NovelToon NovelToon
KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN

Status: tamat
Genre:Mafia / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:780.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Darren adalah seorang pemuda yang pintar, jenius dan juga berbakat dalam segala hal. Apapun bisa dilakukan oleh Darren sehingga Darren bisa menghasilkan banyak uang.

Darren memiliki keluarga yang awalnya begitu bahagia. Kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya begitu sangat menyayanginya dan juga memanjakannya.

Namun sebuah kejadian dimana salah satu kakaknya dan salah satu adiknya diserang dan dilukai oleh musuh lamanya sehingga berujung sebuah pertengkaran hebat dirinya dengan anggota keluarganya.

Anggota keluarganya lebih memilih percaya sebuah video dimana di dalam video itu terlihat Darren yang seolah-olah telah melukai kakak dan adiknya. Padahal kejadian sebenarnya adalah Darren tengah mencabut pisau yang tertancap di perut kakak dan adiknya itu.

Ayah dan kelima kakak laki-lakinya membentaknya, memukulnya, memaki dan juga menghinanya dengan kata-kata yang begitu kejam sehingga membuat Darren marah.

Darren tidak terima dirinya diperlukan buruk oleh kedua orang tuanya dan kelima kakak-kakaknya. Darren menatap kedua orang tuanya dan kelima kakak-kakaknya dengan tatapan penuh amarah dan juga kebencian. Darren mengeluarkan semua keluh kesahnya dan juga kemarahannya di depan kedua orang tuanya dan kelima kakak-kakaknya itu. Bahkan Darren juga memberikan sebuah ancaman sehingga membuat keluarganya terkejut dan takut.

Setelah mengatakan semua itu, Darren pun memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya. Darren juga memutuskan untuk tidak lagi memakai marga dari ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Kekesalan Darren

[KEDIAMAN DARREN]

[Kamar Darren]

Darren saat ini sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Kampus. Sudah sepuluh hari dirinya tidak masuk kampus, karena sakit pasca dirinya tumbang saat melaksanakan tugas-tugasnya. Saat ini kampusnya sedang mempersiapkan kegiatan untuk tour keliling mereka di beberapa kota-kota kecil dalam rangka Bakti Sosial. Kegiatan tersebut diadakan bulan depan. Darren yang menjabat sebagai ketuanya. Dan dirinya menjabat semua jenis kegiatan yang ada di kampusnya itu.

Bukan Darren namanya. Walaupun dirinya sedang dalam masa pemulihan selama sepuluh hari, Darren tetap saja sibuk mengurus semua kerjaannya. Kadang-kadang dirinya bermalas-malasan, kadang-kadang super aktif.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30. Darren sudah rapi dengan pakaian kampusnya. Dan kini dirinya tengah melangkah menuruni anak tangga menuju meja makan.

_____

[Meja Makan]

Jungkook melangkahkan kakinya menuju meja makan dan dapat dilihat olehnya sang pelayan sedang menata sarapan pagi diatas meja.

"Pagi, Tuan."

"Pagi, Bi."

Darren langsung menduduki pantatnya di kursi. Dirinya langsung menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayan tersebut.

Setelah selesai sarapan, Darren langsung berangkat ke Kampus.

______

[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]

[Meja Makan]

Erland dan anggota keluarganya telah berada di meja makan. Seperti biasanya, mereka makan tanpa suara. Semuanya makan dengan diam. Dalam hati mereka masing-masing, yang biasanya memulai keributan di meja makan adalah Darren. Darren selalu mengusili Darka dan kelima adik-adiknya. Tapi sekarang sang tersangka sedang tidak bersama mereka.

"Aku sudah selesai!" seru Darka

Darka langsung beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan meja makan tanpa berkata apapun lagi.

Mereka semua menatap kepergian Darka dengan tatapan sedih.

"Aku juga sudah selesai. Kalau begitu aku susul, Darka," ucap Gilang. Gilang pun pergi meninggalkan meja makan

Dan sepuluh menit kemudian, akhirnya mereka semua pun selesai dengan sarapan pagi mereka. Dan melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang ke Sekolah, ada yang ke Kantor dan ada yang ke Butik.

__________

[DI JALANAN]

Gilang dan Darka masih dalam perjalanan menuju Kampus menggunakan mobil milik Gilang. Selama di dalam perjalanan tidak ada obrolan antara keduanya. Darka memilih menatap keluar jendela. Sedangkan Gilang sesekali melirik kearah Darka.

"Darka," panggil Gilang.

Namun yang dipanggil tidak menjawabnya. Darka masih tetap pada posisinya menatap keluar jendela. Dan Darka sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab panggilan dari Gilang.

"Ayolah, Darka. Jangan diam saja. Ngomong dong."

Darka mengalihkan pandangannya melihat kearah Gilang. "Apa kau ingin aku memakimu atau menyumpahi hidupmu biar makin pendek?" tanya Darka ketus

"Yak. Kau..." kesal Gilang

"Ya atau tidak?" Tanya Darka menatap tajam kearah Gilang

"Jawabannya tentu saja tidak," jawab Gilang

"Kalau begitu kau diam saja. Jangan banyak bicara. Bawa mobilnya dengan benar." Darka berbicara dengan nada ketus, setelah kembali menatap keluar jendela

Gilang melotot mendengar penuturan dari Darka. "Dasar alien sialan. Untung saja kau itu adikku. Kalau tidak..." gumam Gilang.

Tanpa Gilang sadari gumamannya itu terdengar oleh Darka. Darka melirik sekilas kearah Gilang, lalu kembali menatap ke depan.

"Kalau tidak apa?" tanya Darka

"Kalau tidak apanya...?" tanya Gilang balik

"Jangan seperti kura-kura dalam perahu bantet. Kau pikir aku tidak dengar gumamanmu itu, hah!" ucap Darka

"Hehehe. Sorry.."

Setelah terjadi perdebatan antara keduanya. Mereka kembali diam. Sehingga mereka pun sampai didepan Kampus.

__________

[KAMPUS]

"Kita sudah sampai!" seru Gilang

Di depan Kampus tersebut tersedia tempat parkir khusus para mahasiswa dan mahasiswi yang membawa kendaraan pribadi. Dan tempat dibuat dua macam. Khusus mobil dan khusus sepeda motor. Dan masing-masing tempat parkir itu ada enam orang yang menjaganya plus kamera pengintai bukan kamera CCTV. Jadi yang mengetahui adanya kamera disana adalah pihak Kampus dan Darren sendiri. Kenapa Darren juga mengetahuinya? Karena Darreb lah yang memasang kamera-kamera tersebut.

"Tanpa kau memberitahuku, aku juga sudah tahu," saut Darka ketus

"Haaaah.. Sabar Gilang. Sabar. Dia itu saudaramu," batin Gilang sembari mengelus dadanya.

Diam-diam Darka tersenyum melihat Gilang yang mengomel sendiri.

Saat Gilang dan Darka ingin melangkahkan kakinya memasuki perkarangan Kampus. Mereka melihat sosok pemuda yang sangat mereka rindukan. Pemuda itu baru sampai di Kampus dengan menggunakan motor miliknya. Pemuda itu adalah Darren, adik bungsu kesayangan mereka.

"Darren," batin Darka dan Gilang. Mereka berdua terus memperhatikan Darren.

Darren sedang memarkirkan motornya tanpa memperhatikan sekitarnya.

Saat Darren hendak turun dari motornya. Terdengar suara ponselnya. Darren pun langsung mengambil ponselnya di saku celananya dan langsung menjawab panggilan tersebut.

"Hallo, Qenan."

"Hallo, kecoak buntut. Kau ada dimana?"

"Sialan kau Mingtem. Mau ngajak ribut pagi-pagi, hah!"

"Hehehehe. Ampun.. Ampun kecoak buntut."

"Kau benar-benar, ya. Mau ribut beneran nih, hah!" teriak Darren

"Hehehe.. sorryyyy... kau ada dimana? Udah sampai di Kampus belum?"

"Ya. Aku sudah sampai di Kampus. Tepatnya di depan Kampus. Sekarang masih di atas motor."

"Kenapa masih disana? Buruan kemari. Kerjaan masih banyak disini. Belum pada kelar. Waktu tinggal sepuluh hari lagi!"

"Lah kan ada dirimu sebagai kacungku. Dan dibantu oleh kacung-kacungku yang lainnya. Kenapa harus nunggu kedatangan sang Bos juga, sih?"

"Yak. Darrendra Smi...!!" ucapan Qenan terhenti

"Apa? Kau mau menyebut nama Marga sialan itu," kesal Darren

"Darren. Ternyata kau benar-benar sudah tidak memakai Marga Smith lagi dibelakang namamu," batin Gilang menangis

"Darren," lirih Darka

"Yaelah, Ren. Aku kan gak sengaja."

"Iya, iya. Aku tahu. Ya, sudah. Aku ke Aula sekarang," ucap Darka. Darka langsung mematikan panggilan tersebut.

PIP!!

Setelah selesai berbicara dengan Qenan di telepon. Darren pun langsung pergi meninggalkan parkiran untuk menuju kelasnya. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat dua orang yang sangat dibencinya.

Kini ketiganya saling menatap. Darren menatap wajah Darka dan Gilang. Begitu sebaliknya Gilang dan Darka.

Setelah lima menit saling menatap, Darren pun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan keduanya.

"Darren," panggil Darka dengan mencekal tangan Darren

Darren melirik kearah tangannya yang dipegang oleh Darka tanpa mau membalikkan badannya.

"Mau apa?" tanya Darka ketus

"Pulanglah. Kakak mohon," lirih Darka

"Pulang? Jelas dong aku akan pulang. Memangnya aku tinggal di Kampus, hah!" Darren menjawabnya dengan nada ketus

Darka tersenyum. "Benarkah kau akan pulang, Ren?" tanya Darka

"Iya," jawab Darren

"Berarti kau akan pulang ke rumah keluarga Smith. Dan kembali bersama kami!" seru Gilang

Darka menarik kasar tangannya, lalu Darren membalikkan badannya untuk menatap wajah kedua mantan kakaknya itu.

"Haha.. Kalian berdua ini bicara apa, hah?! Aku memang mengatakan akan pulang. Bukan berarti aku akan pulang ke rumah keluarga brengsek itu. Tapi aku akan pulang ke rumahku. Rumah yang aku beli dengan hasil kerja kerasku selama ini. Jadi, kalian gak usah bermimpi dan berkhayal terlalu tinggi kalau aku akan kembali ke rumah neraka itu lagi. Selamanya aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke rumah itu lagi. Mengerti."

Setelah mengatakan hal itu, Darren pergi meninggalkan Gilang dan Darka yang menangis mendengar penuturan darinya.

"Hiks.. Darreb." Darka terisak

"Darka." Gilang memeluk tubuh Darka. "Jangan dengarkan apa yang dikatakan Darren barusan, oke. Anggap saja itu hanya sepenggal kekecewaan Darreb saja," Hibur Gilang

"Ya, sudah. Lebih baik kita ke kelas," ajak Gilang

______

[Aula Pertemuan]

Darren sudah berada di Aula pertemuan. Saat ini Darren dan anggota lainnya termasuk tujuh sahabat-sahabatnya tengah sibuk menyiapkan semua data dan perlengkapan yang akan dibawa saat Tour mereka sepuluh hari lagi.

"Bagaimana persiapannya?"

"Semua sudah siap dengan tugas masing-masing, Ren." Lisa pertama yang menjawabnya

"Tolong sebutkan apa saja," pinta Darren

"Bagian komsumsi adalah Dita, Lala, Alin, Sasya, Anggi, Nana, Dian, Nina, Wulan dan Tasya. Bagian Obat-obatan adalah Kesya, Rina, Dara, Rara, Nuri, Sasa, Rita, Dina, Dila dan Rere. Bagian Sembako adalah Rama, Dayat, Dilan, Surya, Hilman, Citra, Indah, Suci, Yuki dan Tari." Lisa menyebutkan nama anggotanya lengkap dengan tugas masing-masing

"Terus yang lainnya mana? Kenapa hanya segini doang?" Tltanya Darren

"Itu.. yang lainnya ada di...." Ucapan Lisa terhenti

"Kalau ngomong itu yang jelas, Lis..." kesal Darren

"Yak, Ren. Santai napa. Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Willy

Darren tak menjawab pertanyaan dari Willy. Memang saat ini mood Darren lagi buruk.

"Maaf semuanya. Maaf kalau kami terlambat datang!" seru Darka yang datang bersama Gilang dan anggota timnya yang lain

Mereka semua yang berada di Aula tersebut melihat kearah Darka dan rombongan, kecuali Darren.

"Ach, tidak apa-apa. Hyung dan yang lainnya cuma telat lima menit kok," saut Jerry

Lalu Darka, Gilang dan timnya duduk berkeliling menghadap Darren dan tim-tim yang lainnya.

"Darren. Sebagian data-data ada bersama Kak Darka," ucap Qenan

Darren sama sekali tak melirik kearah Darka dan Gilang. Melihat wajah Darren yang tak bersahabat, membuat mereka semua bingung harus memulai kegiatan mereka.

Kemudian Axek mendekati Darren, lalu membisikkan sesuatu di telinga Darren. "Ren. Aku tahu kau punya masalah dengan kedua kakakmu itu. Dan aku juga tahu kau tidak ingin punya urusan dengan mereka. Tapi untuk saat ini, buang dulu egomu jauh-jauh. Tunjukkan tanggung jawabmu sebagai ketua disini. Jangan campur adukkan masalah pribadimu dengan masalah kerjaan kita."

Setelah membisikkan kata-kata tersebut, Axel kembali ke tempatnya. Dapat dilihat oleh Axel maupun sahabat-sahabatnya yang lain, ada sedikit perubahan dari wajah Darren.

Darren melihat kearah Darka. "Apa aku boleh melihat laporan diskusi kalian untuk acara Tour kita sepuluh hari lagi?"

Darka tersenyum, lalu menyerahkan map biru pada Darren, adiknya. Darren pun langsung menerimanya dan membuka map tersebut. Saat Darren membaca isinya, tanpa sadar Darren tersenyum melihat hasil dari rekapan jadwal Tour mereka.

"Bagus juga hasil rekapan nya," Gumam Darren

Dan gumamannya itu didengar oleh mereka semua, terutama Darka. Darka tersenyum bahagia saat mendengar gumamannya adiknya.

"Kau bilang apa barusan, Ren?" tanya Dylan

"Ach, tidak ada."

Mereka yang mendengar jawaban dari Darren hanya geleng-geleng kepala. Mereka tersenyum gemas melihat wajah Darren yang berusaha menutupi kebohongannya.

"Dasar kelinci buluk. Sok jual mahal segala," Blbatin para sahabatnya

"Ini." Darren menyerahkan map itu kepada Darka

"Besok aku minta salinannya. Kirim ke e-mail ku," ucap Darren

"Baiklah," Jawab mereka, kecuali Darka, Gilang dan timnya. Karena hanya mereka yang tidak mengetahui emailnya Darren

"Maaf, Da-darren. Kami tidak tahu e-mail mu. Bagaimana kami bisa mengirimkan salinan rekapan ini," ucap Gilang

"Minta saja sama mereka. Mereka tahu e-mail ku," jawab Darren

"Tidak ada lagikan? Kalau begitu kita akhiri saja pertemuan ini," ucap Darren.

Setelah itu, Darren pun langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan tatapan maut para anggotanya.

"Dasar kelinci kudisan yang tidak punya hati," kesal Jerry

"Memang," saut Dylan

"Kelinci kurap," ucap Qenan

"Psikopat tengil," ujar Willy

"Diam kalian para kacung.. upik abu sialan!" teriak Darren yang tiba-tiba kembali lagi ke Aula tersebut.

Sontak hal itu sukses membuat keempat terdiam mengatup bibirnya. Sedangkan yang lainnya tertawa.

"Hahahaha.."

"Hehehe... Ren!! Kok balik lagi. Memangnya ada yang lupa, ya?" tanya Willy kikuk

"Ya. Memang ada yang lupa. Lupa buat nampol mulut kalian pake sepatuku ini," jawab Darren sembari tangannya membuka sebelah sepatunya.

Sementara Willy, Jerry, Dylan dan Qenan langsung berlari terbirit-birit keluar ruangan untuk menghindari amukan sikelinci mereka.

"Hahahahaha." Tawa mereka kembali pecah, termasuk Darka dan Gilang.

1
Himme
Akibat salah pilih lawan.
whiteblack✴️
hemm rasakan tuw...makanya jangan cari masalah..😏
Cahaya Nilam
hebat ya kk ini masih inget alur jalan ceritanya padahal novel ini break nya lumayan lama tp ceritanya masih nyambung ma episode2 sebelumnya 😊 👏
sri wahyu: kadang klo kangen suka baca lagi kak dari awal
total 3 replies
ozzy amanda
Bagoooooooos
sri wahyu
kak Sandra ya ampun kebiasaan banget putus di tengah ini baca lagi tegang malah udah habis 🤭🤭🤭🤭
whiteblack✴️
😩 kok putus tengah jalan sie...kak..lagi kepo tau...
whiteblack✴️
wow....👏👏👏....ciwi itu licik sekali ya...gara" tidak suka + gagal mencampai target😏
Cahaya Nilam
akhirnya yg di tunggu up jg thx ka dah meyempatkan buat up cerita kebencian daren 😊
Sandra Yandra
Yuk, baca lagi 15 Bab ke belakang sampai akhir. jadi nanti pas dilanjutkan, kalian tidak lupa
natalia
ayo kk semangat lanjutin ny
Erlina Nurhasanah
lanjut kan ka
Andara Destya
lanjut dong kak
sri wahyu
lanjut kak
Cynthia Putri
mauuuu
Desyi Alawiyah
Erica udah SMP, wah pasti dia menjadi gadis yang cantik dan pintar..kaya Mamah Brenda 😉
Desyi Alawiyah
Aku masih ingat, Zeroun itu ayahnya Farraz dan Ziggy... 🤗
sri wahyu
ternyata masih ada yg ingin mencoba menghancurkan hubungan darren
whiteblack✴️
hmmm masih ada cewek rahn yg tergila" dg darren? siapa cewek tuw bikn kukepo tau huh🧐🤨
Sandra Yandra: Coba baca ulang 4 Bab terakhir. Nanti ketemu jawabannya
total 1 replies
sri wahyu
setelah sekian lama akhirnya ada kelanjutannya,,,makasih kak
whiteblack✴️
hmmm aku agak lupa cerita ini soalnya kakak author jarang up cerita ini😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!