Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB EMPAT
Aku masih bisa merasakan gemetar di kakiku ketika duduk di sofa ruang Althaf. Nafasku terengah, wajahku pucat, sementara bayangan pria-pria tadi masih menari di kepalaku. Jaketku basah, kemejaku kusut, tapi lebih dari itu... hatiku terasa campur aduk-antara takut, marah, dan malu.
Althaf menutup pintu ruangannya perlahan, lalu berbalik menghadapku. Sorot matanya tajam, namun suaranya datar.
"Kalau saya tidak muncul tepat waktu, kamu tahu apa yang akan terjadi, Senjani?"
Aku menunduk, menggenggam erat ujung rokku. "Saya... saya bisa urus sendiri, Pak." Suaraku bergetar, berusaha terdengar tegar padahal tubuhku nyaris runtuh.
Ia mendekat, mencondongkan tubuh, membuatku harus menengadah menatapnya.
"Urus sendiri? Kamu bahkan hampir disakiti oleh mereka." Tatapannya menusuk, dingin, seakan menelanjangiku tanpa ampun. "Itu bukan masalah kecil, Senjani. Dan ayahmu..." Ia berhenti sejenak, menarik napas berat. "...meninggalkan bom waktu yang kamu sendiri tidak bisa padamkan."
Aku menggigit bibir, air mata mulai menggenang tapi kutahan sekuat tenaga. "Lalu apa yang Bapak mau? Saya sudah berusaha... saya bekerja siang malam, bahkan kuliah saya terbengkalai. Tapi-"
"Tapi tidak cukup," potongnya cepat. Suaranya tegas, penuh kepastian. "Itu hal yang sia-sia, Senjani."
Keheningan menekan kami beberapa detik. Hanya suara hujan di luar yang terdengar. Althaf lalu melangkah mundur, bersandar pada meja kerjanya, menyilangkan tangan di dada.
"saya sudah menawari jalan keluar. Dan tawaran itu masih berlaku."
Aku menoleh padanya, bingung, gusar, putus asa. "Pernikahan itu?" suaraku hampir tak terdengar.
"Ya." Satu kata itu keluar mantap, dingin, tanpa keraguan.
Mataku bergetar, hatiku mencelos. "Kenapa saya, Pak? Kenapa bukan orang lain? Bapak... Bapak bisa memilih wanita manapun. Kenapa harus saya, mahasiswi Bapak sendiri?"
Tatapannya meredup, tapi bukan lembut-lebih seperti ada beban yang ia simpan. "Saya tidak butuh cinta darimu, Senjani. Saya tidak mencari romansa murahan. Saya hanya butuh... status."
Aku tertegun. "Status?"
Ia menoleh ke arah jendela yang berkabut oleh hujan. Suaranya terdengar dalam, sedikit lebih pelan.
"Oma saya sakit. Wanita tua itu... satu-satunya keluargaku. Harapannya sederhana-dia ingin melihatku menikah di sisa waktunya... Dan saya tidak bisa mengecewakannya lagi."
Aku tercekat. Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar... manusiawi. Tidak sekaku biasanya.
Ia kembali menatapku, kali ini lebih dekat, lebih menusuk.
"Jadi, ini kesepakatannya. Saya membebaskanmu dari hutang ayahmu. Saya akan menanggung semua biaya pengobatan ibumu. Sebagai gantinya, kamu menjadi istriku. Pernikahan tanpa cinta. Tanpa janji manis. Hanya sebuah kesepakatan."
Aku menggeleng pelan, dada terasa sesak. "Bagaimana kalau saya tidak sanggup menjalaninya?"
Ia mendekat, kali ini hanya sejengkal dariku. Tatapannya keras, suaranya rendah, berat, seperti sebuah peringatan.
"Maka bersiaplah kehilangan segalanya. Termasuk ibumu, ingat ibumu yang sakit membutuhan banyak biaya, Senjani."
Hening.
Aku menunduk, air mataku jatuh juga. Suara hujan di luar semakin deras, seolah ikut menegaskan betapa suramnya pilihanku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Suasana di ruangan itu terlalu menekan-tatapan dinginnya menusuk, ucapannya menggema di kepala, dan wajah Ibu yang terbaring lemah terus membayang di pelupuk mata.
Tanganku meremas ujung kemeja, hampir putus asa.
"Saya... butuh waktu," suaraku nyaris tak terdengar. "Tolong... jangan paksa saya memberi jawaban sekarang, Pak."
Althaf menatapku lama, begitu lama hingga aku merasa telanjang di bawah sorot matanya. Wajahnya tetap dingin, tapi dari rahangnya yang mengeras, aku tahu ia menahan sesuatu.
"Kamu hanya punya sedikit waktu, Senjani." Suaranya berat, terukur, seolah setiap kata dipilih dengan sengaja untuk mengikatku. "Ingat-setiap detik yang kamu habiskan untuk ragu, ibumu yang akan menanggung risikonya."
Dadaku terasa diremas. Aku mundur selangkah, mencari napas. "Kenapa... kenapa saya?" tanyaku, suara bergetar.
Ia tidak segera menjawab. Hanya diam, matanya menelusuri wajahku, seakan ada alasan yang tidak ingin ia ucapkan. Lalu akhirnya, ia memalingkan wajah.
"Pergi. Pikirkan baik-baik. Dan jangan coba lari, Senjani. Kamu tahu mereka akan mencarimu."
Jantungku berdegup semakin cepat. Dengan langkah goyah, aku keluar dari ruangannya, membawa beban yang lebih berat daripada sebelumnya.
Di lorong kampus yang sepi, aku berhenti, memejamkan mata, menahan isak yang hampir pecah.
Antara air mata dan keputusasaan, satu hal terus terngiang di telingaku-
"Pernikahan tanpa cinta... hanya perjanjian. Tapi itu mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkan Ibu."
***
Malam itu rumah sakit begitu sunyi. Hanya suara mesin monitor jantung yang berdetak pelan, seakan-akan ikut menjaga tidur Ibu. Cahaya lampu temaram jatuh di wajahnya yang pucat, membuat garis-garis lelah semakin jelas.
Aku duduk di kursi kecil di samping ranjang, jemariku menggenggam erat tangan Ibu yang terasa dingin.
"Bu..." suaraku bergetar, nyaris tenggelam oleh tangis yang kutahan. "Senja capek sekali, Bu..."
Air mata menetes, jatuh satu per satu ke punggung tangannya. "Senja udah coba kuat, udah coba cari jalan keluar, tapi rasanya semua pintu tertutup. Hutang Ayah menjerat Senja seperti rantai... Senja harus bayar, harus berlari, tapi sampai sekarang... uangnya masih jauh sekali, Bu."
Aku mengusap rambut Ibu pelan, seakan bisa menyalurkan kekuatanku padanya.
"Dan sekarang, Pak Althaf... dia datang bawa jalan keluar. Tapi jalannya pahit, Bu. Dia minta Senja menikah dengannya. Bukan karena cinta, bukan karena sayang... hanya karena status. Demi keinginannya. Lalu sebagai gantinya... semua beban kita akan hilang."
Isakanku pecah. Dadaku terasa sesak.
"Bu... apa Senja harus menggadaikan hidup Senja sendiri hanya supaya Ibu bisa tetap bernafas dengan tenang? Apa begitu cara Tuhan menguji kita?"
Aku menunduk, mencium tangan Ibu yang lemah, lama... sambil membiarkan air mataku jatuh membasahi kulitnya.
"Ibu tidur dengan tenang, tanpa tahu apa yang sedang Senja hadapi. Rasanya Senja iri, Bu... Ibu bisa beristirahat. Sedangkan Senja... setiap malam dihantui ketakutan kalau besok Ibu nggak bisa lagi terbaring di sini, kalau besok orang-orang itu datang lagi menagih nyawa Senja sebagai ganti uang."
Aku terisak semakin keras, menutup mulut agar tangisku tidak membangunkan Ibu.
"Bu... kalau Senja akhirnya terima tawaran itu... tolong jangan marah. Senja nggak punya pilihan lain. Senja cuma ingin lihat Ibu sehat lagi. Senja rela kehilangan mimpi, asal jangan kehilangan Ibu."
Aku mengecup kening Ibu dengan lembut. Di balik kelopak mata yang menutup rapat, aku berharap Ibu bisa mendengar, bisa merasakan... bahwa anaknya sedang berperang dengan takdir.
Malam itu, aku akhirnya tahu... keputusan apapun yang akan kuambil, akan meninggalkan luka. Dan mungkin luka itu harus kusimpan seorang diri, selamanya.
Aku berdiri ragu di depan pintu ruang kepala program studi- tertulis nama Althaf Abimayu Dirgantara disana. Tanganku sempat terulur hendak mengetuk, tapi segera kutarik kembali. Napasku terasa berat, seolah setiap helaan mengingatkanku pada beban yang kian menghimpit.
Dengan hati-hati, akhirnya aku mengetuk pelan.
"Masuk," suara berat itu terdengar dari dalam. Dingin, datar, tapi cukup untuk membuat jantungku berdetak tak karuan.
Aku mendorong pintu, dan langkahku seketika terhenti.
Di sana, duduk di sofa samping meja kerja Althaf, ada seorang perempuan cantik dengan senyum menawan. Wajahnya familiar-aku pernah melihatnya di koridor fakultas, dan sering mendengar namanya dibicarakan oleh mahasiswa lain.
Yuanita Sasinka.
Dosen muda, anggun, berpenampilan rapi dengan blouse putih yang sederhana tapi elegan. Kabarnya ia dekat dengan Althaf-desas-desus yang sering terdengar di telingaku, meski tak pernah kuhiraukan.
Tapi sekarang, melihatnya duduk di ruang itu, desas-desus itu mendadak terasa begitu nyata.
"Oh... ini mahasiswa yang kamu ceritakan, ya?" suara Yuanita terdengar lembut, matanya menatapku penuh selidik. Ada kilatan yang sulit kuartikan-ramah, tapi sekaligus menusuk.
Aku menelan ludah, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang. "Permisi, Pak... saya-"
Althaf menatapku, sorot matanya tajam namun samar ada sesuatu di dalamnya. Ia lalu bergeser sedikit di kursinya, merapikan kertas di mejanya, sebelum membuka suara.
"Tunggu sebentar di sini." Suaranya rendah, tegas, dan entah kenapa, membuatku semakin gugup.
Yuanita tersenyum tipis padaku, lalu menoleh pada Althaf. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Jangan lupa rapat besok pagi, ya."
Althaf hanya mengangguk singkat.
Yuanita bangkit, langkahnya anggun. Sebelum keluar, ia sempat menoleh padaku, tersenyum kecil. Senyum yang di mataku membuat wajah anggunnya semakin terlihat lembut dan cantik.
Begitu pintu tertutup dan keheningan kembali menyelimuti, aku berdiri kaku. Dadaku sesak. Ada sesuatu yang menusuk di dalam hatiku-rasa asing, cemburu mungkin? Tapi bagaimana mungkin aku merasa cemburu, pada pria yang bahkan bukan siapa-siapa bagiku?
"Duduklah, Senjani."
Nada suara Althaf kali ini lebih tenang, tapi tetap dingin. Aku melangkah pelan, duduk di kursi seberang mejanya. Kugenggam erat tas di pangkuanku, mencoba menahan segala resah yang bergejolak.
Tatapannya menusuk, membuatku sulit mengalihkan pandangan.
"Sudah saya ingatkan sebelumnya," katanya perlahan, "semakin kamu menunda keputusanmu, semakin banyak risiko yang harus kamu tanggung. Kamu lihat sendiri, mereka berani datang ke kampus mencarimu."
Aku menunduk, bibirku bergetar. "Saya... saya tahu, Pak. Tapi... tadi saya lihat ada Bu Yuanita. Kalau... kalau Bapak memang sudah dekat dengan beliau, kenapa harus melibatkan saya?"
Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa bisa kutahan. Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar detak jarum jam di dinding.
Althaf terdiam lama, lalu perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya tetap dingin, tapi ada sesuatu yang bergetar samar di balik matanya.
"Apa yang kamu lihat atau dengar tentangku, itu bukan urusanmu," ujarnya akhirnya, datar. "Yang perlu kamu tahu, tawaranku masih berlaku. Dan waktumu hampir habis, Senjani."
Aku terdiam, menahan perih yang tak kumengerti.
Ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya. Hening, hanya terdengar detak jam dinding dan desau napasku yang tak beraturan. Bayangan Yuanita yang barusan keluar dari ruangan masih menempel di pikiranku-wajah cantiknya, caranya menyapanya dengan begitu akrab, dan tatapan ambigu yang Althaf berikan seolah... seolah ia benar-benar miliknya.
Aku berdiri kaku di hadapannya, menahan guncangan di dada. Tatapannya dingin, nyaris menusuk, membuatku sulit bernapas.
"Kalau kamu tidak siap, saya tidak akan memaksa. Kamu bebas pergi... tapi aya tidak menjanjikan apa-apa setelah itu," ucap Pak Althaf pelan, tapi setiap katanya bagai pisau.
Dadaku terasa sesak. Ibu di rumah sakit, hutang yang menjerat, dan bayangan pria-pria yang mengejarku di kampus... semua menyeruak sekaligus. Dan di hadapanku, satu-satunya pria yang mampu menarikku keluar dari jurang ini berdiri dengan jarak yang tak pernah bisa kujelaskan.
Aku mengangkat wajahku perlahan, menatap matanya dalam-dalam. Sejenak, aku melihat dingin yang pekat di sana, tapi entah kenapa, aku juga menemukan sesuatu yang tersembunyi-entah kepedulian, entah luka, aku tak tahu.
Dengan suara yang bergetar, aku berbisik, "Saya terima, Pak... saya terima tawaran pernikahan itu."
Ruangan itu hening. Althaf hanya diam, menatapku beberapa detik tanpa ekspresi. Lalu, tanpa peringatan, bibirnya melengkung samar-sebuah senyum kecil. Bukan senyum bahagia, bukan senyum kemenangan. Lebih seperti... sebuah pengakuan dingin bahwa ia berhasil mengikatku.
Dan senyum itu, entah kenapa, justru lebih menusuk daripada kemarahan sekalipun.