Warning⚠️ dilarang boom like, jika tidak suka dengan karya ini, ... kalian boleh skip.
Bangun dari koma, Calista Nandini menatap aneh sekelilingnya. Asing, terlihat sangat asing. Lalu, siapa lelaki itu? Kenapa dia mengaku sebagai suaminya? Semua itu terus menari-nari di dalam otaknya, dan berusaha mencari sebuah jawaban atas dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Setelah menerima reaksi dari tubuhnya, Calista benar-benar ambruk. Melihat istri dari bosnya tidak berdaya, rasanya seketika mendapat angin segar. Berharap jika wanita itu tak pernah bangun.
Tidak berapa lama kemudian, Calista bangun dari pingsannya dan dengan tubuh tidak nyaman, ia mengusap beberapa bagian, hingga seseorang menghentikannya.
“Tahan!”
Seketika tangan itu berhenti menggaruk.
“Biarkan aku mengolesinya dengan ini, setelah itu kamu harus minum obatnya juga.”
Mendengar hal itu, Calista hanya diam. Bukan hanya Leo, tetapi ia juga tidak mengerti dengan tubuhnya yang sekarang karena mudah lelah.
“Idiot! Apa kamu bisa menjawab pertanyaanku ....” ujar Leo seraya mengolesi salep di beberapa bagian kulit Calista sebelum berbicara kembali.
Tak ada suara, tapi anggukan itu sudah memberinya jawaban.
“Susu kedelai, bukankah itu susu kesukaanmu. Lantas kenapa kamu tiba-tiba alergi,” lanjutnya lagi dengan menatap serius.
"Cih, apa dia kira aku ini istrinya? Sedari dulu aku memang alergi susu kedelai dan kacang." Namun, Calista hanya bisa mengumpat di dalam hati.
Melirik dengan tatapan sinis, begitu juga ketika dirinya menjawab. “Aku tidak tahu, jika tidak tahu ya tidak tahu, maka jangan bertanya lagi!”
Dua minggu Calista koma di rumah sakit, setelah sadar. Perubahan semakin terlihat jelas, bahkan ia sendiri bingung ketika berada di dalam situasi aneh ini. Jikapun penjelasan dokter menjadikannya dilema, seharusnya tidak banyak berpikir karena istri idiotnya kini menjadi wanita waras.
Leo sedikit menyimpan keganjalan, entah Calista memang istrinya atau memang orang lain. Namun, ia juga tidak bisa menemukan jawaban atas perubahan istrinya. Helaan napas terdengar berat, kedua tangannya berada di saku celananya dan ia yang sadar di tatap oleh Calista. Buru-buru mengalihkan pandangannya karena rasa canggung menyelinap begitu saja.
Sedangkan Calista sendiri dengan setengah bersandar tanpa basa-basi meminta Leo untuk keluar dari kamarnya. “Kamu bisa pergi, aku ingin istirahat.”
Tidak ada jawaban, tapi langkahnya mengayun sedikit berat dan ia pun keluar menoleh sekilas ke arah Calista.
Keesokan harinya.
Tubuh Calista pulih sepenuhnya. Mencari sosok yang sama sekali belum terlihat olehnya, kebetulan juga terlihat bibi sedang berada di satu ruangan. Hingga memutuskan bertanya tentang keberadaan Leo. "Bi, di mana tuan?"
Untuk pertama kalinya bibi melihat nona mudanya bertanya, seharusnya bibi senang ketika istri dari Leo itu mencarinya. Namun, kali ini dengan berat hati tetap menjawab. “Nona, tuan ada di ruang kerja. Bibi mohon jangan membuat masalah, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja dan tentunya … bibi takut jika Nona menjadi sasaran emosinya,”
Mendapat peringatan bukannya membuat Calista marah, justru ia tersenyum dan menyakinkan bibi jika semuanya baik-baik saja. “Bibi tenang saja, aku hanya ingin menemuinya dan tidak lebih.”
Bibi mengangguk paham, setelah itu beliau berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Di lantai atas, ruang kerja yang kini berpenghuni. Calista dengan tidak sabar mengetuk beberapa kali.
“Masuk!” Suara dari dalam menimpali.
Sedikit terkejut, ia yakin jika orang yang baru saja masuk bisa dipastikan akan membuat masalah. “Jika kamu ke sini hanya untuk menguji kesabaranku, maka pergilah!” serunya kepada sang istri.
Untuk sejenak, Calista menghela napas sebelum angkat suara. “Kapan kamu tidak salah paham kepadaku terus?”
Leo mendongak, untuk sesaat tatapan mereka bertemu. “Katakan, apa yang kamu inginkan, setelah itu pergilah dengan bibi.” Jawab Leo dan pandangannya kembali fokus ke layar depannya.
Alis Calista berkedut, kedua tangannya menyilang di antara dadanya dan sedikit mencemooh. “Tuan Leo, apa kamu tidak lelah?”
Sekali lagi, suara itu membuat Leo mengerutkan keningnya. Dalam hati ia berkata, ‘sejak kapan dia peduli denganku’ itulah yang kini ada di dalam hatinya.
Kali ini Leo tidak menatap wajahnya. Fokus pada berkas di depannya. Akan tetapi, bukan berarti dirinya mengabaikan tiap kata yang keluar dari mulut Calista. "Katakan saja dan jangan menjadi seolah istri dengan mental sehat,"
“Aku ingin pergi, tapi tidak dengan bibi.”
Seketika berkas yang semula ia bolak-balik akhirnya di tutup. Kedua matanya naik turun. Seolah jika Leo salah dengar dan melayangkan tatapan dingin ke arah Calista dan berujar "Apa kamu tidak salah ucap? Atau memang aku yang salah dengar,"
Gelengan kecil yang ditunjukkan Calista itu berarti bahwa ia tidak salah ucap, atau pun Leo salah dengar dan membalas. "Aku serius. Aku ingin pergi di temani oleh suamiku,"
Suami, sejak kapan Calista menganggap Leo suami? Bahkan dua tahun mereka bersama, bukannya terlihat sebagai pasangan suami istri. Melainkan seorang ayah yang mengasuh anaknya.
Helaan napas begitu jelas. Bahkan Calista pun bisa mendengar. Tidak ada yang tidak mungkin jika Leo memberi persetujuan, hanya saja … wasiat sebelum sang ayah pergi. Memintanya untuk terus menjaga terlebih dia hanya wanita lemah dan butuh sebuah perlindungan.
Suara dingin nyaris tanpa ekspresi itu pun akhirnya terdengar juga. “Ca, apakah aku tidak cukup baik padamu? Kenapa kamu terus membuat situasiku menjadi terus rumit.”
Untuk pertama kalinya Leo memanggil namanya. Membuat Calista berdiri tegak dan menatap penuh arti. “Aku tidak minta apa-apa, aku hanya ingin jalan-jalan. Apa itu terlalu menyusahkanmu?”
Dengan sedikit memberanikan diri, akhirnya Calista bertanya. “Apa itu sulit?” Untuk sekali lagi ia bertanya.
Melihat wajah memelas dari istri idiotnya. Membuat Leo benar-benar dilema. Dua tahun sudah mereka bersama, meski pernikahan diatur oleh orang tuanya. Lelaki yang terkenal kehebatannya dan ditakuti oleh orang. Sekali pun tidak pernah berlaku jahat kepada Calista. Hari-harinya terus dibuat pusing karena kelakuan istri itu. Lalu, tiba-tiba setelah sadar dari koma, … semuanya terbalik hingga tak mampu memikirkannya.
Tidak ada tanggapan, Calista pun berbicara lagi dengan nada sedikit meninggi. Sedikit ancaman, setidaknya ia yakin akan berhasil. “Kamu menolak? Jika benar. Aku akan membuat keributan!”
“Hanya ini satu-satunya cara untuk membuatmu luluh wahai suaminya orang.” Dalam hati Calista membatin dengan menyembunyikan tawanya.
Rahang Leo mulai terlihat, matanya memandang dengan kesal dan berbicara dengan nada mengancam juga. “Jika kamu berani membuat keributan. Aku akan benar-benar menjadikanmu gembel,”
“Ups … takut,” sahut Calista seraya menutup mulutnya.
Bukan hanya mengancam akan membuat keributan, tapi ia juga mulai mengungkap sifat asli dari suaminya. “Selama ini, kamu tidak pernah memberiku uang belanja, bukan? Jadi, anggap saja rencana kita keluar sebagai gantinya."
Seketika Leo tersedak, tidak menyangka jika wanita di depannya itu bisa berpikir untuk menanyakan uang bulanan. Yang mana memang tidak pernah ia berikan. Lagi pula, untuk apa Calista butuh uang itu? Toh, dia tidak membutuhkannya dan cukup dengan fasilitas seperti makanan, baju, mainan. Bahkan tidak berkurang sedikitpun. Aneh, ini sungguh aneh atau memang jangan-jangan …?
“Sudahlah, itu memang haknya.” Dalam hati Leo membuang semua prasangkanya.
Dengan wajah sedikit malu, mengambil ponsel dan bersiap untuk mentransfer sejumlah uang. “Aku akan mengirimnya.”
Namun, secepat kilat Calista memotong ucapannya dan berharap uang tersebut belum di kirim. "Tunggu!"
Leo pun berseru karena uang tersebut sudah hampir terkirim. “Ada apa lagi!”
“Antar aku belanja.”
Tidak dipungkiri bahwa Leo sekali lagi dibuat tercengang. Wajahnya yang syok tak bisa ia sembunyikan. Seolah ini adalah mimpi tidak nyata sekali seumur hidup.
Pada akhirnya Leo menyerah dan menyanggupinya. “Istirahatlah, besok aku akan mengantarmu belanja.”
“Kamu hari ini kerja?”
Mendengar pertanyaan yang aneh. Membuat Leo mengerutkan keningnya dan bertanya. “Apa lagi yang kamu butuhkan?”
Senyum manis terlihat meneduhkan hati. Untuk sejenak Leo terpaku hingga suara titahan membuatnya seketika sadar dari lamunannya.
“Kemarilah!”
Dengan malas, tetapi Leo menuruti perkataan Calista.
“Apa kamu tidak lelah terus menerus mengeluarkan tenaga? Lihatlah, sebulan lagi kamu akan menjadi tua.”
"Sialan, apa dia memintaku menghampirinya hanya untuk di hina?" batinnya.
Dengan kedua tangan terkepal Leo pun angkat bicara. “Apa kamu bilang?”
Suara tawa yang renyah itu pun membuat mengepalkan kedua tangannya. Gemertak giginya saling bergesekan, jika saja Calista seorang wanita normal. Mungkin saja ia tak akan tinggal tinggal diam.
pokoknya harus tuntas tuhhh buat terus kasih Clue siapa istrinya yg sekarang 👍😍😁