Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Kembali
Priska mengangkat bahu sambil menendang pelan beberapa kelopak bunga yang jatuh di jalan setapak. Maya tersenyum tipis mendengar keluhan tersebut.
Mereka terus berjalan di antara hamparan bunga yang seolah tidak memiliki ujung. Langit biru membentang luas di atas kepala mereka. Angin berembus lembut, membawa aroma bunga yang menenangkan.
Berbeda dengan dunia nyata yang penuh kebohongan, amarah, dan pengkhianatan. Di sini semuanya terasa damai.
Maya melirik Priska yang berjalan di sampingnya. “Kamu capek ya?”
Priska mendengus pelan. “Menurut lo?”
Maya tertawa kecil.
Priska melanjutkan. “Gue mati ditusuk sampai mati.”
“Hm.”
“Terus bangun di tubuh orang lain.”
“Hm.”
“Terus sekarang harus ngurus keluarga psikopat yang pengen ngeracun gue. Dan sekarang gue jalan-jalan di taman ajaib sama pemilik tubuh yang gue pinjam.”
Maya kembali tertawa. “Kalau dipikir-pikir memang aneh.”
“ANEH BANGET!”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di taman itu, Maya tertawa lebih lepas. Tawa yang ringan. Tidak dipenuhi rasa takut. Tidak dipenuhi kesedihan.
Priska memperhatikannya beberapa saat. Lalu perlahan ekspresinya berubah. “Aneh.”
“Apa?”
“Lo kelihatan beda.”
Maya menatap hamparan bunga di depan mereka. “Aku bahagia sekarang.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Sederhana tapi membuat langkah Priska terhenti.
“Bahagia?”
Maya mengangguk. “Aku nggak takut lagi.”
Priska terdiam.
Maya melanjutkan dengan suara pelan. “Dulu aku selalu takut.”
Tatapannya menerawang jauh. “Takut pulang. Takut bicara. Takut salah. Takut dihukum. Takut melihat wajah mereka.”
Angin kembali berembus. Bunga-bunga bergoyang perlahan. “Aku selalu berharap bisa hidup seperti orang lain.”
Suara Maya terdengar tenang. Namun justru karena tenang itulah kata-katanya terasa lebih berat..“Punya keluarga yang baik. Punya teman. Punya seseorang yang melindungi. Aku cuma ingin hidup biasa.”
Priska tidak menyela.
Maya tersenyum tipis. “Tapi sekarang aku tidak perlu memikirkan semua itu lagi.”
“Maksud lo?”
“Aku sudah bebas.”
Priska menatapnya lama. Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak. Padahal gadis di depannya tersenyum. Tetapi justru senyum itu terasa menyedihkan.
Maya berhenti berjalan. Lalu berbalik menghadap Priska. “Makanya aku senang.”
“Hah?”
“Karena kamu datang.”
Priska mengernyit. “Gue?”
“Iya.”
“Lo salah orang kalau nyari malaikat.”
Maya tertawa lagi. “Aku nggak bilang kamu malaikat.”
“Syukurlah.”
“Tapi kamu menyelamatkanku.”
Priska langsung memalingkan wajah. “Aku nggak sengaja.”
“Meski begitu tetap menyelamatkan.”
“Gue cuma kebetulan bangun di tubuh lo.”
“Dan memilih bertahan.”
Priska tidak menjawab. Karena dia tidak tahu harus menjawab apa.
Maya menatapnya beberapa saat. Kemudian berkata pelan. “Priska.”
“Hm?”
“Kamu belum mati.”
Priska mengangguk. “Itu juga yang lo bilang dari tadi.”
“Dan karena kamu belum mati, aku ingin meminta sesuatu.”
Priska mengangkat alis. “Permintaan terakhir?”
“Bukan.” Maya tersenyum.
“Aku cuma ingin kamu hidup.”
Priska mengerutkan dahi. “Gue hidup kok!"
“Bukan begitu.”
Maya menunjuk dadanya sendiri. “Kamu selama ini cuma bertahan hidup.”
Kalimat itu membuat Priska terdiam.
Maya melanjutkan. “Sebagai mafia. Sebagai pembunuh. Sebagai seseorang yang selalu dikejar masa lalu.”
Priska menatap bunga-bunga di sekitar mereka. Tidak membantah. Karena memang benar. Hidupnya tidak pernah normal. Sejak kecil dia sudah mengenal kekerasan.
Maya tersenyum lembut. “Aku juga nggak ingin kamu hidup seperti aku.”
Priska menoleh.
“Aku juga nggak ingin kamu hidup seperti dirimu yang dulu.” Maya melanjutkan. Angin kembali berembus.
“Kalau begitu gue harus hidup kayak gimana?” tukas Priska.
Maya berpikir sejenak. Lalu menunjuk seorang anak kecil yang sedang berlari di kejauhan..Entah dari mana anak itu muncul. Ia tertawa riang sambil mengejar kupu-kupu.
“Seperti itu.”
Priska melongo. “Itu definisinya terlalu luas. Lagak lo kayak iklan motivasi aja.”
Maya terkekeh. “Pokoknya begitu.”
Priska mengusap tengkuknya. “Susah!"
“Aku tahu.”
“Gue nggak pernah hidup normal.”
“Makanya dicoba.”
Priska menatap langit. Entah kenapa kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Hidup normal dan sederhana. Tetapi terasa sangat jauh.
Maya kembali berjalan. Priska mengikuti di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati suasana.
Sampai akhirnya Priska berkata pelan. “Kalau gue gagal?”
Maya menoleh. “Kamu nggak akan gagal.”
“Yakin?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Maya tersenyum. “Karena sekarang kamu punya kesempatan.”
Priska ingin bertanya lagi. Namun sebelum sempat membuka mulut, sebuah cahaya muncul. Awalnya hanya titik kecil di kejauhan. Lalu semakin besar. Semakin terang dan menyilaukan.
Priska langsung mengangkat tangan menutupi wajah. “Apa itu?”
Maya berhenti berjalan. Tatapannya tetap tenang. “Sepertinya waktunya kamu kembali.”
“Hah?”
“Tunggu!”
Priska menyipitkan mata. Cahaya itu semakin terang. Hingga seluruh taman mulai menghilang. Bunga-bunga lenyap. Langit biru memudar. Angin berhenti berembus.
“Maya!”
Priska mencoba meraih gadis itu. Namun tubuh Maya perlahan berubah menjadi cahaya. Senyumnya tetap ada.
“Jangan lupa.”
“Apa?”
“Hiduplah dengan bahagia.”
“Oi tunggu dulu!”
Namun semuanya terlambat. Cahaya itu menelan seluruh dunia. Priska refleks memejamkan mata. Bau lembap dan debu menyambut. Hal pertama yang dirasakan Priska saat membuka mata adalah rasa nyeri yang luar biasa di kepalanya.
“Ugh...”
Ia mengerang pelan. Pandangan masih kabur. Beberapa detik kemudian penglihatannya mulai fokus. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui celah kecil di dinding.
Priska langsung sadar. “Gue kembali.”
Ia menyentuh kepalanya. Rasa sakit langsung menusuk. “Brengsek...”
Tangannya menyentuh bagian pelipis yang terluka. “Jadi mereka benar-benar nyimpen gue di sini.”
Maya perlahan duduk. Kepalanya langsung berputar. Namun ia memaksa diri tetap sadar. Sedikit demi sedikit ingatan mulai kembali. Maya menghela napas panjang.
“Gue bakal bikin hidup lo susah, Jamie.”
Matanya mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan. Ruangan itu ternyata adalah gudang penyimpanan. Dipenuhi kardus tua, perabot rusak, dan berbagai barang yang sudah tidak digunakan. Untungnya tangannya tidak diikat.
“Mungkin mereka ngira gue udah mati," ujar Maya. Dia turun dari sofa tua tempat dirinya dibaringkan. Lalu mulai memeriksa sekitar.
Pintu terkunci. Tidak mengejutkan. Ia mencoba gagangnya beberapa kali. Tetap tidak terbuka.
“Oke.” Maya berbalik. “Mari cari jalan lain.”
Matanya menyapu seluruh ruangan. Lalu berhenti pada sebuah jendela kecil di sisi gudang. Jendela itu cukup tinggi. Kacanya terlihat tua. Sebagian bahkan sudah retak. Senyum tipis muncul di bibir Maya. Ia berjalan mendekat. Mencoba mendorong jendela. Tidak bergerak. Terkunci dari luar.
“Kalau gampang berarti bukan hidup gue.”
Maya melihat sekeliling. Lalu menemukan sebuah kursi kayu rusak. Ia mengangkatnya. Meski kepalanya masih pusing dan tubuhnya belum pulih. Namun pengalaman bertahun-tahun membuatnya terbiasa bergerak dalam kondisi lebih buruk.
Maya berdiri tepat di depan jendela. Menimbang jarak. “Maaf ya, jendela.”
BRUK!
Kursi kayu menghantam kaca. Retakan langsung menyebar. Namun belum pecah. Maya mengangkat kursi lagi.
BRUK!
Kali ini kaca pecah berhamburan. Suara pecahan menggema di dalam gudang. Maya langsung berhenti. Tidak ada suara langkah kaki. Belum ada yang datang.
“Bagus.”
Ia menyingkirkan sisa pecahan kaca dengan hati-hati. Lalu melihat ke luar. Malam masih gelap. Halaman belakang rumah terlihat sepi. Tidak ada siapa pun. Senyum lebar muncul di wajahnya.
“Terima kasih atas tempat menginapnya.”
Maya mulai memanjat jendela. Meski beberapa bagian tubuhnya masih sakit. Meski kepalanya masih berdenyut. Tetapi satu hal sangat jelas. Dia tidak akan tinggal diam di gudang itu. Apalagi setelah mendengar semua rencana mereka.