Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Jam dinding di ruangan kerja Diandra menunjukkan pukul sebelas malam.
Cahaya lampu meja masih berpendar terang, menyinari tumpukan dokumen proyek besar yang harus segera diselesaikan.
Diandra, sang CEO yang dikenal bertangan besi namun elegan, memijat pangkal hidungnya.
Keheningan malam itu tiba-tiba pecah oleh getaran ponsel di atas meja.
Senyum tipis terukir di bibir Diandra saat melihat nama yang tertera di layar.
Pratama, suaminya yang sedang berada di Kanada untuk urusan bisnis.
"Sayang, lekas pulang. Besok aku sudah kembali ke Indonesia," suara berat Pratama terdengar menenangkan dari seberang sana.
"Iya, Mas. Aku akan pulang setelah ini. Tinggal beberapa berkas lagi," jawab Diandra lembut, sisi yang hanya ia tunjukkan pada suaminya.
"Jangan terlalu lelah. I love you, Diandra."
"I love you too, Mas."
Diandra menutup ponselnya dengan perasaan sedikit lebih ringan. Namun, ketenangan itu terusik saat pintu ruang kerjanya diketuk pelan.
Mita, adik tirinya, melangkah masuk dengan senyum manis yang entah mengapa terasa berbeda malam ini.
"Mbak, ayo kita minum kopi dulu di kafe lantai delapan sebelum pulang. Wajahmu pucat sekali," ajak Mita.
Diandra mengangguk kecil. Mungkin sedikit kafein bisa membantunya fokus saat menyetir pulang nanti.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam lift dalam keheningan yang janggal.
"Kamu tahu saja, Mit. Kalau aku butuh kopi malam ini," ucap Diandra.
"Tentu saja aku tahu kesukaan kakakku," ujar Mita.
Ting!
Saat bunyi ting terdengar, mereka sampai di balkon terbuka lantai delapan yang menghadap langsung ke riuhnya jalan raya di bawah sana.
Diandra melangkah ke arah pembatas, menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti butiran permata. Angin malam menerpa wajahnya.
"Mbak..." suara Mita memanggil dari belakang.
Saat Diandra menoleh, ia melihat Mita yang menerjang maju dan mendorong tubuh Diandra dengan sekuat tenaga.
"Mita!" Diandra terpekik, tangannya bergerak cepat mencengkeram pinggiran pagar besi.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat ketinggian di bawah kakinya.
"Mita, tolong aku! Apa yang kamu lakukan?!"
Bukannya menolong, Mita justru berdiri tegak, melipat tangan di dada sambil tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa yang terdengar sangat mengerikan di tengah malam yang sunyi.
"Ssshhh..." Mita menempelkan telunjuk di depan bibirnya, menatap Diandra yang sedang bertaruh nyawa dengan ujung jarinya.
"Selamat tinggal, Mbak CEO. Kursimu dan suamimu, biar aku yang urus sekarang."
Cengkeraman Diandra melemah saat Mita dengan sengaja menginjak jari-jarinya.
"TIDAK—!"
Mita melambaikan tangannya saat melihat tubuh Diandra yang meluncur bebas ke kegelapan, meninggalkan tawa kemenangan sang adik tiri di atas sana.
Dalam detik-detik sebelum dunianya menjadi gelap, hanya satu nama yang terlintas di pikirannya.
"M-mas Pratama....,"
Sementara itu di tempat lain dimana di sebuah gudang tua yang pengap, suasana terasa jauh lebih mencekam.
Gia tersungkur di lantai semen yang dingin, paru-parunya serasa ingin meledak.
Di atasnya, Ferdian—lelaki yang selama ini ia puja—berdiri dengan wajah tanpa emosi, kakinya menginjak dada Gia dengan keras hingga gadis itu sulit bernapas.
Air mata Gia mengalir deras, membasahi pipinya yang lebam.
"Kenapa, Fer? Aku sangat mencintaimu..." rintihnya parau.
Ferdian mendengus sinis, menambah tekanan pada kakinya.
"Kamu kira aku benar-benar mencintaimu? Kamu salah, Gia. Dari dulu aku hanya berpura-pura karena perintah Kinanti. Kamu itu cuma mainan."
Di sudut ruangan, Kinanti tertawa terbahak-bahak, menikmati setiap tetes air mata Gia.
Tanpa belas kasihan, Kinanti mendekat dan membekap wajah Gia dengan kain tebal, menekannya kuat-kuat sampai pasokan oksigen Gia habis sepenuhnya.
Kesadaran Gia perlahan menghilang, menyisakan kegelapan yang dingin.
"Ayo, cepat buang dia ke sungai sebelum ada yang lihat!" perintah Ferdian dingin.
Ferdian membopong tubuh Gia dan membawanya ke sungai yang ada di dekat sana.
Byuurrr!
Tubuh Gia dilemparkan ke dalam aliran sungai yang deras dan gelap.
Kembali ke Mita yang baru saja sampai ke sungai sambil membawa tubuh Diandra yang terluka parah.
Ia tidak mau jika seseorang melihat perbuatannya di kantor kakaknya
Segera ia turun dari mobil dan membuka bagasi untuk membuang tubuh Diandra.
Mita merasa kewalahan saat membawa tubuh Diandra ke sungai.
Byur!!
"Selamat tinggal Diandra kakak tiriku,"
Setelah membuang tubuh Diandra, Mita segera meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di bawah permukaan air yang membekukan, kesadaran Diandra yang tersisa membuatnya membuka mata.
Di tengah remang cahaya bulan yang menembus air, ia melihat sosok gadis berseragam SMA yang berenang kearahnya.
Mata mereka bertemu di dalam air. Secara ajaib, Diandra bisa mendengar suara lirih yang bergema langsung di kepalanya.
"Tolong aku.Tolong balaskan dendamku,"
Tangan gadis itu seolah meraih jiwa Diandra, sebelum akhirnya semuanya menjadi benar-benar gelap.
Takdir baru saja mengikat dua jiwa yang dikhianati dalam satu amarah yang sama.
Di saat bersamaan ada seorang pemancing yang baru saja hendak merapikan alat pancingnya di bawah jembatan, terperanjat melihat sesosok tubuh wanita berpakaian elegan tergeletak di atas beton penyangga dengan luka yang sangat parah.
"Tolong!! Tolong ada orang tenggelam!" teriak pemancing itu dengan suara parau.
Beberapa pengendara mobil yang mendengarnya segera menghentikan kendaraannya.
Mereka berlarian turun, menyaksikan tubuh Diandra yang bersimbah darah namun masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang sangat tipis.
Suasana menjadi gaduh; suara sirine ambulans segera membelah malam, membawa sang CEO menuju rumah sakit pusat.
Di ruang instalasi gawat darurat, seorang dokter senior terkejut saat melihat wajah pasien yang baru saja tiba.
Sebagai dokter pribadi keluarga, ia mengenali wanita itu seketika.
"Ini, Ibu Diandra!" serunya cepat.
"Siapkan ruang operasi sekarang! Dan hubungi suaminya segera!"
Di saat yang sama, di belahan bumi lain tepatnya di Kanada, Pratama sedang mengemasi koper dengan senyum di wajahnya. Namun, dering telepon yang persisten membuatnya menghentikan kegiatannya.
"Halo, Dokter? Ada apa?"
"Pak Pratama. Anda harus segera kembali. Ibu Diandra mengalami kecelakaan hebat. Kondisinya sangat kritis."
Ponsel di tangan Pratama terjatuh ke lantai setelah mendapatkan kabar dari dokter.
Seluruh tenaganya seolah menguap, membuatnya terduduk lemas di pinggir tempat tidur.
Jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat. Tanpa membuang waktu lagi, dengan mata merah menahan tangis, ia menyambar paspornya dan berlari menuju bandara. Pikiran Pratama hanya satu: Diandra harus selamat.
Sementara itu, di sebuah kota kecil yang berjarak ratusan kilometer, sebuah drama kehidupan lain sedang berlangsung.
Di pinggiran sungai yang tenang, warga baru saja menarik tubuh seorang gadis berseragam SMA yang sudah pucat pasi.
Gia dibawa ke puskesmas terdekat dalam keadaan tidak bernapas.
Dinginnya air sungai telah merenggut kehangatan tubuhnya.
"Cepat! Siapkan defibrillator!" perintah dokter jaga dengan tegas.
Dokter itu mulai menekan dada Gia dengan ritme yang stabil. Satu, dua, tiga... Deg!
Layar monitor masih menunjukkan garis lurus. Dokter kembali memompa dada gadis malang itu, berusaha memancing detak jantung yang sudah hilang.
Di dalam alam bawah sadar yang gelap, jiwa Diandra yang baru saja "terlepas" dari tubuh aslinya karena koma, tiba-tiba merasa ditarik oleh kekuatan tak kasat mata menuju tubuh dingin yang sedang dipompa itu.
"Ayo, Gia! Bangun!" seru sang dokter sekali lagi sambil memberikan kejutan listrik ke dada gadis itu.
DUG!
Monitor jantung tiba-tiba mengeluarkan bunyi tit... tit... tit... yang lemah.
Bersamaan dengan itu, mata Gia yang semula tertutup rapat, mendadak terbuka dengan tatapan yang sangat tajam.