“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28 - Malam di Hutan Bambu
Keesokan harinya, kehidupan di Puncak Awan Pengembara kembali berjalan seperti biasa seolah tidak ada apa pun yang berubah. Kabut pagi turun tipis di antara lereng pegunungan Forgotten Blade, membungkus kandang-kandang spiritual dan jalan setapak batu dengan hawa dingin khas pegunungan. Suara kokok ayam spiritual bercampur dengan percakapan para murid luar yang sibuk memulai pekerjaan mereka sejak matahari bahkan belum sepenuhnya muncul dari balik awan.
Bai Fengxuan tetap menjalani rutinitasnya seperti hari-hari sebelumnya. Ia membantu membersihkan kandang timur, memindahkan jerami baru ke area penetasan, lalu beberapa kali harus mengejar ayam spiritual kecil yang lolos dari pagar bambu dan berlari liar ke lereng bawah. Xu Liang masih terus mengeluh tentang rumor “hantu air” yang semakin menyebar, bahkan bersumpah bahwa suatu hari nanti ia akan menangkap makhluk misterius itu sendiri.
Han Gu justru terlihat jauh lebih santai hari itu. Kakak seniornya itu duduk di atas pagar kandang sambil menggigit batang rumput dan sesekali memperhatikan Bai Fengxuan dengan tatapan aneh, seolah masih curiga bahwa bocah itu sedang menyembunyikan sesuatu di dalam kepalanya.
Dan memang benar. Sejak malam sebelumnya, pikiran Bai Fengxuan hampir terus dipenuhi oleh satu hal yang sama.
Hutan bambu.
Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa tempat itu mungkin benar-benar bisa membantunya membuka meridian berikutnya. Ia memang masih baru dalam dunia kultivasi, namun setelah mempelajari buku Tata Cara Duduk dan Bernapas untuk Pemula, Bai Fengxuan mulai memahami betapa pentingnya membuka meridian sebanyak mungkin sebelum mencapai tahap Foundation Establishment. Kesempatan seperti itu mungkin tidak akan datang dua kali.
Karena itulah sepanjang hari ia bekerja sedikit lebih cepat dibanding biasanya. Bahkan Xu Liang sempat heran ketika melihat Bai Fengxuan menyelesaikan pekerjaannya jauh lebih awal.
“Adik Bai,” katanya sambil membawa ember air hangat, “akhir-akhir ini kau makin rajin.”
Bai Fengxuan hanya tertawa kecil sambil mengangkat keranjang jerami kosong. “Mungkin aku mulai memahami dao kerja keras.”
Xu Liang langsung mendengus. “Kalau begitu ajari aku juga.”
Matahari perlahan mulai turun menjelang sore ketika pekerjaan hari itu akhirnya selesai. Para murid luar mulai kembali ke gubuk masing-masing sambil membawa rasa lelah dan aroma kandang yang menempel di pakaian mereka. Namun Bai Fengxuan tidak langsung menuju hutan bambu malam itu.
Ia masih memiliki satu tugas penting. Begitu tiba di gubuk kayunya, Bai Fengxuan segera berjalan menuju sudut ruangan tempat ember kayu kecil berada. Ikan kecil bersisik emas di dalamnya langsung bergerak cepat begitu melihat bayangan dirinya mendekat, memercikkan air kecil ke lantai kayu seperti biasanya.
“Kau lapar lagi?” gumam Bai Fengxuan pelan sambil berjongkok.
Ikan kecil itu kembali mengepakkan ekornya dengan cepat. Bai Fengxuan hanya bisa menghela napas kecil sebelum kembali keluar menuju danau spiritual di lereng bawah. Malam baru mulai turun dan kabut putih tipis bergerak perlahan di atas permukaan air danau yang tenang seperti cermin besar.
Ia memetik beberapa tangkai tanaman air spiritual di tepi danau dengan gerakan cepat dan hati-hati. Kali ini Bai Fengxuan bahkan sempat melirik ke sekeliling beberapa kali seperti pencuri profesional, takut tiba-tiba muncul murid lain dan menangkapnya sedang “mencuri makanan ikan.” Untungnya suasana sekitar tetap sunyi.
Begitu kembali ke gubuk, ia segera menjatuhkan tanaman air itu ke dalam ember. Ikan emas kecil tersebut langsung berenang cepat lalu mulai memakan daun spiritual dengan lahap.
Bai Fengxuan tersenyum kecil melihatnya. “Jangan membuat rumor baru lagi malam ini.”
Setelah memastikan ikan itu tenang, ia akhirnya mulai bersiap untuk menjalankan rencananya.
Malam di pegunungan Forgotten Blade terasa sangat sunyi ketika Bai Fengxuan meninggalkan gubuknya seorang diri. Cahaya bulan tertutup kabut tipis sementara suara angin malam bergerak perlahan di antara pepohonan pinus dan bambu di lereng bawah.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak batu yang jarang dilewati murid luar saat malam. Semakin jauh dari area kandang dan asrama murid, suasana sekitar terasa semakin sunyi dan dingin. Bahkan suara serangga malam perlahan mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Tak lama kemudian Bai Fengxuan akhirnya melihatnya.
Hutan bambu.
Rumpun-rumpun bambu tinggi berdiri rapat di dalam lembah gunung seperti lautan hijau gelap yang tak bergerak. Kabut putih tipis menggantung rendah di antara batang-batang bambu, sementara cahaya bulan yang masuk melalui sela daun membuat seluruh tempat itu tampak asing dan sedikit menyeramkan.
Namun tepat ketika Bai Fengxuan melangkah masuk ia langsung merasakan sesuatu.
Tubuhnya sedikit menegang. Qi spiritual di dalam meridiannya mulai bergerak sendiri tanpa diperintah. Seolah ada sesuatu di tempat ini yang memanggil tubuhnya.
Bai Fengxuan perlahan menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mulai berkultivasi, ia benar-benar bisa merasakan akar spiritualnya bereaksi secara langsung terhadap lingkungan sekitar. Dan semakin dalam ia berjalan ke dalam hutan bambu, reaksi itu justru semakin kuat.
Udara di tempat ini terasa berbeda dan dipenuhi qi spiritual elemen kayu yang sangat murni.
Tatapan Bai Fengxuan perlahan bergerak ke depan hingga akhirnya berhenti pada sebuah rumpun bambu besar di tengah lembah. Batangnya jauh lebih besar dibanding bambu lain di sekitarnya dan warnanya tampak sedikit lebih gelap di bawah cahaya bulan.
Entah kenapa, tempat itu terasa paling kuat. Bai Fengxuan segera berjalan mendekat lalu duduk bersila di bawah rumpun bambu tersebut.
Angin malam bergerak perlahan melewati daun-daun bambu di atas kepalanya, menghasilkan suara gemerisik lembut yang membuat suasana terasa semakin sunyi.
Ia perlahan memejamkan mata. Lalu mulai mengikuti metode dari buku Tata Cara Duduk dan Bernapas untuk Pemula.
Tarik napas perlahan.
Tenangkan pikiran.
Biarkan qi mengikuti aliran tubuh.
Awalnya Bai Fengxuan hanya merasakan udara dingin pegunungan dan suara angin malam di sekitar dirinya. Namun semakin lama ia menenangkan pikirannya, indranya perlahan menjadi jauh lebih peka dibanding biasanya.
Ia mulai merasakan qi spiritual di udara. Bukan hanya satu jenis. Melainkan banyak. Namun di tempat ini, qi elemen kayu terasa jauh lebih dominan dibanding yang lain. Energinya lembut, tenang, dan dipenuhi aura kehidupan yang sangat kuat.
Awalnya Bai Fengxuan tidak benar-benar memahami apa perbedaannya. Qi spiritual selama ini hanya terasa seperti energi hangat di tubuhnya. Qi elemen kayu terasa sangat selaras dengan dirinya. Seolah tubuhnya secara alami ingin mendekati energi tersebut.
Bai Fengxuan perlahan mulai mengalirkan qi itu ke dalam tubuhnya mengikuti jalur meridian pertama yang sudah terbuka sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya ia mulai mencoba mencari meridian kedua. Kesadarannya bergerak perlahan menyusuri tubuhnya sendiri. Proses itu terasa aneh dan sulit dijelaskan, seperti mencoba menemukan sungai kecil yang tersembunyi di tengah kabut tebal.
Beberapa waktu kemudian akhirnya ia menemukannya. Sebuah jalur samar yang masih tertutup rapat di dekat meridian pertamanya.
Bai Fengxuan segera mulai mengalirkan qi spiritual elemen kayu ke arah sana. Meridian kedua itu terasa seperti pintu batu yang tertutup rapat. Qi spiritual hanya bisa masuk sedikit demi sedikit dan setiap dorongan membuat tubuhnya terasa sedikit nyeri.
Namun Bai Fengxuan tetap melanjutkannya.
Tarik napas.
Alirkan qi.
Dorong perlahan.
Waktu berlalu sangat lambat di tengah keheningan malam hutan bambu itu.
Keringat mulai muncul di dahinya. Namun ia juga bisa merasakan sesuatu yang lain.
Meridian kedua perlahan mulai terbuka.
Retakan kecil demi retakan kecil mulai muncul di “dinding” yang menghalangi aliran qi tersebut.
Dan tepat sekitar setengah jam kemudian—
BRAKKK!
Sensasi hangat yang sangat kuat tiba-tiba meledak di dalam tubuh Bai Fengxuan dan matanya langsung terbuka.
Meridian kedua telah terbuka.
Energi spiritual dari sekeliling hutan bambu langsung mengalir deras memasuki tubuhnya seperti banjir besar. Angin malam di sekitar bahkan bergerak lebih kuat selama beberapa detik sebelum akhirnya perlahan kembali tenang. Bai Fengxuan langsung berdiri dengan wajah penuh kegembiraan.
“Aku berhasil!”
Sekarang tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Bahkan indranya menjadi semakin tajam. Dan yang lebih mengejutkan ketika ia mencoba merasakan tubuhnya lagi, Bai Fengxuan menyadari bahwa ia masih bisa melanjutkan.
Meridian ketiga.
Tanpa ragu Bai Fengxuan kembali duduk bersila. Malam di hutan bambu terus berjalan sunyi sementara qi spiritual elemen kayu perlahan berkumpul di sekitar tubuhnya seperti kabut tipis hijau samar.
Kali ini prosesnya terasa sedikit lebih mudah. Mungkin karena tubuhnya sudah mulai terbiasa atau mungkin karena qi elemen kayu di tempat ini memang terlalu cocok dengan akar spiritualnya.
Entah berapa lama waktu berlalu ketika Bai Fengxuan kembali membuka mata—
Meridin ketiga sudah terbuka.
Qi spiritual di tubuhnya langsung meningkat jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Napasnya terasa ringan dan tubuhnya dipenuhi energi hangat. Untuk sesaat ia benar-benar ingin terus melanjutkan sampai meridian berikutnya.
Namun tepat ketika ia hendak mulai lagi, langit di kejauhan perlahan mulai berubah. Kabut malam mulai menipis dan samar fajar mulai muncul di balik pegunungan.
Bai Fengxuan akhirnya menarik napas panjang lalu perlahan berdiri dari tanah. Ia melirik hutan bambu di sekelilingnya dengan tatapan dalam.
“Aku akan kembali lagi…”
Dan untuk pertama kalinya, Bai Fengxuan benar-benar merasa telah menemukan tempat kultivasi miliknya sendiri di dunia luas Forgotten Blade.
…