Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbal
Di kamarnya, Alma tampak serius memeriksa berkas laporan milik Nova. Beberapa saat kemudian, keningnya berkerut tajam ketika menemukan deretan angka yang terasa tidak pas dan janggal.
Ia meneliti lagi dengan cermat, membandingkan satu per satu data, lalu menyilangnya dengan catatan asli yang ia pegang. Benar saja, ada selisih besar yang sengaja diubah dan diacak sedemikian rupa.
"Ini benar-benar di luar dugaan," gumamnya pelan. "Berani sekali memanipulasi data ini, persis seperti yang mereka rencanakan."
Alma tersenyum tipis, tak ada kemarahan dari raut wajahnya. Ia justru membiarkan kesalahan itu, dan tak berusaha memperbaikinya, lalu menyusun berkas itu kembali seperti semula. Kemudian menyimpannya di tempat yang aman.
Alma mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Namun, sesaat ia terdiam, seperti menimbang-nimbang, ia ragu apakah perlu menyampaikannya pada Danish atau tidak.
...
Sementara itu, di kediaman Al Ghifari, Danish tampak duduk termenung di balkon kamarnya, menatap pekatnya langit malam yang hanya dihiasi sedikit bintang berkelip. Pertemuannya kembali dengan Chelsea, mantan kekasih tak terindahnya, tadi siang benar-benar mengusik batinnya.
Masih terasa jelas membekas dalam ingatannya, bagaimana sikap angkuh serta pandangan rendah wanita itu kepadanya, seolah apa yang dia miliki dan usahakan selama ini sama sekali tak ada harganya.
Dulu, dia memang sangat mencintai Chelsea. Gadis cantik, ceria, yang selalu bisa membuat suasana jadi menyenangkan. Apa saja rela dia lakukan demi melihat wanita itu tersenyum bahagia. Namun, di masa dirinya sedang merintis masa depan dengan berjuang keras mengembangkan usaha tempat latihan bela dirinya, justru saat itulah Chelsea datang membawa keputusan yang menghancurkan segalanya.
"Danish, aku mau kita putus. Hubungan kita selesai sampai di sini saja," ucap Chelsea tegas kala itu, tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi kenapa, Sea? Apa alasannya?" tanyanya waktu itu dengan wajah bingung dan sakit hati. "Aku nggak merasa pernah berbuat salah, aku selalu berusaha yang terbaik buat kita berdua."
Chelsea tersenyum tipis, senyum yang tampak begitu meremehkan seolah tak lagi ada rasa sayang sedikit pun.
"Kamu nggak salah, aku bosan saja sama kamu. Aku butuh seseorang yang selalu ada waktu untukku, yang bisa memberikan perhatian penuh padaku, serta kehidupan yang mapan dan terjamin sepenuhnya."
"Bukan seperti dirimu yang malah sibuk sendiri mengurus dojo itu yang seberapa menghasilkan itu. Hidupmu masih serba pas-pasan, penuh ketidakpastian, dan masa depan pun belum jelas arahnya ke mana. Aku sudah lelah menunggu, aku punya keinginan juga standar hidup yang tinggi."
"Maaf saja, aku nggak mau membuang waktuku menunggumu sukses yang entah kapan akan terwujud. Aku butuh orang yang sudah pasti, bukan orang yang baru berusaha dan belum punya apa-apa."
Kata-kata itu masih terngiang jelas hingga sekarang, tajam sangat menyakitkan. Saat itu dia dianggap tidak punya masa depan, direndahkan, dan dibuang begitu saja demi kemewahan. Hari ini dia bertemu lagi, melihat betapa bangganya wanita itu dengan suaminya yang punya jabatan, betapa puasnya hati wanita itu karena merasa keputusan yang diambil dulu adalah yang paling tepat. Dari situ akhirnya dia menyadari sesuatu satu hal, bahwa Chelsea ternyata memang tak pantas untuknya.
"Beruntung dulu aku nggak pernah memperkenalkannya pada keluarga, kalau ternyata ia hanyalah wanita yang sangat materialistis. Bisa-bisa nasibku sama kayak Bang Rel."
Lamunan Danish terputus seketika, saat suara dering ponsel terdengar nyaring di dekatnya. Dia menoleh, nama Alma tertera jelas di layar. Raut wajahnya langsung berubah kembali tenang dan serius, segala kenangan pahit tadi hilang berganti fokus. Dia mengangkat panggilan itu dengan segera.
"Halo, Al..." sapanya pelan.
...
Keesokan paginya, udara masih terasa sejuk, ketika Danish melangkah masuk ke lobi gedung apartemen tempat Alma tinggal. Pemuda itu datang ke sana sesuai permintaan Alma, sebab ada hal penting yang ingin dibicarakan. Dan begitu nama serta identitasnya diketahui, pintu akses pun terbuka lebar untuknya. Sesampainya di depan pintu unit tempat tinggal wanita itu, dia tak perlu menunggu lama, karena begitu pintu terbuka, Alma telah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum tipis menyambut kedatangannya.
"Masuklah," ucap Alma pelan, lalu menyingkir memberi jalan. "Aku sudah nggak sabar menunggumu untuk membicarakan hal ini."
Begitu Danish duduk di ruang tamu, tanpa bertele-tele Alma langsung mengeluarkan berkas-berkas yang kemarin ia periksa, lalu meletakkannya di atas meja di depan mereka. Sorot matanya berubah serius.
"Ini hasil kerja Nova kemarin," buka Alma singkat. "Aku sudah teliti semuanya sampai rincian paling kecil. Angka-angkanya diubah, susunan datanya diacak, dan perhitungannya sengaja dibuat keliru. Persis seperti dengan rencana yang mereka bahas malam itu. Dia benar-benar nekat menjalankan niat buruknya, berani sekali mempertaruhkan posisinya hanya demi menjatuhkanku."
Danish menunduk sejenak, meneliti lembar demi lembar yang terbentang di hadapannya. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya sedikit mengeras.
"Sudah kuduga dia akan berbuat sejauh ini," jawabnya pelan. "Dia dan istrinya ternyata sama-sama berpikiran sempit, menganggap segala cara boleh dilakukan asalkan keinginan mereka bisa terwujud. Mereka nggak sadar, bahwa setiap langkah yang diambil justru makin menguatkan bukti yang kita pegang."
Alma mengangguk setuju, lalu bersandar santai di sandaran kursi, tetapi tatapan matanya tetap tajam.
"Aku sengaja diam saja, pura-pura nggak tahu apa-apa. Membiarkan seolah dia telah berhasil menipuku. Namun, sepertinya dia menyadari sesuatu, sampai akhirnya dia kembali lagi ke ruang kerjaku, menggeledah sana-sini. Wajahnya terlihat sangat panik karena berkas ini nggak ada di sana. Beruntung aku membawanya pulang sehingga dia tak menemukannya."
Danish tersenyum miring, senyum yang dingin dan penuh arti. Dia kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah sampul berwarna cokelat tebal, lalu meletakkannya perlahan di atas meja, tepat di depan Alma. Gerakan itu membuat wanita itu menatapnya bertanya-tanya.
"Selain rekaman pembicaraan serta bukti kecurangan yang kamu temukan ini, ada lagi hal penting yang harus kamu ketahui," ucap Danish, nadanya berubah lebih berat dan serius. "Ini hasil penelusuran dan penyelidikan yang berhasil ditemukan oleh anggota tim Om Barra."
"Dan bukan hanya itu saja... ternyata selama ini dia telah lama menggelapkan uang perusahaan dan semua transaksi itu mengalir masuk ke rekening atas namamu." Danish menyodorkan salinan nomor rekening atas nama Alma.
"Nggak mungkin....!" Alma tak sanggup berkata-kata lagi. Netranya masih terpaku pada lembaran kertas di depannya.
Ia tak pernah berpikir jika Nova akan menumbalkan dirinya demi kepentingan mereka.
.
.
.
Maaf, ya pembaca yang baik hatinya. Up nya agak telat, karena moms lagi kurang enak body. Bukan kebanyakan makan daging kurban loh ya, tp karena ada sedikit masalah dengan pencernaan.