NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SISA ABU DAN PENGKHIANATAN HALUS

Matahari pagi menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, tertutup oleh sisa asap yang masih mengepul dari kerangka mansion Janardana. Garis polisi berwarna kuning kini melintang di depan gerbang emas, menggantikan garis merah yang semalam dibuat oleh Sasmita. Petugas pemadam kebakaran masih sibuk menyemprotkan air ke titik-titik api kecil yang tersembunyi di balik reruntuhan sayap barat.

Sasmita berdiri di seberang jalan, bersandar pada kap mobil hitam milik Bramasta Aditya. Wajahnya telah dibersihkan, namun jelaga hitam masih tertinggal di bawah kuku-kukunya—sebuah pengingat permanen tentang apa yang harus ia gali semalam. Ia mengenakan jaket trench coat pinjaman yang terlalu besar untuk tubuhnya, namun sorot matanya tetap tajam, menatap sisa-sisa rumah yang dulu ia puja sebagai istana.

"Semuanya sudah diproses, Sasmita," suara Bramasta memecah keheningan pagi yang dingin. Pria itu datang membawa dua cup kopi panas. "Rena dan Vano sedang ditahan di Polda Metro Jaya. Rekaman yang kamu berikan semalam sudah menjadi bukti kunci. Tim forensik juga sudah mengamankan botol racun yang kamu temukan di taman."

Sasmita menerima kopi itu, namun ia tidak meminumnya. Uap panasnya menyentuh wajahnya yang pucat. "Kenapa aku merasa ini terlalu mudah, Bram? Rena bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja setelah satu malam yang kacau."

Bramasta menyesap kopinya, matanya menyapu kerumunan wartawan yang mulai berkumpul di depan garis polisi. "Kamu benar. Rena memang di balik jeruji besi, tapi pengacaranya—seorang pria bernama Hendra Salim—sudah mulai bergerak. Dia mengklaim bahwa rekaman CCTV itu ilegal karena diambil tanpa izin, dan kebakaran semalam adalah murni sabotase yang dilakukan oleh 'penyusup' untuk menjebak kliennya."

Sasmita mendengus sinis. "Penyusup? Aku adalah pemilik sah tanah ini!"

"Secara de facto, ya. Tapi secara de jure, sertifikat yang kita pegang masih dalam proses sengketa di pengadilan karena Rena sempat mengajukan gugatan balik seminggu sebelum ayahmu meninggal," jelas Bramasta. "Ini akan menjadi perang panjang di meja hijau, Sasmita. Bukan sekadar adu mulut di ruang tamu."

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan keluarlah seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi. Ia adalah Pak Broto, orang kepercayaan mendiang ayahnya yang selama ini menjabat sebagai direktur operasional di perusahaan Janardana Group.

"Sasmita! Syukur alhamdulillah kamu selamat!" Broto berlari kecil mendekat, wajahnya tampak sangat cemas. "Saya baru mendengar kabar kebakaran ini tadi subuh. Ini bencana besar bagi nama baik perusahaan!"

Sasmita menatap Broto dengan datar. Pria ini adalah orang yang selalu bersikap manis di depannya saat ia masih kecil, namun tidak pernah sekali pun mengirimkan bantuan atau sekadar menanyakan kabar saat Sasmita dibuang ke London.

"Terima kasih atas perhatiannya, Pak Broto. Tapi sepertinya nama baik perusahaan adalah hal terakhir yang harus kita khawatirkan sekarang," ujar Sasmita dingin.

"Tentu, tentu saja. Nyawamu yang utama," Broto mengusap keringat di dahinya meski udara pagi itu dingin. "Tapi Sasmita, ada hal mendesak. Karena ayahmu sudah tiada dan Rena sedang dalam masalah hukum, dewan komisaris mendesak agar ada penunjukan pelaksana tugas direktur utama segera. Perusahaan sedang goyah, saham kita anjlok pagi ini."

Bramasta Aditya melangkah maju, menghalangi pandangan Broto ke arah Sasmita. "Pak Broto, saya rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahas urusan korporasi. Klien saya baru saja kehilangan rumahnya dan hampir kehilangan nyawanya semalam."

Broto menatap Bramasta dengan sorot mata yang sedikit meremehkan. "Dan siapa kamu? Oh, pengacara muda yang disewa Wirya secara diam-diam itu ya? Dengar, anak muda, urusan bisnis tidak bisa menunggu emosi mereda. Sasmita, sebagai ahli waris, kamu harus menandatangani surat kuasa agar saya bisa menstabilkan perusahaan sementara waktu. Ini demi kepentinganmu juga."

Sasmita menatap surat yang disodorkan Broto. Matanya tertuju pada poin-poin kecil di bagian bawah dokumen itu. Ada sebuah klausul tentang "pengalihan hak suara dalam rapat umum pemegang saham". Jika ia menandatangani ini, Broto akan memiliki kendali penuh atas Janardana Group, termasuk akses ke dana darurat perusahaan yang bernilai triliunan rupiah.

"Saya akan mempelajarinya dulu, Pak Broto," jawab Sasmita sambil melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

Wajah Broto berubah sedikit kaku. Senyum ramahnya memudar sejenak sebelum ia berhasil memaksanya kembali. "Tentu, tentu. Jangan terlalu lama ya, Sasmita. Setiap detik yang terbuang adalah kerugian bagi warisan ayahmu. Saya tunggu kabar baiknya sore ini."

Setelah mobil Broto menjauh, Sasmita menoleh ke arah Bramasta. "Kamu lihat itu? Hiu-hiu sudah mulai mencium bau darah."

"Dan Broto bukan sekadar hiu, Sasmita. Dia adalah salah satu orang yang disebutkan ayahmu dalam catatan rahasianya. Ayahmu mencurigai Broto-lah yang selama ini membantu Rena mencuci uang perusahaan," bisik Bramasta.

Sasmita terkejut. "Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?"

"Karena kita butuh bukti, bukan sekadar kecurigaan. Dan bukti itu... ada di dalam brankas di kantor pusat Janardana Group. Brankas yang hanya bisa dibuka dengan sidik jarimu dan kode rahasia yang mungkin tertulis di buku harian ibumu."

Sasmita meraba buku harian ibunya yang masih ia simpan di balik pakaiannya. Ia teringat halaman terakhir yang ia baca semalam tentang 'kejahatan mereka'. Kata 'mereka' berarti lebih dari satu orang. Rena dan Broto? Atau mungkin ada orang lain lagi?

"Bram," Sasmita menatap pria itu dengan penuh selidik. "Kenapa kamu begitu tahu banyak tentang rencana ayahku? Kamu bilang kamu ingin menebus kesalahan masa lalu. Kesalahan apa sebenarnya yang kamu lakukan pada ibuku?"

Bramasta terdiam cukup lama. Ia menatap puing-puing mansion dengan pandangan yang kosong. "Sepuluh tahun lalu, aku adalah asisten hukum junior di firma yang menangani aset ibumu. Aku melihat kejanggalan dalam pengalihan aset dari ibumu ke Rena. Aku tahu ada pemalsuan tanda tangan. Tapi saat itu... aku terlalu takut untuk bicara. Aku butuh pekerjaan itu untuk biaya pengobatan adikku. Aku diam, Sasmita. Dan diamnya aku adalah alasan kenapa ibumu tidak punya perlindungan hukum saat Rena mulai meracuninya."

Sasmita merasa dadanya sesak. Ternyata orang yang sekarang membantunya adalah orang yang dulu ikut andil dalam penderitaan keluarganya melalui ketidakpeduliannya.

"Lalu kenapa sekarang?" tanya Sasmita serak.

"Karena adikku meninggal setahun kemudian, dan rasa bersalah itu tidak pernah pergi. Saat ayahmu menghubungiku tiga tahun lalu, aku tahu ini adalah satu-satunya caraku untuk mati dengan tenang suatu hari nanti. Aku tidak mengharapkan maafmu, Sasmita. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang seharusnya aku mulai sepuluh tahun lalu."

Sasmita tidak tahu harus merasa apa. Ia ingin marah, namun pria di depannya ini jugalah yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya semalam. Ia memutuskan untuk menyimpan perasaan itu dan fokus pada tujuannya.

"Kita ke kantor pusat sekarang," tegas Sasmita.

"Sekarang? Kamu belum istirahat, Sasmita."

"Musuhku tidak sedang istirahat, Bram. Mereka sedang bersiap-siap untuk menelan apa yang tersisa dari hidupku. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil satu rupiah pun dari harta ibuku."

Mereka berangkat menuju gedung pencakar langit Janardana Group di kawasan Sudirman. Sesampainya di sana, suasana terasa sangat tegang. Para karyawan berbisik-bisik saat melihat Sasmita masuk dengan pakaian yang tidak rapi dan wajah yang lelah, didampingi oleh Bramasta.

Di lobi, mereka dihadang oleh dua orang petugas keamanan bertubuh besar.

"Maaf, Nona Sasmita. Kami mendapat perintah dari Pak Broto bahwa tidak ada yang boleh naik ke lantai direksi tanpa izin tertulis darinya," ujar salah satu petugas dengan nada kaku.

"Perintah dari siapa?" suara Sasmita meninggi, bergema di lobi yang luas itu. "Aku adalah pemilik mayoritas saham perusahaan ini! Kamu ingin aku memecatmu sekarang juga di depan semua orang?"

Petugas itu tampak ragu, namun ia tetap berdiri di depan lift. "Mohon maaf, Nona. Ini perintah prosedur darurat."

Bramasta Aditya maju, ia menunjukkan sebuah kartu identitas pengacara dan sebuah surat perintah dari pengadilan yang baru saja ia terima melalui ponselnya. "Ini adalah surat penetapan hak waris sementara yang menyatakan Sasmita Janardana memiliki akses penuh ke seluruh properti perusahaan. Jika kalian menghalangi, ini adalah tindakan melawan hukum."

Melihat dokumen resmi tersebut, petugas keamanan itu akhirnya menyerah dan membukakan akses lift.

Sasmita dan Bramasta naik ke lantai 50, lantai tertinggi di mana ruang kerja ayahnya berada. Sesampainya di sana, suasana sangat sepi. Hanya ada sekretaris ayahnya, seorang wanita tua bernama Bu Mirna, yang langsung berdiri dan memeluk Sasmita sambil menangis.

"Nona Sasmita... syukurlah Anda kembali. Pak Wirya sangat merindukan Anda di hari-hari terakhirnya," isak Bu Mirna.

"Bu Mirna, saya butuh kunci cadangan untuk brankas pribadi Ayah di dalam," ujar Sasmita cepat.

"Pak Broto baru saja masuk ke sana sepuluh menit yang lalu, Nona. Katanya ada dokumen penting yang harus segera ditandatangani untuk bursa saham," jawab Bu Mirna cemas.

Sasmita dan Bramasta saling berpandangan. Tanpa membuang waktu, Sasmita mendorong pintu ganda ruang kerja ayahnya.

Di dalam, Broto sedang berlutut di depan sebuah brankas baja yang terbuka di sudut ruangan. Ia memegang beberapa berkas dan sebuah amplop cokelat besar. Di tangannya yang lain, ia memegang sebuah alat pemotong laser kecil.

"Ternyata hiu itu lebih cepat dari yang kubayangkan," suara Sasmita membuat Broto tersentak dan hampir menjatuhkan alatnya.

Broto berdiri, wajahnya tidak lagi menunjukkan keramahan palsu. Ia justru tersenyum sinis sambil memasukkan amplop itu ke dalam tas kerjanya. "Sasmita, kamu memang keras kepala. Harusnya kamu tetap di London dan menikmati uang saku yang dikirim ayahmu."

"Apa yang kamu ambil, Broto?!" bentak Sasmita.

"Hanya beberapa 'asuransi' untuk masa tuaku," jawab Broto tenang. Ia menekan sebuah tombol di jam tangannya, dan tiba-tiba tiga orang pria bersenjata masuk dari pintu rahasia di balik dinding. "Sasmita, kamu harus tahu satu hal. Rena hanyalah pion kecil yang mudah emosi. Akulah yang menjalankan mesin ini selama sepuluh tahun terakhir. Ayahmu tahu itu, makanya dia harus dieliminasi."

Sasmita membeku. Jadi kecelakaan ayahnya memang benar-benar diatur oleh orang di depannya ini.

"Kamu tidak akan bisa keluar dari gedung ini dengan berkas itu, Broto," ujar Bramasta, ia mencoba mendekati Sasmita untuk melindunginya.

"Oh, aku bisa. Karena di mata dunia, Sasmita Janardana yang baru saja kembali dari pengasingan, depresi karena rumahnya terbakar, dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 50 ini," Broto menunjuk ke arah jendela besar yang menghadap pemandangan kota.

Salah satu pria bersenjata itu menodongkan pistol ke arah Bramasta, sementara dua lainnya mendekati Sasmita.

Sasmita menatap Broto dengan kebencian yang murni. Namun, di tengah ketakutan itu, ia teringat satu hal yang tertulis di halaman tengah buku harian ibunya. Sebuah instruksi tentang sistem keamanan darurat yang dipasang ibunya di ruangan ini, yang terhubung langsung dengan sistem pemadam api kimia.

"Garis merah itu mungkin sudah jadi abu, Broto," bisik Sasmita sambil tangannya meraba bagian bawah meja sekretaris yang ada di dekat pintu. "Tapi garis hidupmu baru saja berakhir di sini."

Sasmita menekan sebuah tombol merah kecil yang tersembunyi.

Seketika, seluruh ruangan itu dipenuhi oleh kabut putih tebal dari gas pemadam api yang sangat dingin dan menyesakkan. Suara alarm gedung berbunyi lebih nyaring dari semalam. Pandangan semua orang menjadi kabur.

"Bram! Sekarang!" teriak Sasmita.

Di tengah kabut putih itu, Sasmita menerjang ke arah Broto, bukan untuk menyerangnya, tapi untuk merebut tas kerja yang berisi amplop cokelat itu. Terjadi pergulatan singkat dalam kebutaan total. Sasmita merasakan tangannya perih karena gesekan marmer, namun ia berhasil merenggut tas itu.

"Sasmita! Ke sini!" suara Bramasta terdengar dari arah pintu.

Sasmita berlari menembus kabut, mengikuti suara Bramasta. Mereka berhasil keluar dari ruangan dan menutup pintu ganda itu dari luar, menguncinya dengan kode digital yang hanya diketahui Sasmita.

"Kita harus turun! Sekarang!" Bramasta menarik tangan Sasmita menuju tangga darurat tepat saat petugas keamanan gedung mulai berlarian ke arah mereka.

Di dalam tas itu, Sasmita merasakan ada sesuatu yang keras. Ia membukanya sedikit sambil terus berlari. Itu bukan sekadar dokumen. Itu adalah sebuah kunci fisik dan sebuah rekaman suara yang tertulis: "Percakapan Rena & Broto - Rencana Eliminasi Ratna".

Sasmita tidak berhenti berlari. Ia tahu, rumahnya mungkin sudah terbagi dan terbakar, tapi sekarang ia memegang semua senjata untuk menghancurkan mereka semua. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Sasmita tidak akan berhenti sampai semua pengkhianat itu berlutut di atas abu Janardana.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!