Ketika dosa, ego & cinta saling ingin unjuk diri di waktu yg sama, maka takdirlah yg akan menjadi hakimnya!!
Elleanor berkisah seorang gadis muda yang sudah mulai memasuki usia matang untuk sebuah pernikahan. Ayahnya mulai mencarikan jodoh untuk dirinya.
Namun, begitulah darah muda. Tak mau di atur, tak mau di kekang. Elleanor menolak & memilih seorang pria yg dia kenal di lapangan golf.
Tetapi, pilihannya salah, dia malah terjebak menjadi orang ketiga saat dia mengetahui jodoh pilihan ayahnya sudah kembali dari luar negeri.
Entah siapa yg akan Elleanor pilih kali ini. Terus terjebak dalam hubungan toxic yg menjanjikan kenikmatan tetapi di todong rasa bersalah atau memulai hubungan baru dengan si pria misterius yg nampak tak kenal kata ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Alan
Ellea menghentikan mobilnya di parkiran taman kota. Dia bimbang antara pulang atau tidak. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sedari tadi dia hanya berkeliling kota untuk memenangkan diri.
Harusnya dia pulang sekarang untuk bersiap-siap acara makan malam nanti. Tetapi, makan malam mana yang bisa bersama suami orang? Mengenalkannya pada ayahnya sebagai seorang kekasih? Jika dunia tau, bukan hanya nama Ellea yang akan tercoreng, tapi juga nama perusahaan ayahnya.
Ellea hampir putus asa. Matanya memandang kosong ke arah taman. Memandang sepasang suami istri yang tengah menemani anaknya bermain. Sungguh, pemandangan yang sangat indah. Dia teringat akan mendiang ibunya. Dia juga teringat sosok Alan. Bukankah Akan juga akan seperti itu bersama istri dan anak-anaknya?
Hati Ellea hancur tak tersisa. Matanya sudah sembab karena menangis, suaranya parau hampir hilang.
Dia merasa di bohongi selama ini. Entah apa yang ada di pikiran Alan saat melakukan ini semua. Apa dia pikir Ellea akan menerima statusnya? Apa dia pikir Ellea akan bersedia menjadi simpanannya? Yang akan selalu di sembunyikan sampai debu pun tak tau?
Mana ada bangkai yang tak tercium batangnya. Sekalipun mereka bermain cantik, bisa bertahun-tahun hingga memiliki anak dari hubungan terlarang itu, bukankah harga diri Ellea yang di jual murah disini? Sedangkan dia adalah wanita yang cerdas dan bermartabat, dari keluarga terpandang dan kaya raya, kenapa harus menjadi simpanan, iya kan?
Ellea tak mau. Ellea tak ingin terjebak di dalam hubungan seperti itu. Dia ingin bebas. Dia ingin merasakan kenyamanan di rumah tangga. Membesarkan anak-anak bersama suami sahnya. Hanya suaminya, bukan suami orang.
Sejenak, Ellea kembali tenang. Dia yakin, keputusannya sudah tepat. Dia harus mengakhiri hubungannya dengan Alan dan tidak pernah menemui pria itu lagi.
Tetapi, ada satu hal yang belum selesai. Mark, ayahnya. Pasti pria itu sudah menunggunya di rumah. Dia pasti juga sudah menyuruh para pelayan untuk menyiapkan hidangan acara nanti malam.
Masalah terbesarnya adalah bagaimana Ellea menjelaskan semuanya? Tidak mungkin dia jujur bahwa Alan ternyata adalah suami orang. Bisa-bisa ayahnya akan serangan jantung lagi.
Ellea memutar otak, mencari alasan yang tepat. Namun, pikirannya yang kalang kabut itu tidak bisa di ajak kompromi sekarang. Akhirnya, Ellea memutuskan untuk pulang dan mengatakan jika dirinya sudah putus dengan Alan tanpa memberitahu alasannya. Biar saja ayahnya penasaran, Ellea tak perduli lagi. Karena dia tau, pasti setelah ini ayahnya akan sibuk memperkenalkan dirinya dengan anak sahabatnya itu.
Sesampainya di rumah, Ellea masuk dengan langkah yang lunglai hingga hampir roboh. Ternyata tekanan batin sepengaruh ini pada kesehatan.
Ellea berusaha mengontrol diri. Melangkah perlahan memasuki rumahnya. Naik anak tangga menjadi salah satu tantangan baginya sekarang. Dia ingin segera masuk ke dalam kamarnya sebelum bertemu dengan ayahnya.
Namun, matanya membulat saat melihat sosok yang paling tidak ingin dia temui itu sekarang sudah berdiri di ujung tangga dengan tangan menyilang di dada. Siap menginterogasi.
Ellea menghela nafas kesal. Nampak hari ini adalah hari siap baginya. "Aku mau istirahat, yah." Ucap Ellea berusaha menghindari ayahnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya ayahnya.
"Tidak ada." Ellea melewati ayahnya.
"Bagaimana makan malam kita?" Tanya ayahnya lagi.
"Cancel saja, yah. Aku sudah putus dengannya." Jawab Ellea sambil masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
Mark terdiam. Dia bingung sekaligus heran. Karena dia belum menerima laporan dari Cris mengenai pacar rahasia Ellea itu. Dapat di lihat dengan jelas bahwa Ellea habis menangis. Mark sebenarnya ingin menemui putrinya itu, namun dia berpikir dua kali. Mungkin Ellea masih butuh waktu untuk sendiri. Sehingga, Mark mengurungkan niatnya.
****************
Sampai tengah malam, Ellea masih belum bisa tertidur. Dia merasa bersalah pada istri Alan karena selama ini sudah menjadi orang ketiga di rumah tangga mereka.
Drrttt!! Drrtttt!!!
Ponselnya berdering. Ellea mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata Alan yang menelpon. Dua kali. Tiga kali. Sampai Ellea muak mendengarnya. Dia menjawab panggilan telpon itu.
"Sayang.." Panggil Alan di ujung telpon.
"Berhenti memanggil ku seperti itu, Alan. Hubungan kita sudah selesai!" Ucap Ellea dengan tegas.
"Tidak, aku tidak mau. Kau masih milik ku! Apa yang harus di selesaikan dalam hubungan kita, semua baik-baik saja!" Alan berusaha meyakinkan.
"Kau sakit, Alan!" Umpat Ellea.
"Mari kita bertemu, kita bicarakan hal ini baik-baik!" Ajak Alan.
"Jangan harap bertemu aku lagi!" Ellea menutup panggilan telpon.
Dia melempar ponselnya ke atas kasur. Beruntung ponsel itu tak jatuh ke lantai. Dia merobohkan diri ke atas kasur dengan sembarangan. Lama-lama Ellea merasa tak nyaman jika terus di telpon oleh Alan.
Ellea berpikir mungkin lebih baik dia mengganti sim card saja daripada terus di teror oleh Alan begini. Nampaknya pria itu tak akan membiarkannya pergi begitu saja.
**************
Pagi itu, Ellea memutuskan untuk tidak pergi jogging ataupun ke kantor. Dia masih mempersiapkan diri untuk menghadapi ayahnya. Namun, sepertinya pria paruh baya itu sudah pergi ke kantor pagi-pagi buta. Sehingga Ellea dapat bersantai pagi ini.
Dia juga sudah meminta salah satu pelayan untuk membelikan sim card baru. Dia yakin pasti pelayan itu akan datang sebentar lagi.
Tepat sebelum Ellea menonaktifkan ponselnya. Dia mendapat satu pesan baru dari Alan. Sebuah foto dan video, serta.. pesan yang cukup panjang. Awalnya Ellea berpikir jika itu hanya permintaan maaf dari Alan. Tetapi rasa penasarannya menyeruak, dia membuka pesan itu dan melihat foto serta videonya.
Ternyata foto Ginny yang sedang melakukan pemotretan di sebuah studio.
"Apa maksudnya?" Gumam Ellea tak mengerti.
Lalu dia segera memutar videonya. Matanya terbelalak sempurna. Melihat ada seorang pria berjaket yang menyelundup di antara keramaian, memegang pistol dan sedang menatap Ginny dengan tajam. Jelas, Ginny adalah targetnya.
Ellea segera menelpon Ginny, dia ingin memperingatkan bahwa dirinya sedang dalam bahaya. Namun, panggilan telponnya tak kunjung di jawab. Pasti ponselnya ada di dalam tas. Ellea semakin panik saat kembali mendapat pesan dari Alan.
"Temui aku sekarang atau dia akan aku tembak!" Isi pesan itu. Tangan Ellea sampai gemetar saat membacanya.
"Apa mau mu!" Pekik Ellea.
Dia berpikir sejenak, teringat ucapan Ginny bahwa pria ini adalah orang yang nekat. Ellea takut Alan akan benar-benar menembak Ginny hanya untuk kepentingan pribadinya. Ellea tak mau mengorbankan orang lain.
"Ok, tapi suruh orang itu pergi dari sana!" Pesan Ellea menyetujui permintaan Alan.
"Dia akan tetap disana sebelum kau sampai di apartement!" Jawab Alan.
Sekali lagi Ellea di buat frustasi oleh pria itu. Sejak mengetahui Alan memiliki istri dan anak, pria itu nampak sangat menyebalkan bagi Ellea. Meski sebelumnya mereka sangat dekat dan saling mencintai.
Tanpa pikir panjang lagi, Ellea beranjak dari kasurnya lalu segera mengambil kunci mobil dan menuju ke apartement Alan. Rasanya, Ellea ingin mencekik pria itu hingga wajahnya biru karena kehabisan oksigen.
Bersambung...
.
good luck authorrr