Maya adalah seorang wanita biasa yang dijodohkan dengan pilihan orang tuanya. Dia berkali-kali menolak karena sudah memiliki kekasih.
Sedangkan lelaki pilihan orang tuanya, bernama Prawira. Dia seorang abdi negara yang baru saja dipindah tugaskan di Jakarta.
Pernikahan mereka berlangsung seminggu setelah tragedi itu. Maya terpaksa menjalani semua ini. Masa lalu yang datang kembali, membuat dirinya terguncang.
Bisakah Maya melewati semua ini, akankah dia mendapatkan cinta dihidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deviss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DATANG
**Terima kasih banget para reader yang sudah mendukung, memberikan vote dan likenya. I love youuuuu😘😘😘😘
Gabung di grup ya! biar kita bisa saling menyapa, dan mengetahui apa saja yg dilakukan sehari-hari autor ini.
Mohon pengertiannya karena saya bekerja dan sudah berkeluarga. 🙏🙏🙏🙏 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
🌷happy reading🌷
-------------------------------
Pagi ini, Maya bersiap untuk berangkat ke kantor. Bayangan mengerikan terlintas di kepalanya. Dua hari tidak masuk, pastinya akan ada banyak tumpukan berkas di meja. Dentingan pesan membuyarkan lamunannya.
[Berangkat kerja naik apa?]
[Jangan lupa sarapan dan JANGAN MINUM KOPI!]
Membahas tentang kopi, Maya jadi teringat semalam. Dia belum sempat meminta maaf pada Prawira, karena pada saat itu, Rangga masih berada di rumahnya.
"Oh, sudah sampai." Maya melihat gojek berada di depan rumahnya. Dia langsung menghampiri, lalu pergi.
Bayangan mengerikan itu menjadi kenyataan. Maya sampai menghentikan langkahnya sebentar, ketika dari kejauhan melihat tumpukan berkas di atas meja kerjanya.
Sebelum memulai kegiatan, Maya mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu membalas pesan dari Prawira.
[Ini sudah sampai, pake ojek online]
[Iya, tadi pagi gak minum kopi kok. Maafin saya ya untuk kopi yang sudah kamu minum]
[Oiya, bagaimana keadaan kamu?]
[Apa yang kamu rasain sekarang?]
[Kenapa kamu bohong, saat saya tanya obat itu punya siapa?]
[Gak baik kalau keseringan bohong, nanti jadi kebiasaan]
Setelah itu Maya memulai pekerjaannya dari berkas yang paling bawah. Namun, baru saja ingin memulai, dentingan ponsel mengalihkan niatnya.
[Wah, banyak sekali pertanyaannya. Haruskah saya menjawab semua?]
Maya dengan cepat membalas.
[Tidak perlu, Pak?] ✔️
[Ha ha ha, becanda, jangan serius-serius banget nanti cepet tua.]
Perlahan Maya menurunkan ponsel yang dipegangnya. Sekilas teringat kata-kata juha 'Jangan sering mengerutkan dahi, nanti cepet tua'. Dia menarik napasnya dalam, lalu membuangnya perlahan.
"Bagaimana kabarnya, Bang?" kata Maya berbicara sendiri, lalu memulai pekerjaannya.
***
Waktu berjalan dengan cepat hingga sore pun tiba. Maya bergegas memesan ojek online. Namun, tidak jadi karena mendapat pesan dari suaminya.
[Saya sudah ada di depan kantor kamu.]
Tidak lama kemudian, Maya keluar mememui Prawira bersandar di mobil sedang menatap ponsel. Dia memperlambat langkahnya, memandang lelaki itu dengan dalam.
Semakin dekat langkah Maya, semakin dalam tatapannya. Entah, kenapa? sejak kejadian semalam itu, dia jadi ingin mengetahui sifat yang lain dibalik aura dinginnya.
"Lama ya?" tanya Maya saat sampai di depannya.
"Hmm, yuk pulang!"
Maya menaikkan alis matanya. Kemudian, menarik napas dalam, membuangnya sedikit kasar sembari memberikan senyuman. Niat mencari sisi lain, musnah dipatahkan oleh ucapan dingin Prawira.
Selama diperjalanan, mereka hanya diam. Maya sesekali menanyakan hal yang menurutnya tidak penting dan lelaki itu pun hanya menjawab seadanya.
Pikiran Maya dipenuhi oleh pertanyaan tentang sikap Prawira yang kembali dingin. Berbeda sekali dengan yang dilihatnya semalam.
"Kamu tidak mau turun?" tanya Prawira sembari membuka sabuk pengamannya.
Ucapan itu mengingatkan Maya pada waktu itu. Saat dirinya dijemput oleh Prawira untuk menginap di rumah Bunda. "Iya, turun," jawabnya.
Setelah keluar dari mobil, mereka berpencar. Maya langsung menemui Mbok Nah di dapur, sedangkan Prawira langsung ke kamar.
"Masak apa Mbok buat makan malam?" tanya Maya melihat Mbok Nah sedang meracik.
"Ini Non, Den Wira bawain udang sama sayuran untuk makan malam."
"Loh, mang bibi tidak ke pasar tadi pagi?"
"Ke pasar Non, tapi kata Aden masak ini aja."
"Mau dibantuin, Mbok?"
"Gak usah. Non mandi aja, pulang kerja cape."
Maya mengangguk. Bergeser ke tempat rak piring, lalu mengambil dua gelas. Dia ingat perkataan suaminya, 'jika tidak ada teh, air putih juga bisa'. Kemudian, dia mengisi sesuai perintah.
Langkah Maya terhenti, ketika sampai depan kamarnya. Dia kesulitan untuk mengetuk pintu, karena dua tangannya memegang gelas. Alhasil dia menggunakan kakinya.
"Wira, tolong bukain pintunya donk!" Tidak ada tanggapan. "Wiraa ...." Kaki Maya mengetuk kembali. "Wi—" Pintu terbuka.
Maya ingin memaki. Namun, tidak jadi, karena terlihat Prawira dalam mode singa. Matanya bergerak ke kiri ke kanan, mengukur celah antara kaso dan suaminya yang berada di tengah.
"Ini saya bawain air putih." Maya langsung menyodorkannya. Kemudian memaksa masuk.
Langkah Maya terhenti, lalu berbalik ketika mendengar suara pintu terkunci. "Kenapa dikunci?"
"Memangnya kenapa, tidak ada lagi yang mau masuk selain kamu dan saya kan?"
"Iya, tapi tidak perlu dikunci."
Prawira dengan cepat memasukkan kuci ke dalam saku celananya, saat Maya bergerak mendekat.
"Rese banget sih kamu. Siniin kuncinya." Prawira malah melipat kedua tangannya. "Tolong, kasih kuncinya. Nanti ada yang salah paha—"
"Siapa yang salah paham?" Prawira mendekat.
Maya memejam sebentar. "Maksud saya, nanti dikiranya kita melakukan yang tidak-tidak."
"Kamu lupa, kita sudah sah?" Jarak Prawira semakin dekat ke arah Maya.
"Ya, terserahlah. Kalau ada masalah dikerjaan jangan bawa ke sini. Kamu pikir, melihat wajah kamu yang tegang seperti itu, saya tidak takut. Takut tau!" Kata-kata Maya tidak begitu didengar oleh Prawira.
"Ke-kenapa sih?" tanya Maya saat Prawira berada di hadapannya.
"Kamu masih ingat, saat dulu Rangga menjadi saya?"
Maya mengangguk. "Masih," jawabnya.
"Apa kamu dekat dengan dia, setelah kamu tau dia bukan saya?"
"Emm ... lumayan, karena dia yang lebih sering bersama saya. Dia juga orangnya baik, supel, hum—"
"Apa kamu suka dia?" Potong Prawira.
"Tidak." Prawira langsung menarik tengkuk Maya, lalu ********** perlahan.
Jelas, perasaan Maya shock, tubuhnya kaku, matanya membola, dan jari-jarinya mengepal kuat. Dia hanya diam, bibir mengatup, tidak ada celah untuk Prawira masuk.
Akan tetapi, semakin lama permainan semakin lihai. Belaian lembut dari jari-jari Prawira membuat Maya membuka mulutnya.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Prawira langsung melesat, mencari gumpalan daging tak bertulang, lalu menghisapnya.
Sepintas teringat cerita Rangga yang dicurigai oleh kedua orang tuanya. Ditambah dengan adegan semalam yang tak sengaja terlihat oleh Prawira.
"Gue suaminya, gak ada yang boleh menyentuhnya kecuali gue," ucapnya dalam hati.
Bersambung ....
(Yang belum menikah diskip aja ya! takud pengen kan bahaya)✌✌✌✌✌🤗22
nggak di dua in.
reader di prank ..