Elsya seorang mahasiswi cantik di salah satu kota besar di Indonesia. Dia tak sengaja bertemu dengan seseorang yang menurutnya sangat menyebalkan di suatu mall saat ia dan temannya sedang menonton bioskop
Karena ia telat pulang, ia diberikan hukuman bekerja di kantor teman Papanya. Ternyata bosnya itu adalah orang yang sama dengan dosennya. Yaitu seseorang yang sangat menyebalkan bagi Elsya
Bagaimana Elsya menghadapi perilaku bos sekaligus dosennya itu? Akankah Elsya sanggup untuk bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atanade, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikuti Saja Kata Hatimu
Arlan dengan cepat bertindak begitu situasi sudah tidak kondusif. Ia tidak ingin Elsya terluka karena Fendi. Oleh karena itu ia langsung berjalan menghampiri Elsya dan juga Fendi
"Ada apa kamu datang ke kantor saya? Apa tujuanmu membuat keributan disini?" Arlan bertanya pada Fendi dengan tatapan yang sangat menusuk
Mendengar suara kekasihnya, Elsya langsung menoleh ke arah Arlan. Pertahanan dirinya goyah mendengar suara laki laki yang ia cintai. Ingin rasanya ia menangis sejadi jadinya dan bersandar pada bahu kekasihnya. Tapi hal itu tentu saja ia urungkan. Ia berusaha untuk menahan agar air matanya tak jatuh begitu saja
"Saya hanya ingin berbicara dengan Elsya pak" jawab Fendi sambil berusaha untuk bangun dengan wajah meringis
"Berbicara? Apa seperti itu cara kamu memperlakukan dan berbicara pada wanita?" Arlan berjalan ke arah Fendi masih dengan tatapan membunuhnya
Merasa Arlan membela Elsya dan ia tak ingin tubuhnya tersakiti lagi, Fendi segera saja mundur teratur
Ketika itu dua orang security datang menghampiri Arlan. "Siang pak. Ada yang bisa kami bantu?"
"Jangan biarkan dia memasuki kantor ini lagi. Saya tidak suka ada orang yang membuat keributan dan kegaduhan disini" peeintah Arlan pada security
Ucapan Arlan sontak saja membuat Fendi geram. Ia kesal karena di blacklist oleh Arlan dari kantor itu
"Apa hak anda tidak memperbolehkan saya kesini lagi bapak Arlan yang terhormat?"
"Saya tidak suka kamu berbuat seperti itu kepada wanita terlebih itu adalah karyawan saya" jawab Arlan
"Tunggu apa lagi. Cepat bawa dia dari sini dan tempel wajahnya di pos, agar dia tidak masuk ke sini lagi" perintah Niko. Dan security pun langsung menbawa Fendi menjauh dari bosnya
"Anda berurusan dengan orang yang salah pak Arlan. Saya akan membuat perhitungan untuk anda" teriak Fendi yang sudah dibawa oleh security
"Ck, kamu yang salah buat masalah denganku" ungkap Arlan
Ketika Fendi sudah tak terlihat, Arlan menoleh ke arah Elsya. Arlan melihat Elsya sangat sedih akibat perbuatan Fendi padanya. Ia pun menggandeng tangan Elsya dan membawanya memasuki mobilnya yang sudah terparkir di lobby. Tak ada penolakan sama sekali dari Elsya
Niko tidak ingin menggangu waktu mereka berdua. Ia ingin memberikan waktu pada Arlan untuk menenangkan Elsya. Oleh karena itu, ia membatalkan pertemuan bosnya itu dengan klien. Beruntung sang klien mengerti karena kebetulan ia juga ada urusan mendadak
Arlan mengemudikan mobilnya keluar kantor. Ia melihat Elsya diam saja sambil memandang keluar jendela. Ia tidak suka melihat Elsya seperti itu. Rasanya ia ingin segera memeluk kekasihnya itu. Arlan lalu memarkirkan mobilnya di sebuah taman. Beruntung, taman itu sepi karena sedang siang hari
Begitu menyadari mobil Arlan berhenti, Elsya tidak langsung keluar dari mobil Arlan. Ia menoleh ke arah Arlan dan seketika itu ia langsung memeluk kekasihnya. Elsya segera menumpahkan semua rasa yang ia rasakan saat bertemu dengan Fendi. Arlan membalas pelukan Elsya sambil menenangkan wanita yang ia cintai. Arlan membelai rambut dan mengelus ngelus punggu Elsya
Arlan mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh Elsya karena ia berada disana sejak awal tapi ia sengaja tidak ingin mencampuri urusan mereka berdua dan ia ingin melihat seperti apa Elsya memecahkan masalah di dalam hidupnya. Namun ia mencoba menjadi pendengar yang baik, ia ingin Elsya menumpahkan keluh kesahnya agar hatinya tidak lagi ada ganjalan
"Menangislah Sya. Ga usah ditahan. Aku akan menemanimu" Arlan masih dengan setia menemani wanita spesialnya itu
"Kenapa sih orang orang selalu menganggap aku seperti itu? Aku bukan cewe matre yang mengincar harta siapa pun" curhat Elsya
"Aku tau. Mereka seperti itu karena mereka tidak tau latar belakangmu"
Elsya melepaskan pelukannya dari Arlan. "Jadi apa aku harus memberi tahu mereka siapa aku sebenarnya mas?" Elsya meminta pendapat Arlan sambil meneteskan air matanya
"Ga usah. Cukup ikuti kata hatimu. Kalau kata hatimu berkata kalau menyembunyikan latar belakangmu adalah hal terbaik, maka ikutilah. Aku akan selalu mendukungmu" Arlan menghapus air mata Elsya dengan tangannya
Elsya mengganggukan kepalanya. "Aku sebetulnya cape dengan orang orang yang mencari masalah denganku"
"Dengarkan aku Sya. Mungkin saat ini kamu sedang mengalami fase dimana kamu harus belajar. Anggap saja kejadian ini bagian dari pembelajaran berharga untuk dirimu. Kalau kamu menggantikan papamu kelak, tantangannya pasti akan lebih besar dari ini" Arlan menatap Elsya sungguh sungguh dan berusaha meyakinkan dirinya
"Iya mas benar" Elsya mencoba untuk tersenyum kembali
"Nah gitu dong. Aku ga suka melihat kamu bersedih kaya tadi. Aku suka lihat senyuman itu" Arlan tersenyum pada Elsya
Elsya menyenderkan kepalanya di bahu Arlan. Ia mencoba untuk mencari ketenangan di sana. Arlan tentu saja tidak menolak hal itu. Ia senang karena Elsya sudah tidak sesedih tadi
Ketika Elsya sudah tenang, mereka pun kembali ke kantor. Di perjalanan Elsya kembali mengeluh
"Ah, apa tanggapan beberapa karyawan yang tadi melihatku. Aku ga mau jadi bahan gosip" Elsya menutup wajahnya dengan kedua tangannya
"Hei ga usah dipikirkan. Pikirkan saja hal hal yang positif. Jangan memikirkan hal hal seperti itu Sya" Arlan berkata sambil sesekali menoleh ke arah Elsya
"Iya sih. Eh bentar" Elsya mengambil kaca dari dalam tasnya dan melihat wajahnya sendiri
"Huuuaaa wajahku jadi seperti ini. Kelihatan banget habis nangis" Elsya histeris sendiri melihat wajahnya yang sembab
Elsya segera mencari peralatan make upnya dan segera memoles wajahnya agar lebih fresh. Arlan hanya bisa geleng geleng kepala melihat sikap kekasihnya itu
"Kamu tetap cantik ko walau baru bangun tidur juga"
"Lho mas tau dari mana morning faceku?" Elsya lalu teringat peristiwa dimana ia menginap di rumah Arlan dan berakhir pada ciuman pertama mereka
Seketika wajah Elsya langsung memerah begitu teringat hal tersebut. Hal ini sontak saja membuat Arlan menggodanya
"Kenapa? Apa kamu sudah ingat? Apa jangan jangan yang kamu ingat adalah first kiss kita?" Arlan terkekeh melihat wajah Elsya yang kembali merona
Elsya memukul lengan Arlan dan hal itu membuat Arlan tertawa terbahak. Arlan memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus untuk dirinya. Ia menahan lengan Elsya saat Elsya akan keluar dari mobil. Elsya membalikkan badannya menghadap Arlan dan Arlan langsung mencium bibir Elsya
"Aku lebih suka melihat wajahmu merona seperti ini dari pada melihatmu menangis seperti tadi"
Ucapan Arlan sontak saja membuat wajah Elsya kembali merona. Ia menjadi salah tingkah dengan sikap Arlan. Lalu dengan cepat ia keluar dari mobil dan segera berlari ke lantai atas dan meninggalkan Arlan
pdhal awalnya bagus banget lo