Di langit berbintang, seorang pria misterius bertopeng perunggu duduk di atas perahu kecil, membawa rahasia yang mampu mengguncang alam semesta. Ia telah kehilangan segalanya. ayah, ibu, sahabat, dan Yin’er, wanita yang tak tergantikan di hatinya. Demi memenuhi janji pada Yin’er, ia mengorbankan setengah sumber kehidupannya untuk menciptakan sebuah Klon Dao, wujud sempurna dari gabungan hidup mereka.
Namun, keputusannya menimbulkan kemarahan Zingtian, pria berjubah merah yang memanggilnya bajingan dan memperingatkan bahaya besar yang mengintai. Terlepas dari peringatan itu, proses penyatuan berlangsung selama sebulan, melahirkan jiwa janin istimewa yang bahkan disentuh oleh Kitab Takdir.
Kini, jiwa itu akan dikirim ke dunia kecil ChangYuan, disegel kekuatannya, agar tumbuh merasakan pahitnya dunia kultivator. Di balik keputusan itu tersembunyi rencana besar, rahasia para dewa, dan masa depan yang akan mengubah seluruh tatanan langi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan!
Malam telah merambat dalam, menusuk tulang dengan dinginnya yang lembap, ketika Chen Yu akhirnya kembali ke kamarnya. Setelah pertemuan beracun dengan Wen Ling dari Klan Wen, udara malam yang sebelumnya tenang terasa penuh dengan mata dan telinga tak terlihat. Pikirannya, yang telah diasah oleh kebangkitan dan penglihatan misterius, kini bekerja dengan kecepatan penuh, menganalisis setiap kata, setiap nada, setiap ancaman yang terselubung dalam kunjungan singkat itu. Dia menyadari dengan kejelasan yang menyakitkan: dunia kultivasi ini tidak hanya pertarungan frontal kekuatan YuanQi dan teknik dahsyat. Ini adalah labirin berlapis-lapis yang terbuat dari intrik, politik kotor, persekongkolan keluarga, dan permainan kekuasaan yang jauh lebih berbahaya daripada pedang tajam mana pun. Seorang kultivator yang hanya kuat tapi bodoh dalam permainan ini akan mati lebih cepat daripada orang biasa.
Dengan hati yang berat namun penuh kewaspadaan, dia mendorong pintu kayu kamarnya yang berat. Rencananya sederhana: kunci diri, kembali ke meditasi, menggali lebih dalam misteri simbol daun mulberry dan mencoba mengkonsolidasi pencapaian tahap awal Ju Jing-nya. Setiap saat berharga.
Tangan kanannya sudah berada di daun pintu, bersiap mendorongnya menutup, ketika suara itu datang.
Tok… Tok… Tok…
Ketukan pelan, hampir ragu-ragu, namun berirama. Bukan ketukan tegas penjaga atau pelayan senior. Ini ketukan seseorang yang tidak ingin menarik perhatian.
Chen Yu membeku sejenak, indra barunya yang peka merasakan tidak ada aura ancaman langsung. Dengan hati-hati, dia menarik pintu terbuka, hanya selebar cukup untuk melihat siapa di luar.
Bukan Wen Ling. Bukan penjaga galak.
Seorang pelayan muda, mungkin baru berusia belasan tahun, berdiri dengan tubuh agak membungkuk. Wajahnya bulat, masih polos, dipenuhi kegugupan yang nyata. Pipinya memerah, matanya tidak berani menatap langsung, dan tangannya meremas-remas ujung seragam pelayan sederhananya. Namun, di balik kegugupan itu, ada kesungguhan. Tatapannya, saat sesekali melirik ke arah Chen Yu, terlihat tulus, tidak mengandung tipu muslihat atau penghinaan seperti yang sering dia terima.
“T-Tuan muda Chen Yu,” pelayan itu berbisik, suaranya serak dan terburu-buru. “S-saya… saya diutus. Oleh Nona Muwan.”
Nama itu membuat alis Chen Yu meruncing hampir tak terlihat. Muwan? Dia sudah pergi ke sekte. Atau setidaknya seharusnya.
“Muwan?” Chen Yu mengulang, suaranya datar, mencoba menyembunyikan kejutan dan kehati-hatiannya.
Pelayan muda itu mengangguk cepat seperti burung pemakan biji, lalu dengan gerakan gemetar, menyodorkan sebuah objek dari dalam lipatan bajunya. Sebuah gulungan surat kecil, kira-kira sepanjang jari, digulung rapat dan diikat dengan sehelai pita sutra berwarna merah tua. Saat gulungan itu berpindah tangan, aroma samar menyentuh hidung Chen Yu. Aroma bunga anggrek. Lembut, elegan, dan dingin. Aroma yang sama persis yang melekat pada jubah Muwan, yang sempat dia cium di kamar saat pertemuan terakhir mereka. Ini adalah tanda pengenal yang tak bisa dipalsukan.
“Nona bilang…” pelayan itu melanjutkan, menurunkan suaranya hingga hampir seperti desis, matanya melirik ke kiri dan kanan lorong yang sepi. “… jangan beri tahu siapa-siapa. Bahkan… para tetua Klan Mu. Surat ini… hanya untuk Tuan muda. Hanya untukmu.”
Setelah menyerahkan surat itu, seolah takut berubah pikiran atau ketahuan, pelayan muda itu membungkuk dalam-dalam, hampir menyentuh lutut, lalu berbalik dan menyelinap pergi dengan langkah cepat dan ringan, menghilang di tikungan lorong yang gelap sebelum Chen Yu sempat berkata apa pun.
Chen Yu berdiri di ambang pintu selama beberapa detik, memandangi lorong kosong, lalu menutup pintunya dengan perlahan namun pasti. Kuncinya diputar, memberikan rasa aman yang semu. Dia berjalan menuju meja, di mana satu-satunya lentera di kamarnya menyala redup, menari-nari di atas meja kayu tua.
Dia duduk, meletakkan gulungan kecil itu di atas meja. Dia memandanginya. Pita merah itu seperti setetes darah di tengah kayu yang kusam. Aroma anggrek yang dingin masih melayang, bertentangan dengan suasana kamar yang pengap.
Dengan gerakan hati-hati, dia melepas ikatan pita. Sutra itu halus dan mahal di jari-jarinya. Lalu, dia membuka gulungan perkamen kecil itu.
Tulisan yang terbentang di hadapannya begitu khas. Tulisan tangan Muwan. Setiap goresan kuas atau pena sangat sempurna, rapi, tegas, dan penuh keanggunan yang terlatih. Huruf-hurufnya berdiri tegak, jaraknya presisi, mencerminkan disiplin dan ketertiban. Namun, di balik keindahan formal itu, terbaca sebuah kedinginan. Sebuah jarak. Seperti es yang diukir indah.
Isinya dimulai tanpa salam, tanpa basa-basi.
Untuk Chen Yu,
Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya sekarang. Tapi sejak ‘insiden’ penusukan di malam itu, ada sesuatu dalam dirimu yang berbeda. Sebuah perubahan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kesembuhan atau keberuntungan.
Seseorang yang lemah dan… polos… sepertimu seharusnya tidak bisa bertahan dari serangan yang begitu terfokus dan mematikan. Logika menyatakan kau seharusnya sudah menjadi mayat dingin. Tapi kau bertahan. Dan lebih dari itu, bukan hanya bertahan. Auramu, getaran YuanQi-mu yang samar sekalipun, telah berubah. Menjadi lebih padat. Lebih… tajam. Seperti pedang tumpul yang tiba-tiba diasah.
Mungkin aku salah menilai sejak awal. Atau mungkin… kau benar-benar menyembunyikan sesuatu. Sebuah rahasia. Sebuah identitas lain.
Apapun itu, ketahuilah: aku menulis surat ini bukan karena rasa peduli atau ikatan pernikahan kita yang kosong. Jangan berhalusinasi.
Tapi ada satu hal yang tidak kusukai: dikhianati. Digunakan sebagai bidak dalam permainan yang tidak kumengerti. Jika kau, dengan perubahan mendadakhmu ini, sedang memainkan permainan licik di balik layar, memanfaatkan Klan Mu atau bahkan aku, maka ingatlah baik-baik ini: aku berasal dari Sekte Langit Merah. Dan di sekte kami, serta di dalam hatiku, kami tidak pernah memberi ampun kepada pengkhianat. Pembalasan akan datang, dan itu akan pasti serta tanpa kompromi.
Namun… jika yang terjadi malam itu benar-benar bukan skenariomu, jika kau benar-benar hanya korban yang nyaris mati dan kini berusaha bangkit, maka anggaplah surat ini sebagai sebuah peringatan. Sebuah peringatan dari seseorang yang telah melihat cukup banyak permainan kotor di dunia ini.
Waspadalah terhadap Klan Wen. Mereka bukan hanya saingan bisnis atau politik biasa. Mereka memiliki mata dan telinga di tempat-tempat yang bahkan ayahku sendiri tidak selalu sangka. Jejaring intelijen mereka luas dan kejam. Jika mereka mulai mencurigai bahwa kau bukan lagi Chen Yu yang tidak berdaya, bahwa kau mulai menunjukkan ‘potensi’ yang tidak seharusnya dimiliki seorang yatim petani, maka bersiaplah. Bukan hanya mereka, tetapi banyak pihak lain di dalam dan luar klan ini akan mulai memandangmu sebagai target. Sebagai ancaman yang harus dinetralisir, atau sebagai alat yang harus direbut.
Kau bukan siapa-siapa saat ini. Di papan catur ini, kau masih hanya bidak paling lemah. Tapi bidak pun bisa berubah, jika bertahan cukup lama dan berada di kotak yang tepat.
Mu Wan
Tidak ada cap, tidak ada tanda tangan lain. Hanya namanya, tertulis dengan tegasan terakhir.
Chen Yu membacanya sekali. Lalu dua kali. Kemudian dia meletakkan gulungan perkamen itu di atas meja, memejamkan matanya.
Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, kata-kata itu bergema, bercampur dengan tatapan dingin Muwan, senyuman sinis Wen Ling, dan bayangan wanita di bawah pohon mulberry.
“Dia tidak sepenuhnya acuh,” gumamnya, suaranya rendah dan penuh perenungan. “Dia mengamati. Dengan cermat. Dia tahu… dia merasakan bahwa aku bukan lagi Chen Yu yang polos dan mudah digerakkan yang dia kawini secara paksa. Banyak hal yang tidak beres di sini.”
Pikirannya berputar cepat. Muwan tahu aku ditusuk. Tapi dia tidak menyebarkan berita itu, tidak membuat keributan. Mengapa? Apakah untuk melindungi nama baik Klan Mu? Atau karena dia sendiri curiga ada konspirasi internal? Atau… apakah dia, dengan caranya yang dingin, mencoba memberiku kesempatan untuk ‘menghilang’ dengan tenang jika aku memang mati, atau untuk bangkit tanpa gangguan jika aku selamat? Apa yang sebenarnya dia pikirkan?
Dia tidak punya jawaban. Muwan tetap menjadi teka-teki. Sebuah teka-teki yang berbahaya, karena dia berasal dari Sekte Langit Merah dan memiliki kekuatan serta koneksi yang jauh melampaui dirinya saat ini.
Chen Yu menggenggam tepi meja, knuckle-nya memutih. Hatinya bukan bergejolak karena kemarahan atau keharuan. Itu adalah gejolak kebingungan yang terfokus. Kebingungan karena motif yang tidak jelas, karena permainan yang terlalu dalam, dan karena realisasi bahwa bahkan dalam hubungan transaksional yang paling dingin sekalipun, bisa ada arus bawah yang kompleks.
Namun, satu hal yang jelas dari surat itu: peringatan tentang Klan Wen adalah nyata. Itu mengkonfirmasi kecurigaannya sendiri. Dan itu berarti bahaya sudah sangat dekat.
---
Pagi hari berikutnya, matahari baru saja menyembul di ufuk timur, mewarnai langit dengan semburat jingga dan merah muda pucat. Embun pagi masih menggantung di rerumputan liar di halaman samping ketika Chen Yu sudah berada di sana. Hari ini, dia mengenakan pakaian latihan sederhana berwarna hijau lumut, kainnya kasar namun nyaman untuk bergerak. Rambut hitamnya yang panjang, yang biasanya terurai atau diikat longgar, kini disanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher dan garis rahangnya yang tegas. Penampilan sederhana itu, ditambah dengan postur tubuhnya yang sekarang tegak dan penuh keyakinan, serta sorot mata yang tajam, menciptakan sebuah aura elegan dan ketampanan yang alami yang sulit diabaikan. Bukan ketampanan yang dibuat-buat, melainkan ketampanan yang berasal dari kedalaman karakter dan tekad baja yang mulai memancar.
Setiap gerakannya dalam melatih "Gaya Tiga Langkah Harimau" yang sudah direvisi oleh insting barunya, terlihat indah dalam kesederhanaannya. Sebuah tarian pertempuran yang efisien dan mematikan. Pukulannya menghantam udara dengan suara berdesis yang tajam, kakinya meninggalkan jejak ringan namun dalam di tanah lembap. Keringat membasahi pelipis dan tengkuknya, membasahi pakaian hijau di bagian punggung, namun itu justru menambah kesan ketekunan dan daya hidup.
Dia begitu tenggelam, menyempurnakan setiap detail, mengkoordinasikan napas dengan aliran YuanQi, sehingga hampir tidak mendengar pendekatan orang lain.
“Tuan muda Chen Yu…”
Suara itu memecah konsentrasinya, pelan namun jelas. Seorang pelayan wanita yang lebih tua, dengan wajah yang biasa-biasa saja namun ekspresi hormat yang tulus, berdiri di tepi halaman dengan kepala tertunduk. “Maaf mengganggu latihan Tuan muda. Tuan Patriark… memanggil Anda. Ke Aula Utama. Sekarang juga.”
Kata-kata "sekarang juga" diucapkan dengan penekanan halus.
Chen Yu menghentikan gerakannya di tengah-tengah pukulan berputar. Dadanya naik turun teratur, mengatur napas. Dia mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya, lalu mengangguk perlahan, wajahnya kembali ke ekspresi netral yang dia usahakan.
“Baik,” jawabnya, suaranya tenang. “Aku akan segera ke sana.”
Dia tidak buru-buru. Dia mengambil napas dalam-dalam, menyelesaikan siklus pernapasan, membiarkan YuanQi yang berkobar tenang kembali ke DanTian. Kemudian, dengan langkah yang tenang dan terukur, dia meninggalkan halaman samping, mengikuti pelayan wanita itu menuju jantung kekuasaan Klan Mu.
---
Aula Utama Klan Mu adalah pernyataan tentang kekayaan, kekuatan, dan tradisi. Langit-langitnya tinggi, ditopang oleh pilar-pilar kayu nanaka merah yang diukir dengan naga yang meliuk-liak, seolah-olah sedang berusaha terbang menuju langit. Lantainya dari marmer hitam mengilap, memantulkan cahaya dari lampion kristal besar yang menggantung. Di dinding, gulungan-gulungan kaligrafi dan lukisan pemandangan spiritual berganti-ganti dengan pajangan senjata kuno dan artefak yang memancarkan aura YuanQi samar. Udara di sini terasa berat, bukan hanya oleh kemewahan, tetapi oleh bobot keputusan dan kekuasaan yang telah berlangsung selama generasi.
Di tengah aula, di atas sebuah podium rendah, duduk Mu Tuzhi, Patriark Klan Mu. Dia mengenakan jubah formal berwarna hitam legam, disulam dengan benang emas membentuk pola awan dan naga yang rumit. Posturnya tegak, bahunya lebar, dan wajahnya yang biasanya ekspresif kini seperti topeng batu. Matanya, yang biasanya tajam dan menghitung, sekarang terasa seperti dua bola besi yang menatap lurus ke depan, menyapu siapa pun yang masuk.
Mengelilingi podium, di kursi-kursi kehormatan yang lebih rendah namun masih megah, duduk lima tetua keluarga. Mereka adalah pilar Klan Mu, masing-masing dengan bidang kekuasaan dan pengaruhnya sendiri. Ada yang tua dan berjanggut putih, matanya menyipit seolah tertidur namun memancarkan kewaspadaan. Ada yang setengah baya, dengan wajah keras dan bekas luka samar. Ada yang gemuk, dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata. Ekspresi mereka beragam: sebagian memandang Chen Yu dengan kedinginan yang tak tersembunyikan, menganggapnya sebagai noda pada kemurnian garis keturunan. Sebagian dengan kejijikan yang nyaris fisik, melihatnya sebagai parasit yang mengambil keuntungan dari keadaan. Sebagian lagi terlihat netral, hampir acuh tak acuh, seolah kehadirannya hanyalah agenda rutin yang harus diselesaikan.
Chen Yu melangkah masuk. Suara langkah kakinya yang tenang bergema di lantai marmer yang sunyi. Dia berjalan hingga jarak yang tepat di depan podium, lalu berhenti. Tanpa terburu-buru, dia menundukkan tubuhnya dalam-dalam, tangan ditangkupkan di depan dada dalam salam penghormatan standar seorang junior kepada senior dan pemimpin.
“Salam hormat untuk Patriark dan para Tetua yang terhormat,” suaranya keluar, jernih dan stabil, tidak bergetar, tidak terlalu keras atau terlalu lemah.
Mu Tuzhi tidak segera menjawab. Dia membiarkan keheningan itu menggantung, sebuah taktik kekuasaan klasik untuk menciptakan tekanan. Matanya yang seperti besi itu menelusuri setiap inci Chen Yu, dari sanggul rambutnya yang rapi hingga sepatu sederhananya yang masih ada noda tanah. Dia sedang mengukur, menilai perubahan yang mungkin sudah dia dengar dari laporan atau yang dia rasakan sendiri.
Akhirnya, suara Mu Tuzhi pecah, datar, bebas dari emosi, seperti hakim yang membaca vonis.
“Chen Yu. Klan Mu telah mengadakan pertemuan. Kami telah mempertimbangkan… keberadaanmu di sini. Statusmu. Dan masa depanmu.”
Dia berhenti, membiarkan kata-kata itu mengendap. Salah satu tetua tua berjanggut putih, yang matanya menyipit tadi, menyela dengan suara parau dan menusuk, seolah tidak tahan lagi.
“Pertimbangan itu sederhana, Patriark. Kami adalah klan terhormat dengan sejarah panjang. Darah kami murni, warisan kami kuat. Kami tidak membutuhkan… beban tambahan. Seorang menantu yang lemah, tidak memiliki latar belakang, dan menurut semua laporan, dia tidak memiliki bakat kultivasi yang layak, hanya akan menjadi noda pada nama keluarga Mu. Dia akan menjadi bahan tertawaan musuh-musuh kita.”
Kata-katanya tajam, bermaksud melukai, untuk merendahkan. Beberapa tetua lain mengangguk pelan, setuju dalam diam.
Chen Yu tetap diam di tempatnya, kepalanya masih sedikit tertunduk. Wajahnya seperti patung, tidak menunjukkan reaksi. Tapi di dalam dadanya, sebuah pertanyaan dingin muncul: “Mengapa mengangkatku sebagai menantu jika kalian sejak awal tidak menginginkan seorang menantu yang lemah dan tak berbakat? Apakah ini hanya untuk memenuhi kebutuhan politik sesaat, dan sekarang, setelah Muwan pergi dan tekanan dari Klan Wen sedikit mereda, kalian ingin membuang barang yang sudah tak berguna?”
Mu Tuzhi mengangkat tangan sedikit, sebuah isyarat kecil untuk mendiamkan tetua yang berbicara. Tatapannya masih tertuju pada Chen Yu.
“Keputusan telah diambil,” lanjut Mu Tuzhi, suaranya masih datar namun kini mengandung nada akhir. “Dua hari dari sekarang, kau akan dikirim ke Sekte Langit Cerah. Mereka memiliki perjanjian dengan beberapa keluarga besar di wilayah ini. Mereka menerima murid-murid berbakat luar biasa melalui seleksi ketat, tetapi… mereka juga menerima ‘murid kiriman’ dari keluarga yang memiliki hubungan tertentu. Sebuah kuota, bisa dibilang.”
Penjelasannya jujur, bahkan sinis. Qingtian Sect bukanlah sekte puncak seperti Hongtian Sect-nya Muwan. Itu adalah sekte menengah, cukup dihormati, tapi juga dikenal menerima ‘sumbangan’ atau ‘bantuan politik’ dari klan-klan dengan imbalan tempat bagi anggota keluarga yang kurang berbakat. Ini adalah tempat pembuangan yang terhormat.
“Kami tidak berharap banyak darimu,” kata Mu Tuzhi, dan kali ini, nada merendahkan itu jelas. “Jangan membuat Klan Mu dipermalukan dengan kegagalanmu yang terlalu mencolok. Tapi jika kau benar-benar ingin suatu hari nanti disebut, meski hanya secara formal sebagai bagian dari Klan Mu, maka inilah kesempatanmu. Buktikan dirimu di sana. Raih setidaknya pencapaian yang layak untuk disebut.”
Dia berhenti, dan udara seolah menjadi lebih padat. Kemudian, dia menambahkan, kata-kata terakhirnya jatuh seperti batu nisan:
“Atau… lenyaplah sebagai sampah. Dunia kultivasi luas dan berbahaya. Kecelakaan bisa terjadi di mana saja, bahkan di dalam sekte sekalipun.”
Ancaman itu telanjang. Tidak ada kemasan.
Suasana di aula terasa semakin menekan. Cahaya dari lampion kristal seakan menjadi dingin. Para tetua memandang Chen Yu, beberapa dengan ekspresi puas, seolah telah membuang sampah.
Chen Yu perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Dia tidak lagi menunduk. Matanya sekarang bertemu dengan mata Mu Tuzhi. Di dalam pandangannya, tidak ada ketakutan, tidak ada kemarahan yang meledak. Yang ada adalah ketenangan sebuah danau beku, dan di kedalamannya, terbakar api tekad yang tak akan padam.
“Baik,” jawabnya, suaranya tetap jernih dan tegas, menggema di aula yang hening. “Dua hari lagi, aku akan pergi ke Sekte Langit Cerah.”
Dia berhenti sejenak, memastikan setiap orang mendengar kata berikutnya. “Dan saat aku kembali, aku tidak akan mengecewakan Ayah Mertua. Aku akan membawa sesuatu yang bisa kau lihat sebagai… bukti.”
Kata “jika” sengaja dia selipkan, sebuah pengakuan akan bahaya, tapi juga sebuah tantangan halus.
Beberapa tetua mendengus pelan, menganggap perkataan itu sebagai kesombongan kosong seorang anak muda yang tidak tahu diri. Namun, Mu Tuzhi menatap Chen Yu lebih lama. Di balik topeng batu itu, mungkin ada kilatan sesuatu kekecewaan? Penghinaan? Atau mungkin, hanya sedikit kejutan karena ketegasan yang tak terduga dari bidak yang seharusnya pasif ini.
Akhirnya, Mu Tuzhi mengangguk sekali, singkat. “Kau boleh pergi. Persiapkan dirimu.”
Chen Yu membungkuk lagi, kali ini lebih pendek, sebuah penghormatan formal. Lalu, tanpa menunggu lebih lama, dia berbalik. Punggungnya lurus, langkahnya mantap, dia meninggalkan Aula Utama, meninggalkan pandangan-pandangan yang menusuk dan berat di belakangnya. Namun, di dalam dirinya, di tempat yang paling dalam, sebuah kobaran api telah menyala dengan dahsyat.
“Sekte Langit Cerah,” pikirnya, saat dia berjalan melalui koridor panjang yang sepi menuju kamarnya. “Tempat pembuangan. Tempat di mana mereka berharap aku akan tenggelam dalam ketidakberdayaan atau mati tanpa jejak.”
Dia mengepalkan tangannya di samping tubuh, kukunya menusuk telapak tangan.
“Baiklah. Jika ini cara dunia, cara ‘keluarga’ ini, memperlakukan seseorang yang mereka sendiri yang jadikan alat… maka aku akan membalas. Bukan dengan keluhan atau ratapan anak kecil. Tapi dengan kebangkitan yang akan membuat mereka semua, suatu hari nanti, menyesal pernah memandangku dengan sebelah mata.”
---
Malam kembali turun, menyelimuti kediaman Klan Mu dengan selimut ketenangan yang tipis dan mudah sobek. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga-bunga liar yang tumbuh di sudut-sudut taman yang tak terawat. Tapi di dalam kamar Chen Yu, ketenangan itu adalah ilusi. Suasana di sana sunyi, namun berat oleh pikiran yang berputar-putar dan persiapan yang dingin.
Chen Yu duduk di depan meja kayu sederhana. Di hadapannya, sebuah tas kecil dari kulit binatang, mungkin kulit rusa atau hewan biasa lainnya terbuka. Dengan gerakan pelan, dia melipat satu per satu pakaiannya yang sederhana, yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak ada kemewahan. Hanya kebutuhan dasar.
Di atas meja, di samping tas, tergeletak sebuah pedang kayu. Bukan pedang baja, melainkan pedang latihan yang terbuat dari kayu besi tua yang padat. Gagangnya sudah halus karena sering dipegang, bilahnya ada bekas-bekas terbentur. Ini adalah hadiah terakhir Kakek Chen, diberikan padanya saat dia berusia lima belas tahun, dengan kata-kata, “Ini untuk melindungi dirimu, Yu’er, saat kau berjalan sendirian.” Saat itu, itu hanya pedang mainan. Sekarang, di tangannya yang mulai dipenuhi YuanQi, benda sederhana ini terasa memiliki makna yang lebih dalam. Dia membungkusnya dengan kain kasar, lalu memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas, meletakkannya di samping pakaian.
“Sekte Langit Cerah…” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar. “Aku tidak tahu apa yang benar-benar menantiku di sana. Ujian? Permusuhan? Atau hanya pengabaian?” Dia berhenti, matanya menatap nyala lentera yang berkedip. “Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan membiarkan diriku diremehkan lagi. Tidak akan membiarkan mereka melihatku sebagai sampah yang bisa dibuang begitu saja.”
Dia berdiri, berjalan mendekati jendela. Langit malam terbentang, dihiasi bintang-bintang yang dingin dan jauh. Cahaya bulan pucat menyinari wajahnya, mempertegas garis ketegasan di sana.
“Tapi… Klan Wen.” Namanya diucapkan dengan desis dingin. Ingatan tentang sakit yang menusuk, tentang kegelapan yang mendekat, tentang sensasi darah mengalir menjauh dari tubuh… itu semua kembali dengan jelas. Lebih dari ingatan visual, itu adalah ingatan tubuh. Dan bersama itu, datang kesan samar tentang aura—sebuah aura yang licik, beracun, dan asing yang melayang di kamar malam itu. Bukan aura orang dalam Klan Mu. Itu aura penyusup.
“Aku belum punya bukti kuat,” akunya pada dirinya sendiri, menekan keinginan untuk marah. “Tapi hatiku, naluriku, jiwa yang baru ini… semuanya berteriak bahwa Klan Wen ada di balik semua ini. Mereka yang ingin pernikahan ini gagal. Mereka yang ingin Muwan tetap menjadi kandidat untuk putra mereka. Atau mungkin, mereka yang mencium sesuatu yang lain tentangku…”
Dia mengepalkan tangannya di ambang jendela, kayunya berderit pelan.
“Jika aku pergi sekarang ke Sekte Langit Cerah, bagaimana aku bisa menyelesaikan urusan yang belum selesai ini? Bagaimana aku bisa menemukan si pembunuh? Bagaimana aku bisa membalas tusukan yang hampir merenggut nyawa kedua kalinya ini?”
Frustrasi dan amarah mendidih di dalamnya, sebuah racun yang berbahaya. Namun, dia menarik napas dalam-dalam, memaksakan ketenangan. Insting bertahan hidupnya yang tajam berbicara.
“Tenang, Chen Yu. Kekuatan. Itulah kuncinya.” Dia mengulangi kata-kata itu seperti mantra. “Tanpa kekuatan, bahkan jika kau tahu persis wajah si pembunuh, bahkan jika kau memiliki bukti di tangan, apa yang bisa kau lakukan? Berteriak? Mengadu? Mereka akan menghancurkanku seperti menghancurkan serangga. Klan Wen lebih kuat dari Klan Mu dalam banyak hal. Dan aku… aku bahkan belum apa-apa.”
Dia menutup mata, berusaha meredam gelombang emosi yang ingin membawanya pergi untuk melakukan sesuatu yang bodoh dan heroik yang akan berakhir dengan kematiannya.
“Pergi ke Sekte Langit Cerah bukanlah pelarian. Itu adalah strategi. Tempat untuk tumbuh. Tempat untuk mendapatkan kekuatan yang cukup sehingga, saat aku kembali, aku tidak perlu berteriak mencari keadilan. Aku bisa mengambilnya sendiri.”
Dia berbalik dari jendela, kembali ke meja. Tangannya membuka laci kecil di samping tempat tidur. Di dalamnya, selain beberapa benda pribadi yang tidak berharga, terbaring selembar surat. Surat dari pelayan kepercayaan Muwan yang disampaikan malam sebelumnya. Dia telah membacanya berulang kali, menghafal setiap baris, setiap nuansa.
Isinya masih segar, bergema dalam pikirannya.
Berhati-hatilah. Tak semua orang di balik tembok megah ini ingin kau hidup. Nona Muwan… mungkin terlihat seperti es yang tak bisa mencair, tapi percayalah, di balik itu, bukan tanpa hati. Dia memperhatikan. Dia melihat. Jangan pernah membiarkan orang-orang itu, yang tersenyum di siang hari dan menyiapkan pisau di malam hari, melihat sedikit pun kelemahan atau ketidakpastian dalam dirimu.
Chen Yu menghela napas panjang, suaranya terdengar lelah namun penuh penerimaan.
“Muwan… meskipun kita dipaksa oleh keadaan, meskipun kata-katamu tajam dan sikapmu dingin… ternyata kau bukan sekadar wanita angkuh dan tanpa perasaan seperti yang terlihat di permukaan. Ada kedalaman di sana. Sebuah kewaspadaan. Dan mungkin… hanya mungkin… sebuah bentuk ‘kepedulian’ yang sangat tersamar.”
Dia menatap bulan sekali lagi melalui jendela, seolah-olah bisa melihat masa depan di balik cahaya pucatnya.
“Sekte Langit Cerah… mungkin memang tempat yang tepat bagiku untuk sekarang. Tempat untuk berakar, untuk tumbuh dalam bayangan, jauh dari pusat intrik ini. Tapi ingatanku tentang tusukan ini, dendam terhadap ketidakadilan ini… itu tidak akan kulanpakan. Tidak akan kumaafkan.”
Suaranya kini berubah, menjadi lebih rendah, lebih berbahaya, penuh tekad yang tak terbantahkan.
“Klan Wen… cepat atau lambat, aku akan kembali. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan datang sebagai korban yang mencari keadilan. Aku akan datang sebagai badai yang menuntut pertanggungjawaban.”
---
Pagi berikutnya, bahkan sebelum ayam jantan berkokok, Chen Yu sudah berada di ruang latihan kecil yang jarang digunakan di dekat kamarnya. Dia kembali ke rutinitas: mempraktikkan teknik dasar tempur, menyempurnakan aliran YuanQi, mengkonsolidasikan fondasi tahap awal Ju Jing-nya. Setiap gerakan kini dilakukan dengan mantap yang baru, sebuah keyakinan yang berasal dari pencapaian dan tujuan yang jelas. Setiap pukulan lebih padat, lebih penuh dengan tekad.
Seorang pelayan muda yang ditugaskan untuk membantu mempersiapkan keberangkatannya, berdiri di pinggir halaman kecil, membawa beberapa perlengkapan perjalanan. Dia diam-diam mengamati Chen Yu yang berlatih, dan matanya melebar sedikit, takjub.
“Orang ini…” bisik pelayan itu pada dirinya sendiri, suaranya hampir tak terdengar. “Dia… benar-benar berbeda dari orang yang beberapa hari lalu terlihat pucat dan hampir mati di kamarnya. Gerakannya… aura-nya… seperti orang yang telah berlatih bertahun-tahun. Apa yang terjadi padanya?”
Saat matahari pagi akhirnya naik sepenuhnya, menyinari halaman dengan cahaya keemasan, sebuah kereta kuda yang sederhana namun kokoh telah menunggu di gerbang depan kediaman Mu. Kereta itu hitam, dengan lambang Klan Mu, sebuah naga yang melingkari gunung, dicat dengan cat perak di sisinya. Itu bukan kereta mewah untuk anggota keluarga inti, tetapi cukup baik untuk seorang ‘menantu kiriman’. Dua penjaga berwajah keras dan bersenjata lengkap sudah duduk di depan, ekspresi mereka acuh tak acuh. Seorang pelayan senior, mungkin sebagai pengawas dan penghubung, sudah berdiri di samping pintu kereta, memegang segulang dokumen.
Chen Yu muncul dari dalam, hanya membawa tas kulitnya yang kecil. Dia mengenakan pakaian perjalanan sederhana berwarna biru tua, rambutnya masih disanggul rapi. Wajahnya tenang, seolah-olah dia hanya akan melakukan perjalanan singkat, bukan pergi ke sebuah sekte yang asing dan mungkin bermusuhan.
Sebelum naik ke dalam kereta, dia berhenti sejenak. Perlahan, dia menoleh, memandangi kediaman besar Klan Mu di belakangnya. Istana megah dengan paviliun-paviliunnya, taman-tamannya, dan tembok-tembok tingginya yang melambangkan kekuatan dan keterpisahan. Tatapannya tidak penuh nostalgia atau kebencian. Itu adalah tatapan seorang analis, seorang strategis yang mencatat titik awal.
“Selamat tinggal, untuk sekarang,” gumamnya, suaranya hanya cukup keras untuk didengarnya sendiri. “Waktunya untuk membuka jalan baru. Jalanku sendiri.”
Dengan gerakan lancar, dia naik ke dalam kereta. Pintu ditutup oleh pelayan senior. Sebuah perintah diberikan, dan dengan pekikan ringan kusir dan derikan roda di atas batu paving, kereta itu mulai bergerak. Membawa Chen Yu meninggalkan kandang singa Klan Mu, menuju hutan belantara yang bernama Sekte Langit Cerah, di mana pertaruhan sesungguhnya baru akan dimulai.