Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Malam Penghakiman
Malam Lelang Amal Surabaya digelar di ballroom hotel paling terang di pusat kota.
Lampu kristal menggantung seperti hujan beku. Meja-meja bundar ditata dengan bunga putih, kartu nama berlapis emas, dan katalog lelang yang dicetak tebal. Di sisi aula, wartawan berdiri rapi di balik pembatas rendah, kamera mereka menunggu wajah mana yang pantas dijadikan berita besok pagi.
Sherly Permata datang dengan gaun biru muda.
Warna itu pilihan yang cermat. Lembut. Tidak menyerang. Membuatnya terlihat seperti perempuan yang masih berusaha berdiri meski difitnah.
Ia tersenyum pada setiap orang.
"Aku baik-baik saja," katanya ketika seorang sosialita menyentuh lengannya. "Aku percaya kebenaran akan menang."
Beberapa orang mengangguk, tetapi tidak sehangat biasanya.
Retakan sudah ada.
Sherly merasakannya dari cara mereka tidak lagi memeluknya, hanya menyentuh singkat. Dari cara mata mereka turun ke ponsel begitu ia mendekat. Dari cara bisik-bisik berhenti terlalu cepat.
Ia mencoba menutup rasa itu dengan bergerak lebih anggun. Ia berhenti di meja donatur, memuji kalung seorang ibu pengusaha, menanyakan kabar anak orang lain, dan tertawa kecil saat ada yang menyebut cuaca. Semua gerakannya benar. Semua kalimatnya tepat.
Tetapi malam itu, ketepatan justru membuatnya terlihat seperti sedang memainkan peran yang sudah diketahui semua orang.
Galang berdiri di dekat pilar, memakai jas hitam. Ia tidak menggandeng Sherly.
Sherly melihat itu dan dadanya terasa sesak.
Namun ia tetap menghampiri.
"Galang," panggilnya pelan.
Galang menatapnya. "Kamu datang."
"Tentu. Kalau aku tidak datang, mereka akan mengira aku takut."
Galang tidak menjawab.
Di seberang ballroom, Bryan Liem masuk bersama perwakilan Hartono Group. Ia tidak banyak bicara, tetapi matanya menyapu ruangan seperti orang yang sudah tahu di mana semua pintu keluar. Aqil berdiri di sisi lain, berpakaian rapi seperti staf keamanan hotel, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari jalur panggung.
Lalu Keira datang.
Tidak ada pengumuman khusus. Tidak ada musik berubah. Namun percakapan di beberapa meja berhenti dengan sendirinya.
Keira memakai gaun hitam sederhana dengan potongan bersih. Rambutnya disanggul rendah, lehernya hanya dihiasi rantai tipis tempat Cincin Giok tersembunyi di balik kain. Ia tidak tampak seperti perempuan yang baru saja difitnah satu kota.
Ia tampak seperti orang yang datang untuk mengambil kembali ruang.
Sherly menggenggam clutch-nya.
Keira tidak menoleh padanya.
Itu lebih menyakitkan daripada tatapan penuh kebencian.
Acara dimulai dengan pidato yayasan, video anak-anak penerima bantuan, lalu lelang pertama. Hadirin bertepuk tangan. Beberapa orang mulai sedikit santai. Sherly bahkan memaksa dirinya mengangkat paddle pada satu lukisan kecil, membuat orang kembali melihatnya sebagai sosialita murah hati.
Kemudian pembawa acara mengumumkan sesi sponsor pendamping.
"Selanjutnya, perwakilan Hartono Group akan menyampaikan pesan singkat."
Lampu panggung berubah.
Keira berdiri.
Sherly merasakan sesuatu di perutnya jatuh.
Keira tidak naik ke tengah panggung. Ia hanya berjalan ke sisi layar besar, menerima mikrofon dari panitia, lalu menatap seluruh ballroom.
"Terima kasih untuk malam ini," katanya. Suaranya tenang, terdengar jelas sampai meja paling belakang. "Hartono Group selalu mendukung kegiatan sosial. Tapi sebelum kita bicara tentang amal, saya ingin bicara tentang satu hal yang lebih dasar."
Layar di belakangnya menyala.
Judul pertama muncul:
`Fitnah dan Pembelian Media`
Bisik-bisik langsung pecah.
Di layar, muncul alur waktu. Unggahan pertama akun gosip. Transfer ke perantara. Percakapan singkat yang memerintahkan narasi menyerang K.H. Nama rekening disamarkan sebagian, tetapi jalurnya jelas.
Sherly berdiri kaku.
Keira tidak menyebut namanya dulu.
Justru itu membuat semua orang menunggu.
"Beberapa hari terakhir, nama saya dipakai untuk hiburan murah," kata Keira. "Saya tidak keberatan orang bertanya. Saya keberatan ketika kebohongan dibayar, lalu disebut kebenaran."
Layar berubah lagi.
Kali ini rekaman suara diputar.
`Pastikan perempuan itu mati. Tabrak dia, pastikan dia tidak bisa bangun lagi.`
Suara Sherly memenuhi ballroom.
Tidak ada musik.
Tidak ada tepuk tangan.
Hanya napas tertahan dari ratusan orang.
Sherly merasa lantai di bawah kakinya bergerak.
"Itu bukan..." Suaranya keluar terlalu kecil. "Itu bukan aku."
Tetapi layar sudah menampilkan grafik suara, tanggal, nomor panggilan, lokasi menara seluler, dan transfer ke rekening pengemudi.
Galang menoleh padanya perlahan.
Wajahnya tidak marah pada awalnya.
Wajahnya kosong.
Kekosongan itu jauh lebih mengerikan.
Keira tetap berdiri dengan mikrofon di tangan. "Tiga tahun lalu, saya hampir mati di jalan setelah menerima surat cerai. Banyak orang menyebut itu kecelakaan."
Ia berhenti sebentar.
"Malam ini, kalian mendengar sendiri bahwa itu bukan kecelakaan."
Beberapa perempuan menutup mulut. Seorang pria tua di meja depan berdiri, lalu duduk lagi seperti lututnya kehilangan tenaga. Wartawan mulai mengangkat kamera, tetapi Bryan memberi isyarat halus agar mereka tidak menghalangi layar.
Di meja media, reporter yang kemarin menahan berita lanjutan tentang Keira mulai mengetik cepat. Judul baru terbentuk di layar laptopnya:
`Bukti Baru di Lelang Amal: Tuduhan terhadap Keira Hartono Berbalik Menjadi Skandal Sherly Permata`
Ia berhenti sebentar, menatap Sherly yang pucat, lalu menambahkan satu kata:
`Eksklusif.`
Layar berikutnya menampilkan folder `Hotel`.
Sherly tiba-tiba bergerak.
Ia berbalik hendak keluar dari sela meja.
Aqil sudah berdiri di jalur itu.
Ia tidak menyentuh Sherly. Tidak perlu. Dua staf keamanan hotel yang sudah diberi instruksi berdiri di belakangnya, sopan tetapi tegas.
"Bu Sherly, acara belum selesai," kata Aqil datar.
Kata `Bu` terdengar seperti pagar besi.
Sherly mundur.
Di layar, percakapan tentang akses kartu kamar, foto botol minuman, dan rekaman lobi muncul satu per satu. Wajah Anisa dalam rekaman lama terlihat buram, tubuhnya tidak stabil. Ada tangan perempuan yang mendorongnya masuk ke lorong.
Galang menggenggam sandaran kursi di dekatnya.
"Sherly..." Suaranya pecah.
Sherly menoleh cepat. "Itu editan. Galang, kamu harus percaya aku."
Galang tidak melihatnya lagi.
Di kepalanya, potongan-potongan lama saling menghantam. Sherly menangis di mobil malam itu. Sherly memeluk lengannya saat ia hendak mengecek pesan Anisa. Sherly berkata Anisa hanya mencari perhatian.
Dan ia percaya.
Ia percaya sampai perempuan itu hampir mati sendirian.
Layar berubah untuk ketiga kalinya.
`Yumi Permata`
Keira mengangkat mikrofon sedikit lebih dekat. "Bagian ini sudah disunting untuk melindungi korban. Yang perlu diketahui publik hanya satu: perempuan yang menyebut dirinya korban juga mengurung, mengancam, dan memperlakukan adiknya sendiri seperti alat."
Foto kamar lembap muncul. Percakapan Sherly dengan penjaga rumah. Bukti pembayaran. Satu kalimat ancaman yang pernah dikirim kepada penjaga:
`Kalau dia menangis, kunci saja kamar belakang.`
Suara di ruangan berubah.
Kemarahan yang tadi masih tertahan kini mulai terdengar.
"Itu adiknya sendiri?"
"Ya Tuhan..."
"Selama ini dia selalu tampil paling lembut."
Sherly menutup telinga. "Cukup!"
Suara itu memantul di ballroom.
Semua orang menatapnya.
Sherly baru sadar ia berteriak.
Keira menurunkan mikrofon. Tatapannya akhirnya jatuh pada Sherly.
Tidak panas.
Tidak gemetar.
Hanya dingin, seperti pintu yang sudah tertutup.
"Belum cukup," kata Keira. "Tapi sisanya bukan untuk tontonan malam ini."
Layar terakhir menampilkan satu halaman resmi.
`Salinan bukti lengkap telah dikirim kepada kuasa hukum Hartono Group dan pihak berwenang.`
Seorang wartawan berseru, "Bu Keira, apakah ini berarti Anda akan menempuh jalur hukum?"
Keira menatapnya. "Saya tidak perlu berteriak untuk membuat orang bersalah jatuh. Hukum akan bekerja. Publik malam ini hanya melihat alasan saya tidak lagi diam."
Kata-kata itu membuat ballroom kembali senyap.
Di meja belakang, Engkong Gondokusumo menutup mata.
Ia datang dengan tongkat dan wajah berat, berharap mungkin masih ada penjelasan yang bisa menyelamatkan nama keluarga. Setelah layar terakhir padam, lelaki tua itu menghela napas panjang.
"Galang," katanya pelan, tetapi cukup terdengar oleh cucunya. "Lihat baik-baik siapa yang kau pilih."
Galang tidak menjawab.
Ia menatap Sherly, lalu menatap Keira.
Di wajahnya ada rasa takut yang datang terlalu terlambat.
Sherly jatuh terduduk di kursinya. Make-up di bawah matanya mulai luntur. Tidak ada satu pun perempuan yang tadi menyentuh lengannya datang membantu. Mereka hanya mundur sedikit, seolah kejahatan bisa menular lewat kain gaun.
Seorang sosialita yang kemarin menulis komentar paling tajam tentang Keira buru-buru menghapus story dari ponselnya. Di meja lain, seorang pengusaha yang sempat meminta humas Hartono menunda kerja sama kini menunduk, wajahnya kaku karena malu.
Begitulah cepatnya arah angin berubah.
Kemarin mereka menyebutnya kebenaran.
Malam ini, mereka menyebutnya salah paham besar.
Keira menyerahkan mikrofon kembali kepada panitia.
Acara amal itu tidak lagi bisa kembali seperti semula.
Ia berjalan turun dari sisi panggung. Bryan mendekat, suaranya rendah. "Semua aman."
"Yumi?"
"Di safe house. Tidak lihat siaran. Sesuai perintahmu."
Keira mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu, ada kelembutan kecil di matanya.
Ia tidak menunggu tepuk tangan.
Ia tidak membutuhkan itu.
Keira mengambil gelas air mineral dari meja, bukan wine seperti yang orang-orang kira. Ia meneguk seteguk, lalu berjalan keluar dari ballroom dengan langkah yang tetap sama seperti saat masuk.
Di belakangnya, kamera menyala. Nama Sherly pecah menjadi ribuan bisik-bisik. Nama Keira tidak lagi berada di bawah fitnah.
Di lobi hotel, udara terasa lebih dingin.
Keira baru melewati pintu kaca ketika langkah seseorang menyusul dari belakang.
Ia tidak berbalik.
"Keira..."
Suara Galang terdengar serak, hancur, seperti seseorang yang akhirnya melihat reruntuhan rumahnya sendiri.