NovelToon NovelToon
Maidatul Khan

Maidatul Khan

Status: tamat
Genre:Teen / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:158.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rifa Mukherjee

Bukan dari garis keturunan Salman Khan, Amir Khan, apalagi Shahrukh Khan. Hanya anak gadis dari seorang ayah bernama Farkhan. Maka dari itu akhir dari namaku di tambahkan Khan. Bukan ayah pecinta Bollywood juga, hanya untuk genap-genap saja. Agar sedikit beda dari anak tetangga sebelah yang bernama Maidatul Khasanah.

Tidak cantik, tidak menarik. Cuma baik hati dan rela berkorban. Sangking relanya sering di manfaatkan. Hobi rebahan, cita-cita menikah muda tapi sepertinya sulit. Makanan favorit apa saja yang berkuah, terutama bakso kuah.
Mencintai laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya. Siapa saja yang menyatakan cinta pasti aku terima. Aku mudah jatuh cinta, apalagi dengan laki-laki tampan. Walaupun ujungnya aku pasti merana.

Gara-gara makhluk sialan bernama jerawat, hidupku harus jungkir balik. Cari kerja nyata susah, apalagi cari jodoh yang kasat mata.

Maidatul Khan namaku dan ini kisahku😏

....

follow author: Rifa Mukherjee
IG: makrifatunbintikhafidzin

cover by: @tiadesign_

selamat membaca😁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5: Bukan Gadis Tangguh

Tiga bulan berlalu. Datul kira dia akan mati setelah putus dari Zaen brekele. Kenyataannya sampai hari ini dia masih bernafas, masih perlu makan, masih harus mencuci baju yang menggunung di ember pojokan kamar mandi. Dan yang utama Datul masih memerlukan uang untuk membeli skincare. Malu jika terus-menerus nyadong, minta Bapaknya.

"Lihat saja, aku sudah menetapkan hati, untuk tidak lagi mudah jatuh cinta!"

"Aku mau fokus cari uang yang banyak, beli motor, beli skincare yang mihil, aku mau jadi cantik seperti Cinderella, setelah itu bertemu pangeran berkuda dan hidup bahagia"

Ocehan Datul hanya di tanggapi Maktun dengan memutar bola mata. Maktun tahu betul bagaimana Datul itu. Tidak mudah jatuh cinta? Di belikan cowok es teh doang aja dia udah baper klepek-klepek kek ikan munjahir. Maktum tidak yakin, Datul bisa menepati janjinya sendiri.

"Berarti fix besok kita ambil kesempatan training di pabrik garmen itu ya?"

Datul mengangguk mantap. Baru kemudian Maktun pamit pulang. "Besok aku jemput jam enam, jangan molor, telat datang semenit aja bisa-bisa kita langsung di suruh pulang,"

"Aku denger emak-emak di sana garang-garang, tapi jangan khawatir, segalak-galaknya mereka, mereka tetap manusia, sama seperti kita, ga mungkin juga mereka gigit kita kan!"

Datul manggut-manggut, asal bareng Maktun dia merasa aman dan terlindungi. Datul terbiasa jadi ekor, jadi cukup membuntut saja.

"Eh Tul aku punya cerita lucu!" Baru ingat dengan mimpinya semalam, Maktun yang udah nangkring di atas motor malah kembali ngoceh.

Datul meringis, hingga matanya yang sipit jadi segaris.

"Aku belum mulai cerita Maidatul Khan, kenapa kamu udah pamer gigi gitu"

Datul ngakak, lantas memukul lengan sahabatnya itu. "Hla bilang cerita lucu ya udah refleks aku ketawa, sekarang cepet cerita, apa yang lucu?"

Datul sudah memasang dua telinga untuk menyimak. Maktun malah menyalakan motor.

"Ga jadi aja, udah lupa mau cerita apa tadi"

"Hoooooo... dasar! Malah bikin penasaran!"

"Bye Datul mentul-mentul! Hahaha..."

Datul manyun-manyun. Di tinggal pulang setelah di buat penasaran. Ganjel, apanya yang lucu coba!

****

"Budiiiiiiiiii!!!!!!"

Itu suara Ko Ajik, belum terlihat orangnya tapi suaranya sudah menggema, membuat bulu kuduk berdiri. Menyeramkan. Ko Ajik itu kepala bagian Handsand. Dan Budi itu tangan kanannya. Seorang wanita bukan laki-laki meski namanya Budi, Rina Budi Pratiwi nama lengkapnya.

"Iya Ko gimana?"

"Anakmu hlo itu di ingatkan lagi, target, target perjam! Jam berapa ini? kenapa baru dapat segini!" Ko Ajik melempar kertas berisi laporan target perjam di meja dengan kasar.

Wanita itu menunduk, sebagai orang yang bertanggung jawab di bagian itu, setidaknya dia harus mampu memberikan alasan yang masuk akal pada atasannya.

Dan di sana, di tempat itu, saat itu juga. Datul dan Maktun hanya bisa menekuni pekerjaan yang belum sepenuhnya bisa mereka kuasai. Jangan sampai saja melakukan kesalahan sekecil apapun itu, kalau tidak mau di amuk.

Tubuh Datul bahkan sudah bergetar hebat. Dia terbiasa hidup berdua dengan ayahnya saja. Sepi. Tanpa teriakan, tanpa bentakan. Farkhan bisa di pastikan jarang marah. Mentok ngomel tok.

Lalu inikah yang namanya dunia kerja? Sekeras ini? Di teriaki, di marahi, oh... sanggupkah Datul?

"Ko, banyak anak baru, wajarlah belum pada target..."

"Ngerti saya Bud, tapi yang lawas juga banyak, kebanyakan kerja sambil ngobrol mereka, jadi lamban tangannya." Ucap Ko Aji dengan mbondo tangan di balik tubuhnya.

"Kerja tangannya, bukan mulutnya! Anak baru juga, usaha kerja cepet! Ngerti!?"

Datul menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah Ko Ajik sedikit pun. Lantas hanya mengangguk kecil seperti yang lain. Setelah pria itu pergi barulah mereka bisa bernafas dengan normal.

Pekerjaan mereka bukan pekerjaan enteng. Mengamplas celana jeans yang masih setengah produksi alias masih mentah itu sungguh menyiksa jari-jari tangan mereka. Kalian pernah memegang amplas 1000?

Itu amplas kasar sekali, bahkan sudah melilitkan lakban kertas di jari-jari mereka, masih saja lakban itu bisa sampai bolong kog.

Biar apa celana jeans kog di amplas?

Kalian tahu jeans merek Levis, Denim, atau Oldblue.co? Ada beberapa model jeans yang terdapat efek garis-garis, atau bayangan bahkan seperti efek lipatan-lipatan. Garis-garis atau bayangan itu yang merupakan hasil dari proses amplas mengamplas ini. Sumpah, tangan Datul perih. Jempolnya terasa sudah bengkok.

Apa aku menyerah saja? Baru tiga jam berdiri di sini, rasanya sudah berabad-abad. Jarum jam itu bahkan seperti lambat sekali berputarnya. Tapi kalau aku nyerah, eman-eman juga, cari kerja susah, masak iya giliran dapat aku nyerah lagi... apalagi aku denger juga gajinya besar jika sering-sering lembur... galau-galau.... Makk... gimana nih...

Datul hanya mengungkapkan itu dalam hati. Tidak mungkin bicara sekarang pada temannya. Meski meja mereka bersebelahan. Bisa-bisa Ko yang menyeramkan tadi datang lagi dan nyampluk mulut Datul pakai celana ini. Datul tidak bisa bayangkan itu, pasti sakit sekali.

Saat bel istirahat berbunyi, rasanya mereka baru saja mendapatkan sebuah kemerdekaan. Semuanya berhambur, berlari menuju kantin. Baju mereka sudah tak rupa, kotor karena partikel sisa kain yang di amplas. Mereka sudah lima jam berdiri dan bekerja mengamplas dengan di kejar targetan perjam. Berat itu sangat berat. Dengan keringat yang sudah membuat baju mereka basah.

Beruntung ada Maktun yang seterong. Sahabat Datul itu dengan gesit membagi tugas. Datul hanya di minta membawakan dua gelas es teh dan di suruh duduk agar mereka bisa kebagian tempat. Sedangkan Maktun yang berdesakan mengantri nasi soto.

Setelah itu dua mangkuk nasi soto sudah mengepul di hadapan mereka.

"Ayo cepat di makan, habis ini kita sholat terus istirahat sebentar, jam satu mantrap kerja lagi, kalau kelamaan makan kita ga bisa istirahat tiduran nanti, kakiku pegel semua..." sekelas Maktun aja sambat. Apalagi Datul yang rapuh.

"Masih panas... gimana mau makan" Datul sebenarnya galau ini. Setengah hatinya ingin kabur saja dari sini. Ah...

"Bener sih panas ini, kipasin pakai ini ajalah" Maktun mengambil kertas minyak tak jauh dari meja mereka lalu menjadikannya kipas. Biar nasi soto mereka bisa segera adem.

Datul diam tak bergeming.

"Mikirin apa?"

"Mak, aku kayaknya ga sanggup nerusin kerja ini,"

"kamu bisa ngejar target, hla aku? aku ketinggalan jauh padahal aku juga sudah berusaha tadi, tanganku...sakit..." Datul hampir meneteskan air mata. Kulit di jempolnya terkelupas, tadi sempat keluar darah sedikit.

Maktun terhenyak. Kasihan juga, meski dia juga merasakan hal sama tapi dia sejak awal sudah bertekad menjalani ini.

"Hla terus kamu mau gimana? kuat nunggu sampai jam tiga nanti? kita udah tanda tangan kontrak buat tiga bulan ke depan hlo"

"Kalau aku, seberat apapun aku jalani ini dulu, kamu tahu sendiri adikku banyak, orang tuaku mengharapkan aku bisa segera kerja"

Datul bingung harus bagaimana. Benar juga, dia juga sudah ikut menandatangani kontrak kerja. Jika di langgar apa benar perusahaan ini bakal menuntutnya. Membayangkan tiga jam ke depan saja Datul sudah tak mampu. Apalagi tiga bulan. Datul diam dengan raut wajah bersedih.

Maktun menelisik wajah temannya itu. Kasihan juga, dia juga tidak berhak memaksa.

"Kamu makan nasi ini dulu aja, semisal kamu ga mau lanjut, habis ini kamu langsung pulang aja, ga usah pamit. Kalau pamit sudah pasti kamu di makan Ko Aji, gimana?"

"Hla kamu gimana? nanti kalau mereka malah nyalahin kamu gimana?"

"Aku tinggal bilang ga tau aja"

"Kayaknya lebih mudah gitu, lagian kita juga ga ngasih jaminan apa-apa, ijasah atau KTP kita ga di tahan, jadi kemungkinan besar aman sih"

"Beneran?" Maktun mengangguk.

"Ya udah habis ini aku kabur aja ya, aku juga takut misal di suruh ngadep Ko Aji, serem,"

Dan setelah selesai dengan perutnya, Datul mengambil tasnya yang berada di loker. Dan di saat jam istirahat belum habis itu, dia berusaha berjalan tenang padahal aslinya deg-degan. Melewati beberapa gedung yang lain, mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang. Baru kemudian melewati pos satpam lalu gerbang utama. Satpam yang berjaga juga tidak curiga, karena memang pabrik itu mengijinkan karyawan-karyawannya semisalnya ingin istirahat makan keluar.

Datul sempat membalikkan badan, di lihatnya Maktun yang masih setia berdiri di sana. Lalu pandangan Datul beralih ke papan besar bertuliskan nama pabrik itu.

PT. Asia Maju Abadi. Maafkan saya, yang pecundang ini...

.

.

.

.

.

Like dan komen ya man teman🙏

1
Juwadi Pranoto
ngekek abis 😂😂😂
yani
ketawa Ampe sakit perut Thor😂
falea sezi
lagian murahan sih jd cwok
falea sezi
kapok cwek. bodoh sih
Sriza Juniarti
luwak...luwak...gimanapun..tetep item bang wkwkwk
Sriza Juniarti
wkwkwkckk..k9cak tomi
Sriza Juniarti
bagusss....seperti keseharian yg tak berlebihan..saya suka bingit...💕💕💕
sjs
pokok nya beda dari yg lain 👍👍 mhantapph
Sriza Juniarti
baguuus...suka..kocak 🤣🤣🥰💕💕
Ummi Nza
kenapa si datul bego nya ngga sembuh2 sampe novel nya mau tamat 😂😂
Ummi Nza
sebenernya kesel sm novel kalo karakternya cewe bego tp penasaran juga wkwkwkwk tanggung sbentar lagi tamat
Ummi Nza
si datul tu persis banget kya tmen aku gamoang banget d manfaatin cowok..
Satri Eka Yandri
suka dengan ceritanya, ringan, lucu.. kehidupan sehari-hari ☺
Any Zamcute
keren.. alurnya
Nurul Fuadi
ngakak bc nya, blm lg liat fotonya 🤣🤣🤣🤣
Bu latif
😂😂😂😂tau gitu udah dari dulu di belikan seblak aja mas Hamam datulnya wkwkwkwk datul datul random banget sih kamuh
Mrs Sunshine
suka banget sama karyanya...cerita real life beda dng yg lain...lucu...kocak seru...pokoknya paket komplit...sangat menghibur....
Mrs Sunshine
cuzzzz maraton ke karya barumu thor...
Mrs Sunshine
slmt ya datul...akhrnya menikah dng pria idaman...plus bonus jerawat hilang....glowing datang...paket komplit get merit yaaa
Mrs Sunshine
hah tamat serius ini thor.... msh penasaran cerita selanjutnya nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!