Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Di dalam ruang kerja pribadi Bramantyo, suasana terasa begitu mencekam. Aroma cerutu mahal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan yang mendidih. Kenzo berdiri di dekat jendela besar, matanya terus menatap layar ponsel, menunggu kabar dari agensi 'Garis Depan' dengan kaki yang tidak bisa berhenti mengetuk lantai.
"Tenang, Kenzo. Mondar-mandir seperti itu tidak akan mengubah waktu," tegur Bramantyo dingin sembari menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Meskipun nadanya tenang, urat-urat di pelipisnya yang menegang memperlihatkan batas kesabarannya yang menipis.
"Papa, ini sudah lewat tengah malam! Harusnya ketua preman itu sudah mengirim foto tangan anak sialan itu yang hancur!" seru Kenzo dengan suara meninggi, berbalik menatap ayahnya dengan wajah frustasi.
Tepat setelah kalimat itu selesai, ponsel di atas meja kerja Bramantyo bergetar. Layarnya menampilkan nama kontak 'Garis Depan'. Kenzo langsung menyambar ponsel tersebut, namun Bramantyo dengan cepat merebutnya kembali dan menekan tombol speaker.
"Bagaimana? Sudah beres?" tanya Bramantyo langsung, suaranya sarat akan arogansi mutlak.
Namun, bukan jawaban penuh kemenangan, yang terdengar, melainkan suara napas yang terengah-engah dan rintihan kesakitan yang berat dari ujung telepon.
"B-Bos... Rencana gagal total. Anak itu... Dia bukan manusia biasa."
Bramantyo seketika berdiri dari kursi kebesarannya, cengkeramannya pada gelas wiski mengencang hingga buku jarinya memutih.
"Apa maksudmu gagal?! Kalian bertiga adalah petarung profesional! Bagaimana bisa kalah dari satu anak beasiswa?!" bentaknya dengan mata mendelik murka.
"K-Kami di hajar habis-habisan dalam hitungan menit, Tuan... Dia mematahkan tangan anak buah saya tanpa berkedip," lapor ketua preman itu terbata-bata, menahan perih di rahangnya yang bergeser.
"Dia... Dia juga meninggalkan pesan untuk Anda. Dia bilang... Papan ketiknya masih utuh, dan besok pagi, dia yang akan mematahkan leher bisnis Anda."
Pranggg!
Bramantyo melempar gelas wiskinya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Cairan amber dan pecahan kaca berserakan di atas karpet beludru mahal.
"Sialan! Berani-beraninya anak ingusan itu mengancamku!" teriak Bramantyo dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena murka yang luar biasa.
Kenzo yang mendengar itu langsung terduduk lemas di sofa. Wajahnya yang semula penuh antisipasi kejam kini mendadak pucat pasi.
"N-Nggak mungkin... Dia cuma anak miskin yang beruntung di bursa saham, Pa. Bagaimana bisa dia mengalahkan tiga preman agensi?" gumam Kenzo dengan tubuh yang mulai bergetar ketakutan.
Bramantyo mengepalkan tinjunya erat-erat, menghantam meja kayunya hingga menimbulkan bunyi berdentum yang keras.
"Diam, Kenzo! Ini bukan lagi soal bursa saham! Ada yang tidak beres dengan latar belakang anak itu. Tidak mungkin seorang mahasiswa biasa memiliki kemampuan bela diri seperti itu dan tahu bahwa aku yang mengirim mereka!"
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka kasar. Tante Ratna masuk dengan wajah panik, memegangi tablet digitalnya. "Bram! Kenzo! Lihat ini! Baru saja ada laporan dari sistem audit internal perusahaan. Seseorang secara anonim mulai memborong sisa saham publik anak perusahaan kita di sektor teknologi malam ini juga!"
Bramantyo langsung merebut tablet tersebut dari tangan istrinya. Matanya membelalak membaca pergerakan dana gaib yang sangat masif, bergerak cepat dan senyap memojokkan posisi keuangan mereka. Grafik di layar menunjukkan warna merah yang terus merosot.
"Gala..." desis Bramantyo dengan suara rendah yang bergetar menahan dendam.
"Anak sialan itu benar-benar mulai menabuh genderang perang."
Kenzo bangkit, mencengkeram lengan ayahnya dengan mata membelalak panik. "Pa, kita harus lakukan sesuatu! Besok pagi di kampus, dia pasti akan mempermalukan aku lagi kalau saham kita hancur!"
Bramantyo menepis tangan Kenzo dengan kasar, lalu membetulkan kerah kemejanya dengan senyum miring yang mendadak kembali dingin, sebuah senyum dari seorang predator yang terpojok.
"Jangan panik, Kenzo. Jika dia ingin bermain di lantai bursa esok pagi, aku sendiri yang akan turun tangan ke kampus besok. Kita lihat, siapa yang akan berlutut di akhir permainan ini."