"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20 Suasana canggung meski satu atap
Cerita dimulai pada pagi hari setelah malam pengakuan Daren. Daren tidak bisa tidur semalaman karena terngiang-ngiang kata-kata dingin Nadia. Saat turun ke lantai bawah, dia melihat Nadia sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan sederhana dengan kaki yang masih terpincang-pincang.
Pagi ini Nadia memasak sup daging yang juga salah satu masakan kesukaan Daren dan Nadia mendapatkan resepnya juga dari Nenek Lusi.
Biasanya, Daren akan langsung duduk dan menunggu dilayani sambil memasang wajah ketus. Namun kali ini berbeda. Daren berjalan dengan canggung ke dapur, berniat ingin membantu atau sekadar mengambil gelas sendiri demi mencari perhatian Nadia. Kehadiran Daren yang mendadak "jinak" ini membuat suasana dapur menjadi sangat canggung.
"Ada apa Tuan? Apa Tuan menginginkan sesuatu? Atau....Tuan ingin masakan yang lain?" tanya Nadia saat melihat Daren yang seperti kebingungan masuk ke dapur itu.
"Emm...Ti_tidak, Aku tidak butuh apa-apa," ucap Daren yang tiba-tiba saja menjadi gagap bicara di hadapan Nadia orang yang selama ini dia tindas dengan keangkuhannya.
"Kalau Tuan tidak butuh apa-apa, Silahkan Tuan Daren tunggu di meja makan seperti biasanya. Saya akan segera sajikan hidangan sarapan pagi ini untuk Tuan," ucap Nadia sopan.
Daren tidak langsung pergi, Dia melihat Nadia kesulitan mengangkat panci sup yang agak berat karena tumpuan kakinya yang sakit. Dengan cepat, Daren merebut gagang panci itu. "Biar aku saja. Kakimu masih sakit, jangan banyak bergerak," ucap Daren dengan nada suara yang dilembutkan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Bukannya baper atau tersipu, Nadia justru melepaskan panci itu dengan sopan, mundur satu langkah untuk menjaga jarak, lalu berkata, "Terima kasih, Tuan Daren. Tapi ini sudah menjadi tugas saya di rumah ini. Anda tidak perlu repot-repot mengasihani saya." Penolakan halus dan formal dari Nadia ini kembali menampar ego Daren.
Daren kemudian duduk di kursi meja makan melihat Nadia sedang menata masakan yang baru saja di masaknya ke atas meja makan.
"Silahkan Tuan nikmati sarapannya dan ini kopinya Tuan," ucap Nadia yang kemudian hendak beranjak pergi dari meja makan itu.
"Kamu jangan pergi Nadia, Sarapan di sini sama aku," ucap Daren sambil menatap Nadia yang baru saja melangkahkan kakinya dari meja makan itu.
Nadia menghentikan langkahnya mendengar ucapan Daren yang terasa sangat berbeda dari hari-hari kemaren.
"Maaf Tuan, Saya tidak terbiasa sarapan dengan Tuan apalagi masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan," Nadia menolak ajakan Daren dengan sopan tapi sempat membuat Daren terdiam karena di dalam aturan yang dia buat dulu ada salah satu poin yang mengatakan kalau Nadia tidak boleh sarapan bareng dengan dirinya.
"Nadia. Semua peraturan yang sudah aku buat dulu sudah tidak berlaku lagi di rumah ini, Aku ingin memberi ruang buat kamu untuk kita bisa lebih banyak waktu untuk bersama mulai hari ini."
"Tapi Tuan, Perjanjian tetaplah perjanjian yang harus di jalankan sesuai persetujuan kedua belah pihak dan saya sudah menyatakan setuju atas perjanjian peraturan yang Tuan terapkan sejak saya masuk ke dalam rumah ini," ucap Nadia sopan tapi tembus ke perasaan Daren.
"Iya aku tahu itu, Dan betapa bodohnya aku dulu yang tidak bisa melihat mana yang benar-benar tulus dan tidak padaku dan sekarang aku sadar kalau hanya kamu orang yang benar-benar punya ketulusan pada ku."
"Tidak Tuan, Anda jangan terlalu memuji saya karena saya juga punya sisi tidak baiknya, tapi kalau di tuding akan merebut harta Wijaya, Maaf, bukan prioritas saya," Nadia tersenyum tipis sengaja menyindir dan mengungkit kata-kata pahit yang sering Daren ucapkan padanya dulu.
"Aku tahu Nadia, Kamu bukan tipe cewek matre seperti Elsa yang hanya memanfaatkan kelemahan aku untuk bisa menguasai semua harta keluarga Wijaya," Daren mengingat kembali semua sifat busuk Elsa selama ini padanya.
"Sudahlah Tuan, Tidak baik terus menerus membicarakan keburukan orang lain lebih baik berkaca juga untuk mengoreksi keburukan diri kita sendiri," halus dan sangat menghujam ulu hati Daren perkataan yang Nadia ucapkan barusan.
"Ya. Benar katamu Nadia, Kelakuan ku juga sama buruknya dengan Elsa dan untuk itu aku ingin memperbaiki semuanya, Beri aku kesempatan untuk bisa berbuat baik padamu sekali ini saja untuk menebus semua perbuatan buruk yang pernah aku lakukan padamu dulu," wajah Daren berubah lesu dan penuh penyesalan yang mendalam.
Nadia terdiam, Dia tidak langsung memberikan jawaban atas permintaan Daren dan malah mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain " Oh ya Tuan, Sebaiknya Tuan segera makan keburu sup nya dingin nanti jadi tidak enak."
Daren menarik napas panjang, Dia tahu Nadia sengaja mengalihkan pembicaraannya tiba-tiba saja dengan gerakan yang sigap tapi tetap lembut Daren meraih lengan Nadia saat Nadia hendak beranjak melewati tempat duduknya itu " Nadia, Aku mohon tolong beri aku kesempatan sekali ini saja untuk bisa memperbaiki semuanya dan ijinkan aku untuk bisa menjadi suami yang benar untuk kamu," Daren menatap Nadia penuh harap.
Dengan perlahan dan sopan Nadia menepis tangan Daren yang masih memegang lengannya sambil berkata padanya "Maaf Tuan, saya tidak bisa, Hati saya masih terlalu sakit," Nadia menatap lurus ke arah manik mata Daren.
Nadia melangkah pergi menuju ke kamarnya meninggalkan Daren yang termangu duduk di kursi meja makan itu.
"Baiklah Nadia, Aku tahu ini tidaklah mudah tapi aku akan terus berusaha untuk bisa mendapatkan hatimu kembali," Daren menghembuskan napasnya perlahan kemudian Dia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi dari meja makan itu.
Daren tidak jadi sarapan pagi ini, Pikirannya kacau melihat sikap Nadia yang masih dingin padanya, Daren berjalan ke arah garasi dan masuk ke dalam mobilnya.
Sebelum berangkat ke kantor, Daren diam-diam memanggil kepala pelayan atau asisten rumah tangga. Dia memerintahkan agar semua pekerjaan berat di rumah dialihkan dari Nadia, dan memesan kursi roda serta obat-obatan terbaik dari rumah sakit swasta untuk dikirim ke rumah hari itu juga.
Siang harinya, barang-barang mewah dan obat-obatan itu tiba. Namun, saat Daren memeriksa CCTV dari kantornya, dia melihat Nadia sama sekali tidak menyentuh kursi roda itu. Nadia memilih tetap berjalan perlahan menggunakan tongkat kayu biasa, menunjukkan bahwa dia tidak ingin bergantung pada kemewahan pemberian Daren. Daren di kantornya hanya bisa menghela napas panjang melihat keteguhan hati Nadia.
...----------------...
Malam harinya saat makan malam bersama, Dan saat untuk pertama kalinya Nadia duduk bersama di meja makan dengan Daren. Daren sengaja membuka obrolan untuk memecah kesunyian. Dia memberi tahu Nadia bahwa proses hukum untuk Elsa dan Kevin sudah berjalan, dan investasi untuk keluarga Elsa sudah resmi ditarik hingga bisnis mereka diambang kehancuran total. Daren berharap Nadia akan merasa puas atau senang mendengarnya.
"Oh ya, Ada kabar gembira yang harus kamu tahu Nadia," ucap Daren dengan binar kegirangan di wajahnya berharap Nadia akan senang dengan berita yang akan dia sampaikan padanya.
"Kabar apa Tuan?" tanya Nadia sambil menyendok makanannya tanpa melihat pada Daren.
"Elsa dan Kevin akan menjalani proses hukum sesuai dengan perbuatan mereka dan juga semua investasi yang sudah masuk ke perusahaan Elsa di tarik semuanya sampai perusahaannya mengalami kebangkrutan," kata Daren dengan antusias.
Namun, respons Nadia di luar dugaan. Dia hanya mengangguk pelan sambil mengunyah makanannya dengan anggun. "Itu adalah konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri, Tuan. Tidak ada hubungannya dengan saya," jawab Nadia datar.
Daren yang menyadari bahwa menghancurkan Elsa ternyata tidak otomatis membuat Nadia kembali melihatnya. Daren sadar, dinding es di hati Nadia jauh lebih tebal dari yang dia bayangkan, dan perjuangannya baru saja dimulai.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang