NovelToon NovelToon
LAGU CINTA ELLENA

LAGU CINTA ELLENA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Nikahmuda / Chicklit / Tamat
Popularitas:179.2k
Nilai: 5
Nama Author: L. ROSA

Sebuah lagu lama yang dinyanyikannya dapat membuat orang-orang di masa lalunya mengenalinya, yang selama ini mereka mencari keberadaannya. Ellena gadis yang hidup sebatang kara, yang menjadi penyanyi dari cafe ke cafe untuk menyambung hidupnya ketika usianya masih sangat muda. Berjuang mengarungi hidup yang keras di kota Bandung, penuh suka dan duka. Dan ketika takdir mempertemukannya dengan orang di masa lalunya, ia bisa hidup bahagia dengan perlindungan dan kasih sayang yang tercurah padanya. Juga dengan lagu itu ia jadi tahu siapa ayahnya. Akankah Ellena menerima kehadiran Ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L. ROSA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. KAU TAHU YANG KU MAU

"Masa? Beneran? Kok bisa?" Hana penasaran.

Tomy tersenyum simpul tidak segera menjawab. Ia menepikan mobilnya dan berhenti.

"Itu sebagai kado pernikahan kita, sayang. Devta merelakan hotelnya jadi milikku semua dengan harga bersahabat. Dulu kami membeli hotel yang hampir bangkrut itu dari seseorang. Aku mengajak Devta join karena uangku tak cukup. Kini setelah 4 tahun mengelola hotel itu, aku punya cukup uang untuk membeli sebagian investasi Devta. Karena dulu kami sudah berkomitmen begitu. Kalau dia kan punya saham di perusahaan keluarganya dan punya cafe. Jadi kalau hotel, dia tadinya beli patungan untuk membantuku saja," kata Tomy.

"Pak Devta baik ya, A," ujar Hana.

"Dia teman sejatiku dari jaman kuliah, walau tidak satu universitas," jawab Tomy.

"Ngomong-ngomong, gimana tadi di kampus?" tanya Tomy.

"Aa sih, bikin kissmark sembarangan. Doris dan Ellena jadi tahu. Si Doris narik syalku. Kelihatan deh. Jadi malu," Hana menutup wajahnya.

Tomy terkekeh.

"Maaf, gak sengaja. Terbawa perasaan. Lain kali di bagian yang lain ya yang gak kelihatan," kata Tomy tersenyum nakal.

"Ih, Aa mah mesum," kata Hana sambil memukul manja pada suaminya.

"Gak apa-apa kan mesum pada istri sendiri," kata Tomy.

Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah mereka. Rumah bergaya minimalis yang cukup besar yang berada di pusat kota Bandung.

Setelah masuk ke kamar, berganti pakaian rumah dan merebahkan diri di ranjang, Hana menghampiri Tomy dan memberinya segelas air hangat. Tomy meminumnya , menyisakan sedikit, kemudian memberikan gelas itu pada Hana..Hana menyimpannya di meja yang ada di kamarnya.

"Cape A?" Hana memijat-mijat lengan Tomy. Tomy tersenyum, Ia merubah posisi rebahannya menjadi telungkup. Hana memijat-mijat punggung Tomy.

"Aku menyesal menikah, sayang," kata Tomy tiba-tiba.

"Apa? Aa menyesal menikah sama aku?" Hana menghentikan pijatannya. Bibirnya mengerucut.

"Aku menyesal menikahnya kenapa baru kemarin-kemarin. Coba dari dulu kita ketemunya. Tentunya udah menikah dari dulu," kata Tomy.

Hana tersenyum. Mau marah tidak jadi. Hana melanjutkan pijatannya.

"Udah menikah itu enak. Cape, ada yang mijitin, bobo ada yang nemenin, mau apa ada yang ngurusin. Ya .... walau sementara kita LDR an 2 minggu sekali. Tapi aku bahagia," kata Tomy.

"A Tomy sabar ya. Nanti kalau kuliahku udah selesai, aku mau kok ikut A Tomy ke Pangandaran," kata Hana. Hana menyelesaikan pijatannya hingga kaki.

"Sebentar ya A," Hana beranjak dari ranjang. Pergi ke walk in closet, memilih-milih pakaian di lemari yang ada di sana.

Tak lama kemudian, Hana keluar dengan pelan. Tomy menoleh. Terpana. Tomy membalikkan badan. Dengan berdebar-debar menanti Hana mendekat.

"Gimana A, kejutannya? Suka?" Hana menggoda Tomy. Tomy telah memberinya kejutan datang di luar jadwal, kini giliran Hana yang memberi kejutan. Ternyata Hana memberi kejutan pada suaminya yang baru datang dari Pangandaran, dengan memakai lingerie warna emas yang menerawang.

Tomy menelan salivanya. Ia masih terpana dengan kejutan yang diberikan istrinya.

"Su - suka," jawab Tomy gugup.

Ketika sudah berada didepannya, segera ditariknya Hana, hingga Hana terjatuh diatas Tomy. Segera di balikkannya Hana hingga Hana berada dibawah kekuasaannya.

"Kau tahu yang ku mau. Aku ingin makan siang. Kamulah hidangannya," kata Tomy.

"Ini hadiah untuk jerih payahmu menempuh perjalanan ke Bandung," kata Hana tersenyum. Hana memang belum sepenuhnya mencintai Tomy. Tapi ia akan berusaha belajar mencintai Tomy. Ia ingin membalas cinta dan perhatian Tomy kepadanya. Karena Tomy lah masa depannya sekarang. Hana akan berusaha melupakan cinta masa lalunya. Ia akan memberikan yang terbaik untuk Tomy. Menjadi istri yang sholehah.

Mendapat kata-kata manis dari Hana, Tomy jadi semakin gemas. Dan terjadilah apa yang harus terjadi yang dilakukan sepasang pengantin baru itu.

******

Di tempat lain, di rumah Devta, tak jauh beda. Devta telah menggagalkan tidur siang Ellena, setelah kedatangan Tomy satu jam yang lalu.

"Bie, sudah," rengek Ellena.

Devta masih saja bermain-main setelah apa yang sudah dilakukannya satu jam yang lalu.

"Nanti sayang. Sekali lagi ya," bujuk Devta.

Ellena gemas. Ellena segera mengambil alih kendali. Devta terpana. Devta akhirnya dibuat terkapar dibawah kendali Ellena.

"Kamu tahu yang kumau sayangku," gumam Devta sebelum tertidur karena kelelahan.

Menjelang sore, Devta mendapat telepon dari Tuan Doni Wijaya. Keluarga kecilnya diundang oleh mantan mertuanya itu untuk makan malam di rumah mantan mertuanya.

"Istrimu belum pernah diajak berkunjung ke rumahku. Walau Renata telah tiada, ijinkan Papa untuk terus menjalin silaturahmi dengan kalian, bukan hanya Chika, cucu Papa. Jadi, datanglah nanti malam," kata Tuan Doni.

"Baik, Pah. In Sha Allah kami akan datang nanti malam," jawab Devta.

"Aku ingin lebih mengenal istrimu. Dia jadi ibu sambung Chika. Aku ingin istrimu jadi pengganti anakku, Renata. Supaya Papa merasa tenang di sisa usia Papa. Papa sudah mengetahui latar belakangnya sedikit," kata Tuan Doni.

"Ya, Pah. Nanti kami akan datang sebelum jam 7 malam," kata Devta.

Sementara itu di rumah Hana, Tomy mengajak Hana bicara serius tentang keluarga mereka.

"Hana, aku sebagai suamimu merasa berkewajiban menjaga keluargamu juga. Bapak dan Ibumu tidak mungkin bekerja selamanya di rumah Devta. Aku merasa berdosa kalau membiarkan hal itu terus terjadi. Mereka harus hidup lebih baik," kata Tomy.

"Lalu apa yang akan kamu lakukan, A?" tanya Hana.

"Aku akan memberi mereka usaha. Membelikan mereka kios di pasar, supaya mereka bisa berjualan untuk mata pencaharian mereka. Mereka juga tidak perlu meninggalkan rumah mereka. Pagi-pagi ke pasar, siang hari pulang ke rumah. Bagaimana, kamu setuju?" tanya Tomy.

"Aku setuju, A. Aa baik sekali, peduli pada keluargaku," Hana menyandarkan kepalanya pada dada bidang Tomy. Satu lagi nilai lebih Tomy di mata Hana. Membuat Hana semakin sayang pada Tomy.

"Besok kita bicara pada Devta, juga pada Ibu dan Bapak," kata Tomy sambil membelai rambut Hana.

******

Seperti yang telah dijanjikan, Devta, Ellena dan Chika tiba di rumah Tuan Doni sebelum pukul 7 malam. Pintu gerbang terbuka otomatis, petugas keamanan di rumah itu mempersilahkan mobil mereka memasuki halaman rumah Tuan Doni yang luas yang banyak ditumbuhi pohon dan tanaman hias.

Memasuki halaman rumah mantan mertuanya, membuat ingatan Devta melayang pada beberapa tahun silam, saat istrinya masih hidup.

Devta masih terdiam ketika mobilnya berhenti di depan rumah besar itu. Sampai akhirnya Ellena menyentuh lengan Devta, Devta baru tersadar dari lamunannya.

"Kak Dev, kita sudah sampai," kata Ellena.

"Horeee ....! Sudah sampai di rumah Opa!" teriak Chika.

Merekapun turun dari mobil, dan melangkah memasuki teras. Bel pun ditekan. Tak lama, seorang ART membukakan pintu.

"Tuan Devta. Mari masuk! Tuan Besar sudah menunggu," kata ART itu.

Tuan Doni berada di ruang tengah. Ia langsung berdiri menyambut kedatangan keluarga kecil Devta. Pandangan Tuan Doni sedikit terbelalak melihat penampilan Ellena malam itu. Memakai long dress dengan rambut di sanggul cempol ke atas, mengingatkan Tuan Doni pada seseorang.

Devta, Ellena dan Chika mencium tangan Tuan Doni secara bergantian. Merekapun diajak ke ruang makan. Hidangan sudah siap di meja makan. Semuanya tampak menggugah selera. Mereka menikmati makan malam tanpa bersuara. Karena kebiasaan di rumah Tuan Doni, tidak boleh berbicara pada saat makan. Mereka boleh berbicara setelah makan selesai. Devta telah memberitahu Ellena sebelumnya tentang hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di rumah Tuan Doni.

Untung Ellena sudah belajar Table Manner pada Devta sejak makan malam dengan Mama Devta waktu itu, sehingga Ellena tidak bingung lagi kali ini mendapati alat makan yang berjejer di depannya.

Setelah menyelesaikan makan malam, Tuan Doni mengajak mereka ke ruang tengah, ruang keluarga. Di sana masih terpampang foto keluarga Tuan Doni Wijaya. Ada istri dan Renata serta Devta muda. Ada juga foto close up Chika waktu masih bayi.

Mereka berbincang-bincang diselingi gelak tawa karena ulah dan celotehan Chika yang lucu.

Ketika mereka asyik berbincang-bincang, terdengar suara kilat menggelegar dan langsung turun hujan besar disertai angin kencang.

"Kalian menginap saja. Di luar hujan angin dan kilat," kata Tuan Doni. Devta merasa tidak enak untuk menolak. Akhirnya merekapun menginap di rumah Tuan Doni.

Chika yang sudah mengantuk digendong Devta ke kamar yang biasa Chika tidur bila di rumah Tuan Doni. Walau sudah mengantuk, Chika mau tidur bila ditemani Ellena terlebih dahulu. Untuk membuat Chika cepat tidur, untuk mendongeng, mata Chika terlihat sudah 5 watt. Jadi Ellena memutuskan untuk menyanyi yang akan menina bobokan Chika.

*Hari sudah seeeenja

Alam mulai sunyi

Burung-burung semua

Tlah berhenti bernyanyi

Jangkrik ramai bergurau

Dalam rumput hijau

Tanda bersuka ria

Karena malam ti-ba

Hari sudah seeeenja

Alam mulai sunyi

Alam menjadi kelam

Bintang-bintang bercahya

Anak gembala kerbau

Menghalau ternaknya

Pulang menuju dangau

Jauh di tepi lem-bah* ....

Tuan Doni yang sedang berbincang dengan Devta, merasa familiar dengan lagu itu. Setelah tertegun beberapa saat, Tuan Doni menghampiri kamar dimana Ellena dan Chika berada.

Devta merasa heran. Tapi karena ada artikel menarik di surat kabar yang berada di meja ruang tengah itu, memilih membaca dan tidak mengindahkan Tuan Doni yang pergi dari ruang tengah itu.

Tuan Doni berada di tengah pintu kamar yang terbuka. Mendengarkan nyanyian Ellena yang berulang-ulang menina bobokan Chika.

Ada apa sebenarnya Tuan Doni? Kenapa Tuan Doni?

Tunggu up selanjutnya.

*

*

*

*

*

Setelah baca, jangan lupa beri Vote, like dan komen ya!

Terimakasih ...

.

1
icha
hana tmnmu bknnya polos tp bodoh,jls2 aja dy tau klau omnya sk sm dy,msh ada dkt2,itukan mau dicap sbgai pelakor
icha
bodoh mmng jd cewek
icha
gk kapok jg sicewek ini,suka sm cowok
Maliqa Effendy
gapp..udah ngerasain bibir Zidan kan..
Maliqa Effendy
Ellena ga belajar yaa..gampang bngt sih ke jebak terus...ck..ck..ck..
Jenna Joni
gak harus diulang2 sih thor
Jenna Joni
cerita nya gimana sih thor... elena bodoh atw gimana masa gak kapok2 sama omnya yg omes
Andi Yuliana
Kecewa
auliasiamatir
betul itu Helena
알미라
A
Nalika Junaedi
Tomy...bikin ngakak aja
auliasiamatir
elena jangan polos amat lah jadiboarng
auliasiamatir
elena tetap pada Devita ya
auliasiamatir
tambah keren Kaka ku
auliasiamatir
semangat elena
auliasiamatir
pasti pak devta ya
auliasiamatir
tambah keren aja ceritanya.
auliasiamatir
jangan jangan elena anak nya pak Doni yah
auliasiamatir
kek nya jodohnya elena pak devta deh
auliasiamatir
cieee Helena pernah cinta monyet yah sama marsel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!