"Ketika undangan wisuda ku tak kamu hadiri, maka ku harap undangan pernikahan ku nanti akan kamu hadiri bersama keluargamu."
Kalimat yang begitu membekas di hati dan pikiran Rizal kala ia melakukan kesalahan karena lagi dan lagi ia membohongi Claudia.
Perempuan yang kerap kali iya bohongi dalam keseharian nya, memberikan perhatian, ungkapan cinta, dan harapan untuk kedepannya.
Nyatanya hal itu adalah sebuah kebohongan yang menjadi kebiasaan Rizal selama ini. Namun, semua berubah setelah Claudia menyadari bahwa selama ini ia melakukan kesalahan terbesar karena terpengaruh dengan setiap kata yang Rizal ucapan kepadanya.
Hal tak terduga kini terjadi pada Rizal pelaku utama yang memerankan peran kebohongan yang begitu dalam sampai dua tahun lamanya seorang Claudia baru sadar bahwa selama ini ia hanya dijadikan mainan oleh Rizal.
Yuk ikuti ceritanya, jika kalian penasaran tentang yang akan terjadi pada Rizal dan Claudia selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alrumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sering Membohongi
Suatu ketika Rijal pun mengingat momen di saat ia sering membohongi Claudia. Dimana saat itu ia sering mengatakan bahwa dirinya sakit.
"Aku lagi sakit, jadi di rumah seharian ini." ucap Rijal dalam percakapan chatnya.
Claudia yang pada dasarnya memiliki rasa peduli dan juga penasaran yang tinggi, ia kemudian bertanya mengenai sakit Rijal.
"Sakit apa? sejak kapan sakitnya?" ucap Claudia.
"Mual, muntah, sakit kepala bahkan sekarang lagi di infus, terus udah dua kali di infus." ucap Rijal menjalankan aksinya kala itu.
"Kok bisa sampai di infus, kenapa baru bilang?" ucap Claudia mulai peduli.
Dalam hati Rijal berkata. "Mudah sekali sih bohongi dia, baru bilang di Infus dan pura-pura sakit aja udah percaya, gimana kalau aku jalankan hal lain lagi."
"Loh kok lama sih jawabnya, itu kamu di Induis kenapa nggak bilang?" ucap Claudia yang ternyata chatnya tak kunjung di jawab.
Lalu terlihat Rijal sedang mengetik, Claudia kemudian menunggu jawaban dari Rijal.
"Hm... gapapa, lagian aku udah baikan kok. Takut kamu khawatir aja kalau aku bilang." ucap Rijal dengan penuh kebohongan ia bahkan seolah-olah tak ingin membuat Claudia khawatir namun nyatanya setelah ia berkata seperti itu, ia bahkan ketawa sendiri melihat isi chat kebohongan yang ia buat.
Claudia yang mudah luluh pun akhirnya percaya dengan jawaban Rijal, walau dalam hati ia merasa ada kejanggalan dengan ucapan Rijal.
Namun Rijal yang sudah ahli dalam berbohong bahkan meyakinkan ucapannya itu dengan memberikan foto saat dirinya di Infus di rumah.
Hal inilah yang akhirnya membuat Claudia penasaran dan akhirnya meminta Rijal untuk memfoto obat apa saja yang ia dapatkan selama sakit tersebut.
Rijal kemudian panik karena ia tak memiliki bukti foto yang di sebut itu. Dengan keahlian dalam berbohong nya itu pun, ia mulai mencari di internet sebuah foto yang menunjukkan cairan infus dan obat untuk ia minum.
"Lihatlah aku sudah kirim foto obatnya, tadi baru di ganti yang cairnya itu." ucap Rijal di saat sebuah foto sudah ia kirim.
Claudia yang kurang teliti kala itu, akhirnya percaya saat Rijal memberikan bukti. Dan ia baru sadar saat potongan demi potongan ia lihat kembali ketika ia sudah lost kontak dengan Rijal.
Bahwa foto obat yang ia terima dari Rijal bukan foto obat yang sebenarnya di berikan untuk Rijal, karena di sana terlihat jelas bahwa obat tersebut masa kadaluwarsa nya dua tahun sebelum ia mengenal Rijal.
Bukannya itu artinya selama ini Claudia sudah di kelabuhi oleh Rijal yang jago dalam berbohong.
Ternyata ketulusan dan kepeduliannya selama ini di bayar oleh kebohongan bahkan ia rela menunjuk kan ke khawatiran nya saat itu di kala ia mendengar Rijal sakit.
Namun apa yang terjadi, rasa khawatirnya hanya menjadikan lelucon oleh Rijal.
Rasanya saat ini Rijal begitu menyesal akan hal itu. Karena di saat ia mengalami sakit ia sudah tak mendapatkan perhatian itu lagi. Perhatian kecil yang sempat ia sia-sia kan hanya ingin menjebak Claudia.
Tapi yang terjadi sekarang dirinya lah yang terjebak akan bayang-bayang seorang Claudia. Sosok perempuan yang sudah ia bohongi beberapa kali namun masih mempercayai dirinya dan memaafkan dirinya.
Walau saat itu ia merasa bahwa kebohongannya memang mudah di tebak oleh seorang Claudia.
Terbukti kala itu, ia juga sempat berbohong lagi tentang kesehatan dirinya. Namun yang terjadi ia akhirnya mengakui bahwa dirinya memang berbohong.
Dalam hati Rijal pun berucap. "Ku kira ucapan ku itu membuat dia percaya, nyatanya aku malah terjebak dengan ucapan ku sendiri. Ia sudah mulai pintar dalam membaca setiap kebohongan ku. Hem... tapi tunggu saja, nanti kamu akan terjebak lagi dengan kebohongan ku, hehehe..."
"Jawab jujur, kamu bohongi aku kan? kamu nggak lagi sakit?" ucap Claudia yang mulai terbuka.
Di sana Claudia sudah mulai lelah dengan sifat Rijal yang sering membohongi dirinya. Sehingga pertanyaan itu pun ia ucapkan.
"Bohong apa, aku ini beneran sakit. Lihatlah tangan ku harus di jahit?" ucap Rijal kala itu.
"Coba aku mau lihat luka di tangan mu itu?" ucap Claudia.
Namun yang terjadi setelah Claudia mengirim chat tersebut. Chat itu tak kunjung ada jawaban, bahkan sudah lima menit lamanya chat itu masih tak kunjung ada jawaban.
Claudia yang tak sabar pun akhirnya mengirimkan pesan lagi pada Rijal.
"Tuh kan, kamu bohong. Buktinya aja chat aku nggak langsung kamu jawab." ucap Claudia.
"Sabar, aku abis minum obat barusan makannya lama." ucap Rijal di saat chat Claudia sudah terkirim. Ia dengan cepat langsung menjawab chat tersebut.
"Hem... ya sudah, sekarang kirim aja foto luka yang ada di tangan kamu itu." ucap Claudia dengan tak sabar, ia kemudian mengulangi lagi permintaannya.
Lagi dan lagi Rijal berusaha untuk mengelabuhi Claudia.
"Sabar, aku lagi foto dulu lukanya." ucap Rijal.
Namun yang terjadi sudah lebih dari lima menit, Rijal tak kunjung mengirim foto tersebut.
Hal ini membuat Claudia mulai tak sabar dan akhirnya bertanya kembali.
"Kok lama sih, katanya mau langsung di foto. Kok sampai sekarang belum juga di kirim fotonya nya. Emang susah ya hanya foto aja." ucap Claudia yang sudah tak sabar menunggu.
"Ck... nggak sabar amat sih ni cewek. Nggak tau apa sedari tadi aku lagi cari foto yang cocok dan pas dengan ucapan ku ini. Eh... ini malah di tanya terus kaya gini." ucap Rijal di dalam hatinya kala itu.
"Sabar napa ini juga kan lagi di foto. Kalau kamu mau sabar aku akan foto sekaligus buatkan kamu vidio. Biar kamu puas bahwa aku memang tak berbohong." ucap Rijal.
"Hem... ya sudah sekarang cepat kirim foto plus vidionya." ucap Claudia.
"Iya tunggu dulu, ini lagi foto sama vidio." ucap Rijal.
Claudia pun kemudian menjawab. "Hem... Iya aku tunggu."
Namun setelah sepuluh menit berlalu, foto dan vidio pun tak kunjung di kirim juga oleh Rijal. Hal ini akhirnya membuat Claudia langsung berkata.
"Mana Vidio sama fotonya, kenapa belum dikirim juga. Kamu bohong kan mengenai sakit kamu itu? jujur aja, nggak perlu bohong lagi." ucap Claudia yang langsung menyimpulkan bahwa saat ini Rijal telah membohongi dirinya.
"Hem... iya aku memang bohong sama kamu? Kenapa memang nya?" ucap Rijal akhir nya mengakui kesalahan.
"Ck... kenapa nggak jujur aja sedari tadi." ucap Claudia.
"Biarin suka-suka aku, masalah buat kamu?" ucap Rijal sengaja berkata seperti ini pada Claudia.
"Kenapa lagi sih harus bohong seperti ini?" ucap Claudia.
"Coba kamu pikir aja sendiri. Kenapa aku seperti ini." ucap Rijal dengan mode ketus.
Bersambung...