NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran yang Aneh

Matahari pagi itu seolah enggan bersinar terang, seolah ikut bersimpati pada nasib Vira Calista yang baru saja melewati malam paling panjang dan mencekam dalam hidupnya. Namun, bagi Vira, cahaya pagi ini terasa berbeda. Ada rasa lega yang luar biasa, meski bercampur dengan deg-degan yang tak kunjung reda.

Pukul delapan pagi, tepat saat Vira sedang membereskan sisa-sisa barangnya dengan tangan yang masih gemetar, ponselnya berdering. Nomornya tidak asing, itu adalah nomor kantor.

Dengan napas tertahan, Vira mengangkatnya. Berharap yang terbaik, mempersiapkan mental untuk yang terburuk.

"Halo, dengan Nona Vira Calista?" suara di seberang terdengar formal namun jauh lebih sopan dari kemarin.

"I... Iya betul," jawab Vira terbata.

"Kami dari bagian HRD. Berdasarkan instruksi dari manajemen dan penyelesaian administrasi keuangan yang telah dilakukan semalam, semua tuntutan terhadap Anda dinyatakan lunas dan selesai. Tidak ada lagi masalah hukum atau tagihan yang menyangkut nama Anda. Anda bebas."

Jantung Vira serasa mau copot. Kakinya lemas hingga ia harus berpegangan pada lemari.

"Lunas? B-benarkah itu,Pak?"

"Benar, Nona. Pihak penanggung jawab baru saja mentransfer jumlah penuh beserta denda administrasi. Semua beres. Anda tidak perlu khawatir lagi."

Tuuut.

Telepon dimatikan. Vira masih berdiri mematung di tengah ruangan. Air matanya kembali menetes, tapi kali ini adalah air mata kelegaan yang luar biasa. Farzhan... pria itu benar-benar menepati janjinya. Bahkan lebih cepat dari yang Vira bayangkan. Ia tidak main-main. Dalam waktu semalam, pria itu telah menghapuskan beban gunung yang ada di pundaknya.

"Ternyata... dia memang penyelamatku," bisik Vira pelan, wajahnya memerah entah karena apa.

Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama. Sekitar satu jam kemudian, pintu apartemen kecilnya diketuk. Bukan petugas keamanan, bukan pula kurir, melainkan dua pria berjas hitam rapi dan berkacamata hitam, gaya khas anak buah orang kaya. Mereka menyebut diri mereka staf pribadi Tuan Farzhan Ibrahim.

"Nona Vira, kami datang untuk mengantar Anda dan barang-barang Anda ke kediaman Tuan Muda," kata salah satu dari mereka dengan sopan namun tegas.

Vira hanya bisa mengangguk patuh. Seperti tahanan yang dijemput untuk menjalani hukumannya, atau lebih tepatnya... seperti pekerja yang baru saja ditebus dari tempat yang berbahaya.

Perjalanan menuju rumah Farzhan terasa begitu panjang. Mobil mewah yang membawanya melaju meninggalkan kawasan kota menuju perumahan elit yang jauh lebih tenang dan asri. Dan ketika mobil itu berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa yang megah, mulut Vira tak sengaja menganga lebar.

Ini bukan sekadar rumah. Ini adalah istana. Bangunan bergaya modern klasik yang luasnya seluas lapangan sepak bola, dengan taman yang terawat rapi bagaikan lukisan.

"Ini... ini rumah Zhan?" gumam Vira tak percaya. "Gila, orang ini hidupnya seperti raja."

Setelah melewati proses masuk yang formal, Vira akhirnya dipersilakan masuk ke dalam ruang kerja Farzhan. Ruangan itu luas, berlantai marmer mengkilap, dengan rak buku setinggi langit-langit dan meja kerja besar dari kayu jati.

Dan di sana, di balik meja itu, duduklah Farzhan Ibrahim.

Pria itu sedang sibuk membolak-balik beberapa lembar dokumen tebal, wajahnya tampak serius dan sedikit mengernyit. Ia mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan yang dilipat rapi, terlihat sangat profesional dan berwibawa. Mendengar langkah kaki Vira, Farzhan mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, dingin, namun ada secercah kepuasan di sana melihat musuh bebuyutannya kini berdiri dengan kepala tertunduk malu di hadapannya.

"Duduk," perintah Farzhan singkat, menunjuk kursi tamu di hadapannya.

Vira berjalan pelan lalu duduk dengan sangat sopan, tangan saling bertaut di pangkuan seperti anak sekolah yang siap dimarahi guru.

"Ma... makasih ya Zhan," ucap Vira pelan, suaranya lembut sekali. "Soal uangnya... aku dengar sudah lunas. Kamu benar-benar menyelamatkan nyawaku."

Farzhan tidak langsung menjawab. Ia justru melemparkan setumpuk berkas ke atas meja tepat di hadapan Vira. Suaranya plak terdengar keras.

"Baca itu," titah Farzhan.

"A-apa ini?" tanya Vira bingung, lalu mengambil berkas itu. Matanya membaca baris demi baris. Semakin ia membaca, semakin besar mata nya membelalak. "Ini... ini data perusahaan tempat aku kerja?"

"Iya," jawab Farzhan datar. "Semalam, selagi kamu sibuk menangis dan panik di sana, aku tidak cuma transfer uang. Aku suruh timku gali semua informasi tentang perusahaan sampah itu."

Farzhan bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan tangan di dada.

"Ternyata dugaanku benar. Perusahaan itu bukan cuma bermasalah, tapi sudah busuk dari akarnya. Mereka punya sejarah buruk soal keuangan, sering melakukan praktik kotor, dan mempekerjakan orang tanpa prosedur yang jelas. Yorie dan Alan itu bukan kasus terisolasi, mereka cuma ujung gunung es. Kamu itu, Vira, bukan cuma ceroboh, tapi kamu benar-benar buta sehingga masuk ke sarang penipu."

Vira menunduk semakin dalam. Wajahnya panas sekali. "Maaf... aku tidak tahu..."

"Sudah jelas memang kamu tidak tahu. Makanya kamu jadi korbannya," kata Farzhan, nadanya sedikit melunak tapi tetap ketus. "Dan karena masalahnya sudah selesai, keputusannya satu: Kamu jangan lagi bekerja di sana. Mulai hari ini. Resign."

"Hah?!" Vira terkejut mengangkat wajah. "Resign? Tapi Zhan... kalau aku berhenti bekerja, dari mana aku cari uang buat bayar hutang sama kamu? Gajiku di sana kan satu-satunya sumber penghasilanku..."

Farzhan mendengus pelan, seolah mendengar hal paling konyol di dunia.

"Kamu pikir dengan gaji receh di sana kamu bisa melunasi hutangmu? Jangan bermimpi. Itu butuh waktu puluhan tahun bahkan mungkin seumur hidup belum tentu lunas. Lagipula, kembali ke sana sama saja mengirim domba ke kandang serigala. Mereka pasti akan cari cara buat jatuhkan kamu lagi."

Farzhan menatap Vira lekat-lekat, membuat gadis itu salah tingkah.

"Jadi solusinya?" tanya Vira takut-takut.

Farzhan tersenyum tipis. Senyuman yang membuat bulu kuduk Vira meremang. Itu senyuman iblis yang tersenyum melihat mangsanya.

"Solusinya mudah. Seperti kesepakatan kita semalam. Kamu bekerja di sini. Di rumahku."

"Jadi babu?" tanya Vira memastikan.

"Betul. Jadi pembantu pribadiku. Kamu urus semua kebutuhan rumah, kebutuhanku, masak, bersih-bersih, setrika, apa sajalah pokoknya. Gajimu akan langsung dipotong buat cicilan hutang."

Vira mengangguk-angguk, merasa masuk akal. "Oke deh, tidak apa-apa. Jadi, berapa lama kira-kira sampai lunas ya? 2 tahun? 3 tahun?"

Farzhan mengambil pena di tangannya, memutar-mutarnya dengan santai, lalu berkata dengan wajah sangat serius dan polos:

"Kira-kira... sekitar lima belas sampai dua puluh tahun lah. Kalau kamu rajin dan nggak banyak merusak barang, mungkin bisa dipotong jadi sepuluh tahun."

Jedar!

Seperti ada petir yang menyambar tepat di kepala Vira. Mulutnya terbuka lebar, matanya melotot tak percaya. Ia terdiam selama lima detik penuh, memproses informasi yang baru saja masuk ke otaknya.

"Dua... DUA PULUH TAHUN?!" Vira berteriak tak kuasa menahan diri. "Zhan! Kamu gila ya?! Itu hampir seumur hidup! Kamu mau jadikan aku babu turun-temurun?!"

"Krik... krik..." Suara jangkau seolah ikut terdengar memecah keheningan.

Farzhan justru terlihat sangat santai. Ia mengangkat bahu acuh tak acuh.

"Jangan teriak. Ini hitungan matematika yang adil, Vira. Ingat nominalnya berapa? Itu bukan uang jajan. Itu uang yang bisa kamu pakai untuk beli rumah kecil atau mobil mewah. Kalau kamu kerja jadi pembantu biasa, gajimu kan cuma cukup buat makan dan listrik. Jadi ya butuh waktu lama."

"Tapi dua puluh tahun?!" Vira hampir menangis lagi. "Nanti aku jadi perawan tua loh di rumah kamu! Nanti aku tidak akan sempat cari pacar, tidak sempat menikah dengan orang lain!"

Farzhan tersenyum miring, kali ini senyumnya terlihat sangat nakal dan menang penuh.

"Oh, jadi masalahnya itu? Tenang aja. Siapa tahu setelah dua puluh tahun kamu tinggal sama aku, kamu malah tidak mau cari orang lain. Atau... siapa tahu aku yang bosan lihat kamu terus, jadi segera menghusirmu."

"Kamu kok jahat sih!" Vira memukul meja dengan tangan kecilnya, wajahnya memerah padam karena marah sekaligus malu. "Ini termasuk kedalam penipuan! Tawaran yang aneh! Kamu manfaatin keadaan aku!"

"Siapa yang minta tolong duluan?" Farzhan mengangkat alis, menatap Vira dengan tatapan menantang. "Kamu sendiri yang bilang, 'Zhan apa aja deh yang kamu suruh, aku akan lakukan apapun, jadi babu juga aku mau'. Ingat tidak? Itu kata-kata kamu sendiri semalam di telepon. Bukti saksi ada. Rekaman suara juga bisa aku buat kalau mau."

Vira terdiam. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Benar juga... ia yang merengek minta tolong, ia yang menawarkan diri dengan gegabah karena panik. Ia tidak menyangka Farzhan akan benar-benar serius dan menghitungnya dengan detail setajam silet.

"Tapi... tapi..." Vira masih mencoba membela diri dengan suara kecil, "Dua puluh tahun itu kejam, Zhan..."

"Atau ada pilihan lain?" Farzhan berdiri lalu maju, mendekatkan wajahnya ke arah Vira, membuat jarak mereka hanya beberapa senti saja. Aroma parfum mahal pria itu menyeruak indah namun menakutkan. "Kamu mau aku laporin kamu ke polisi? Atau kamu mau aku tagih uangnya sekarang juga secara tunai?"

"Tidak! Jangan!" Vira mundur ketakutan, memegangi bahunya sendiri.

"Ya sudah. Kesepakatan tetap berlaku," Farzhan kembali duduk santai, tampak puas melihat ekspresi Vira yang seperti ikan mas koki. "Dua puluh tahun. Atau sampai hutang lunas. Syarat dan ketentuan berlaku. Dan ingat, kalau kamu ceroboh, merusak barang, atau bikin aku emosi, waktunya bisa bertambah. Jadi kerjakan yang benar."

Vira menunduk lemas. Rasanya baru kemarin ia merasa bebas dari jeratan hukum, tapi sekarang ia merasa terperangkap dalam kontrak kerja yang lebih menyeramkan lagi. Kontrak seumur hidup (atau setidaknya dua dekade) di rumah raja es ini.

"Baik... Tuan Majikan..." jawab Vira pasrah, suaranya lemah seperti nyamuk. "Aku setuju. Dua puluh tahun ya... Aku janji akan menjadi babu yang baik... walaupun tawaran kamu itu aneh dan gila..."

Farzhan tersenyum puas. Ia merasa baru saja memenangkan pertempuran terbesar sepanjang sejarah perseteruan mereka.

"Bagus. Sekarang, karena kamu resmi jadi stafku..." Farzhan menunjuk ke arah dapur. "Pertama-tama, buatkan aku kopi. Hitam. Tanpa gula. Dan tolong... tolong sekali kali ini jangan sampai tumpah atau menambahkan racun di dalamnya. Karena kalau salah, tambah satu tahun lagi masa kerjamu."

"Astaga!" Vira menghela napas panjang, berdiri dengan langkah gontai. "Hidupku benar-benar habis sudah..."

Dan begitulah awal mula karir baru Vira Calista dimulai. Bukan di gedung perkantoran mewah, tapi di dapur besar rumah Farzhan Ibrahim. Dengan beban hutang yang seolah tak berujung dan tuan yang lebih perfeksionis dari mesin pengatur waktu.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!