Banyak Tipo bertebaran
Mati tertabrak mobil.
Tiba-tiba bangun di rumah mewah dan memili anak tiri,yang kelak menjadi penjahat besar.
Dan suami psikopat yang belum bisa move on dari cinta lama nya.
Di bantu oleh sistem untuk meluluhkan hati kedua nya.
mampu kah Kaira meluluhkan hati, kedua orang yang sangat membenci nya itu.
"Kau bukan ibu ku, berhenti berlagak seolah kau perduli! Jangan mengatur ku!"( Kaiden Alfaro Lucifer)
"Tugas mu hanya untuk mendidik Kaiden, kau tak perlu ikut campur urusan ku dengan Dorothea, sampai kapan pun yang kucintai hanya lah Dia. kau hanya istri pajangan!" (Albert Gavriel Lucifer).
Siapa yang perduli dengan urusan percintaan mereka, yang terpenting aku jadi orang kaya, akan kubawa Kaiden bersama ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Albert kembali
"Nyonya kembali membuat masalah, Tuan. Kali ini beliau memecat pelatih bela diri dan pengasuh Tuan Muda Kaiden. Selain itu, beliau juga masih menyiksa Tuan Muda seperti biasanya," lapor seorang asisten kepada atasannya yang sedang duduk dengan gagah di kursi kerjanya.
Mendengar laporan tersebut, Albert segera memutar kursinya dan menatap langsung ke arah sang asisten.
Pria tampan dan berwibawa itu menyunggingkan senyum miring. Meski demikian, pesona wajahnya tidak berkurang sedikit pun.
"Cih, wanita itu..." gumamnya sinis. "Pasti sedang mencoba menarik perhatianku lagi agar aku segera pulang. Jika mereka berdua saling membunuh, justru bagus. Aku tidak perlu repot-repot menyingkirkan mereka bukan?'
Albert berdiri sambil merapikan jas mahal yang dikenakannya.
"Siapkan mobil. Kita pulang hari ini. Aku ingin melihat sendiri seberapa kacau keadaan mereka."
Nada suaranya begitu dingin, tanpa sedikit pun emosi.
Padahal yang satu adalah putra kandungnya sendiri, sedangkan yang satunya lagi adalah istrinya.
Samir hanya mengangguk pasrah.
Bertahun-tahun bekerja di bawah Albert membuatnya sangat terbiasa dengan sikap kejam pria itu terhadap putranya sendiri.
Sebenarnya, Samir merasa sangat prihatin terhadap Kaiden.
Bocah itu sudah memiliki ayah yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang. Ibunya sendiri tidak menginginkan kelahirannya. Setelah ibu kandungnya meninggal, ia justru mendapatkan ibu sambung yang terkenal kejam.
Meski begitu, Samir tidak berani mengutarakan pendapatnya.
Siapa yang berani menentang Albert Lucifer?
Pria itu dikenal sebagai psikopat tingkat tinggi yang menganggap nyawa manusia tidak lebih berharga daripada debu.
*
*
Mobil Lamborghini Sian Roadster melaju gagah membelah jalanan Ankara.
Albert duduk santai di kursi belakang sambil memeriksa beberapa dokumen pekerjaan melalui tablet miliknya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Awalnya ia mengernyit kesal karena ada yang berani mengganggunya.
Namun sesaat setelah membaca nama yang tertera di layar, senyum tipis langsung menghiasi bibirnya.
Samir yang duduk di depan bahkan tidak perlu melihat layar ponsel itu untuk mengetahui siapa peneleponnya.
Tidak ada seorang pun yang mampu meluluhkan hati Albert selain satu orang.
Dorothea Valeria.
Wanita yang selama bertahun-tahun menjadi cinta terbesar dalam hidup Albert.
Hampir seluruh Turki mengetahui kisah mereka.
Sayangnya, Dorothea telah menikah dengan Emir Aras khan , seorang pengusaha sukses yang status dan kekayaannya berada sedikit dibawah Albert.
Albert dan Dorothea adalah sahabat masa kecil.
Mereka tumbuh bersama hingga dewasa.
Dulu, banyak orang percaya bahwa mereka akan berakhir di pelaminan.
Namun kenyataan berkata lain.
Saat kuliah, Dorothea jatuh cinta kepada Aras dan memilih pria itu sebagai suaminya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Albert.
Dalam keadaan mabuk dan patah hati, ia menghabiskan malam-malamnya di bar.
Dan pada salah satu malam itulah ibu kandung Kaiden memanfaatkan kondisinya.
Hubungan tanpa cinta itu berujung pada kelahiran seorang anak.
Anak yang sejak awal tidak pernah diharapkan.
Kaiden Lucifer.
*
*
*
"Diam, Kaiden. Jangan terus bergerak."
Aylin mengernyit sambil mengoleskan salep pada punggung bocah itu.
"Luka-luka di punggungmu harus segera ditangani sebelum infeksi dan menjadi lebih parah."
Kaiden langsung memalingkan wajah.
"Aku sudah bilang, jangan berpura-pura peduli!" bentaknya. "Kau bukan ibuku! Berhenti bersikap seolah-olah kau peduli padaku! Kau wanita jahat! Suatu hari Tuhan pasti menghukummu!"
Aylin hanya memutar bola matanya.
Tok!
Sebuah jitakan ringan mendarat di kepala Kaiden.
"Bawel."
Kaiden langsung melotot.
Namun diam-diam ia merasa sedikit nyaman dengan perlakuan Aylin.
Meski begitu, ia segera menepis pikiran tersebut.
Tidak.
Wanita itu pasti sedang merencanakan cara baru untuk menyiksanya.
Sementara itu, Aylin sama sekali tidak mempermasalahkan sikap waspada Kaiden.
Ia memahami semuanya.
Bagaimanapun juga, Aylin yang asli memang sangat kejam kepada bocah itu.
Mustahil Kaiden langsung mempercayainya hanya karena ia berubah dalam semalam.
Suara mesin mobil terdengar dari halaman mansion.
*
*
Albert akhirnya tiba.
Ia turun dari mobil dengan langkah tegap dan aura dingin yang menekan.
Para pengawal segera memberi hormat.
Tanpa membuang waktu, Albert langsung menuju ke dalam mansion.
Tujuannya hanya satu.
Mencari Aylin dan Kaiden.
Bukan karena rindu.
Melainkan karena ia berharap menemukan kekacauan di antara keduanya.
Albert menaiki lift menuju lantai tempat kamar Aylin berada.
Namun langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar itu terbuka sedikit.
Keningnya mengernyit.
Perlahan, ia mengintip ke dalam.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Albert benar-benar terkejut.
Di dalam kamar, Aylin sedang menyuapi Kaiden.
Dengan sabar.
Meski nada bicaranya masih terdengar ketus, tidak sulit bagi Albert untuk melihat bahwa wanita itu benar-benar sedang merawat anak tersebut.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Suara dingin Albert memecah suasana.
Aylin menoleh.
"Apakah ini cara baru untuk menarik perhatianku?"
Albert menyeringai penuh ejekan.
Ia sangat yakin bahwa seperti biasanya, Aylin akan langsung berlari menghampirinya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Aylin hanya mengerutkan kening.
Tatapannya penuh kebingungan.
"Siapa kau?"
Albert membeku.
"Dan bukankah sangat tidak sopan masuk ke kamar orang tanpa izin?" lanjut Aylin kesal.
Padahal dalam hati, ia diam-diam mengagumi ketampanan pria itu.
Pantas saja ibu kandung Kaiden dan Aylin yang asli sama-sama tergila-gila padanya.
"Kau tidak mengenaliku?"
Albert tertawa pendek.
"Ayolah, Aylin. Hentikan sandiwara murahanmu."
Namun Aylin tetap menunjukkan ekspresi bingung.
Sikap itu perlahan mengikis kesabaran Albert.
"Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?"
Lalu ia berteriak,
"Pelayan! Pelayan!"
Suara beratnya menggema ke seluruh ruangan.
"Bisakah kau berhenti berteriak seperti Tarzan?" bentak Aylin. "Ini rumah, bukan hutan!"
Ruangan langsung hening.
Samir sampai menahan napas.
Ia sudah bertahun-tahun bekerja untuk Albert.
Namun ini pertama kalinya ada orang yang menyamakan atasannya dengan Tarzan dan masih hidup setelahnya.
Aura dingin Albert langsung berubah mengerikan.
Dengan langkah panjang, ia mendekati Aylin.
Tangannya yang besar mencengkeram dagu wanita itu dengan kuat.
Begitu kuat hingga Aylin yakin rahangnya hampir remuk.
"Kau terlalu berani, Aylin."
Mata Albert menyipit tajam.
"Tapi jangan berharap trik murahan seperti ini bisa membuatku tertarik padamu."
Suaranya terdengar rendah dan mengancam.
"Itu tidak akan pernah terjadi."
Setelah mengatakan itu, ia melepaskan wajah Aylin dengan kasar.
Entah kenapa, Kaiden yang sejak tadi diam merasa tidak nyaman melihat pemandangan tersebut.
Ia bahkan merasakan sedikit dorongan untuk membela Aylin.
Namun ia segera menahan diri.
Karena ia tahu.
Ia bukan lawan Albert.
*
*
Tak lama kemudian Albert pergi begitu saja, diikuti oleh para pelayan yang tadi dipanggilnya.
Ruangan kembali sunyi.
Tiba-tiba sebuah suara mekanis terdengar di dalam kepala Aylin.
Ding! Selamat, Nona. Tingkat kebencian Kaiden berkurang 10%. Saat ini tersisa 90%.
Mata Aylin langsung membelalak.
Belum sempat ia bereaksi, suara itu kembali terdengar.
Ding! Selamat, Nona. Tingkat kebencian Albert juga berkurang 15%. Saat ini tersisa 85%.
"K-kok bisa?" gumam Aylin kebingungan.
Bukankah pria itu baru saja hampir meremukkan rahangnya?
Bukankah dia terlihat ingin membunuhnya?
Lalu kenapa tingkat kebenciannya justru turun lebih banyak daripada Kaiden?
Aylin sama sekali tidak menyadari bahwa sejak pertama kali melihat perubahan sikapnya, Albert tidak lagi merasakan emosi yang sama seperti sebelumnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Pria itu mulai merasa penasaran padanya.