Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Setelah sarapan yang menyesakkan itu, Siham menghabiskan waktunya di dalam kamar. Cahaya matahari siang menembus celah gorden, namun tidak mampu menghangatkan tubuhnya yang selalu merasa kedinginan. Ia mengetik kata demi kata untuk naskah Aksara Renjana, menuangkan sisa nyawanya ke dalam kalimat-kalimat yang akan abadi. Pak Hendra benar, ia diberikan kebebasan waktu, namun pak Hendra tidak tahu bahwa kebebasan itu digunakan Siham untuk mempersiapkan perpisahan.
Menjelang malam, sebuah keinginan aneh muncul di benak Siham. Bukan keinginan mewah, bukan pula keinginan untuk diakui. Ia mendadak merindukan aroma sambal terasi dan gurihnya lele goreng di pinggir jalan warung tenda langganannya dulu saat Ayah masih sering menjemputnya kuliah. Kenangan tentang Ayah yang tertawa lebar sambil mengelap keringat dengan handuk kecil di lehernya mendadak menyesaki dada Siham.
Selama ini, Siham jarang makan malam di luar jika tidak bersama Dewangga dan kolega bisnisnya. Dan Dewangga pun jarang pulang untuk makan masakannya di siang hari atau malam hari karena biasanya Dewangga pulang sore atau malam dari kantor dalam keadaan kenyang.
Bagi Dewangga, makan di rumah hanyalah sisa waktu jika ia tidak memiliki janji dengan kolega atau urusan lain yang jauh lebih penting daripada sekadar menatap wajah istrinya.
Siham bangkit, tubuhnya terasa sedikit goyah, namun keinginannya lebih kuat. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah jaket tebal. Jaket itu terasa sedikit longgar sekarang karena berat badannya yang turun drastis, tapi itu satu-satunya pelindung yang ia punya dari tajamnya angin malam Jakarta yang tidak pernah ramah pada paru-paru yang rusak.
"Aku hanya ingin makan pecel lele, Ayah. Seperti dulu," bisiknya lirih sembari merapatkan resleting jaketnya.
Siham memutuskan untuk berjalan kaki saja dari pada harus repot mengeluarkan mobilnya. Kompleks perumahan mewah yang di tempati oleh Siham dan Dewangga itu memang sangat luas, sunyi dan berjarak cukup jauh dari gerbang utama tempat keramaian pedagang kaki lima berada. Namun, ia ingin menikmati setiap langkahnya. Ia ingin merasakan kakinya menapak di bumi, merasakan hembusan angin yang menerpa wajah pucatnya, seolah-olah sedang merayakan sisa-sisa kebebasannya.
Siham mulai berjalan dan meniggalkan rumah mewah suaminya dan sepanjang perjalanan di trotoar kompleks yang asri namun sepi, Siham berkali-kali merapatkan jaketnya. Udara malam mulai menusuk tulang, membuat dadanya terasa sedikit nyeri. Sesekali ia harus berhenti sejenak untuk mengatur napas yang mulai pendek. Siham tersenyum tipis melihat lampu-lampu taman yang mulai menyala satu per satu. Indah, namun terasa sangat asing.
Sampai di depan gerbang besar kompleks, Pak Nanang, satpam senior yang sudah lama bertugas, tampak terkejut melihat sosok wanita anggun pemilik salah satu rumah termewah di sana berjalan kaki sendirian.
"Loh, Bu Siham? Jalan kaki, Bu? Tumben sekali tidak pakai sopir atau mobil sendiri?" tanya Pak Nanang dengan wajah khawatir.
Siham tersenyum ramah, senyum yang tulus meski terlihat kuyu. "Iya, Pak Nanang. Lagi ingin cari angin segar saja sambil jalan kaki ke depan."
"Waduh, Bu. Dari sini ke depan jalan besar itu lumayan jauh loh. Angin malam juga lagi kencang-kencangnya. Bahaya buat kesehatan, apalagi Ibu kelihatannya sedang kurang fit," ujar Pak Nanang penuh perhatian.
Siham baru saja hendak menjawab dengan kalimat tidak apa-apa, saat sebuah lampu mobil mewah yang sangat ia kenali menyorot tajam dari arah jalan raya masuk ke dalam kompleks. Mobil Mercedes-Benz hitam milik Dewangga.
Mobil itu mendadak berhenti tepat di samping Siham. Kaca jendela terbuka otomatis, menampilkan wajah Dewangga yang terlihat lelah namun langsung berubah menjadi penuh keheranan sekaligus amarah saat melihat istrinya berdiri di samping pos satpam dengan jaket tebal yang membungkus tubuh ringkihnya.
Dewangga turun dari mobil dengan langkah cepat. "Siham? Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu jalan kaki sendirian malam-malam begini?"
Siham menatap suaminya dengan datar. "Aku mau makan di luar, Mas."
"Makan di luar dengan jalan kaki? Kamu gila? Orang-orang akan berpikir aku tidak bisa membelikanmu mobil atau menyewakan sopir! Kamu mau mempermalukan aku lagi di depan tetangga dan satpam?" suara Dewangga meninggi, egonya terusik melihat istrinya yang tampak seperti orang asing di lingkungannya sendiri.
Pak Nanang yang merasa tidak enak mencoba menengahi. "Anu, Pak Dewangga... Bu Siham katanya mau ke depan. Antar saja Pak, jauh loh kalau jalan kaki, apalagi Bu Siham kelihatannya seperti tidak sehat."
Dewangga menatap Pak Nanang, lalu kembali menatap Siham dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secercah kekhawatiran yang ia tekan dalam-dalam karena rasa gengsi. "Masuk ke mobil. Sekarang."
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa jalan sendiri. Aku ingin menikmati waktu sendiri," tolak Siham dengan suara pelan namun tegas.
"Siham, jangan membantah! Pak Nanang benar, kamu mau pingsan di jalan lalu namaku terseret-seret karena membiarkan istriku terlunta-lunta di pinggir jalan? Aku tidak mau harga diriku diinjak-injak hanya karena kelakuan anehmu ini!"
Dewangga menyambar lengan Siham kali ini lebih lembut daripada tadi pagi, namun tetap penuh paksaan.
Siham menghela napas panjang. Ia tahu Dewangga tidak akan melepaskannya sebelum ia masuk ke dalam mobil. Bukan karena Dewangga peduli pada rasa laparnya, tapi karena Dewangga peduli pada apa yang orang katakan tentangnya. Dengan terpaksa, Siham melangkah masuk ke kursi penumpang.
Di dalam mobil, keheningan menyergap. Dewangga mengemudikan mobilnya perlahan keluar kompleks. "Mau makan di mana? Restoran Jepang? Atau Steak di kawasan Selatan?"
"Pecel lele di pinggir jalan raya depan, Mas. Yang ada tenda hijaunya," sahut Siham tanpa menoleh.
Dewangga menginjak rem mendadak karena kaget. "Apa? Pecel lele tenda? Kamu ini editor senior, istri seorang CEO dan kamu mau makan di tempat kotor seperti itu? Kamu sengaja mau membuatku terlihat rendahan?"
Siham memejamkan matanya. "Aku sedang tidak peduli pada jabatan atau statusmu, Mas. Aku hanya ingin makan pecel lele itu. Kalau kamu merasa keberatan, turunkan saja aku di sini. Aku bisa jalan kaki."
Dewangga mengepalkan tangannya di kemudi. Ia benci betapa Siham sekarang sangat sulit dikendalikan. Namun, ia teringat wajah pucat Siham tadi pagi saat jatuh di pangkuannya. Akhirnya, dengan geram, ia melajukan mobilnya menuju warung tenda yang dimaksud Siham.
Setibanya di sana, Dewangga tetap berada di dalam mobil dengan wajah masam, sementara Siham turun. Namun, saat melihat keramaian orang dan debu jalanan, Dewangga merasa tidak tenang. Ia takut jika ada orang yang mengenalnya melihat istrinya makan di sana sendirian. Akhirnya, ia pun turun, mengunci mobilnya, dan mengikuti Siham masuk ke bawah tenda hijau yang pengap.
Siham memesan dua porsi, meski ia tahu Dewangga mungkin tidak akan menyentuhnya. Saat pesanan datang, aroma sambal terasi yang menyengat memenuhi udara. Siham mulai makan dengan lahap, sebuah pemandangan yang aneh bagi Dewangga yang biasanya melihat Siham makan seperti burung dengan porsi sedikit dan tak bersemangat.
"Kenapa kamu tiba-tiba mau ini?" tanya Dewangga, suaranya sedikit melunak saat melihat cara Siham menikmati makanannya.
Siham berhenti sejenak, menatap lele goreng di piringnya. "Dulu Ayah sering mengajakku ke sini. Ini satu-satunya tempat di mana aku merasa benar-benar merasa ada Ayah, Mas. Bukan karena apa yang aku punya, tapi karena aku adalah anak perempuan Ayah."
Dewangga terdiam. Ia melihat ada air mata yang menggenang di sudut mata Siham, namun wanita itu dengan cepat menghapusnya dan kembali makan. Dewangga merasa ada sesuatu yang menusuk nuraninya. Selama lima tahun, ia tidak pernah tahu bahwa istrinya memiliki sisi sentimentil sesederhana ini.
"Makanlah, Mas. Sebelum dingin," ucap Siham menawarkan.
Dewangga melihat piring di depannya. Ia mengambil sedikit nasi dan sambal, lalu mencicipinya. Rasanya pedas dan kuat. Jauh dari rasa makanan hotel bintang lima yang biasa ia makan. Namun, saat menatap Siham yang duduk di hadapannya di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, Dewangga merasa ada jarak jutaan kilometer di antara mereka.
Siham sedang merayakan masa lalunya, sementara Dewangga sedang terjebak dalam rasa bersalah yang tidak ia pahami. Ia menatap jaket tebal yang dipakai Siham. Jaket itu seolah-olah membungkus sebuah rahasia besar yang sebentar lagi akan meledak.
Malam itu, di warung pecel lele pinggir jalan, dua orang yang hidup di puncak kemewahan Jakarta duduk berdampingan dalam kesunyian yang berbeda. Siham kenyang dengan kenangan, sementara Dewangga mulai merasa lapar akan jawaban atas semua perubahan istrinya.
Setelah selesai, Siham bangkit dan membayar. "Ayo pulang, Mas. Aku sudah mengantuk."
Dewangga mengangguk pelan. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus melirik ke arah Siham yang sudah menyandarkan kepalanya di jendela mobil, terlelap karena kelelahan. Wajahnya yang damai dalam tidur terlihat sangat rapuh, seolah-olah jika Dewangga menyentuhnya sedikit saja, Siham akan hancur menjadi debu.
Dewangga tidak tahu bahwa malam ini adalah kencan terakhir yang akan ia rasakan bersama istrinya secara tidak langsung. Dan ia tidak tahu bahwa jaket tebal yang dipakai Siham adalah saksi bisu betapa kerasnya Siham menahan dinginnya maut yang sudah mulai menjemput.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor