Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Malvin berdiri dengan rahang mengeras, urat di lehernya terlihat tegang. Sejak mendengar kabar kehamilan Zeya, emosinya yang tadi ditahan akhirnya pecah.
"Kurang ajar anak itu," ucapnya dengan suara rendah namun penuh amarah. "Di saat seperti ini dia menghilang entah kemana."
Tante Rissa menunduk, air matanya kembali jatuh. Ia tak membela, tak juga menyangkal. Rasa kecewa pada Dewangga kini bercampur dengan rasa bersalah yang makin menyesakkan.
Malvin menoleh pada Cika dan Linda. "Om pamit dulu. Om harus cari Dewangga sekarang juga."
Cika yang masih duduk di kursi langsung berdiri. "Om…"
"Ini nggak bisa dibiarkan," potong Malvin tegas. "Dia harus tanggung jawab."
"Aku ikut," sahut Rissa cepat, menyeka air matanya. "Aku juga harus bicara sama dia."
Malvin sempat menatap istrinya ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Baik. Kita pergi sekarang."
Sebelum berbalik, Rissa menatap Cika dan Linda dengan wajah lelah. "Tolong jaga Zeya. Jangan tinggalin dia sendirian."
"Iya, Tante," jawab Cika pelan.
"Hati-hati Mah, Pa" jawab Linda
Langkah mereka terdengar cepat menjauh di lorong rumah sakit. Suasana kembali hening setelah kepergian om Malvin dan Tante Rissa, hanya tersisa Cika dan Linda di luar ruang perawatan.
Tak lama kemudian, perawat memberi tahu bahwa Zeya akan dipindahkan ke ruang rawat biasa, dan mereka bisa ikut menemani.
Di dalam kamar, suasana tenang. Tirai putih sedikit terbuka, cahaya lampu temaram menerangi wajah pucat Zeya yang terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya.
Beberapa menit kemudian, kelopak matanya bergerak pelan.
"Zey…" Cika langsung mendekat saat melihat sahabatnya mulai sadar.
Zeya membuka mata perlahan. Tatapannya kosong, tidak fokus. Ia menatap langit-langit kamar seperti orang yang baru kembali dari tempat yang jauh.
Linda segera menuangkan air putih ke gelas kecil. "Zeya… minum dulu ya."
Zeya tidak menolak. Dengan gerakan lambat, ia duduk dibantu Cika, lalu meneguk air itu sedikit demi sedikit. Tangannya gemetar halus.
Setelah gelas itu diturunkan, ia terdiam beberapa detik.
"Gue mau pergi."
Suara itu lirih, tapi jelas.
Cika dan Linda saling menatap.
"Pergi?" ulang Linda pelan.
"Gue mau pergi dari tempat ini," lanjut Zeya dengan tatapan tetap kosong. "gue mau menghilang sejauh mungkin."
Kata-katanya datar, tanpa tangis, penuh tekad. Justru itu yang membuatnya terdengar lebih menakutkan.
"Zey, jangan ngomong gitu," Cika menggenggam tangannya. "Lo lagi capek. Kita istirahat dulu, ya?"
"gue nggak mau di sini." Nada suaranya mulai berubah keras. "gue nggak mau lihat siapa-siapa. Gue nggak mau ketemu siapa-siapa."
Linda mencoba bersuara hati-hati. "Kalau lo mau pergi, boleh. Tapi kondisi lo harus stabil dulu. Dokter bilang kondisi lo masih lemah."
"Gue nggak peduli!" tiba-tiba Zeya berteriak.
Tangannya meraih bantal di sampingnya dan melemparkannya ke lantai. Napasnya memburu, matanya mulai berkaca-kaca.
"Gue mau pergi hari ini juga!," raungnya, suaranya pecah untuk kedua kalinya.
Cika langsung memeluknya erat ketika Zeya mulai meronta. "Zey, tenang… tenang… gue di sini."
"Gue nggak punya siapa-siapa lagi!" teriaknya di bahu Cika.
"Lo punya gue!" balas Cika tegas, suaranya bergetar menahan tangis. "Lo punya gue dan Linda. Lo nggak sendiri." Cika mengelus lembut kepala Zeya, mencoba menenangkan gadis itu
"Lo juga punya anak dalam kandungan Lo" lanjut Cika membating, belum berani menyampaikan fakta tersebut, melihat kondisi Zeya yang masih sangat terguncang.
Zeya menangis terisak dalam pelukan itu, tubuhnya gemetar hebat. Semua emosi yang tadi ia tahan akhirnya pecah bersamaan.
Beberapa menit berlalu sampai tangisnya sedikit mereda.
Dengan suara parau ia berbisik, "gue mau pergi. Tapi nggak ada yang boleh tahu. Termasuk mas Dewangga."
Cika dan Linda terdiam.
"Bahkan kalau dia cari gue, jangan kasih tahu," lanjut Zeya, menatap mereka satu per satu dengan mata merah penuh peringatan. "gue nggak mau dia tahu gue di mana."
Linda menelan ludah. "Zeya…"
"gue cuma mau kalian yang tahu," potongnya lemah penuh kegigihan. "Cuma kalian.”
Cika mengusap rambutnya pelan, mencoba menenangkan. Ia tahu ini bukan keputusan yang lahir dari kemarahan semata, tapi dari rasa hancur yang terlalu dalam.
"Baik," ucap Cika akhirnya pelan. "Kalau itu yang bikin lo bisa bertahan… kita pergi."
Linda mengangguk perlahan meski wajahnya masih cemas. "Tapi kita cek ulang kondisi lo, apa sudah stabil dan memungkinkan untuk pergi sekarang. Kita atur semuanya baik-baik. Nggak gegabah."
Zeya memejamkan mata sesaat, lalu mengangguk tipis. "Cepat."
Linda memungut kembali bantal yang dilempar oleh Zeya tadi, menaruhnya kembali dibelakang kepala wanita itu yang masih didekap erat oleh Cika.
Perlahan Cika merebahkan kembali kepala Zeya dibantal, mengelus puncuk kepala gadis itu dengan lembut
"Lo tunggu disini sebentar sama Linda, gue mau panggil dokter dulu buat meriksa keadaan lo, setelah diperiksa dan semua aman kita pergi hari ini juga."
Zeya mengangguk patuh mendengar perintah Cika, dia kembali menutup matanya namun entah mengapa air matanya malah mengalir kembali
"Zeya, lo kenapa" tanya Linda khawatir "ada yang sakit" dia memeriksa tubuh Zeya yang terbaring dengan panik
Zeya hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Linda, dia menghapus air matanya dengan kasar, sementara Linda hanya menghela nafas berat, dia sangat prihatin dengan kondisi sahabatnya itu, namun dia juga tidak bisa apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuknya.
Setelah beberapa saat setelah kepergian Cika, dia kembali dengan membawa seorang dokter bersamanya.
"Mbak Zeya, saya periksa dulu kondisinya " izin dokter sebelum melakukan pengecekan.
Beberapa menit kemudian dokter selesai melakukan pengecekan. Stetoskop dilepas, map rekam medis ditutup pelan. Cika langsung berdiri mendekat.
"Dok, gimana kondisinya?" tanyanya cepat, tak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya.
"Kondisi Ibu Zeya sudah membaik. Tekanan darahnya sudah stabil, dan tidak ada tanda bahaya secara fisik," jelas dokter tenang. Tatapannya beralih pada Zeya dengan sorot prihatin. "Namun seperti yang saya sampaikan tadi, dia butuh pendampingan secara mental. Kondisinya masih sangat terguncang."
Zeya menunduk. Tangannya terkulai di atas selimut, terasa dingin saat Cika menggenggamnya.
"Baik, Dok. Saya mengerti," jawab Cika pelan sambil mengelus punggung tangan Zeya, berusaha menyalurkan sedikit ketenangan.
Linda maju satu langkah. "Dokter, tadi dia meminta untuk melakukan perjalanan jauh. Apakah tidak apa-apa, mengingat kondisinya saat ini?" Ia melirik sekilas ke arah perut Zeya, memberi kode halus mengenai keselamatan janin.
Dokter terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya.
"Secara fisik," ia mulai menjelaskan dengan nada profesional, "untuk usia kehamilan yang masih sangat awal seperti ini, perjalanan sebenarnya tidak dilarang. Selama tidak ada pendarahan, tidak ada nyeri hebat, dan tekanan darah stabil, itu masih diperbolehkan."
Cika dan Linda saling bertukar pandang, sedikit lega.
"Namun," lanjut dokter lebih serius, “yang perlu diperhatikan adalah kondisi mentalnya. Stres berat bisa memengaruhi kondisi tubuh. Kelelahan ekstrem juga bisa memperburuk situasi. Jadi kalau memang ingin bepergian, ada beberapa syarat.”
"Apa saja, Dok?" tanya Linda cepat.
"Pertama, jangan dilakukan hari ini. Biarkan dia istirahat minimal satu sampai dua hari sampai benar-benar pulih dari kelelahan."
Cika mengangguk.
"Kedua, pastikan dia tidak bepergian sendirian. Harus ada pendamping yang bisa mengawasi kondisinya selama perjalanan."
"Saya akan ikut," sahut Cika tanpa ragu.
"Bagus," jawab dokter singkat. "Ketiga, pilih transportasi yang minim guncangan dan tidak terlalu melelahkan. Hindari perjalanan terlalu lama tanpa istirahat. Jika naik mobil, berhenti setiap satu sampai dua jam. Jika naik kereta, pastikan duduk yang nyaman."
Linda mencatat dalam pikirannya.
"Keempat," dokter menatap mereka satu per satu, setibanya di tempat tujuan, pastikan sudah ada dokter kandungan dan, yang paling penting, pendampingan psikolog atau psikiater. Kondisi mentalnya tidak boleh diabaikan."
Zeya masih diam, tapi air matanya kembali jatuh perlahan, fikirannya bahkan sudah tidak fokus hingga tidak mendengar apa yang sedang dokter katakan.
Sementara Linda dan Cika saling pandang dengan wajah takut-takut, jangan sampai Zeya mendengar kata dokter kandungan. Namun melihat respon Zeya yang tetap diam membuat mereka sedikit lega.
"Satu hal lagi," tambah dokter lembut, kali ini suaranya tidak sekaku tadi. "Jangan beri tekanan. jika dia masih memaksa untuk pergi, maka terpaksa kami izinkan, agar tidak menambah guncangan pada dirinya, melihat kondisinya sekarang, ibu tidak bisa terlalu histeris itu sangat berbahaya bagi kesehatannya."
Ruangan itu hening beberapa detik.
Cika menggenggam tangan Zeya lebih erat. "Kami akan jaga dia, Dok."
Dokter mengangguk. "Kalau semua syarat itu dipenuhi, perjalanan masih bisa dilakukan. Tapi keselamatan dan kestabilan mentalnya tetap prioritas utama."
"Saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin, dan pastikan diminum secara teratur"
Setelah dokter keluar, suasana kamar kembali sunyi. Hanya terdengar bunyi pelan infus yang menetes teratur.
Zeya mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya masih kosong, tidak ada tanda-tanda binar Dimata indah itu lagi.
"Gue tetap mau pergi," bisiknya pelan, suara yang hampir tak terdengar
Cika dan Linda tahu, keputusan itu bukan lagi sekadar emosi sesaat. Itu adalah satu-satunya cara yang Zeya rasa bisa membuatnya tetap bertahan. Dan semoga keputusan ini bisa membuatnya sedikit lebih baik.