Ia menarik kursi, lalu mendorong secangkir kopi panas dan sebuah amplop cokelat tebal melintasi meja kayu.

Mira duduk ragu-ragu. Ia membuka amplop itu. Tangannya membalik tumpukan kertas di dalamnya. Lembar demi lembar. Napas jurnalis muda itu tertahan. Matanya membesar membaca deretan nama dan bukti yang terlampir.

"Ini... ini skandal besar." Mira meletakkan bukti transfer itu ke atas meja. Tangannya mendorong amplop tersebut mundur beberapa sentimeter. Wajahnya pias. "Anastasia Lim itu adik sepupu kesayangan keluargamu. Kamu mau aku bunuh diri?"

Mira menggeleng cepat. "Satu kata salah di artikel ini, tim pengacara Kesuma Group bisa menuntutku sampai miskin tujuh turunan. Aku butuh berita buat selamatkan mejaku, bukan surat kematian."

Shanaya tidak berkedip. Ia menahan amplop itu dengan ujung jarinya. "Kamu reporter investigasi. Tapi sekarang mejamu digeser ke sudut ruangan, persis di sebelah mesin fotokopi, karena kamu menolak disetir redakturmu. Kamu pikir kariermu masih hidup?"

Mira menelan ludah keras.

"Semua di situ valid." Shanaya mengetuk tumpukan kertas itu dua kali. "Bukti transfer, rekaman ancaman, tanggal rilis karya dari desainer aslinya. Bos besarmu, Steven Aditya, nggak peduli pada nama besar konglomerat. Dia menyembah fakta mutlak. Beri dia skandal telanjang yang nggak bisa dibantah oleh siapa pun."

Udara di antara mereka menegang. Mira menatap tumpukan bukti itu, lalu menatap wajah dingin Shanaya. Jemari reporter itu perlahan kembali menarik amplop cokelat tersebut.

"Tunggu aba-aba dariku," ucap Shanaya final. "Akan ada tiga wartawan receh dari media gosip yang rilis tulisan fitnah soal aku. Begitu tulisan mereka naik, langsung timpa pakai beritamu. Gilas narasi mereka sampai habis."

Kembali ke masa sekarang. Pukul setengah delapan malam.

Ruang keluarga Kesuma terang benderang. Televisi layar datar menyiarkan acara musik, tapi tidak ada satu pun pasang mata di ruangan itu yang memperhatikannya.

Alvian duduk santai di sofa tunggal. Kemeja putihnya digulung hingga siku. Ia menyesap kopi hitam sambil memutar-mutar ponsel mahalnya. Di dekatnya, Anastasia duduk bersila di atas karpet tebal. Tangan gadis itu sibuk memetik anggur merah, tapi matanya terus-menerus melirik jam dinding kayu di sudut ruangan. Kakinya bergoyang cepat tanpa sadar.

Shanaya duduk tenang di sofa utama. Ia membalik halaman majalah mode. Wajahnya lurus, memblokir ketegangan tajam yang mulai mencekik udara di antara mereka bertiga.

"Kak Naya beneran yakin mau pegang produksi koleksi baru nih?" Anastasia memecah keheningan. Nadanya kelewat polos. "Padahal Kakak kan udah lama banget nggak gambar sendiri. Nggak takut idenya dibilang jiplakan orang, Kak?"

Alvian meletakkan cangkirnya perlahan. "Shanaya punya tim desain raksasa di belakangnya, Nas. Kalau ada masalah hak cipta atau plagiat, timnya yang harus tanggung jawab. Mereka yang cari referensi, kan?"

Sempurna. Pria ini bahkan sudah menyiapkan skenario cuci tangan berjaga-jaga jika skandal plagiat meledak dan menjatuhkan saham perusahaan malam ini.

Bunyi kertas bergesekan memotong tawa kecil Anastasia. Shanaya menutup halaman majalahnya.

"Karya asli selalu punya jejak, Nas." Shanaya menatap sepupunya lurus. Matanya menembus topeng manis itu. "Yang palsu cepat atau lambat pasti ketahuan busuknya. Pembohong nggak akan bisa lari selamanya."

Jari Anastasia berhenti mendadak di udara. Sepotong anggur hampir jatuh menodai karpet. Gadis itu menelan ludah. Tawanya terdengar canggung dan kering. "I-iya sih, Kak. Bener banget. Karya asli itu mahal harganya."

Anastasia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedikit menegang. Ia pasti sibuk menghibur diri, mengira sebentar lagi seisi negara akan mencap Shanaya sebagai penipu.

Jam dinding berdetak. Pukul tujuh lewat lima puluh lima menit.

"Al," panggil Shanaya datar.

Pria itu mendongak. "Ya, Sayang?"

"Tadi siang aku udah tanda tangan kontrak eksklusif sama pabrik tekstil langganan Ayah buat suplai semua bahan koleksi baruku."

Alvian terdiam. Pria itu meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja. Bunyi porselen berbenturan dengan kaca terdengar terlalu keras. Buku-buku jarinya memutih saat ia mencengkeram lututnya sendiri. Topeng hangat pria itu retak sepersekian detik, memperlihatkan predator kalkulatif yang selama ini bersembunyi di baliknya.

Rencananya memasukkan pabrik fiktif penyedia bahan sintetis baru saja dipotong mati.

"Kamu ambil keputusan krusial tanpa melibatkan aku?" Suara Alvian turun setengah oktaf. Tidak ada nada lembut di sana. Hanya otoritas dingin yang menuntut ketaatan. "Ayahmu memilihku buat menuntunmu, Shanaya. Bukan buat menonton kamu jalan sendiri dan merusak anggaran."

"Anggaran perusahaanku," potong Shanaya santai. Ia menyilangkan kaki. "Aku nggak butuh dituntun buat tahu mana kain sutra asli dan mana plastik daur ulang, Al."

Otot rahang Alvian berkedut menahan murka.

Anastasia buru-buru menyela, sadar suasana mendadak memburuk. Ia menggeser duduknya merapat ke kaki kursi Alvian. "Kak Naya akhir-akhir ini memang sibuk banget kok. Mas Alvian sabar banget deh ngadepin Kak Naya yang suka keras kepala gini."

Di kehidupan lalu, sentuhan-sentuhan kecil seperti ini selalu berhasil menipu matanya. Ia mengira itu hanya kasih sayang murni antara kakak dan adik sepupu. Kini, melihat gestur mereka berdua, ia hanya melihat gunting berkarat yang bersiap mengoyak gaunnya dari belakang.

"Baguslah kalau kamu mengerti batas wilayahmu." Shanaya mengangguk pelan.

Jarum panjang jam menunjuk angka dua belas. Pukul delapan malam tepat.

Ponsel Anastasia bergetar di atas pangkuannya.

Gadis itu langsung menyambar benda pipih tersebut. Matanya menyala penuh kemenangan. Ia melirik Shanaya sekilas, otaknya pasti sudah menyusun ekspresi terkejut dan rentetan kalimat simpati palsu.

Ia membuka layar ponselnya.

Butuh dua detik bagi otaknya untuk memahami. Dan ketika akhirnya ia mengerti, semuanya sudah terlambat.

Napas Anastasia tercekat di kerongkongan. Darah surut habis dari wajahnya hingga ke ujung jari kaki. Bibirnya memutih.

Dina, Rara, dan Kevin memang merilis artikel gosip mereka. Tulisan murahan tentang rumor plagiat Shanaya tayang persis pukul delapan. Tapi belum genap lima menit tulisan itu menyebar, badai sesungguhnya menghantam tanpa ampun.

Kanal Satu merilis liputan investigasi eksklusif di jam tayang utama, menyapu bersih seluruh algoritma media sosial. Laporan itu membawa stempel persetujuan langsung dari produser eksekutif berita keras. Steven Aditya tidak memungut remah gosip. Pria itu melemparkan fakta absolut yang setajam jarum, yang tak dapat dibantah.

Layar ponsel Anastasia dibanjiri ribuan notifikasi yang masuk bertubi-tubi. Sebuah tautan berita bertinta merah tebal merajai posisi teratas.

Sindikat Plagiat Mahasiswi Elit: Tiga Karya Desainer Lokal Dicuri Demi Gelar Lulusan Terbaik.

Di bawah judul tersebut, wajah Anastasia terpampang sangat jelas bersebelahan dengan deretan sketsa asli dari para korban dan bukti transfer suap. Tidak ada sensor. Tidak ada inisial pelindung.

Artikel itu tayang malam itu. Bukannya membongkar Shanaya, malah membongkar tiga proyek plagiat Anastasia yang lebih dulu. Anastasia membaca dari telepon genggamnya dengan tangan gemetar.

Ponsel mahal itu lolos dari genggaman, menghantam lantai kayu dengan suara keras.

Di tengah keheningan yang mendadak mencekik ruangan, Shanaya santai membalik halaman majalahnya.

"Kenapa, Nas?" Shanaya bertanya tanpa mengangkat wajah. "Ada berita yang nggak kamu suka malam ini?"

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!