Follow IG: harumini_12
“Percuma shalat, mainnya saja ke klub malam,” cibir Meri pada sang suami yang belum ada sehari menikahinya.
“Dari pada kamu, shalat tidak, ke klub malam iya,” celetuk Oza, seorang pria tampan, pemilik beberapa hotel bintang lima didalam dan juga luar negeri. Yang terpaksa menerima perjodohan yang dilakukan oleh sang mommy, dengan gadis yang ditemuinya di klub malam saat dia sedang menghadiri acara pesta ulang tahun rekan kerjanya.
mengingat keduanya bertemu pertama kali di sebuah klub malam, membuat keduanya salah paham, tanpa tahu yang sebenarnya terjadi. Mengingat lagi pertemuan keduanya di klub malam, mereka sama- sama sedang menghadiri pesta ulang tahun.
Bagaimana keduanya menjalani rumah tangga yang bagaikan kucing dan anjing, akankah ada cinta yang tumbuh diantara keduanya dengan berjalannya waktu, atau sebaliknya, ketika mereka sama-sama memiliki pujaan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaruMini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lubang Paralon
Oza yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, langsung menggelengkan kepalanya, saat tirai yang setiap pagi dia buka agar sinar matahri menyinari kamarnya, kini tertutup kembali. Dan Oza yang ingin menuju ruang ganti, dia urungkan, dan kedua kakinya melangkah menuju arah tirai untuk membukanya kembali.
Dan saat sudah membuka tirai tersebut, dia melihat Meri yang kembali terlelap diatas sofa, lalu dia menggelengkan kepalanya. “Kenapa aku bisa menikah dengannya ya Tuhan, apa aku salah mengucapkan doa, tapi sepertinya tidak,” ucap Oza yang selalu berdoa agar dia bejodoh dengan wanita bukan seperti Meri yang sedang ditatapnya, dimana Meri sedang menggeliat karena tidurnya kembali terusik, saat sinar matahari yang sudah muncul kini menerpa wajahnya.
“Woy siapa lagi yang membuka tirai itu!” teriak Meri setengah membuka matanya.
“Aku,” sahut Oza yang kini berjalan melewati sofa yang Meri tiduri.
“Tutup kembali tidak!”
“Tidak,”
“Tutup!”
“Tidak,”
“Dasar menyebalkan,” kini Meri coba turun dari sofa berniat untuk menutup tirai, karena nyawanya belum terkumpul semua, dia kehilangan keseimbangan dengan satu tangannya coba untuk meraih sesuatu untuk menjadi pegangan.
Bruk!
Meri terjatuh saat tangannya yang tadi meraih sesuatu untuk pegangan, malah menarik handuk yang Oza kenakan saat dia yang melewati sofa dimana Meri berada, untuk menuju ke ruang ganti. Hingga handuk tersebut terlepas dari pinggangnya, membuat Oza langsung membalik tubuhnya untuk mengambil handuk yang kini jatuh dilantai dimana Meri juga terjatuh.
Mata Meri yang tadi belum terbuka, kini membulat sempurna, ketika melihat sesuatu menggelantung di antara kedua paha Oza, yang kini langsung mengambil handuknya dan kembali melilit pinggangnnya, lalu meninggalkan Meri tanpa mengatakan apa pun.
Setelah kepergian Oza, Meri yang masih tergeletak diatas lantai terus mengedip ngedipkan matanya dan mengingat sesuatu yang menggelantung, yang baru saja dilihatnya. “Apa itu tadi, apa itu terong miliknya? Tapi kenapa bentuknya seperti itu, aneh sekali,” ucap Meri, yang pernah melihat alat reproduksi milik pria, tapi tidak seperti yang baru dia lihat. Karena yang Meri lihat di film biru yang pernah dia tonton bersama dengan sang sahabat, alat reproduksi prianya sudah berdiri tegak sempurna. “Apa dia terkena penyakit alat reproduksi ya,
karena sering keluar masuk lubang paralon,” ucap Meri lagi dengan pikirannya sendiri.
Kemudian Meri beranjak dari lantai sambil tersnyum. “Baguslah jika dia terkena penyakit alat reproduksi, jadi aku aman,” Meri pun langsung mengukir senyum, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Semoga dia tidak melihatnya, bisa turun harga diriku,” ucap Oza yang sudah berada di ruang ganti, berharap Meri tidak melihat benda pusakanya yang sedang tertidur pulas, karena hingga saat ini belum ada satu wanita pun yang pernah melihat aset berharganya tersebut.
“Sayang, kenapa kamu hanya turun sendiri. Dimana istrimu?” tanya mommy Berlian saat melihat sang putra hanya seorang diri menuju meja makan.
“Dia masih berada didalam kamar mandi, Mom,”
“Di jam segini?” tanya mommy Berlian sambil mengukir senyum. “Bagaimana malam kedua kamu tidur bersama istri kamu, apa sudah apa perkembangan?” selidik mommy Berlian yang berharap sang putra sudah menggauli istrinya.
“Mom, aku lapar, dan jangan bahas hal itu,”
“Oke, mommy tahu, memang terasa sangat lapar setelah berolah raga malam,” ledek mommy Berlian yang menganggap sang putra sudah membobol pertahan sang istri. Lalu dia membalik piring yang berada di meja tepat dimana Oza sudah duduk dikursi makan, lalu mengambilkan menu sarapan kesukaan sang putra. “Kamu harus makan yang banyak agar tetap kuat,”
Oza tidak ingin menanggapi perkataan sang mommy, karena dia tidak ingin sang mommy berpikir jauh tentangnya yang tidur satu kamar dengan Meri yang sudah menjadi istri sahnya.
“Selamat pagi Mommy,” sapa Meri yang baru bergabung diruang makan, tapi tidak menyapa sang suami yang sedang lahap menyantap menu sarapan yang tidak asing bagi Meri.
Membuat mommy Berlian langsung menoleh kearah Meri, lalu melotot melihat sang menantu.
Bersambung..............
jagain tuh oza..
repot kl masih oleng
blom kapok ya tian jeblosin lgi k penjara aja tuuh dua2nyaa