Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konferensi Pers dan Tamparan Realitas
Tiga hari berlalu seperti kedipan mata yang dipenuhi kecemasan. Hari yang paling dihindari Eli akhirnya tiba juga. Pagi ini, lobi utama Arisatya Group yang megah telah disulap menjadi ruang konferensi pers yang super ketat. Ratusan jurnalis dari berbagai media nasional maupun internasional sudah memadati area, lengkap dengan kamera bersensor tinggi dan mikrofon yang siap merekam setiap jembatan kata dari sang penguasa bisnis, Xavier Arisatya.
Di dalam ruang transit VIP, Eli berdiri mematung di depan cermin besar. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan tatapan asing. Gaun sutra prancis berwarna putih gading potongan A-line melekat sempurna di tubuh rampingnya, dipadukan dengan riasan wajah yang natural namun memancarkan keanggunan seorang sosialita kelas atas. Di jari manis tangan kanannya, cincin berlian raksasa pemberian Xavier akhirnya melingkar dengan kilauan yang sangat menyilaukan.
"Nyonya, Anda tampak sangat cantik," puji salah satu penata rias dengan sikap takzim sebelum melangkah mundur dan meninggalkan ruangan bersama timnya.
Pintu ruang transit terbuka, menampilkan sosok Xavier yang melangkah masuk dengan setelan jas hitam custom-made potongan Italia yang sangat gagah. Rambut hitamnya ditata rapi, menampilkan dahi dan rahang tegasnya yang kokoh. Begitu melihat Eli, langkah kaki Xavier sempat melambat. Sepasang mata elangnya berkilat dipenuhi rasa takjub dan kepuasan posesif yang absolut.
Xavier berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di belakang Eli. Dia meletakkan kedua tangan besarnya di atas pundak Eli yang terbuka, menatap pantulan mereka berdua di dalam cermin. "Sempurna," bisik Xavier dengan suara baritonnya yang rendah. "Kamu terlahir untuk berdiri di sampingku, Eli."
Eli menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena gugup. "Apakah anak-anak sudah aman?" tanya Eli, mengabaikan pujian pria itu.
"Kenji dan Kiana sudah berada di ruang observasi khusus bersama Daniel dan Bibi Ami. Mereka aman dan bisa melihat kita melalui layar monitor. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Xavier lembut, sebuah gestur langka yang jarang dia tunjukkan. Dia kemudian menurunkan tangan kanan Eli, memeriksa jari manis wanita itu. Senyuman kemenangan terukir di bibir tampannya begitu melihat cincin berlian itu sudah terpasang. "Bagus karena kamu menuruti perintahku untuk memakai cincin ini."
Xavier menawarkan lengan kekarnya untuk digandeng oleh Eli. "Waktunya telah tiba, Istriku. Tegakkan kepalamu, dan biarkan dunia tahu siapa pemilikmu sekarang."
Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Eli menautkan jemarinya di lengan Xavier. Begitu pintu ruang transit dibuka, puluhan pengawal berjas hitam langsung membuat barikade ketat, mengawal pasangan itu menuju panggung utama konferensi pers.
Jepret! Jepret! Jepret!
Begitu sosok Xavier dan Eli muncul di ambang pintu aula, ratusan lampu kilat kamera langsung menyala secara bersamaan, menciptakan kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata. Suara riuh bisik-bisik dari para jurnalis langsung menggema. Semua orang terkesima melihat kecantikan Eli yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh sang CEO berdarah dingin.
Xavier menuntun Eli duduk di kursi utama di balik meja panjang yang dipenuhi mikrofon. Begitu Xavier mengangkat satu tangannya, seluruh ruangan yang tadinya bising seketika hening total. Pengaruh dan aura intimidasi pria itu benar-benar mutlak.
"Selamat pagi rekan-rekan media," suara berat Xavier terdengar bergema di seluruh penjuru ruangan melalui pengeras suara. "Hari ini, saya mengumpulkan Anda semua di sini untuk meluruskan rumor dan mengumumkan sebuah berita resmi mengenai kehidupan pribadi saya. Wanita di samping saya ini adalah Eli Arisatya, istri sah saya yang telah mendampingi saya selama enam tahun terakhir."
Suara jepretan kamera kembali menggila.
"Kami memilih untuk menjaga privasi pernikahan kami di luar negeri demi ketenangan keluarga, terutama karena kami telah dikaruniai sepasang anak kembar, Kenji Arisatya dan Kiana Arisatya, yang kini telah resmi terdaftar sebagai pewaris tunggal dari Arisatya Group," lanjut Xavier dengan nada tegas, tatapannya menyapu seluruh jurnalis dengan pandangan yang tidak mengizinkan adanya bantahan.
Sesuai dengan skenario yang telah disusun, seorang jurnalis senior berdiri dan mengajukan pertanyaan yang sudah diatur oleh tim humas Xavier. "Nyonya Arisatya, bagaimana perasaan Anda setelah akhirnya mempublikasikan pernikahan ini?"
Eli menelan ludah, tangannya yang berada di bawah meja meremas kain gaunnya dengan kuat. Dia melirik Xavier sekilas, dan pria itu membalasnya dengan sebuah anggukan kecil yang sarat akan kekuatan pelindung.
Eli mendekatkan bibirnya ke mikrofon, mencoba menstabilkan suaranya. "Selama enam tahun ini, fokus utama saya adalah membesarkan Kenji dan Kiana di lingkungan yang tenang jauh dari sorot media. Namun, sekarang setelah anak-anak tumbuh besar, saya dan suami merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali dan membagikan kebahagiaan ini kepada publik," ucap Eli lancar, menghafal persis narasi palsu yang tertulis di berkas tiga hari lalu.
Di saat yang sama, di tempat lain yang berjarak beberapa kilometer dari gedung Arisatya Group, sebuah televisi berlayar besar di dalam ruang rapat agensi properti milik Adrian sedang menayangkan siaran langsung konferensi pers tersebut.
Prang!
Adrian membanting berkas di tangannya ke atas meja kaca hingga retak. Matanya membelalak lebar, urat-urat di leher dan dahinya menegang hebat dengan wajah yang mendadak pucat pasi seperti mayat. Di sampingnya, Valencia langsung berdiri dari kursinya dengan mulut terbuka lebar, tangannya gemetar menunjuk ke arah layar televisi.
"Ti-tidak mungkin... Itu tidak mungkin Eli!" jerit Valencia histeris, suaranya melengking tinggi dipenuhi rasa syok dan ketakutan yang teramat sangat. "Adrian! Lihat itu! Wanita jalang itu... bagaimana bisa dia menjadi istri dari Xavier Arisatya?!"
Adrian tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu seolah seluruh pasokan darah di tubuhnya mendadak membeku. Dia menatap layar televisi yang menampilkan wajah Eli yang begitu anggun, bersanding serasi dengan pria paling berkuasa di negeri ini. Pria yang dengan satu jentikan jari bisa menghancurkan bisnis kecil mereka dalam hitungan detik.
"Anak kembar...?" gumam Adrian dengan suara serak, mengingat kembali laporan anak buahnya tentang dua anak kecil yang bersama Eli di mal tempo hari. "Jadi anak kembar itu... adalah anak dari Xavier Arisatya? Sialan! Enam tahun lalu, malam di hotel itu... dia tidak melarikan diri ke jalanan, melainkan masuk ke kamar sang monster!"
Valencia mulai menangis frustrasi, mencengkeram lengan jaket Adrian dengan panik. "Adrian, bagaimana ini?! Kita sudah mencari wanita itu untuk memaksa menandatangani surat kuasa warisan! Jika Xavier tahu apa yang kita lakukan pada Eli enam tahun lalu, kita... kita akan mati! Arisatya Group bisa menghancurkan kita dalam semalam!"
Kembali ke aula konferensi pers, Xavier mendadak menghentikan sesi tanya jawab. Dia berdiri dari kursinya, diikuti oleh Eli yang masih merasa gugup. Sebelum melangkah pergi meninggalkan panggung, Xavier sengaja menarik tubuh Eli mendekat, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang mungil istrinya dan mendaratkan sebuah kecupan posesif yang cukup lama di pelipis Eli tepat di hadapan ratusan kamera yang terus menyala.
Gestur itu adalah sebuah pesan implisit yang sangat jelas dan mematikan, yang sengaja dikirimkan Xavier untuk siapa saja yang menonton siaran tersebut—terutama untuk Adrian dan Valencia. Pesan bahwa Eli kini telah berada di bawah otoritas kekuasaannya yang mutlak, dan siapa pun yang berani mengusik masa lalu wanitanya, harus bersiap menghadapi amarah sang penguasa tunggal ibu kota. Perang tak kasatmata telah resmi dimulai, dan Eli, tanpa dia sadari, kini memiliki perisai terkuat di dunia di sampingnya.