Berkisah tentang seorang pria berumur 23 tahun bernama Reynald, yang biasa saja kehidupannya namun di suatu hari di siang bolong ketika ia ingin pergi keuniversitas untuk belajar, ia melihat seorang wanita yang sedang melamun di jalan, lalu tiba-tiba saja ada sebuah mobil truk yang ingin menabraknya, Reynald yang tak memikirkan apapun lagi secara spontan ia berlari dan mendorong wanita tersebut, di akhir hayatnya ia bisa melihat wanita tersebut selamat, Reynald sedikit bangga dengan itu, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dalam hatinya ia berkata "Apa ini akhir dari kehidupan seorang perjaka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOTHING TO LOSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 36 PEMBANTAIAN
Aku yang masih berada di ruang kerja Alphonso, bersama dengan Alex, Damra, Alphonso.
Alex disini kebingungan mengapa ada Damra di rumah ayahnya kemudian Alphonso dan aku pun menjelaskan semuanya.
Pada awalnya dia tidak menerima Damra, tapi kemudian Damra bilang bahwa dia bukanlah bawahannya Gilbert.
Damra pun menjelaskan sedikit bagaimana ia bisa disana, jadi intinya ia hanya ingin bertarung dengan Alphonso yang katanya menurut rumor Alphonso adalah orang yang sangat kuat.
Dan secara tidak sengaja ia bertemu dengan partyan yang aneh yang katanya ingin membunuh Alphonso, dan yah akhirnya Damra pun ikut.
Dan akhirnya ia bertemu denganku, ketika dia melihatku Damra tau bahwa kekuatanku sudah berada di luar nalar, jadi dia memilih untuk tidak bertarung denganku.
Karna Damra menyukai orang kuat jadinya ia ingin ikut denganku sekalipun dia harus jadi bawahanku.
Singkat ceritanya gitu aga sedikit aneh sih tapi yah aku percaya-percaya aja sih, lagi pula dengan adanya dia juga sebuah keuntungan buatku.
"Paman untuk masalah Gilbert bagaimana jika serahkan saja semuanya padaku? Dan paman lebih baik mengurus Gilan bagaimana?" Tanyaku aku disini berniat untuk melakukan olahraga dengan melakukan pembantain.
Sepertinya ini akan menjadi menyenangkan. Sebenarnya disini aku terlihat seperti di manfaatkan oleh Alphonso tapi memang benar sih.
Tapi sebenarnya aku tidak peduli jika di manfaatkan oleh Alphonso yang penting adalah kedua putrinya jadi milikku hahahaha.
"Tapi bukankah itu akan membebanimu Reynald? Apakah tidak masalah bagimu?" Tanya Alphonso.
"Tenang saja paman lagi pula aku bisa mengambil libur beberapa hari lagi." Jawabku dengan senyuman senang.
"Hooh aku mengerti baiklah aku serahkan semuanya padamu."
"Kalau begitu kau ingin membawa berapa pasukan Reynald?"
"Satu hanya aku dan Damra pun sudah cukup untuk menghabisi Gilbert dan pasukannya."
"Anu apakah aku boleh ikut Reynald?" Tanya Alex
"Tentu saja jika kau ingin aku tidak akan melarang kak Alex."
Alphonso pun menghela nafas pasrah dia tau bahwa wataku sama seperti Alex yaitu keras kepala "Lakukan sesuka hati kalian saja tapi ingat kembalilah dengan selamat."
"Tentu saja ayah." Alex yang bersemangat.
"Serahkan semuanya padaku paman." Aku yang tersenyum senang
"Jangan khawatir aku akan melindungi Alex dan tuanku." Damra yang ikutan bersemangat juga.
****
Tak terasa akhirnya hari dimana aku, Alex, Damra akan bertempur dengan Gilbert dan pasukannya.
Saat ini aku sedang berjalan bersama dengan Alex dan Damra kami tidak langsung berteleport karna aku tidak tau dimana tempatnya.
Aku hanya bisa berteleport ke tempat yang pernah aku kunjungi saja. Pertempuran kami akan di laksanakan di hutan Midwild.
Kami bertiga sangat bersemangat ya walaupun kata Damra pasukan yang dibawa oleh Gilbert totalnya mencapai 5.000 pasukan.
Tapi ntah kenapa bagiku Alex dan Damra justru itu membuat kami semakin bersemangat.
Aku juga merasa aneh.
"Damra aku ingin kau melindungi Alex apapun yang terjadi." Perintahku ini adalah perintah yang kuberikan pertama kalinya untuk Damra.
"Dan ingat satu perintahku lagi kalian berdua apapun yang terjadi harus kembali dengan selamat."
"Baik tuan."
Kami pun terus berjalan, hingga di depan kami, kami melihat ribuan pasukan yang menggunakan perlengkapan perang yang sangat lengkap dan mengkilat.
Pasukan yang dimiliki Gilbert kekuatanya tidak biasa, jika aku lihat mereka semua cukup kuat apa lagi 5 orang yang berada tepat di belakang GIlbert.
Ouh yah Gilbert disini dia berada di paling depan dia terlihat seperti pemimpin yang gagah walaupun aga sedikit tua.
Sebenanrya aku bisa saja menghabisi mereka semua sekaligus dengan satu serangan tapi yah itu tidak akan jadi menyenangkan.
Jadi aku putuskan aku ingin menikmati dulu pertarungan ini.
"Wah wah wah apa hanya kalian bertiga saja? Alex dimana ayahmu dan pasukannya?" Tanya Gilbert yang bertepuk tangan.
"Ayahku berada di rumah dia sedang menikmati tehnya, dan untuk pasukanku aku tidak membawanya lagi pula 3 orang saja sudah cukup untuk menghabisi kalian semua." Ucap Alex.
"HAHAHHAAH ayah dan anak sama-sama sombongnya hahaha....Apakah kau yakin bisa menghabisi seluruh pasukanku yang terbaik ini?"
"Tentu saja paman bodoh."
"Hahahah kau ini sungguh sangat lucu sama seperti ayahmu kau ingin menghabisi kami semua hahaah jangan bercanda."
"Memangnya dua bocah seperti kalian bisa apa, ouh yah aku lupa ada Damra yah disana hahaha jika kalian membawa Damra pun itu tidak akan berpengaruh besar memangnya dia bisa menghabisi 5.000 lebih pasukanku?"
Damra Terlihat sangat kesal ia ingin maju namun aku tahan dia "Tenanglah."
"Hey bocah yang di tengah kau siapanya Alphonso?"
"Aku adalah menantunya."
"Ahahahah Alphonso memang bodoh kenapa dia bisa memilih menantu yang konyol sepertimu hahaha."
"Ternyata paman adalah orang yang murah tertawa yah." Aku yang sudah sangat kesal.
Aku menggunakan skill bertepelortku, kemudian aku menggunakan skill gravitasiku.
Aku berteleport tepat ke samping Gilbert "Tapi sayang aku tidak menyukai tertawanya paman." Kemudian aku memukul pipi Gilbert.
Gilbert pun terhempas kearah samping sampai menabrak beberapa pohon.
"Haah tanganku jadi kotor." Aku yang mengejek tepat di depan ribuan pasukan.
"Reynald dia menyuruh kita untuk sabar tapi dia sendiri ah sudahlah Damra ayo kita juga maju."
"Dengan senang hati."
"Kenapa kalian terdiam saja? Ayo sini maju." Ucapku sambil mengejek menggunakan tangan.
Mereka pun terlihat kesal, mereka mulai berlarian kearahku kecuali 5 orang yang terlihat sangat kuat mereka tetap diam di tempat, aku disini tersenyum senang.
Aku juga berlari menuju kearah mereka, disini aku tak mengeluarkan senjataku tak seperti musuh yang sudah siap.
Kalau Alex dan Damra tentu saja mereka menggunakan senjata.
Aku berlari kearah mereka kemudian aku melompat dan aku menyerang menggunakan sikut kakiku.
Disini aku menggunakan ilmu bela diri saja, karna aku berniat ingin olahraga jadi yah aku tidak ingin menggunakan sihir terlebih dahulu.
Aku sekarang berada di tengah kerumunan, mereka semua menyerangku ada yang secara bersamaan dan ada yang sendirian.
Aku menghindari serangan mereka dan membalas serangan mereka menggunakan tangan dan kakiku.
Aku bertarung sambil tersenyum ntah kenapa aku merasa ini sangat menyenangkan.
Aku bertarung sudah cukup lama, hanya dengan ilmu bela diri saja aku sudah menghabisi ratusan orang.
Sekarang orang yang mengerumuniku terlihat seperti ketakutan, aku sekarang sedang berpikiran bagaimana dengan Damra dan Alex.
Aku pun lompat sangat tinggi keatas sambil ingin melihat dimana mereka berdua, tak lama aku pun melihat mereka berdua.
Aku pun berteleport kearah mereka, aku membunuh orang yang ingin menyerang Alex dari belakang.
"Yo kak Alex sepertinya kau sudah kelelahan."
Kami pun termundur kebelakang hingga punggung kami saling bertabrakan.
"Kata siapa aku belum lelah sama sekali hehe jangan meremehkanku."
"Hhahha iya iya."
"Damra kerja bagus rupanya kau hebat juga."
"HAahah tentu saja tuan ini belum seberapa." Ucapnya dia sama sekali belum kelelahan sama sepertiku.
Kami disini mengobrol sambil menghindari dan menyerang musuh. Kami menikmati pertempuran ini.
"Pertempuran kita sudah cukup lama mungkin sudah saatnya untuk kita serius." Ucapku yang sambil mengeluarkan pedang biasa.
"Sepertinya apa yang dikatakan tuan ada benarnya juga."
"Baiklah saatnya serius."
Alex dan Damra pun menyalurkan mananya ke pedang mereka, sepertinya mereka ingin melakukan tebasan.
Damra tiba-tiba saja pedangnya di aliri oleh aura berwarna hitam panas, sedangkan Alex pedangnya di aliri oleh aura berwarna hijau.
Mereka pun melakukan tebasan panjang hingga muncul sebuah aura yang seperti bulan sabit yang menyerang pasukan Gilbert.
Hingga ada yang terhempas dan ada juga yang mati hangus kebakar.
Ratusan pasukan Gilbert pun mati.
Alex dia terlihat lumayan lelah sedangkan Damra dia sama sekali tidak lelah, memang benar seperti yang di rumorkan Damra cukup kuat.
Sekarang adalah giliranku aku disini ingin menggunakan skill tebasan kehampaan.
Aku mengalirkan mana ke pedangku, pedangku mengeluarkan aura berwarna hitam pekat sangat pekat namun tidak panas.
Ketika aku menggunakan skill itu Alex dan Damra menunjukan ekspresi sangat terkejut.
Kemudian aku pun melakukan tebasan yang cepat dan panjang, terbentuklah sebuah aura seperti bulan sabit yang melesat dengan sangat cepat dan tak terhentikan.
Hanya dalam hitungan detik saja ribuan pasukan Gilbert mati terbelah menjadi dua namun tidak mengeluarkan darah.
Kini pasukan pedang milik Gilbert tersisah puluhan saja, mereka berlari mundur kearah lima orang pemimpin itu di tambah dengan Gilbert yang sudah bangkit.
Gilbert dan kelima pemimpin itu melihat skillku mereka sangat terkejut, mereka menunjukan wajah buruk mereka.
Apa sespecial itukah sihir kehampaan sampai-sampai semua orang menjadi terdiam terkejut?
Kini pasukan Gilbert hanya tersisa pasukan panah dan penyihir saja.
Untuk novel The God Of leveling bakal rilis sekarang malam wkwkwkwkw serius
buat author semangat nulisnya
buat author semangat nulis nya