Seluruh bangunan yang berada di pulau Kanawa terancam di gusur, karena kepemilikannya berpindah tangan pada pria asing berasal dari Jerman. Yang akan merubah semua isi pulau tersebut untuk di jadikan tempat wisata yang akan menambah kekayaannya.
Pria asing itu adalah Jerricco
Alessandro, pria sukses dalam bidang teknologi dan wisata mancanegara.
Tidak ingin mata pencaharian warga hilang begitu saja karena ke serakahan pria itu, Damara harus merelakan diri menjadi istri Jerry, agar dirinya serta seluruh warga pulau Kanwa tetap bisa bekerja dan mencari pundi-pundi rupiah.
"Hidupnya harus membawa banyak keuntungan besar untukku!" pria paru baya tersebut menyeringai sambil memandangi foto wanita berparas cantik dengan rambut sebahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menginginkannya
Fernandes yang melihat tubuh putrinya bersimbah darah karena dirinya, langsung melemparkan pedang itu ke sembarang arah lalu membawa tubuh Mira ke dalam pelukannya.
Tubuh Jerricco lemas seketika saat melihat Mira yang hampir menutup kelopak matanya sambil tersenyum tipis ke arahnya.
_-Flashback off-_
Damara jelas melihat wajah Jerricco yang terlihat penuh kesedihan, dia bukan hanya kehilangan Mira tetapi juga bayi mereka. Damara memeluk tubuh Jerricco, pengorbanan Mira sangat besar mungkin itu alasan Jerricco tidak bisa melupakannya.
“Setelah itu aku membawanya ke rumah sakit, namun dia tidak bisa bertahan.” Suara Jerricco terdengar bergetar, dadanya sesak. Sakit sekali jika mengingat kejadian itu, harusnya dia bisa melindungi Mira. Bukan malah membuat Mira dan bayinya pergi karena kebodohannya.
Damara merasakan tetesan air membasahi keningnya, ia mendongkak dan benar Jerricco menangis. Damara menegakkan tubuhnya dia mengambil tangan Jerricco ke dalam genggamannya, mencoba memberikan kekuatan untuk Jerricco.
Jerricco menghapus air matanya menggunakan tangan kiri yang tidak di genggam oleh Damara, ia menatap mata Damara dengan lekat. “Saat nanti aku sudah jatuh cinta padamu, jangan pernah pergi dariku.”
Damara mengangguk. “Aku tidak akan pernah pergi,” ucap Damara dengan penuh keyakinan. Damara tersenyum saat Jerricco membelai pipinya, mata mereka saling mengunci.
Entah siapa yang memulai kini bibir mereka beradu, melahap satu sama lain dengan sangat lembut dan perlahan. Jerricco melepaskan ciuman mereka, “Kau milikku.”
***
Pagi itu Jerricco bangun lebih dulu, Damara masih ada di dalam dekapannya. Tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi wajah Damara, saat kelopak mata Damara terbuka Jerricco masih memperhatikan manik Damara yang terlihat masih mengantuk.
“Kau masih mengantuk?” pertanyaan Jerricco di jawab dengan anggukan oleh Damara, di ikuti kelopak mata Damara yang kembali tertutup.
Jerricco memberikan kecupan di bibir Damara, entah kenapa bibir tipis itu menjadi tempat favoritnya. Damara membuka kelopak matanya dengan sempurna, bibirnya mengerucut. “Tuan kau menyuruhku kembali tidur, tapi mengganggu tidurku.”
Jerricco mengecup bibir Damara yang mengerucut, bukan sekedar kecupan tapi ciuman singkat yang membuat kesadaran Damara seratus persen bangun dari rasa kantuknya.
Jerricco mengulum senyumnya saat melihat reaksi Damara, apalagi pipi istrinya terlihat berubah kemerah-merahan. “Kenapa?”
Melihat senyum Jerricco membuat Damara salah tingkah, bagaimana tidak mereka sedekat ini bahkan tidak ada jarak selain kain yang menutupi tubuh mereka. Rasanya Damara ingin menghilang detik itu juga dari hadapan Jerricco.
Sepertinya keinginan menghilangnya tidak mungkin terjadi, Damara memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Jerricco. Jantungnya berdebar, ‘Apakah secepat ini aku mencintainya?’
Damara memilih tidak memedulikan pertanyaan yang muncul di kepalanya, ia lebih memilih merasakan pelukan hangat mereka pagi ini.
Ada perasaan tenang dan nyaman saat memeluk Damara, Jerricco tidak tahu jelas arti dari perasaan yang kini ia rasakan. Hatinya merasa lega, seperti ada suatu beban berat yang terangkat dari pikirannya.
Masih dengan posisi berpelukan Jerricco membelai rambut sebahu milik Damara yang berantakan, dengan jari-jarinya ia mencoba merapikan rambut istrinya. “Jadi kita mau honeymoon ke mana?”
Damara mendongkak melihat wajah Jerricco, “Terserah Tuan, aku ikut saja.”
Jerricco menatap manik milik Damara, “Jangan memanggilku dengan sebutan Tuan lagi.”
“Lalu apa?”
“Emmm … sayang.”
Damara tersenyum lebar menanggapi ucapan Jerricco, “Tidak, itu terlalu berlebihan.”
“Tapi aku menginginkannya.”
Damara menatap lekat mata Jerricco, berharap bahwa Jerricco hanya bercanda. Tetapi sepertinya Jerricco memang menginginkan panggilan itu, Damara mencoba menenangkan debaran di hatinya.
“Sayang,” panggil Damara sambil tersenyum lebar.
Jempol tangan Jerricco menyentuh bibir tipis Damara yang berani memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’. Ia berharap akan timbul rasa cinta di antara mereka dengan seiring berjalannya waktu.
‘Aku akan berusaha melupakannya, dan akan selalu mengingat namamu, istriku.’ Batin Jerricco.
Kenapa setelah menikah terjesan spt gadis cengeng..?
koq aku ga paham yaa