Slowly Update!!
Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.
Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.
Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Kau menipuku, bajingan!" ucap Ruma dengan tubuh berdiri kaku seperti patung.
"Dengarkan aku" Rico berusaha memegang lengan Ruma namun wanita itu langsung menepisnya.
"Jangan sentuh aku!" bentak Ruma yang semakin terlihat beringas. "Kau pembunuh. Kau membunuh ayahku!" Dalam sekejap air matanya jatuh berlinang. Benaknya kini penuh dengan kilasan wajah ayahnya yang telah lama tidak ia temui.
Rico menatap dengan perasaan sesal yang menyiksa batinnya. Lelaki itu mengutuk sikap Abdul yang memilih pergi setelah ia melempar satu bom ke hadapan Ruma dan meledak tanpa bisa dicegah. Ruma terlihat begitu marah padanya. Sorot matanya kembali menguarkan kebencian yang dalam setelah rahasia besar itu ia ketahui.
"Dengarkan aku Ruma" Rico mencoba menjelaskan perihal kematian Rudi. "Ayahmu mati bunuh di--"
"Kau yang membunuhnya! Kau yang membuat ayahku melakukan hal itu, Rico! Kau bajingan tengik yang menyebabkan ayahku mati" Ruma hampir kehilangan nafas ketika ia berucap dengan nada keras sembari menangis histeris.
Perasaan sesak yang sejak tadi mengungkung hatinya keluar sudah. Menciptakan kabut udara gersang di sekitar mereka berdua. Ruma merasa ada ribuan jarum yang menusuk tubuhnya. Rasa sakit karena kehilangan ayahnya ditambah rasa sakit akibat merasa dipermainkan oleh Rico ketika ia mengingat lembaran surat untuk ayahnya membuat Ruma memukuli dadanya yang terasa berat. Wanita itu tidak menyangka, Rico akan tega menjadikan berita kematian ayahnya menjadi seperti lelucon.
Ruma terus mendesis dan meracau mengumpat Rico yang ia anggap lelaki paling jahat di muka bumi. Rico mencoba berulang kali untuk meredakan emosi Ruma, namun nampaknya hal itu sia-sia. Ruma menolak semua uluran tangannya. Ia bahkan menampar Rico ketika lelaki itu berusaha mendekap tubuhnya yang bergetar menahan sembilu.
"Itu bukan salahku, Ruma. Ayahmu yang memilih mengakhiri hidupnya" bela Rico setelah ia menerima tamparan keras dari wanitanya.
Ruma mendelik menatap Rico yang teramat percaya diri. "Ayahku mati karena ia tidak bisa melihat anaknya yang kau sekap hancur, bajingan" geram Ruma. "Apa kau tidak menyadari itu?" Bola mata Ruma menjadi sinis menatap wajah lelaki dihadapannya.
Kesedihan terpeta jelas di wajah cantik Ruma. Dia merasa emosinya akan semakin memuncak jika ia terus berdiam diri berhadapan dengan lelaki setengah iblis itu. Sementara itu, melihat dirinya disalahkan oleh Ruma, membuat emosi Rico jadi ikut terpancing. Lelaki itu menatap wajah Ruma yang menguarkan kebencian padanya. Langkahnya lebar ketika Rico mencoba kembali mendekati Ruma.
"Berhenti! Jangan mendekat" Ruma merentangkan tangannya di hadapan Rico. "Aku tidak sudi seorang pembunuh sepertimu menyentuhku" geram Ruma sebelum akhirnya wanita itu memutuskan untuk berbalik badan dan berlari menuju kamar.
Rico yang melihat Ruma berlari, berusaha mengejarnya seketika. Lelaki itu menaiki tangga dengan tergesa, derap langkahnya menggema dalam ruangan. Membuat ketiga wanita yang sibuk dengan urusan dapur, serentak menoleh dan menatap penuh tanda tanya pada kedua majikannya.
"Ruma!" teriak Rico ditengah usahanya mengejar Ruma. "Ruma berhenti" ulangnya ketika ia merasa usahanya sia-sia karena pintu kamar langsung tertutup rapat begitu Ruma sudah berada di dalamnya.
Buk!
"Akh, Shit!!" umpat Rico sambil meninju pintu kamarnya yang tertutup.
Bagai api dalam sekam. Itulah yang kini Ruma rasakan dalam dirinya. Emosinya berkobar tanpa asap, menghanguskan ketenangan yang semula ia pertahankan sekuat tenaga.
Ruma termenung di tempat tidur. Isaknya masih terdengar menyayat begitu ingatannya mengembara pada sosok sang ayah. Ruma tidak bisa menetralkan dadanya yang terasa begitu sesak, ketika kejadian demi kejadian naas menimpa dirinya dan merenggut nyawa ayahnya. Surat yang beberapa waktu lalu ia tulis, menyentak sanubarinya. Ia merasa bodoh--lebih tepatnya Rico lah yang telah memperlakukannya seperti orang bodoh. Tanpa tahu bahwa ayahnya telah tiada, dirinya meminta bajingan itu untuk menyampaikan surat itu pada ayahnya. Ruma merasa berkali-kali merasa sakit. Wanita itu menangis sambil meringkuk di tempat tidur. Bayangan wajah pucat ayahnya membuatnya semakin merasa nelangsa.
Ruma kembali dilanda badai kebencian yang begitu dalam, ketika pendengarannya menangkap suara gemerisik kunci pintu yang sepertinya hendak dibuka paksa dari luar.
Deg! Dada Ruma bergemuruh oleh rasa muak. Dia tidak siap bertatap muka langsung dengan bajingan itu saat ini. Belum sempat pintu itu terbuka sempurna, Ruma dengan keberaniannya yang dangkal kembali melontarkan makian kasar pada Rico.
"Pergi kau brengsek! Kau pembunuh kejam! Dasar pembohong! Pergi kau!" ceracau Ruma begitu Rico berhasil membuka pintu dengan kunci cadangan.
Lelaki itu melangkah tanpa menghiraukan amukan Ruma. Langkahnya tegas menghampiri Ruma yang beringsut di tempat tidur. "Aku tidak akan pergi meski kau mengusirku, Ruma" ucapnya lugas. "Ayahmu mati, itu bukan kesalahanku. Itu kesalahannya sendiri" sambung Rico yang tidak terima dengan ucapan Ruma.
Ruma membelakakan matanya mendengar pembelaan Rico yang tidak masuk akal. Mulutnya ingin sekali meneriaki lelaki itu, namun rasa perih dan kelu membuatnya hanya mampu mengeluarkan erangan penuh rasa kesal. Ketika Ruma berkutat dengan emosinya, Rico bergerak cepat untuk naik ke atas tempat tidur.
Keduanya beradu pandang dalam jarak yang dirasa aman. Mata Ruma menyorot tajam bola mata legam Rico yang waspada. Nalurinya berkata, bahwa ia harus segera bangkit dari tempat tidur itu. Namun sayangnya, gerakannya telah lebih dulu terbaca oleh Rico. Dengan cepat Rico menarik lengan Ruma.
"Akh!" pekik Ruma ketika lengannya tertarik paksa. "Lepas!" ucapnya pada Rico yang tidak peduli.
Rico mendekap wajah Ruma di dadanya. Tangannya dengan sigap menahan tangan Ruma yang berusaha memukul dan mendorongnya menjauh. "Diam, Ruma" ucapnya pelan namun terdengar tegas. "Baiklah ... Baiklah, aku minta maaf atas apa yang terjadi pada ayahmu" ujar Rico pada akhirnya. Dia merasa harus mengalah pada Ruma.
Ruma terus berontak. Wanita itu dengan usahanya yang keras, mencoba mendorong dada Rico. Namun berulang kali ia mencoba, Rico segera merapatkan kembali wajah Ruma pada dadanya. "Kau jahat!" umpat Ruma.
Rico yang merasa amukan Ruma tidak dapat ia tahan lagi, terpaksa mendorong tubuh Ruma agar merebah di tempat tidur. Ruma yang sedang mengamuk mencoba bangkit, namun tangan kokoh Rico berhasil mencegahnya. Kini tubuh Ruma terlentang di tempat tidur, sementara Rico berada di atasnya. Setengah duduk dengan kedua lutut berada di sisi kiri kanan pinggang Ruma.
"Maafkan aku" ucap Rico menatap bola mata Ruma yang basah. "Aku mengaku salah. Maafkan aku, Ruma" ulangnya kembali.
Bola mata Ruma mendelik. "Pergi kau" ucapnya sambil memukul dada Rico di atasnya. Bibirnya bergetar menahan emosi yang terasa semakin meluap.
Rico menggeleng. "Aku tidak akan pergi" ujarnya. "Tenanglah, aku sudah minta maaf padamu" timpal Rico.
Ruma memicingkan matanya. Pikirannya kian kalut ketika mendengar Rico begitu mudahnya mengucapkan permintaan maaf atas kematian ayahnya. "Permintaan maafmu tidak berlaku, brengsek! Ayahku tidak akan pernah hidup kembali meski kau berlutut memohon maaf padaku" desis Ruma. "Minggir kau dari tubuhku" Ruma menghalau tubuh Rico dengan percuma.
Rico menatap Ruma dengan tatapan dinginnya. Lelaki itu merasa usahanya untuk membujuk Ruma dengan cara halus tampak sia-sia. Wanita itu masih diliputi oleh amarah. Bola matanya bahkan memancarkan sinar permusuhan yang nyata pada diri Rico. Rico menyunggingkan sudut bibirnya sekejap. "Jangan berlebihan, Ruma" ucap Rico sambil membungkukkan tubuhnya pada Ruma. Jiwa kejam dan dinginnya kembali berkat sikap Ruma. "Jangan membuat aku menarik kembali permintaan maafku" timpalnya kemudian.
Ruma berdecih. Dia tahu permintaan maaf Rico bukanlah sesuatu yang datang atas kesadarannya sendiri. Lagipula, bagaimana mungkin lelaki jahat semodel Rico mau secara suka rela mengakui kesalahannya? Satu hal yang mustahil.
"Kau pembohong. Kau ingat surat itu? Kau mengatakan padaku bahwa ayahku baik-baik saja. Kau juga membuat aku berjanji untuk patuh dan tidak lagi menolakmu" ucap Ruma penuh emosi. "Kau memanfaatkanku, Rico" geram Ruma menatap tajam Rico yang tampak acuh.
"Tanpa kau berjanji pun, kau akan tetap sama Ruma. Berakhir di atas ranjangku" ujar Rico terang-terangan. "Apa kau tidak juga mengerti posisimu, huh?! Kau telah terikat denganku, sejak ibu tirimu membawamu ke Nightmare" kata Rico penuh penekanan.
Ruma tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ditengah kondisinya yang terjepit, air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. "Lepaskan aku" ujar Ruma dengan suara lirih. Ia merasa sudah mulai kehabisan tenaga untuk melawan Rico. "Aku mohon lepaskan aku, Rico" ulangnya setengah merintih.
Rico terpaku sesaat. Sepasang manik jernih itu memejam dengan menyedihkan. Hatinya tiba-tiba melunak kembali. Secara perlahan Rico menjatuhkan kepalanya di bahu Ruma. "Aku tidak bisa melepaskanmu, sayang. Maafkan aku" bisikan Rico berpendar diantara isakan Ruma.
Dalam keadaan itu, Rico mendekap tubuh Ruma. Rico dapat mendengar tarikan nafas Ruma yang dalam dan berat. Namun Ruma tidak lagi menolaknya. Wanita itu justru bersikap pasrah menerima pelukan dari Rico.
Menyadari tidak ada lagi sikap kasar Ruma padanya, membuat Rico bergerak untuk menyentuh lembut permukaan bibir lembab Ruma dengan bibirnya. Rasa asin dari air mata Ruma yang tercecap Rico, tak membuatnya berhenti memberi kecupan.
Ruma masih terisak kala itu. Rico menegakkan tubuhnya untuk melihat raut wajah cantik yang kini tampak sembab. "Berhenti menangis, sayang" ucapnya mengelus lembut anak-anak rambut Ruma.
"Kau jahat" ujar Ruma dengan nada suara yang lemah.
Rico tersenyum getir. Lelaki itu mencondongkan kembali tubuhnya ke arah Ruma. "Aku memang jahat" akunya sembari memberi kecupan di pundak Ruma. "Tapi aku mencintaimu, sayang. Aku tidak bisa melepaskanmu meski kau membenciku seumur hidupmu" Rico berbisik tepat di telinga Ruma.
Ruma hanya bisa terisak mendengar kata-kata arogan dari mulut lelaki di hadapannya. Sementara itu Rico kembali
melanjutkan kecupan itu di bibir Ruma. Kali ini bukan sekedar kecupan, namun ciuman panjang yang dalam dan kuat. Entah karena emosinya sudah mereda ataukah karena Ruma sudah kadung pasrah dengan kondisinya, tetapi tangan-tangan Ruma yang melingkar di leher Rico, membuat gairah Rico serta merta bangkit secara perlahan.
Ruma tampaknya sudah terlalu lelah bersitegang dengan Rico. Ia menginginkan sesuatu yang bisa mengembalikan kenyamanan dalam dirinya. Tatapannya hinggap di bola mata legam Rico. Ia melihat gairah Rico sedang tinggi disana. Lelaki itu, meski baru saja melontarkan kata-kata kejam. Nyatanya hasratnya tidak sedikitpun berkurang pada Ruma.
Ditengah suasana duka yang masih menyelimuti hatinya. Terbersit keinginan untuk membiarkan Rico mendapatkan apa yang ia inginkan darinya.
"Kau mengambil terlalu banyak dariku, Rico" ucap Ruma dengan suara bergetar.
Rico mengangguk dengan sorot mata sayu. "Kau benar. Tapi aku tidak menyesalinya sedikitpun" timpal Rico sebelum ia kembali melesakkan tubuhnya pada kehangatan tubuh Ruma.
🍁🍁🍁
bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌
mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.
krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.
sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya