Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Tidak Akan Didapatkan
POV FATAN
Malam itu, hujan turun deras.
Langit seperti menumpahkan seluruh amarahnya ke bumi
tanpa jeda, tanpa belas kasihan.
Dan di tengah hujan itu, Fatan melangkah masuk ke rumah orang tuanya.
Langkahnya cepat.
Tegang.
Rahangnya mengeras.
Seolah-olah ia sudah menyiapkan dirinya…
untuk sebuah pertempuran yang tidak bisa lagi ditunda.
Ayahnya berada di ruang kerja.
Seperti biasa.
Duduk tegak di kursi kebesarannya,
menandatangani berkas-berkas dengan ketelitian yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Ia mengangkat wajah ketika mendengar pintu terbuka.
“Fatan, anakku… kamu sudah pulang, nak. Bagaimana pekerjaannya?” tanyanya tenang.
Fatan berdiri di ambang pintu.
“Segalanya berjalan seperti yang kita inginkan, Ayah.”
Jawaban yang sempurna.
Seperti biasanya.
Ayahnya tersenyum tipis.
“Bagus. Kam sudah ke rumah Kanaya, kan?”
Fatan mengangguk singkat.
Namun malam ini… ia tidak datang untuk basa-basi.
“Ayah… aku ingin bicara. Tentang segalanya.”
Nada suaranya berubah.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Membuat sang ayah perlahan meletakkan pena di tangannya.
“Duduk.”
Fatan tidak bergerak.
Ia tetap berdiri.
Seolah jika ia duduk—
ia akan kehilangan keberaniannya.
“Aku mencintai perempuan lain,” ucapnya langsung.
Tidak ada jeda.
Tidak ada pengantar.
“Namanya Amira. Aku ingin menikahinya.”
Ruangan itu… seketika membeku.
Seolah waktu berhenti bergerak.
Senyum di wajah ayahnya memudar perlahan.
“Apa yang kamu katakan?”
Suaranya meninggi.
Matanya membelalak.
“Kamu sudah menikah!”
“Aku tahu!” sahut Fatan keras.
Untuk pertama kalinya
emosi yang selama ini ia tahan… meledak.
“Dan pernikahan itu terjadi karena keinginan Ayah! Karena rencana Ayah! Karena kepentingan bisnis Ayah!”
Ayahnya berdiri.
Gerakannya tegas.
Tatapannya tajam.
“Kamu berani menyebut ini sebagai kesalahanku?”
“Bukankah itu kenyataannya?” balas Fatan pahit.
“Ayah yang meminta pernikahan itu. Ayah yang mengatur semuanya. Ayah yang menuntut aku patuh.”
“Namun yang berkhianat adalah kamu!”
Bentakan itu menggema di seluruh ruangan.
“Yang hidup dengan dua perempuan adalah kamu! Jangan berlindung di balik namaku!”
Fatan mengepalkan tangannya.
Darahnya terasa mendidih.
“Aku tidak ingin kehilangan cintaku,” katanya, suaranya bergetar namun tegas.
“Aku bahagia bersamanya. Untuk pertama kalinya… aku merasa hidup sebagai diriku sendiri.”
“Dengan cara bajingan?!”
Suara ayahnya bergetar.
Bukan hanya marah.
Tapi juga… kecewa.
“Kamu mencintai perempuan lain saat masih terikat sebagai suami? Kamu pikir itu bisa dibenarkan?!”
Fatan menghela napas kasar.
Dadanya naik turun.
“Aku menjalankan tanggung jawabku!” katanya defensif.
“Aku bekerja dengan baik. Perusahaan Ayah berkembang. Perusahaan Kanaya juga berjalan sukses. Semua yang Ayah inginkan terpenuhi!”
Ia menatap ayahnya lurus.
“Lalu kenapa… keinginanku sendiri tidak pernah dianggap?”
Ayahnya terdiam.
Menatap Fatan lama.
Namun kali ini… tatapannya berbeda.
Tidak lagi penuh kuasa.
Melainkan… penuh luka.
“Karena keinginanmu dibangun di atas pengkhianatan,” ucapnya pelan, namun tegas.
“Karena kebahagiaanmu mengorbankan martabat orang lain.”
Ia melangkah mendekat.
“Kanaya adalah istrimu. Ia bukan pion.”
Kata-kata itu… menancap.
Namun Fatan tetap bertahan.
Ia menunduk sesaat.
Lalu mengangkat wajahnya kembali.
“Aku tidak mencintainya.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Berat.
Keras.
Dan tidak bisa ditarik kembali.
“Namun dia mencintaimu.”
Jawaban ayahnya datang tanpa ragu.
“Dan lebih dari itu… dia memegang pesan terakhir ayahnya untuk mempertahankan rumah tangga ini.”
Nada suaranya semakin dalam.
“Kamu tahu apa artinya itu?”
Fatan terdiam.
Untuk sesaat
semua pembelaannya runtuh.
Namun hanya sesaat.
“Aku tidak bisa hidup dalam pernikahan tanpa cinta,” katanya akhirnya.
Suaranya melemah.
Lebih jujur.
Lebih rapuh.
“Aku ingin jujur pada hatiku.”
Ayahnya menghela napas panjang.
Seolah kelelahan.
Namun bukan lelah secara fisik
melainkan lelah sebagai seorang ayah.
“Kejujuran tanpa tanggung jawab… bukan keberanian, Fatan,” ucapnya pelan.
“Itu hanya ego yang mencari pembenaran.”
Ia berdiri tepat di depan putranya.
Menatapnya dalam.
“Jika kamu ingin menikahi perempuan itu… selesaikan dulu pernikahanmu dengan cara terhormat.”
Suasana menjadi sunyi.
“Jangan menjadikan kebohongan sebagai jembatan menuju kebahagiaan.”
Fatan memejamkan matanya.
Kata terhormat terasa terlalu berat.
Terlalu jauh.
Dari keadaan yang sudah ia ciptakan.
“Ayah tidak setuju?” tanyanya pelan.
“Ayah tidak akan merestui kebahagiaan… yang lahir dari kehancuran orang lain.”
Jawaban itu tegas.
Tidak menyisakan ruang.
Hening.
Panjang.
Mencekik.
Fatan melangkah mundur.
Dadanya terasa sesak.
Seolah seluruh dunia menekan dari segala arah.
“Kalau begitu…” ucapnya pahit,
“mungkin selama ini Ayah tidak pernah benar-benar mengenal putra Ayah sendiri.”
Ia berbalik.
Tanpa menunggu jawaban.
Langkahnya cepat.
Keluar dari ruangan.
Keluar dari rumah.
Keluar dari percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di belakangnya
ayahnya tetap berdiri.
Diam.
Tidak mengejar.
Tidak memanggil.
Hanya menatap pintu yang telah tertutup.
Dengan satu kesadaran yang datang terlambat
bahwa ambisinya…
telah melahirkan luka yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Di luar
hujan masih turun deras.
Fatan melangkah tanpa arah.
Air hujan membasahi wajahnya.
Menyamarkan sesuatu yang mungkin… adalah air mata.
Dan untuk pertama kalinya
ia mengakui satu hal yang tidak bisa lagi ia sangkal:
Ia bukan hanya korban dari kehendak ayahnya.
Ia adalah pelaku—
dari setiap pilihan yang ia ambil sendiri.
Dan dari semua luka…
yang kini tidak bisa lagi ia hindari.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?