Dara Sabrina adalah gadis yang ceria dan begitu dewasa, penampilannya yang selalu berhijab terlihat begitu anggun dan cantik. Sehingga banyak sekali yang menyukainya sejak dia sekolah menengah atas, Tak terkecuali pria bernama Reiki Tonda (REI) yang baru dikenal Dara sejak 3 bulan. Mereka memutuskan menikah karena secara tiba-tiba Reiki melamar Dara tanpa sepengetahuan Dara. Akan tetapi pernikahan mereka hanya berjalan selama 1 bulan.
Ikuti terus kisahnya, dijamin seruu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya
REI dan Vannya kembali menemui Ibu mereka yang masih berbincang di ruang tamu. Terlihat wajah mereka begitu bahagia melihat Rei dan Vannya berdampingan berjalan ke arah mereka.
"Kalian berdua sangat cocok sekali" seru Mama Elen yang tak henti-hentinya tersenyum menatap mereka berdua, membuat Vannya memutar kedua bola matanya.
Kau yang senang Ma.
" Iya Rei, kau sangat cocok dengan Vannya "
Bunda Dahlia mengelus punggung Rei.
Rei hanya mengiyakan kata-kata Bundanya.
Setelah makan siang bersama di rumah Bunda Dahlia, Vannya dan Mama Elen pamit pulang.
***
" Bagaimana Rei menurutmu Vannya? " tanya Mama Elen
" Biasa saja " jawab Vannya dengan nada malas.
" Kalau kau menikah dengan Rei, kau akan jadi istri pewaris tunggal keluarga Tonda sayang, mereka itu orang kaya... "
" Sudah Ma, tidak perlu di ulang, Vannya sudah tahu! "
" Kalau kau tau menurutlah, jangan sampai dia lepas dari tanganmu! "
Vannya menarik napas dalam dan menghembuskan dengan begitu kasar.
***
" Nina, apa kau di dalam? " Dara mengetuk pintu Nina yang masih tertutup rapat.
cekrek
" Kak Dara, masuklah! " Nina tersenyum girang.
Dara dan Nina duduk di sofa kamar Nina.
" Kau tidak kuliah? "
" Besok kak, Nina masih capek sekali " Nina menyelonjorkan kakinya di sofa.
" Aku bosan sekali dikamar, apa aku mengganggumu kalau aku di sini sekarang? "
" Tidak kak Dara, justru aku senang kalau kak Dara di sini. Sebentar kak, Nina ke kamar mandi dulu, kakak jangan kemana-mana! "
" Iya" Dara tersenyum. Dara membuka majalah yang ada di atas meja.Sebuah majalah fashion baju terbaru bulan ini. Dara sangat tertarik untuk melihatnya.
Kring, ponsel Nina berbunyi.
Dara hanya melihat tanpa berani mengangkatnya. Sebuah nama tertulis dipanggilan itu
REI
Dara menatap ke kamar mandi, namun Nina belum keluar dari sana.
Apa aku perlu mengangkatnya.
"Tidak, biar Nina saja, nanti aku dikira ikut campur lagi" gumam Dara.
Panggilan itu berhenti. Namun berbunyi kembali.
Dara hanya menatap tanpa berani mengangkatnya.
Nina membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana.
" Nin, ponselmu berbunyi, Rei menelponmu berkali-kali " Nina terkejut.
Kak Rei menelpon, kenapa**?.
Nina mengambil ponselnya dari atas meja. lalu menatap Dara.
" Apa aku boleh menelpon kak Rei, kak Dara? " Dara mengangkat wajahnya menatap Nina.
" Kenapa minta izin kepadaku, aku kan sudah bukan apa-apanya Nina " Dara tertawa kecil.
" Mmm iya kak, aku telpon sebentar ya kak? "
Dara mengangguk sambil tersenyum.
Nina membawa ponselnya menuju balkon.
Dia segera menyentuh nama Rei dan melakukan panggilan video.
" Kak Rei " Nina melambaikan tangan ke ponselnya sambil tersenyum lebar.
Dari sana, Rei hanya tersenyum menatap wajah ceria gadis itu.
" Kak Rei ada apa menelponku? "
" Selimut mu masih ada padaku "
" Oh selimut, pakai saja kak tidak apa-apa, aku masih ada selimut lagi "
" Besok aku tunggu di Cafe XX...datanglah! "
Rasanya hati Nina begitu senang, namun dia tidak berani menunjukkan kepada Rei.
" Baiklah kak, setelah kuliah besok aku akan kesana " Rei terlihat mengangguk. Merekapun mengakhiri panggilan video mereka.
Nina meloncat - loncat kegirangan berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar yang lain. Dia mengepalkan tangannya ke udara dan menurunkannya kembali dengan cepat.
Nina kembali ke kamar menemui Dara, namun senyum merekah masih belum menghilang dari wajahnya, membuat Dara yang melihat jadi bertanya-tanya.
" Nina, kau terlihat begitu senang? apa ada hubungannya dengan Rei yang menelpon tadi? "
" Ah, kak Dara ini apa, tidak ada hubungannya dengan kak Rei " Nina mengalihkan wajahnya, namun senyuman masih terbaca oleh Dara.
Dara hanya bisa menahan kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya.
Kau tidak pandai menyembunyikannya Nina.
Hari sudah mulai menunjukkan gelapnya, Dara sudah terlihat segar dan rapi. Dia duduk di sofa kamarnya, sambil membaca buku novel menunggu suaminya pulang.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Kin masuk dengan membawa se bucket bunga mawar yang masih segar.
Dia melihat istrinya yang tak sadar akan kedatangannya, Kin menutup mata Dara dan mendekatkan bunga itu ke wajah Dara. Dara sempat terkejut namun dia tau yang menutup matanya adalah Kin.
" Bau apa ini Kin? " Dara masih menghirup udara di sekitar hidungnya.
" Menurutmu bau apa " Kin masih tersenyum usil.
" Seperti bau....parfum " Kin segera melepaskan tangan yang menutup mata Dara. Dia menaruh bunga itu di meja.
" apa kau tidak bisa membedakan bau bunga dengan parfum " Kin melepas kedua sepatunya.
" Bisa, aku kan cuma bercanda, kenapa juga pakai gaya romantis segala " Dara membantu melepas jas yang melekat di tubuh kekar Kin.
" Apa tidak boleh " Dara menggantung jas Kin dan segera mengambil bunga itu.
" Boleh "Dara menghirup wangi bunga di tangannya, " tapi kau tidak cocok kalau romantis, aku suka kamu yang seperti biasanya " Dara mencium pipi Kin dan memeluknya.
Semakin lama bersamamu, aku semakin candu Kin.
Kin membalas pelukan Dara lebih erat.
" Kin, dadaku sakit" Kin melepas pelukannya,
"Kau memelukku terlalu erat, apa kau mau aku kehabisan napas, kalau aku mati, kau bagaimana"
" Kau ini bicara apa, aku hanya gemas padamu " Kin memeluk Dara kembali sembari mencium rambut Dara.
" Sudah, lepaskan aku, ayo kita makan malam, aku sangat lapar sekali! "
Kin dan Dara turun menuju ruang makan. Disana sudah ada Papa, Mama, Kenzo dan Nina.
Mereka menikmati makan malam bersama. Setelah selesai, semua kembali kekamar masing-masing.
" Kin " Dara merebahkan tubuhnya disamping Kin yang masih duduk berselonjor sambil membaca buku.
" Apa" Kin masih fokus membaca bukunya
"Tadi Nina begitu senang setelah mendapat telpon dari Rei " Kin meletakkan buku di atas pangkuannya lalu menatap Dara.
" Lalu, kau cemburu? " Dara beranjak dari tidurnya dan duduk menghadap Kin.
" Kau ini bicara apa, aku hanya ikut senang saja melihat Nina bahagia seperti itu " Dara memeluk perut Kin.
" Benar begitu? "
" Apa kau tidak percaya kepadaku? " Dara melepaskan pelukannya.
" Percaya " Kin kembali meletakkan tangan Dara ke perutnya. Dara diam, dia agak kesal dengan Kin.
" Aku tidak bohong, aku percaya kepadamu"
walau dalam hati, Kin masih begitu kesal dengan tatapan Rei kepada Dara, namun dia percaya kalau Dara tidak akan mengkhianatinya.
Novel terbaruku udah keluaar,, ayo pembaca ku tercinta, berkunjung juga ya judulnya
"Ku Akan Menikahi " di bintangi oleh
LUCAS WAYV
jangan lupa like vote komennya ya 🙏💕
mkanya knl dulu in br 3 bln dah mau di ajak nikah
Dara jadi prmpuan jngn di manfaatkn aja
semangat buat author ditnggu kelnjutannya