NovelToon NovelToon
Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:635.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: m anha

Zahra memutuskan menikah dengan pria yang baru saja hadir dihidupnya. Cinta pada pandangan pertama itulah yang dialaminya hingga ia memutuskan hal yang penting tanpa tau lebih dalam pria yang akan di jadikan sebagai imamnya itu. Meninggalkan semua kebahagiaan kehidupan lamanya.

Kebahagian dirasakannya diawal pernikahan hingga semua hancur karena sebuah kecelakaan yang merenggut bayi yang ada di dalam kandungannya.

Zahra mengalami keguguran, ia kehilangan bayinya dan juga mendapat masalah pada rahimnya. Kemungkinan untuk menjadi seorang ibu sangatlah kecil.

Bukan hanya kehilangan bayinya, Zahra juga kehilangan kebahagiaan dalam rumah tangganya.

Akankah Zahra kembali bisa merasakan kebahagiaan dalam rumah tangganya?

Akankah Zahra berhasil dalam perjuangannya untuk menjadi seorang ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon m anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permohonan Zahra

Arham belum  pulang saat makan malam membuat ibu merasa sangat geram. Ia mengetuk pintu kamar Zahra yang sejak ia pulang tadi pintu itu terus tertutup rapat, Zahra juga tak pernah keluar dari kamar itu.

"Zahra keluar kamu! Apa yang kamu lakukan di kamar terus?" teriak Wani menggedor pintu kamar menantunya.

Zahra yang sedang berbaring di tempat tidurnya terkejut mendengar suara ketukan dan teriakan mertuanya. Ia pun bergegas membuka pintu, ia tak ingin membuat mertuanya itu semakin marah padanya dengan berlama-lama membuka pintu.

"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Zahra yang sudah membuka pintu. Melihat wajah kemarahan mertuanya.

"Apa saja yang kamu lakukan didalam? Bukannya membantu bibi menyiapkan makan malamnya kamu malah enak-enak tidur. Apa kamu sudah makan sehingga terus mengurung diri di kamarmu? Mau sampai kapan kamu akan keluar? Sampai suamimu yang tak tahu di mana dia sekarang itu pulang kerumah?"  Zahra hanya terdiam menanggapi ocehan mertuanya itu.

"Sebenarnya di mana Arham? Coba kamu telepon dia dan suruh dia pulang secepatnya. Ibu sudah beberapa kali menghubunginya. Namun, ponselnya tak diangkatnya," ucap Wani melipat tangannya di dada.

Zahra yang mendengar itu langsung mengambil ponselnya mencoba menelpon Arham.

Suara jaringan pertama Arham langsung mengangkat panggilannya.

"Halo, Mas.  Kamu di mana?" tanya Zahra.

"Aku masih di kantor, ada apa?"

"Apa yang kamu lakukan di kantor pada jam seperti ini?  Pulang sekarang! Ibu  ingin bicara padamu," ucapkan yang mengambil  ponsel yang sedang dipegang oleh Zahra.

"Iya, Bu. Aku pulang sekarang," jawab Arham lagi-lagi tunduk dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Setelah mematikan ponselnya Alham  menghela nafas sejanak. Tadi ia sengaja tak mengangkat panggilan dari ibunya itu, ia ingin menghindari ibunya atau lebih tepatnya menghindari pembahasan tentang meminta izin pada Zahra untuk dirinya menikah lagi.

"Kamu lihat kan! Karena kamu anak saya sekarang sudah berubah. Dulu ia tak pernah membangkang sedikitpun apa yang saya katakan. Namun, sejak kamu hadir dalam hidupnya dia selalu saja tak menurut apa yang saya katakan  termasuk hari ini." Wani kembali memberikan ponsel Zahra secara kasar.

Zahra dengan sikap menangkap ponselnya saat mertuanya itu melemparkannya kepadanya.  Ponsel itu hampir saja terjatuh ke lantai. Zahra hanya melihat mertuanya itu berjalan keluar.

"Apa malam ini aku harus mendengar  kata-kata itu dari mas Arham" gumam pelan Zahra, ingin rasanya dia pergi dari rumah itu agar kata-kata yang tak ingin didengarkannya tak sampai di telinganya. Ingin rasanya ia pergi ke tempat lain agar bisa menghindari semua itu, ia bisa merasakan sakitnya bahkan saat Kalimat itu belum terucap dari mulut suaminya. 

Setelah 1 jam Arham pun datang. Zahra yang mendengar suara mesin mobil suaminya mengintip dari balik jendela, ia ingin keluar. Namun, kembali  mengurungkan niatnya.

"Lebih baik  aku tunggu Mas Arham di dalam kamar saja," gumamnya masih berdiri depan pintu dan sedikit memundurkan langkahnya memberi jarang dari pintu agar suaminya bisa masuk.

"Arham tunggu," panggil ibu saat melihat putranya itu berjalan menuju ke kamarnya.

Arham kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya dan berbalik berjalan kearah Ibu. Ia tak punya pilihan lain selain menghampiri ibunya itu.

"Ada apa, Bu?" tanya Arham.

"Malam ini kamu harus bicara kepada istrimu masalah permintaan ibu. Saat sarapan ibu harus mendengarkan jawabanmu jangan menghindari ibu.  

"Baik, Bu. Aku akan bicara pada Zahra," jawabnya karena memang ia tak punya jawaban lain yang ingin didengarkan oleh ibunya.

Begitu ibunya itu kembali berjalan menuju kamarnya, Arham juga berjalan gontai menuju lantai dua dimana kamarnya berada.

 Arham menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan sebelum memegang gagang pintu.

Dengan perlahan Arham membuka pintu dan melihat Zahra tepat di hadapannya, Ia sudah menyusun kata-kata yang tepat untuk mengatakan semua itu saat di jalan tadi. Namun, tiba-tiba semua itu hilang dari kepalanya.

"Mas" lirihnya semakin membuat Arham merasa berat mengungkapkan apa yang diminta oleh ibunya.

Zahra mengambil tas kerja suaminya serta jasa yang menggantung di lengan. Zahra menyimpannya di tempat yang semestinya. Arham kemudian berjalan menuju kekasur mereka.

Arham melepaskan sepatu serta kaos kaki, Zahra dengan sigap membantunya dan semua itu semakin memberatkan Arham.

Selama mereka menikah Zahra selalu mengurusnya dengan sangat baik, bahkan hal kecil sekalipun. 

Arham menarik Zahra untuk duduk di sampingnya, menggenggam erat kedua tangan istrinya itu.

'Jangan, Mas. Aku mohon jangan katakan itu, Semua itu akan menyakitiku," batin

Zahra menunggu apa yang ingin suaminya itu katakan. Zahra mengatur ritme jantungya yang terdengar. Ada yang ingin aku katakan.

"Zahra. Aku minta maaf, aku sama sekali tak bermaksud untuk mengatakan ini padamu, tapi aku tak bisa menolak keinginan ibu. Kau tahu sendiri kan bagaimana ibu. Ia tak akan berhenti meminta sesuatu sampai mendapatkannya," jelas Arham. Semua itu semakin membuat hati Zahra bergejolak.

"Zahra mohon maaf aku." Arham menjeda kalimat  dan menatap mata Zahra

"Ada apa, Mas. Katakan saja," ucap Zahra yang sudah siap dengan apa yang akan didengarkan. Walaupun ia menunda semua itu ia akan tetap  didengarnya  dilain kesempatan.

"Ibu meminta ku menikah lagi agar ibu bisa memiliki cucu secepatnya," jawabnya semakin mengeratkan genggaman tangannya.

"Aku mohon beri aku waktu. Aku akan berusaha agar kita bisa kembali memiliki seorang anak. Aku yakin aku bisa memberimu seorang anak dari rahimku ," ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.

"Maaf. Aku juga tak ingin melakukan semua ini, tapi semua keputusan ada pada ibu. Andai aku bisa aku akan memberikan waktu untukmu, tapi aku tak bisa melawan ucapan ibu."

"Tidak. Mas. Jangan katakan itu! Itu sangat menyakitiku, aku mohon jangan duakan aku, beri aku kesempatan, Mas!" lirih Zahra yang kini sudah menitihkan air matanya.

Arham mengusap air mata istrinya itu, ia juga tak tega melihatnya. Namun, ia sama sekali tak punya kekuatan untuk membantah ibunya.

"Baiklah, Aku akan coba bicara pada ibu untuk meminta waktu untuk kita." Arham mengelus perut Zahra yang sudah rata, kenangan saat tendangan bayinya masih terjelas teringat di kepadanya. Arham yang tak tahan akan ingatan itu dengan cepat berpaling dan bergegas  masuk ke kamar mandi. 

Zahra sedikit lebih tenang saat mendengar jika suaminya  memberikannya waktu.

****

Saat pagi hari waktu yang menegangkan pun tiba. Hari ini Wani sudah duduk di meja makan dan meminta Zahra  dan juga Arham duduk di dekatnya.

"Bagaimana Arham? Apa kamu sudah membahasnya pada istrimu?? bertanya Wani. 

Arham terdiam, ia tak  berani mengatakan pada ibu jika ia memberikan waktu pada Zahra.

"Jangan hanya diam saja. Jika kau tak bisa mengatakannya biar ibu yang bicara padanya."

"Bu, Aku mohon berilah Zahra Waktu, aku yakin dia pasti bisa hamil lagi. Aku mohon, Bu."

"Sampai kapan? Sampai ibu tak bernyawa? Pokoknya ibu tak mau tau. Kau harus menikah lagi." 

"Bu. Aku yakin aku bisa memberikan keturunan pada keluarga ini." 

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻
Salawati Sal
Buruk
my name
orang punya penyakit hati itu ngak akan pernah bahagia
my name
duar...tabrakan tk bisa dihindari dan akhirnya nasya kehilangan bayinya 😁
my name
tentu saja arga lebih segalanya darimu arham dan kau laki laki pengecut yg akan menyesal seumur hidup
my name
arga kan kaya raya ngak sangupkah dia sewa bodyguard buat zahra dan juga arham levelnya jauh dibawah arga kenapa jg ngak dibikin arham jatuh miskin kan gampang tuh
my name
begonya zahra kenapa ngak lari keluar malam masuk kamar
my name
tiponya banyak bgt thor jadi yg baca sering2 mikir sendiri dengan kata yg pas
my name
jangan jangan itu bukan bayi arham dan nango setelah zahra bahagia baru terbongkar kalau itu bukan anak arham
my name
good job zahra 👍
my name
semangat zahra 💪
my name
kamu orang baik dan akan dipertemukan dengàn yg baik
my name
benar apa kata p sopir, ciptakan kebahagian untuk diri sendiri zahra tetaplah semangat 💪👍
my name
hapus airmatamu zahra ngak pantas laki2 pengecut kau tangisi, airmatamu terlalu berharga buat arham
my name
Luar biasa
my name
sepandai pandainya tupai melompat pasti akan jatuh jg, sebentar lg kebohonganmu terbongkar arham
my name
semoga aja arga yg menjadi jodohnya zahra
my name
arham bodoh nesya gatel
my name
zahra yg kuat y 😥
seorang istri berjuang sendiri demi rumah tangganya utuh kembali
my name
zahra jangan jd bodoh y tinggalkan arham dia pengecut laki2 lemah tk bertanggung jawab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!